
BAB. 22
Perwira Ang berbicara dengan dengan tegas dan memerintah, sambil menekankan bahwa segalas sesuatu yang terjadi di wilayah itu adalah tanggung jawab pasukan kemanan kota.
Ketika Perwira Ang berbicara, nampak puluhan prajurit berdiri dengan sikap siap
menerima perintah. Menandakan perintah komandan mereka tidak bisa di bantah lagi.
Orang yang di sebut Siauw Sik Kwi hanya tersumyum pahit mendengar suara Perwira Ang dan melihat sikap para pasukan keamanan kota ji’ang.
“Baiklah, silakan nona masuk dengan di kawal para prajurit ini”.
“Siauw Sik Kwi sekarang saatnya tuan menjelaskan penculikan penculiakan wanita yang terjadi di kota Ji’an!”
“Sungguh penasaran dan membuat hati ini penasaran!”
“Siauw Sik Kwi lebih baik tuan jangan bertele tele dan menjelaskan dengan benar”.
“Seperti yang saya katakana sebelumnya, saya tidak tau menau tentang kejadian itu. Saya memang seorang yang mengagumi wanita wanita cantik namun saya tidak perna mengganggu mereka apalagi memperkosa!”
“Lalau bagaimana dengan kejadian yang menimpah para wanita muda di kota Ji’an?”
“Itu tugas anda sebagai penjaga keamanan kota! Saya hanya bisa mengatakan bahwa pelakunya tidak ada hubungan apa apa dengan saya!”
Perwira Ang melirik pada kedua pendekar muda di sampingnya tanda meminta petunjuk.
“Apakah Locianpwe mengenal Siauw Sik Kwi?” Chen yang sedari tadi hanya diam, kini ikut bersuara.
“Sudah terlambat untuk menagkapnya sekarang, karena dengan hadirnya kalian di sini tentunya Siauw Sik Kwi telah pergi jau dari tempat ini. Keberadaan kalian di sini sebenarnya karena mendapat informasi dari Siauw Sik Kwi yang sebenarnya memiliki urusan dengan saya dan dua orang yang tinggal bersama saya dalam Goa ini!”
“Berarti Siauw Sik Kwi dan Locianpwe adalah dua orang yang berbeda?” Tanya Chen.
“Benar pendekar muda! Siauw Sik Kwi sebenarnya masi sahabat kami sendiri. Saya dan Ayah Nona berbaju merah tadi!”
“Ah. Saya paham! Saya begitu ceroboh hingga pelaku sebenarnya bisa melarikan diri.”
“Sudahlah pendekar muda, semua sudah terjadi yang bisa kita lakukan sekarang adalah bagaimana agar bisa menemukan Siauw Sik Kwi dan menangkapnya!”
“Locianpwe, jika berkenan bisakah boanpwe mengenal siapa Locianpwe?”
“Ha.ha.ha. Dunia persilatan menanggil saya Si Kata Keranjang dan biarlah kalian yang muda muda ini tetap mengenal saya dengan nama itu, karena saya sendiri telah melupakan nama saya sejak puluhan tahun lalu.”
__ADS_1
“Pendekar Mata Keranjang!”
Terdengar suara dari mulut Perwira Ang dan yang lainnya. Tidak mereka sangka, orang tua yang mereka anggap seorang Siauw Sik Kwi ternyata seorang pendekar sakti yang berjuluk Si Mata Keranjang atau Pendekar Mata Keranjang yang puluhan tahun lalu namnya mengemparkan dunia persilatan karena mulut manisnya yang terkenal perayu, tidak terhitung jumlah wanita yang hatinya jatuh oleh rayuan pendekar ini, namun tidak satupun dari wanita wanita itu yang di ganggunya.
Meski tidak pernah mengganggu para wanita wanita itu, namun karena sikapnya yang terlalu manis pada setiap wanita yang di jumpainya, tidak peduli masi gadis atau sudah bersuami selalu pasti akan di rayunya. Sikap inilah yang membuat banyak pendekar pendekar menjaga jarak dari pendekar ini. Rata rata mereka menjaga jarak karena takut kalau istri mereka terpikat oleh mulut manis pendekar ini, meski mereka tau jiwa kependekarannya tidak lagi di ragukan.
“Locianpwe, maafkan Boanpwe yang karena kecerobohan sendiri menyebabkan Locianpwe di fitnah dan hampir mencelakai Locianpwe!”
“ha.ha.ha. anak muda, jangan terlalu merenda. Saya yang tua ini meski harus mengakui kekalahan namun saya bangga bisa kala di tangan murid seorang saki seperti diri mu dan kalau saya tidak salah menduga, orang muda kamu pasti yang beberapa tahun terakir ini mengemparkan dunia persilatan dan di juluki Pendekar Sakti Berhati Emas!”
Kwee Li Siang seperti orang kebingungan, tidak Ia duga orang yang telah menjatuhkan hatinya adalah seorang pendekar muda yang sangat terkenal di dunia persilatan.
Namun jika Kwee Li Siang hanya termangu di tempat, berbeda dengan Perwira Ang, begitu mendengar julukan Pendekar muda di depannya wajahnya terlihat pucat, namun hanya sebentar Perwira itu langsung berdiri dan melangkah mundur tiga langkah sambil menjatuhkan diri berlutut kearah Pendekar Muda itu.
“Maafkan kelancangan hamba Pangeran yang hampir mencelakai paduka!”
Eaaaaa……!
Terdengar suara tertahan dari mulut Kwee Li Siang dan Pendekar Mata Keranjang.
Kini berbalik kaget bahkan lebih kaget lagi dari sebelumnya. Keduanya segera mengambil sikap untuk berlutut mengikuti Perwira Ang.
