PENDEKAR SAKTI BERHATI EMAS

PENDEKAR SAKTI BERHATI EMAS
BAB. 21


__ADS_3

Bab. 21


Para murid Perguruan Silat Garuda Hitam telah berkumpul di ruang beratih silat, hari itu terdapat tiga puluh lima orang murit yang menghadiri latihan pagi itu, yang masing masing terdiri dari Tiga orang murid kepala, lima orang murid tingkat satu, sepuluh orang murid tingkat dua dan sisanya murid tingkat tiga dan tingkat empat.


Tamu Tan Kauwsu meminta semua murid untuk melakukan pemanasan, sementara Tamu Tan Kauwsu sendiri memperhatikan sambil mengukur tingkatan masing masing para murid. Setelah mengukur kemampuan masing masing murid Tamu Tan Kauwsu mengambil keputusan untuk segera menyelesaikan semuanya agar bisa segera pergi meninggalkan tempat itu sebelum hari menjadi terang.


Tamu Tan Kauwsu meminta para murid kepala, murid tingkat satu dan murid tingkat dua untuk menemaninya berlatih silat, para murid itu di minta menyerangnya denga mengunakan senjata masing masing.


Tanpa merasa curiga, para murid itu melakukan apa yang di minta tamu suhu mereka.


Tamu Tan Kauwsu berdiri di tengah tengah para murit yang membentuk lingkaran.


“Setelah saya memberikan aba aba menyerang, harap kalian semua menyerang secarah bersamaan”.


Terlihat para murid menganggukan kepala tanda menyetujui.


“Serang!”


Serempak para murid maju menyerang menggunakan senjata mereka masing masing, namun yang terjadi sungguh mengiriskan hati, belasan murid itu tiba tiba terkulai lemas dengan bagian kepala mereka terlihat menancap Piauw pada bagian jidat mereka.


Para murid yang menyaksikan kejadian itu merasa kaget, belasan orang suheng mereka meninggal dengan kepala tertusuk Piauw.


Tanpa di komando, para murid yang telah menjadi marah karena kekejaman orang di depan mereka maju untuk membalas kematian para suheng mereka, namun dengan mudahnya belasan orang yang hanya terdiri dari para murid biasa meregang nyawa, ada yang kepalanya pecah karena pukulan ada yang kepalanya terkena Piauw dan ada yang anggota tubuh terpisah dari badan, baik tangan, kaki bahkan ada yang kepalnya tidak utuh lagi.


Pemandangan dalam ruangan berlatih silat sungguh mengiriskan hati, puluhan murid Garuda Hitam meregang nyawa dalam waktu singkat.


“ha.ha.ha. kini tidak ada lagi yang bisa menghalagi di kemudian hari”.


Siapa sebenarnya orang keji ini yang menjadi sahabat Tan Kauwsu. Bukan lain adalah penjahat pemerkosa wanita yang terkenal dengan julukan Siauw Sik Kwi. Sudah tidak terhitung jumlah wanita yang menjadi korbannya selama puluhan tahun.


Siauw Sik Kwi kembali ke kamar Tan Kauwsu ia melihat Nyonya Tan masi terbaring lemah di pembaringan dalam keadaan tanpa busana.


Kembali ia mendekati Nyonya Tan dan mengalirkan hawa murni ke tubuh Nyonya Tan. Beberapa saat kemudian Nyonya Tan terlihat mulai pulih kesegarannya.


Sungguh malang nasib Nyonya Tan harus mengalami penghinaan berulang ulang bahkan di alaminya di depan jasad suaminya.


Siauw Sik Kwi yang melihat Nyonya itu mulai pulih tenaganya kini timbul lagi nafsu birahinya, setelah melakukan pembantiaan terhadap para murid kembali Ia memporkosa Nyonya Tan, Nyonya Tan hanya bisa menagis memikirkan nasibnya yang secarah berulang ulang di perkosa oleh sahabat suaminya.


Setelah puas melampiaskan nafsu bejatnya, Siauw Sik Kwi segera meninggalkan Perguruan Silat Garuda Hitam dengan senyum yang menghiasi bibirnya.


Nyonya Tan yang terkulai lemas di pembaringan hanya bisa menangis meratapi nasibnya, hingga sore menjelang secarah perlahan Nyonya Tan mulai pulih keadaannya.

__ADS_1


Nyonya Tan terlihat seperti seorang ling lung, Ia keluar dari kamarnya dalam keadaan awut awutan dan tanpa busana.


Beberapa orang penduduk yang sering mengantar sayuran mentah setiap pagi, merasa kaget melihat nyonya Tan dalam keadaan tanpa busana dan mendapakan puluhan murid perguruan telah meninggal dalam keadaan mengerikan.


Para penduduk mulai berdatangan karena mendengar malapetaka yang menimpa Tan Kauwsu.


Hari itu, Jenasah Tan Kauwsu dan tiga puluh empat orang muridnya langsung di makamkan oleh para penduduk dan seorang murid yang selamat sedang di obati oleh tabib yang sengaja di datangkan oleh penduduk.


Tidak ada yang menyangka, Tan Kauwsu yang namnya begitu terkenal hingga keluar kota Nankang sebagai seorang guru silat yang memiliki kepandaian tinggi harus megalami nasib tragis tanpa ada yang tau siapa pelakunya.


Sementara saksi yang hidup hanya Nyonya Tan yang telah menjadi seperti orang gila dan tidak mengenali orang di sekitarnya dan murid satu satunya yang selamat hanya mengetahui bahwa palakunya dalah tamu yang mengaku sahabat Tan Kauwsu.


