
BAB. 25
“Hemp. Sepertinya mereka bukan orang yang muda di hadapi!” terdengar seorang dari ketiga bayangan itu berkata.
“Apakah kita akan membiarkan orang menghina anak murid kita begitu saja Suheng?”
“Jangan bertindak gegabah sute, saya hanya merasa rombongan yang menangkap anak murid kita bukan rombongan biasa”.
Siapa ketiga orang yang berdiri di kegelapan malam itu, bukan lain adalah Sam-Eng Hwang ho (Tiga orang Gagah Hwang ho). Meski mereka berjuluk orang gagah atau tiga orang gagah dari sungai huang ho, namun mereka sebenarnya adalah pimpinan para perampok yang menguasai hampir sebagian wilayah aliran sungai Hwang Ho. Tindakan mereka terkenal kejam dalam beraksi, namun mereka menyembunyikan aksi mereka dengan nama yang mereka gunakan.
“Ayah. Sepertinya mereka telah kembali dan kalau mendengar langkah kaki dan gerak pernafasan mereka, kali ini yang datang bukang orang sembarang!”
“Berhati hatilah anak Mey dan mari kita keluar menyambut mereka”.
Gadis itu terlihat tersenyum senang di ajak keluar oleh ayahnya.
“Ayah. Berarti saya boleh memukul orang jahat?”
“Kita lihat saja nanti!”
Ayah dan anak remaja itu keluar dari kamar dan melompat ke atap untuk melihat pendatang gelap malam itu. Mereka sengaja memutar dari arah depan restoran agar bisa melihat keadaan lawan dengan leluasa.
Baru saja mereka tiba di atas atap, mereka melihat rombongan tamu yang ada di kamar sebelah melompat ke atap penginapan. Ternyata kehadiran penyusup yang kedua ini telah di ketahui oleh rombongan tamu yang lain.
Dari sisi belakang penginapan terlihat melesat tiga bayangan dengan kecepatan yang sukar di ikuti mata.
“Anak Mey. Ini kesempatan baik bagi mu untuk meluaskan pengalaman. Sebentar lagi akan terjadi pertarungan antara ahli silat kelas tinggi yang jarang bisa di saksikan.”
“Bukankah ke tiga pesunyup itu yang terkenal dengan Sam-Eng Hwang ho?”
“Benar anak Mey. Merekalah orangnya!”
“Sepertinya ini akan sangat menarik ayah!”
Sementara itu, tiga penyusup itu telah saling berhadapan dengan rombongan tamu lainnya.
“Orang lancang berani berbuat keonaran di sini, apakah tidak menghargai orang lain?”
“Tuan telah menahan anak murid kami, apakah kami harus mendiamkan”. Orang pertama dari Sam-Eng Hwang ho menjawab dengan tenang.
“Malam malam menyusup di tempat orang apakah bukan perbuatan tercelah?”
“Ha.ha.ha. bebaskan anak murid kami dan mungkin kami akan mempertimbangkan hukuman yang ringan untuk tuan tuan.”
__ADS_1
Dua orang tamu penginapan itu menjadi merah mukanya, selama hidup apalagi semenjak bertugas sebagai petugas kerajaan tidak ada yang berani berbica seperti itu pada mereka.
“Tuan terlalu meremehkan orang lain, silakan mencoba mengambil tawanan kami jika tuan memiliki kemampuan.”
“Ha.ha.ha. baiklah baiklah, adik ketiga ambillah tawanan itu biar kami yang mengurus dua orang ini!”
Kedua perwira yang melihat orang ketiga dari Sam-Eng Hwang ho telah melompat turun untuk merebut tahanan mereka hanya tersenyum tanda bahwa mereka begitu percaya bahwa tawanan mereka tidak akan muda di rebut orang.
Tidak membutuhkan waktu lama, terdengar teriakan keras di iringi sosok tubuh manusia terlempar keluar kamar dengan keadaan terluka parah.
“Apah yang terjadi?” Orang pertama dari Sam-Eng Hwang ho terlihat geram karena sosok tubuh yang terlempar itu adalah tubuh saudara ketiganya.
Kedua perwira itupun merasa bingung, setidaknya orang ketiga dari Sam-Eng Hwang ho masi seimbang ilmu silatnya dengan junjungan mereka, kalau pun bisa menang tapi tidak secepat itu. Apalagi melihat bekas luka yang menghitam seperti terbakar.
Secarah ilmu silat, kedua perwira itu masi lebih tinggi dari junjungan mereka yang mereka kawal.
Nampak dari dalam ruangan sesosok bayangan melesat kearah orang ke tiga Sam-Eng Hwang ho.
“Ayah. Bukankah itu pelayan yang melayani kita?”
Pria paru baya itu hanya menganguk membenarkan, namun merasa heran dan sepertinya mengenal tanda tanda luka yang di alami oleh orang ketiga dari Sam-Eng Hwang ho.
Kedua perwira yang melihat keadaan di bawa telah dapat di atasi segera bertindak cepat untuk melumpuhkan dua orang lainnya.
