
BAB. 27
“JENDRAL HONG TIAN! Kalau begitu bukankah kedua orang ini adalah pembatu pembantu Jendral yang terkenal dengan julukan Dewa Selaksa Kati dan Si Pengantuk?”
“Sepertinya penghuni Lembah Panjang, meski hidup mengasingkan diri tetapi tetap mengikuti perkembangan dunia luar. Sungguh kami merasa beruntung bisa bertemu dengan salah satu penghuninya”. Kata Dewa Selaksa Kati sambil memberi hormat pada pria paru baya itu.
“Ayah… pelayan itu, Bukankah tadi masuk ke ruangan ini?”
“Anak Mey, diamlah!”
“ha.ha.ha. pelayan itu telah kembali nona kecil, sehabis menolong saya pelayan itu berpamitan kembali ke kamarnya. Sepertinya dia orang yang tidak mau di kenali”.
“Apakah Goswe mengenal Pelayan muda itu?”
“Sudahlah Pendekar, saya bukan lagi seorang Jendral saya telah pensiun dan sekarang saya hanyalah orang tua berusia lanjut yang ingin menikmati masa tua saya di desa”
“Baiklah Tuang Hong, bagaimana dengan pelayan itu, apakah tuan Hong mengenalinya?”
“Anak muda itu memang hebat, kesaktiannya sungguh membuat hati orang tua ini kagum, namun sayang seperti kata saya tadi, anak muda itu tidak berniat memperkenalkan dirinya!”
Pria Paru baya itu seperti mengetahui kalau jendral yang di depannya menyembunyikan sesuatu terkait pelayan muda itu, namun ia tidak berani menyinggung orang di depannya, karena meski telah pensiun ia mengetahui dengan jelas akan pengaruh dari mantan jendral besar Dinasti Sui ini.
“Sepertinya Tuan Pendekar belum memperkenalkan diri secarah langsung”. Terdengan suara Dewa Selaksa Kati.
Mendengar perkataan bawahannya Tuan Hong Tian hanya tersenyum sambil mengangukan kepala tanda setuju.
“Memang tidak layak apabila tuan rumah sudah bersikap sopan sementara kami sebagai tamu tidak merespon baik, saya bernama Han Bu bermarga Su dan ini anak saya bernama Su Mey. Seperti kata kami sebelumnya, kami hanya kebetulan lewat di sini dan bermalam di desa ini, namun sayang di hutan luar desa ini kami bertemu komplotan perampok yang ternyata anak buah dari Sam-Eng Hwang ho.”
“terima kasih Tuan Su sudah mau memperkenalkan diri pada kami.” Kata Tuan Hong.
“Baiklah Tuan Hong bagaimana dengan ketiga orang ini?”
“Mereka akan kami kirim ke kota terdekat biarlah urusan pembasmian komplotan mereka menjadi urusan pasukan kerajaan dari kota terdekat, kita sebagai rakat biasa harus bertindak sesuai kapasitas kita.”
“Tuan Hong benar, baiklah Tuan kami mohon pamit untuk kembali beristirahat.”
Ketika semua orang telah beristirahat dan ketiga tawanan telah di kurung dalah kerangkeng tahanan yang di jaga ketat oleh belasan orang, nampak sesosok bayangan memasuki kamar Tuan Hong Tian.
__ADS_1
“Goswe, bagamana kabar mu? Lama kita tidak bertemu”.
Tuan Hong Tian yang menyadari kehadiran bayangan itu hanya tersenyum namun senyumnya seakan menggambarkan bahwa ia begitu menghormati tamunya ini.
“Hal yang samapun ingin saya tanyakan pada Goswe. Tidak menyangka bahwa kita akan kembali bertemu dalam situasi seperti ini dan Goswe yang menyelamatkan saya. Duduklah dulu”.
Kedua orang itu bercerita seakan kenalan lama yang berpisah, namun dari cara bicara mereka terdapat perasaan saling mengagumi walaupun terdapat perasaan tinggi dari masing masing pihak.
Mendengar cara bicara mereka, pastinya pembaca dapat menduga siapa tamu Tuan Hong Tian, dia tidak lain dalah Chen Bai Ki atau Pangeran Chen atau Bekas Panglima Muda Dinasti Chen yang telah di taklukan namun merupakan musuh paling di segani oleh Hong Tian semasa peperangan antara Dinasti Chen dan Dinasti Sui.
Suasana dalam ruangan terlihat canggung, dua orang musuh bebuyutan saling berbicara dalam satu ruangan yang sama, namun di sisi lain orang yang di anggap musuh namun sekaligus yang telah menyelamatkan nyawa musuhnya.
“ha.ha.ha. tidak menyangka hari ini nyawa tua ini di selamatkan oleh musuh sendiri.”
Dalam suara Tuan Hong Tian terdapat kepahitan mendalam, memikirkan kejadian masa lalu. Tidak pernah di sangkanya, orang yang paling ingin ia bunuh semasa bertugas malah mala mini menjadi penyelamat nyawanya.
“Sudahlah Tuan Hong, apakah perselisihan yang pernah terjadi di medan perang harus di bawa higga saat ini, di mana kita sama sama sedang menikmati sebagai rakyat jelata?”
“Ah.. saya hanya sedang memikirkan keadaan dulu, bagaimanapun keadaan dulu di sebabkan karena kita mengabdi pada tuan yang berbeda, namun di luar itu saya merasa kagum dengan Pangeran”.