Beberapa minggu kemudian, ketika para penduduk yang mengurus Nyonya Tan mendapai kamar Nyonya Tan telah kosong, Nyonya Tan menghilang entah kemana.


*****


Seorang wanita terlihat memasuki gerbang Perguruan Garuda Hitam, namun wanita itu merasa ada keanehan.


“Hem. Kenapa tempat ini bengitu sunyi, kemana para suheng yang biasanya sering berlatih disini”.


Gadis itu adalah Tan Biaw putri tunggal Tan Kauwsu yang tujuh Tahun lalu pergi berguru pada seorang Pengemis yang masi sahabat ayahnya. Seorang pengemis sakti yang di kenal sebagai Pengemis Selaksa Kati.


“Ayahhhhh! Ibuuuu! Aku pulang”


“Sumoi kau sudah pulang?”


Sosok pria berusia tiga puluh tahun berlengan buntung telah berdiri di depan Tan Biaw.


Tan Biaw mengenal pria yang berdiri di depannya sebagai salah satu murid ayahnya dan merupakan suhengnya yang bernama Bai Hang.


“Suheng, mana ayah dan Ibu?”


“Masuklah Sumoi dan dengarkan cerita ku”


Bai Hang menceritakan semuanya kepada Sumoinya tentang malapetaka yang menimpah keluarga Somoinya.


Tan Biaw seperti arca mendengar penuturan Suhengnya, kematian para saudara seperguruan, ayahnya dan di tambah ibunya yang entah pergi kemana.


“Suheng, tinggallah di sini saya akan segera pergi untuk mencari pembunuh ayah dan para suheng, dendam ini pasti akan terbalaskan”.


“Satu satunya petunjuk hanya bisa di andalkan hanyal Ibu Guru Sumoi, hanya ibu guru yang bisa membongkar pelaku semua ini”.

__ADS_1


“Baiklah suheng, saya akan mencari petunjuk keberadaan ibu”.


“Sumoi tinggalah beberapa hari di sini saya akan memanggil para suheng yang lainnya dan baiknya sumoi mengunjungi makam Suhu terlebih dahulu”.


“Tidak suheng! Saya telah mengambil keputusan, sebelum berhasil membawa kepala pembunuh itu, saya tidak akan mengunjungi makan Ayah dan para suheng. Biarlah kepala penjahat itu nanti saya gunakan sebagai alat sembayang untuk arwah ayah dan para suheng”.


“Apa yang bisa di lakukan pria buntung seperti aku sumoi? Untuk membalas dendam Suhu saja aku tidak mampu, bahkan untuk mencari keberadaan ibu guru masi belum jelas. Saya dan para suheng lainnya telah berusaha selama beberapa tahun ini untuk mencari ibu guru namun tidak berhasil”.


“Tunggulah di sini suheng”.


Tan Biaw melesat ke dalam rumah dan kembali telah memegang sebuah kotak berwarna hitam dengan ukiran burung garuda.


“Suheng. Terimalah kau pantas menerima ini. Saya percayakan perguruan ini pada suheng, semoga suheng dapat berlatih dengan ilmu ini dan kembali dapat mengangkat nama perguruan kita”.


Tan Biaw menyerahkan kitab pusaka perguruan pada suhengnya, tidak berapa lama kemudian Tan Biaw berpamitan pada suhengnya untuk mecari musuh besarnya.


Tan Biaw melakukan perjalaan untuk menemukan keberadaan ibunya agar pembunuh ayah dan para suhengnya bisa di temukan, hampir dua tahun Tan Biaw melakukan penyelidikan tanpa kenal lelah hingga akhirnya menemukan petunjuk yang mengarah ke kota Ji’an.


Dari kota Ji’an Tan Biaw menemukan petunjuk bahwa pembunuh ayah dan para suhengnya berada dalam goa di antara gunung kembar, bahkan Tan Biaw beberapa kali mengejar sesosok bayangan yang sering muncul di sekitaran kota Ji’an namun bayangan itu selalu menghilang di sekitaran gunung kembar, hingga satu saat Tan Biaw mendapat satu surat yang mengungkap misteri kematian ayah dan para suhengnya.


*****


“Nona Tan, untuk mengungkap kejadian keluarga mu, ada baiknya Nona Tan masuk ke dalam Goa karena di dalam ada dua orang yang sedang menunggu mu Nona, masuklah sendiri karena ini menyangkut masalah keluarga mu”.


Tan Biaw merasa ragu, namun perwira Ang yang berpengalaman segera memanggil beberapa pengawalnya untuk mengawal Nona Tan masuk ke dalam.


“Masuklah kalian kedalam untuk menemani Nona Tan, kalian hanya bisa keluar jika Nona Tan merasa aman di dalam Goa”.


\=\=\=\=\=\=》》》》》


**Terima kasih atas dukungan selama ini semoga penulis akan terus bisa membuat tulisan tulisan yang bisa dengan mudah di pahami oleh para pecinta cerita silat.


Terimah kasih juga atas segala saran dan kritikan yang di berikan dalam kolom komentar.


Penulis juga tetap berusahan memperbaiki setiap kesalahan kesalahan yang ada, baik kesalahan penulisan ataupun penggunaan tanda baca.


Selalu jaga kesehatan di masa Pandemik ini


follow akun


IG @WpKmdo002

__ADS_1


Tweet @WpK002**


__ADS_2