
BAB. 24
DUK….! Kepala perampok itu terpental hingga lukanya makin parah.
“Sungguh tidak berguna, melawan satu orang saja kalian tidak bisa.”
“Maafkan kami Cecu, kami tidak menduga orang itu memiliki kepandaian tinggi.”
“Sudahlah, segera cari tau keberadaan orang itu dan laporkan kembali, biar saya yang akan membereskan orang itu!”
“Baik Cecu!” Kepala gerombolan rampok itu segera meninggalakan tempat itu dan mengajak anak buahnya untuk mencari tau keberadaan lawan yang melukainya.
Setelah menemukan keberadaan orang yang mereka cari, kepala gerombolan yang telah merasa jerih tidak berani bertindak jau, ia hanya mengawasi dari jau dan mengirim salah satu anak buahnya untuk melapor kepada Cecu.
“Ayah, apakah kita akan menginap di desa ini?”
“Sepertinya begitu Anak Mei, hari hampir gelap daerah ini terkenal dengan keganasan para perampoknya lebih baik kita cari penginapan untuk bermalam.”
Kedua orang Ayah dan Anak itu tiba di desa Libu, sebuah desa di pinggiran Sungai Hwang Ho. Meski hanya berstatus desa, namun Libu memiliki jumlah penduduk yang hampir setara kota kecil dan sangat ramai, hal ini kerena desa Libu yang berada di jalur perdangangan lintas sungai Hwang Ho.
Krukkk…suara perut gadis remaja itu terdengar beberapa kali hingga pria setengah banya itu merasa kasihan.
“Anak Mei, di depan ada restoran mari kita ke sana”.
Anak Mei, panggilan akrab untuk gadis remaja itu hanya tersenyum ketika ayahnya mengajak memasuki sebuah restoran yang terlihat di ujung jalan.
“Ah. Apakah perut yang kelaparan tidak bisa menahan suaranya.” Gumannya perlahan sambil mengikuti ayahnya memasuki restoran.
“Selamat datang tuan.” Seorang pelayan muda langsung menyambut ayah dan anak itu ketika mamasuki pintu restoran.
“Tolong siapkan kami makan untuk dua orang sama arak.”
“Baik tuan, segera kami siapkan.”
Pelayan muda itu terlihat cekatan melakukan tugasnya sebagai seorang pelayan, segera ia menyampaikan pesanan tamunya ke bagian dapur agar segera di siapkan.
Setelah semua pesanan di siapkan, pelayan muda itu segera mengantar pesanan ke meja tamunya.
“Tuan.. silakan menikmati pesanan tuan dan kiranya kalau ada yang lain bisa memanggil saya lagi.”
“Tunggu. Apakah di sini ada penginapan?”
“Ada tuan, restoran kami di lengkapi dengan penginapan di bagian belakang bangunan ini!”
“Baiklah. Tolong siapkan kami satu kamar untuk saya dan anak saya.”
“Baik tuan.”
__ADS_1
Pelayan muda itu segera meninggalkan tamunya untuk menyiapkan kamar.
“Ayah, sepertinya ada yang mengawasi kita semenjak memasuki desa ini!”
“Tetaplah bersikap biasa Anak Mey, lanjutkan makan mu mereka sepertinya ada hubungan dengan para perampok tadi dan kalau tidak salah dugaan ayah, malam nanti mereka akan beraksi”.
Gadis remaja itu hanya menganggukan kepala tanda mengerti maksud ayahnya, sambil melanjutkan menyantap makanannya.
“Tuan. Kamar telah saya siapkan, mari saya antar ke kamar tuan.”
Keduanya bergegas mengikuti pelayan muda itu menuju ke kamar penginapan.
“Silakan masuk tuan, jika membutuhkan sesuatu, silakan memangil pelayan. Tuan cukup memasang lampu yang ada di depan pintu, maka aka nada pelayan yang mendatangi kamar tuan. Setiap pintu kamar di penginapan kami akan terlihat dari bagian kasir kami, jdi setiap tamu kami yang membutuhkan pelayan cukup memasang lampu sebagai tanda membutuhkan pelayan”
“Terima kasih anak muda.” Sambil memberikan tip kepada pelayan muda itu.
“Terima kasih tuan, tidak perlu karena aturan di penginapan kami melarang menerima tip dari pengunjung.” Pelayan muda itu berlalu sambil tersenyum pada tamunya.
“Ternyata di dunia ramai masi banyak orang dengan hati yang jujur.”
Terdengar gadis remaja berkata pada ayahnya.
“Sudalah anak Mey, istirahatlah dan ingat! Tetaplah tenang apapun yang akan terjadi nanti dan pelayan muda itu, sepertinya bukan orang sembarangan.”
