PENDEKAR SAKTI BERHATI EMAS

PENDEKAR SAKTI BERHATI EMAS
BAB. 18


__ADS_3

BAB. 18


mendandakan bahwa lawannya tidak trepengaruh oleh serangan Kwee Li Siang.


“Jangan banyak bicara, keluarkan kemampuan mu”.


Pemuda itu seperti tidak berniat melawan Kwee Li Siang, selain merasa kagum juga tidak ingin memusuhi wanita secantik Kwee Li Siang.


“Nona dengarkan penjelsan ku”.


“Penjelasan apalgi, dasar penjahat cabul!”


Kwee Li Siang makin penasaran, telah lewat puluhan jurus namun dia masi belum mampu mengalahkan pemuda itu, bahkan untuk membuat pemuda itu terdesak masi belum bisa.


Kwee Li Siang seperti bertemu gurunya, bahkan terpikir dalam pikirannya bahwa lawannya mampu mengimbangi gurunya. Namun bukan Kwee Li Siang jika menyerah begitu saja.


Kwee Li Siang merubah serangannya, aurah pedang terasa lebih besar keluar dari setiap serangnya. Pemuda itu kini terlihat lebih serius, ia mengalirkan tenaga dalamnya kearah kedua lengannya. Tangan pemuda itu mengeluarkan kilatan cahaya putih.


“Sepertinya Nona terlalu keras kepala!”


Pemuda itu melompat tinggi ke udara, ia berjungkir balik dua kali di udara dan tiba tiba meluncur ke bawa dengan kedua tangan di terkepal.


BUARRR…!


Terdengar ledakan keras, seketika atap bangunan runtuh karena pukulan pemuda itu. Kwee Li Siang tidak sempat menyadari keadaan, tau tua dirinya terperosok mengikuti reruntuhan bangunan itu.


Para prajurit segera berlompatan menjau, namun beberapa prajurit yang berkepandaian biasa, menjadi korban reruntuhan meski tidak mengakibatkan kematian.


Kwee Li Siang melesat keatap mencari lawannya, namun pemuda itu telah menghilang entah kemana.


Kwee Li Siang membanting kakinya tiga kali, tanda dia merasa kesal pada pemuda itu yang sekaligus membuat dia penasaran, selama menrantau baru kali ini dia bertemu lawan tangguh, meski dia sendiri belum mengakui kekalahan.


Kwee Li Siang langsung melesat meninggalkan tempat itu, sambil mencari jejak lawannya. Namun hingga pagi hampir menjelang, Ia masi belum mendapatkan jejak pemuda itu. Kwee Li Siang memutuskan kembali ke penginapannya.


Sesampainya di penginapan, Kwee Li Siang langsung merebahkan dirinya untuk mengembalikan fisiknya.


“Siapa sebenarnya pemuda itu? Kepandaiannya begitu tinggi!”


Kwee Li Siang makin penasaran tentang pemuda yang menjadi lawannya, hingga tertidur Kwee Li Siang masi belum menemukan jawabannya.


Siapa sebenarnya pemuda itu, pemuda yang membuat penasaran Pendekar wanita yang berjuluk Bidadari berkabung. pemebca tentu bisa menebak siapa pemuda sakti itu, pemuda itu bukan lain adalah Chen Bai Ki mantan Jendral Muda Dinasti Chen atau sekarang yang lebih di kenal dengan Julukan Pendekar Sakti Berhati Emas.


Menjelang siang Kwee Li Siang baru terbangun, ia segera mandi dan keluar untuk mengisi perut.


“Tuan. Tolong siapkan saya makan siang”.


“Oh selamat siang Lihiap, silakan makanan anda telah di siapkan”.


Kwee Li Siang merasa kaget karena makan siang telah di siapkan padahal dia sendiri belum sempat memesan.


“Lihiap tadi Komandan Ang dari sini dan semua ini atas perintah komandan Ang. Beliau hanya menitip pesan kalau Lihiap adalah temannya agar kami melayani Lihiap dengan baik. Komandan Ang juga berpesan, kalau Lihiap suda bangun, Lihiap di undang ke kediaman beliau sore nanti. Kami di minta mengantar Lihiap ke kediaman Komandan Ang”.

__ADS_1


“Hemp.”


Kwee Li Siang hanya mendengus singkat sambil menuju ke meja jamuan yang telah di siapkan.


Kwee Li Siang menikmati makanannya, terbayang di benaknya perbendaan masakan di restoran ini sama makanan yang sering dia makan saat di tengah hutan. Tanpa terasa Kwee Li Siang tersenyum sendiri.