“jangan terlalu berlebihan, tidak ada pangeran di sini saya hanya seorang pengelana yang menikmati karya ciptaan Tuhan. Berdirilah Perwira Ang, dan nona beserta Locianpwe tidak perlu bersikap seperti itu. Saya hanya bekas pangeran yang kerajaannya telah hancur oleh keserakahan para pejabat nya sendiri”
“Sudahlah Locianpwe, apa baiknya mengingat masa lalu, lebih baik kita menjalani kehidupan kedepannya dan selalu berbuat baik”.
Kwee Li Siang hanya terdiam dan tidak tau harus bicara apa mendengar latar belakang pendekar yang di kaguminya itu dan yang telah menjatuhkan hatinya.
“Baiklah Paman, Perwira Ang dan kau nona. Oh ia, bolehkan saya mengetahui nama nona?”
“Nama saya Li Siang bermarga Kwee”
“Hemp. Bidadari Berkabung!”
Terdengar suara Si Mata Keranjang.
“Saya senang berkenalan dengan Nona Kwee dan Locianpwe serta Perwira Ang, namun saya harap kedepannya biarlah orang mengenal saya dengan nama saya Chen Bai Ki tanpa menambahkan embel embel baik pangeran ataupun bekas jendral. Biarlah orang melupakan keluarga kerajaan yang sudah hilang karena keserakahan sendiri. Jika masalah di sini suda beres, saya mohon pamit untuk mencari Siauw Sik Kwi”.
Pendekar Sakti Berhati Emas berdiri dan meminta pamit untuk mencari Siauw Sik Kwi. Sekali berkelabat tubuhnya telah berada jau hingga ratusan meter meninggalkan tempat itu.
“Sungguh hebat kepandaian Pendekar Sakti Berhati Emas, sungguh hati ini tidak penasaran di kalahkan oleh pendekar muda itu”. Guman Si Mata Keranjang.
__ADS_1
“Locianpwe dan Lihiap berhubung masalah ini telah terang saya juga mohon undur diri untuk kembali ke kota”.
Perwira Ang langsung memerintahkan untuk menarik semua pasukan kembali ke dalam kota.
“Locianpwe, jika locianpwe membutuhkan tempat untuk menetap maka kota Ji’an akan menyambut Si Mata Keranjang dengan gembira”.
Dari kejauhan terdengar suara Perwira Ang yang di tujukan pada Si Mata Keranjang dengan pengerahan Kikang.
Terima kasih Perwira Ang. Kami perlu membicarakan semuanya dengan baik dan kami akan memberi kabar. Semenjak hari ini Panglima Kota Ji”an mengeluarkan larangan bagi penduduk Kota Ji’an untuk memasuki sekitaran Pegunungan Kembar dengan alasan di pegunungan itu terdapat banyak binatang buas.
Perintah Panglima Benteng Ji’an sebernarnya karena atas permintaan Perwira Ang yang meminta agar daerah pegunungan Kembar di batasi dari akses penduduk karena di situ tinggal seorang pendekar sakti yang sedang merawat seorang keluarganya yang menderita sakit dan butuh ketenagan.
Sesekali waktu Perwira Ang tampak berkunjung ke Pengunungan kembar untuk bercakap cakap dengan Si Mata Keranjang yang kini telah menjadi sahabatnya.
Sikap perwira Ang mendatangkan keuntungan lain baginya, karena kedekatan dengan Si Mata Keranjang Ilmu silat Perwira Ang mendapatkan kemajuan pesat karena selalu mendapat petunjuk dari Si Mata Keranjang. Bahkan ilmu goloknya kini meningkat beberapa kali lipat semenjak di beri petunjuk dan pada bagian bagian tertentu dari ilmu golok Perwira Ang, di rubah oleh Si Mata Keranjang.
“Nona, sepertinya nona memiliki keganjalan hati” kata Si Mata Keranjang setelah Perwira Ang pergi.
“Ah. Tidak ada apa apa Locianpwe”.
“Ha.ha.ha. anak muda jaman sekarang seperti kucing. Malu malu sembunyi!”
“Nona, jika nona mencintai Pendekar muda itu, maka kejar dan dapatkan hatinya dari pada nona memendam perasaan. Saya melihat ada kecocokan antara Nona sama pendekar muda itu”.
Wajah Kwee Li Siang terlihat memerah karena isi hatinya bisa di tebak oleh pendekar sakti di depannya.
“Locianpwe, saya merasa urusan di sini sudah selesai saya mohon pamit untuk melanjutkan perjalanan saya”.
“Baiklah Nona Kwee, selamat jalan dan semoga Tian mengikatkan jodoh kalian berdua”.
Kwee Li Siang tampak tersenyum malu, wajahnya agak memererah mendengar kata kata pendekar di itu. Untuk menghilangkan Susana yang janggal itu, Kwee Li Siang segera melesat meninggalkan tempat itu. Sekali lagi Si Mata Keranjang di buat terkagum kagum oleh pendekar wanita yang berjuluk Bidadari Berkabung. sekali bergerak tubuhnya telah jau meninggalkan tempat itu.
“Duni persilatan sekarang telah muncul para pendekar pendekar muda yang berbakat dan mungkin melampaui jaman kami”.
*****
**Untuk beberapa hari kedepan akan ada keterlambatan update di karenakan tingkat aktifitas pekerjaan utama yang meningkat, untuk itu pemulis mohon maaf buat para pambaca atas keterlambatan yang ada.
follow akun di ig sama tweeter
@wpkmdo002
__ADS_1
@wpk002**