Anak remaja itu terlihat mulai menguap tanda mulai mengantuk karena perjalanan panjang seharian, palagi setelah mala mini mendapat giliran tidur di ranjang yang empuk. Sementara pria paru bayah itu hanya duduk bersemadhi untuk mengumpulkan tenaga.
Sebagai seorang yang memiliki kepandaian tinggi tentunya begitu muda mendengar gerakan sekecil apapun yang berasal dari luar ruangan, termasuk bisa membedakan antara gerakan manusia dengan binatang atau gerakan yang di sebabkan oleh gerakan angin.
Gadis remaja itupun terlihat membuka matanya dan menatap aayahnya.
“Ayah. Apakah suara itu mereka?”
“Stttt.. anak Mey tetaplah berbaring seperti tidak ada sesuatu. Kita tunggu gerakan mereka selanjutnya.”
Terdengar suara langkah yang sangat ringan dari atas atap kamar serta dari bagian belakang kamar penginapan.
“Ayah. Sepertinya mereka berjumlah lebih dari lima orang!”
“Ada maling. Ada maling. Ada maling”
Terdengar teriakan dari bagian belakang pengonapan hingga membangunkan semua tamu yang malam itu menginap di penginapan itu.
Sementara itu, terlihat beberapa orang yang berpakaian hitam melesat meninggalkan tempat itu dengan tergesa gesa sambil mengumpat.
“Sialan!”
Para tamu yang mendengar teriakan ada maling segera keluar kamar, beberapa orang di antara para tamu adalah golongan pendekar, ketika melihat beberapa bayangan hitam yang berusaha kabur langsung mengejar.
__ADS_1
Malang bagi salah satu penyusup, saat akan meloncati tembok, kakinya lebih dulu di sambar oleh benda keras yang menghantam lututnya hingga loncatannya tidak melewati tembok pagar.
Salah satu penyusup itu terkena sambitan batu dari salah satu penguhi kamar yang paling dekat dengan arah penyusup itu melarikan diri.
“Segala penjahat dari mana yang mengganggu di sini?”
Terlihat seorang tamu penginapan menyeret penyusup yang tertangkap.
“Sudalah hiante, segala urusan kecil seperti ini jangan sampai merusak urusan kita. Segera bawa dia ke kamar untuk di selidiki.” Seorang tamu pria lainnya terdengar berkata dengan suara memerintah.
“Baiklah.”
“Ayah. Sepertinya para tamu yang lain orang orang berkepandaian tinggi.”
“Sudalah anak Mey, di dunia luar memang terdapat bengitu banyak orang orang dengan kepandaian tinggi dan amat sakti. Hayo, kembali ke kamar agar besok kita bisa melanjutkan perjalanan kita.”
“Tapi ayah, aku ingin melihat apa yang akan mereka lakukan, lagian penyusup itu memilki masalah dengan kita bukan mereka.”
“Sudalah. Ayoh kembali ke kamar anak Mey!”
“Tapi Ayah.”
“Sudalah anak Mey kita tunggu saja perkembangan selanjutnya.”
Malang bagi penyusup yang tertangkap, bahwa kini ia menjadi tawanan dan harus berurusan dengan rombongan kerajaan yang saat itu sedang menginap di penginapan yang sama dengan musuh mereka.
“Lancang! Sungguh kalian tidak mengenal keadaan, berani membuat keonaran di sini!”
Seorang pria bertubuh kekar berusia 35 tahun terlihat membentak penyusup itu.
“Lebih baik segera mengakui siapa kalian dan apa tujuan kalian di sini?”
Penyusup itu, yang selalu mengandalakan teman temannya kini merasa ketakutan ketika berada dalam kamar itu sendirian berhadapan dengan orang orang yang telah melumpuhkannya.
“Ampun tuan. Kami sedang mengejar musuh kami yang menurut teman teman kami sedang menginap di penginapan ini.”
“Hemp.” Terdengar suara dari seorang pria tua berusia enam puluh lima tahun yang duduk di sudut ruangan.
“Tuan Hong, apa yang harus kita lakukan dengan tawanan ini?”
“Segera selidiki siapa mereka, jika mereka adalah kelompok yang membuat keonaran segera hubungi pasukan keamanan kota terdekat untuk membasmi gerombolan mereka, namun jika mereka kelompok yang bergerak atas permusuhan perorangan lepaskan saja.”
“Baik tuan”.
Sementara itu di bagian belakang penginapan terlihat tiga sosok bayangan yang bergerak cepat.
\=\=\=\=\=》》》
__ADS_1
Terima kasih masi selalu mengikuti update bab per bab dari cerita ini.