Dalam gerbrakan pertama terlihat jelas bahwa kedua orang perwira itu bukan lawan dari Sam-Eng Hwang ho. Dalam adu tenaga dalam, mereka mundur hingga lima langka, sementara lawannya masi tetap dia di tempat sambil tersenyum.
“Hemp. Hanya begini kemampuan kalian?”
“Jangan sombong, liat serangan”.
Sangat jelas perbedaan yang ada, kedua orang perwira ini boleh di kenal sakti dan memiliki pengalaman bertempur puluhan bahwan ratusan kali, bahkan biasa melawan belasan orang sekaligus namun hal itu terjadi di medan perang, berbeda dengan pengalaman bertempur di dunia persilatan. Dalam dunia persilatan, selain pengalaman bertarung juga di butuhkan kemampuan silat yang tinggi serta dasar dasar ilmu silat tingkat tinggi.
Sam-Eng Hwang ho yang telah marah karena adik ketiga mereka telah tertangkap dan menderita luka parah meluapkan kekesalan mereka pada kedua lawan mereka.
memasuki jurus ke tiga puluh, kedua perwira terlihat terdesak hebat dengan beberapa luka cakaran terlihat di bagian tubuh mereka, wajah keduanya terlihat menghitam tanda keracunan.
Kedua perwira yang menyadari keadaan, berusaha sekuat mungkin untuk bertahan namun Sam-Eng Hwang ho yang telah menjadi marah tidak mau membuang waktu.
Secarah bersamaan Sam-Eng Hwang ho menyerang lawan mereka menggunakan senjata rahasia mereka.
Sinar putih terlihat melesat kearah ke dua perwira itu saat keduanya baru saja mendaratkan kakinya keatap setelah menghindari tendangan dari lawan mereka, namun mereka tidak menduga kalau tendangan itu hanyalah pancingan.
TRAKKKK…
__ADS_1
Senjata rahasia yang di lepaskan oleh Sam-Eng Hwang ho tertangkis oleh pecahan genteng yang di yang melesat dengan kecepatan tinggi.
“Tidak perlu melibatkan orang lain, kamilah orang yang kalian cari!”
Sam-Eng Hwang ho yang melihat bahwa benda yang menangkis senjata rahasia mereka hanyalah potongan genteng menjadi tertegun, apalagi pelakunya adalah seorang dara remaja yang kira kira masi berusia tiga belas tahun.
Namun ketika mereka melihat pria yang berdiri di samping dara remaja itu, mereka tertegun pria itu berpakaian sederhana berperawakan sedang, namun mata pria paru baya itu terlihat mencorong seperti mata seekor naga.
“Anak Mey. Saatnya kamu mencoba kemampuan mu, tetapi berhati hatilah kedua orang itu setidaknya setingkat dengan suheng mu! Jangan mengandalkan tenaga dalam, andalkan kecepatan gingkang mu.”
“Baik ayah.” Baru saja dara remaja itu menyahuti ayahnya, namun terlihat dara remaja itu telah berada di dekat orang pertama dan kedua Sam-Eng Hwang ho.
“Paman berdua mundurlah biarkan saya bermain main dengan kedua orang pengacau ini!”
Kedua perwira itu nampak kebingungan, jika mereka bukan lawan Sam-Eng Hwang ho apalagi darah remaja ini. Namun saat mereka melihat kea rah pria paru baya yang datang bersama darah remaja itu, nampak pria itu hanya menggukan kepala.
“Baiklah nona, harap berhati hati dengan mereka berdua.”
“Bukankah tuan berdua sedang mengejar kami?”
Orang ketiga dari Sam-Eng Hwang ho yang merasa seperti di permainkan menjadi naik pintam, ia langsung bergerak mengangkap dara remaja itu.
Tidak di sangkah tangkapannya meleset, dara remaja itu terlihat gesit menghindari tangannya sambil tersenyun senyum.
Orang ketiga dari Sam-Eng Hwang ho menjadi makin marah, seumur hidup baru sekarang di perrmaikan seorang yang masi terlalu kanak kanak apalagi oleh seorang gadis.
Orang ketiga dari Sam-Eng Hwang ho mulai menggunakan tangan beracunnya yang selama ini di andalkannya.
“Gadis Bengal, sekarang kau harus merasakan akibat keusilan mu!”
Orang ketiga dari Sam-Eng Hwang ho menyerang menggunakan tangan beracun, saat tangannya terlihat dekat ia merasa mendapat angin karena terlihat dara remaja itu seperti tidak mampu mengelak.
Jarak yang begitu dekat antara serangan dari Orang ketiga dari Sam-Eng Hwang ho dengan pundak dara remaja itu, membuat ke dua perwira menahan napas. Mereka berpikir dara remaja itu akan celaka oleh serangan lawan.
\=\=\=\=\=\=》》》》
Salam merdeka
Kita Bineka Tunggal Ika
Kita satu bangsa
Kita bangsa Indonesia
__ADS_1