Selesai makan, Kwee Li Siang pergi keluar untuk sekedar mengelilingi kota.


“Kaka.”


Kwee Li Siang melirik ke samping, seorang anak menghampirinya dan meyerahkan sepucuk surat.


“Adik manis. Siapa yang meberikan surat ini?”


“Etalah kak, orang itu tidak memberi tau namnya, dia hanya mengatakan untuk memberikan surat ini pada kaka, setelah itu langsung pergi.”


Kwee Li Siang mengucapkan terimah kasih pada anak itu dan memberikan uang sebagai tanda terima kasih, tapi anak itu menolak.


“Maaf kaka. Saya sudah mendapat upah dari pengirim surat”.


Anak itu segerah berlari meninggalkan Kwee Li Siang yang merasa bengong melihat kejujuran anak itu.


“Sebelah selatan kota ini, terdapat sebuah goa di antara bukit kembar setelah melewati telaga biru. Disanalah Siauw Sik Kwi bersembunyi bersama korban korbannya.


Berhati hatilah, tempat itu sangat rawan dan Siauw Sik Kwi memiliki ilmu meringankan tubuh yang luar biasa”.


Kwee Li Siang melipat surat itu dan menyimpan kedalam sakunya dan segera melesat ke sisi selatan kota.


Setelah sampai di sisi Telaga Biru, Kwee li Siang merasa terpesona akan keindahan telaga ini, terlihat air jerni dengan biasan warna biru hasil pantulan cahaya matahari dan tumbuhan yang hidup di dasar telaga.


Perasaan Kwee Li Sian seakan berada di taman hayalan, di mana Ia sedang mandi di telaga berwarna biru itu yang di hiasi dengan kumpulan bunga yang harum, ia juga melihat sebuah perahu yang di tumpangi seorang pemuda tampan yang sedang meniup suling. Perahu itu terlihat mulai mendekat dan tampak senyum dari pemuda itu kearah Kwee Li Siang. Wajah Kwee Li Siang terlihat memerah, karena Pria tampan itu kini makin mendekat, Kwee Li Siang seperti mengenali pemuda itu dan merasa perna bertemu. Kwee Li Siang meyadari bahwa dia sedang dalam keadaan tanpa busana alias telanjang bulat.


Kwee Li Siang tersadar dari lamunannya.


“Pikiran apa ini!” guman Kwee Li Siang dalam hati. Wajahnya terlihat memerah tanda merasa malu, namun terlihat jelas pada wajahnya, ia seperti menikmati hayalannya tadi.


Tanpa Kwee Li Siang sadari bayangan pemuda tampan itu selalu hadir dalam pikirannya. Semakin ia menolak semakin besar daya pikat bayangan itu.


Kwee Li Siang merasa jegah dengan hayalannya, namun ada senyum terlihat dari bibirnya.


Kwee Li Siang langsung melesat kearah bukit kembar, setelah mencari kira kira sejam Kwee Li Siang melihat sebuah Goa yang tertutup akar pohon.


“Apakah ini Goa yang di maksud?”


Kwee Li Siang meloncat ke atas pohon untuk melihat situasi, setengah jam telah lewat namun tidak ada tanda tanda bahwa Goa itu memiliki penghuni. Kwee Li Siang memutuskan untuk memasuki Goa dan memeriksa sendiri, namun Dia mengurungkan niatnya, karena melihat bayangan merah yang melesat cepat dan berhenti di depan Goa.


“Penjahat cabul! Keluar kau saatnya mempertanggung jawabkan perbuatan Mu”.


Seorang wanita cantik bertubuh ramping dan berkulit putih mulus berusia kira kira 20 tahun terlihat berdiri di depan Goa sambil menantang penghuni Goa. Wanita itu memegang sebatang pedang berhiaskan kepala burung garuda pada gagang pedang.


“Keluar kau Siauw Sik Kwi! Atau saya yang akan memaksa kamu keluar”.

__ADS_1


Tidak ada jawaban apa apa dari dalam Goa, wanita itu terlihat makin marah karena orang yang di carinya tidak mau keluar. Sementara untuk memasuki Goa terlalu beresiko, selain gelap Dia pun tidak tau seluk beluk Goa.


Wanita itu mulai mengumpulkan kayu kayu kering di depan mulut Goa hingga membentuk tumpukan kayu setinggi dua meter.


Kwee Li Siang yang menyaksikan wanita itu dari kejauhan bertanya dalam hati, apa yang akan di lakukan wanita itu dengan tumpukan kayu kayu itu, namun berbeda dengan sepasang mata yang juga sedang menyaksikan wanita itu dari tempat berbeda dan tersenyum sendiri.