“Tidak ada lagi pangeran, saya kini telah menjadi rakyat biasa bahkan sebelum runtuhnya Dinasti Chen.”
“Tuang hong terlalu berlebihan memandang saya.”
“Tidak apa apa Tuan Chen, meski umur mu jau lebih muda namun kemampuan mu jau melampaui saya.”
“Kalau saya boleh tau, kemana tujuan Tuan Hong sekarang?”
“ha.ha.ha. apala arti tenaga tua ini bagi pemerintah, saya sedang dalam perjalanan kembali ke desa untuk menikmati masa pensiun saya Tuan Chen.”
“Ya begitulah sifat perpolitikan dalam Istana, selalu akan menguntungkan pagi beberapa pihak namun saya rasa Tuan Hong juga harus bersyukur dengan keadaan sekarang.”
Kini suasana terlihat akrab, tidak kelihatan bahwa kedua orang itu pernah menjadi musuh untuk saling membunuh, bahkan mereka tidak segan menggunkan cara apapun asalkan salah satu dari mereka mati, namun kini dalam suasana lain mereka terlihat bagaikan dua sahabat lama meski perbedaan usia yang pantasnya antara Cucu dan kakek.
“Tuan Chen, kalau tidak salah bukankah ada hubungan antara Tuan Chen dan Tuan Su Han Bu dari Lembah Panjang?”
“Entalah, namun saya seperti merasakan demikian tapi, nanti dulu dari mana Tuan Hong mengetahuinya?”
__ADS_1
“Ha.ha.ha. saya telah melawan mu selama bertahun tahun di medan pertepuran tuan Chen, bahkan saya pernah merasakan akibat dari pukulan mu itu saya pun berani menduga kalau Pendekar yang akhir akhir ini mengemparkan Dunia Persilatan dengan julukan Pendekar Sakti Berhati Emas pastilah Tuan Chen.”
“Ahhh. Orang orang terlalu berlebihan Tuan.” Namun memang benar, Pendekar yang Tuan maksud itu benar saya namun saya bagaimana Tuan Hong menyimpulkan akan hubungan saya dengan Tuan Su Han Bu?”
“Ketika Tuan Cu Han Bu bertarung dengan Sam-Eng Hwang ho di atap sekilas saya sempat melihat jurus yang di gunakannya hanya kalau Lengan Tuan Chen mengeluarkan Kilatan cahaya putih, tuan Su Han Bu lengannya mengeluarkan kilatan cahaya berwarna merah dan saat mereka masuk ke sini, saya sempat melihat Tuan Su sedang mencari sesuatu namun tidak di temukan. Saya menduga Tuan Su Han Bu sedang mencari Tuan Chen.”
“Itulah yang membuat saya tadi segera meninggalkan ruangan ini, saya teringat Suhu dulu perna mengatakan bahwa Suhu memiliki saudara seperguruan yang menguasai ilmu yang sama dengan Suhu, hanya bedanya pada warna kilatan yang keluar dari tangan.”
“Bisa jadi Tuan Su Han Bu adalah saudara seperguruan Tuan Chen.”
“Tidak mungkin, menurut suhu saudara seperguruannya hanya lebih muda satu tahun dari Suhu, sementara Tuan Su Han Bu kalau tidak salah berusia di bawa Lima Puluh tahun.”
“Apakah Tuan Chen membutuhkan informasi terkait hal ini, saya cukup mengenal keberadaan Lembah Panjang. Beberapa tahun lalu saya pernah menolong seorang pasangan muda yang berasal dari.”
Belum selesai Tuan Hong berbicara memberi tanda agar Tuan Hong tidak melanjutkan ceritanya.
“Bukankah lebih bijak jika seorang tamu datang secarah baik baik dari pada bertingkah seperti layaknya pencuri!” ucap Chen sambil melihat keatap.”
Tuan Hong pun ikut melihat keatap dan berusaha mencari tau keadaan. Namun karena Tuan Penyusup itu adalah Tuan Su maka agak kesulitan bagi Tuan Hong untuk mengetahui hingga pintu di dorong dari luar dan terlihat Tuan Su Han Bu memasuki kamar Tuan Hong.
“Tidak di sangka, semuda ini telah memiliki kemampuan tinggi sungguh kami yang tua merasa malu dan Tuan Hong maafkan kelancangan saya.”
“Ha.ha.ha. sepertinya Tuan Su masi penasaran dengan Pelayan Muda ini!”
Dalam suara Tuan Hong meski di lontarkan sambil tertawa tetapi terdapat nada teguran akan sikap Tuan Su.
Su Han Bu merasa malu sesuatu yang tidak bisa di sembunyikan karena nampak wajahnya yang agak kemerahan meski hanya di terangi cahaya lilin.
“Baiklah, jika Tuan Su masi penasaran dengan playan muda ini maka silakan berbicara dengannya.”
Su Han Bu nampak agak salah tingkah seperti merasa bersalah namun karena telah berada pada posisi yang tidak bisa di hindari, mau tidak mau Su Han Bu harus terus maju.
\=\=\=\=\=\=》》》》
Salam merdeka
Kita Bineka Tunggal Ika
__ADS_1
Kita satu bangsa
Kita bangsa Indonesia