“Mampus Kau! Kena batunya kau sekarang, karena ulah mu saya di anggap penjahat cabul” guman orang itu yang bukan lain adalah Chen Bai Ki atau Pendekar Sakti Berhati Emas.


Di sisi lain bukit itu, nampak puluhan prajurit sedang berjalan sambil membongkar rerumputan di sisi jurang, mereka seperti sedang mencari sesuatu.


Para prajurit itu di pimpin oleh Perwira Ang, seorang peerwira kota Ji’an. Apa sebenarnya yang di lakukan para prajurit itu di tempat yang hampir tidak pernah di kunjungi oleh penduduk kota Ji’an.


Sama seperti Kwee Li Siang yang menerima surat tanpa nama yang menyebutkan tempat bersembunyinya Siauw Sik Kwi, hanya bedanya kalau Kwee Li Siang di minta melalui telaga Biru, para prajurit di minta melalui sisi belakang gunung kembar. Pengirim surat itu adalah Pendekar Sakti berhati Emas, karena mengetahui kelicikan Siauw Sik Kwi Chen segaja megarahkan para prajurit melewati sisi belakang gunung kembar agar jika dalam Goa terdapat jalan lain, maka harapan untuk melarikan diri menjadi kecil.


Dalam surat itu Chen juga meminta agar seregu pasukan di siagakan di puncak bukit kembar untuk megantisipasi kaburnya Siauw Sik Kwi.


Sementara itu, wanita muda berpakaian merah mulai kehilangan kesabaran, telah berkali kali Dia berteriak namun penghuni Goa itu tidak mau keluar.


Akhirnya wanita itu mulai membakar tumpukan kayu kayu itu dan meggunakaan pedangnya ia mulai mengibaskan kearah Goa.


Kwee Li Siang yang meilihat dari tempat persembunyiannya merasa kagum dengan ide wanita itu, apalagi melihat cara wanita itu mengerakan pedangnya untuk mengarahkan asap ke dalam goa. Hal itu hanya bisa di lakukan oleh orang orang yang memiliki kepandaian tinggi dengan tenaga singkang yang besar.


“Hemp! Wanita keparat”.


Terdengar suara dari dalam gua, dan sesosok bayangan bergerak cepat melesat ke keluar Goa.


Seorang Pria berusia 45 tahun terlihat berdiri di depan Goa, pria itu meski telah berusia 45 tahun tapi masi terlihat tampan dengan dan gagah, apalgi di tambah pakaian dan penampilannya yang selalu terlihat rapi dan pada wajahnya selalu terhias senyum yang menandakan pria ini adalah seorang perayu.


Dengan menggunakan kedua tangannya pria itu tampak bersilat diantara Goa dan tumpukan kayu yang telah terbakar.


Dari gerakan silat pria itu, dari kedua tangannya mengalir hawa pukulan besar yang menyebabkan terlemparnyanya tumpukan kayu kayu itu. Api terlihat berhamburan di mana mana hingga membentuk titik titik api kecil yang secarah perlahan mulai padam.


“Apa kau wanita pemakan daging manusia? Kau ingin membuat Aku mati dengan asap asap itu”


” Siauw Sik Kwi! Hari ini kau harus bertanggung jawab atas perbuatan Mu beberapa tahun lalu”.


“Siapa kau? Lebih baik kita berteman dan menikmati keindahan dunia ini bersama” kata pria yang di panggil Siauw Sik Kwi sambil tersenyum.


“Simpan rayuan mu dan bersiaplah menerima kematian mu”.


“Sangat muda berbicara nona manis tapi apakah semudah itu membuktikannya. Lebih baik kau mengikuti ku dan kita bersama sama meluaskan pengetahuan, saya akan menjadi guru yang baik buat kamu nona manis”


Wanita itu semakin menjadi marah karena perkataan Siauw Sik Kwi, Ia langsung menyerang lawannya.


Sekali mengerakan pedangnya Wanita itu telah memaikan jurus Pedang Garuda Hitam, Ilmu pedang ini memiliki dasar gerakan burung garuda.


Nampak sinar pedang menyambar laksana burung garuda yang siap menerkam mangsanya, meski terlihat lambat namun di situlah letak keistimewaannya, Ilmu pedang ini mampu melawan tenga dalam lawan yang lebih besar dari tenaga dalamnya sendiri.


Siauw Sik Kwi yang merasakan hal itu, masi tetap tersenyum sambil sesekali balas menyerang wanita itu.


\=\=\=\=\=\=\=》》》》

__ADS_1


Like dan komen ya. 🙂🙂🙂


__ADS_2