
BAB. 15
Iblis Tangan Hitam pergi dalam keadaan luka parah, entah bagaimana nasibnya, namun mulai hari itu seiring keperginya nama Iblis Tangan Hitam tidak lagi pernah terdengar di dunia persilatan.
Kekalahan Iblis Tangan Hitam makin membuat nama Bidadari Berkabung terkenal hingga jau ke selatan. Para pendekar yang menyaksikan kekalahan Iblis Tangan Hitam hanya dalam satu gebrakan, mulai menceritan mulut ke mulut tentang pendekar wanita yang berjuluk Bidadari Berkabung.
“Sungguh satu kehormatan bagi kami akan kehadiran Lihiap di sini”.
Ketua Yu yang mengetahui bahwa Pendekar wanita yang menolong muridnya adalah Bidadari Berkabung langsung berdiri dan menyambut Kwee Li Siang.
“Maafkan ketidaktahuan kami akan kedatangan Lihiap di tempat kami sunggu kami merasa malu akan kejadian ini”.
“Sudahlah Pangcu, sayapun hanya kebetulan lewat di kota ini dan mendengar pesta di tempat pangcu, saya juga meminta maaf karena datang tanpa di undang bahkan telah lancang mencampuri urusan di sini”.
“Lihiap, kami yang harus berterima kasih, kerena lihiap nyawa murid kami bisa tertolong”.
“Saya hanya tidak menyukai kecurangan Pangcu, saya melihat murid pangcu yang telah kalah namun harusnya pertandingan telah berakhir akan tetapi, Iblis Tangan Hitam sepertinya berniat membunuh murid pangcu dan saya merasa seperti ada sesuatu di balik peristiwa itu, sepertinya Iblis Tangan Hitam adalah suruhan untuk melemahkan atau memata matai Perkumpulan Pengemis Teratai. Baiknya Pangcu dan seluruh anggota pangcu bertidak waspada kedepannya”.
“Baiklah Lihiap, kami mengucapkan terima kasih atas peringatan ini dan mari Lihiap kami mengundang untuk bergabung di atas panggung”.
Kwee Li Siang awalnya tidak berniat berlama lama, namun karena Ketua Yu telah mengajak ke atas panggung kehormatan di tambah beberapa tokoh sakti yang hadir di situ terus memandang padanya membuat Kwee Li Siang menjadi tidak enak untuk segera pergi.
Ketua Yu memperkenalkan satu persatu para tamu yang duduk di deretan tamu kehormatan.
Dengan alasan adanya kejadian tadi Ketua Yu memberi tanda pada Yu Bing untuk membubarkan pesta ini.
“Cuwi yang terhormat, seperti yang cuwi saksikan tadi bahwa acara yang semula berjalan meria dan lancer tiba tiba menjadi gaduh dengan adanya pibu tadi. Seperti juga yang kita telah saksikan bersama, dua orang murit kepala kami mengalami luka berat dan kami butuh waktu untuk penyembuhan murid kami, dengan sangat berat hati kami sampaikan bahwa pesta ketua kami harus kami akhiri dan kami persilakan para tamu untuk meninggalkan tempat kami dan bagi para tamu yang dari luar kota, kami persilakan menginap di semua penginapan di kota ini dan akan menjadi tanggung jawab kami semua. Sekiranya hanya itu yang bisa kami sajikan di akhir pesta kami ini”.
Para tamu segera berpamitan dari gedung Pengemis Teratai, ada yang langsung meninggalkan kota Loukyan dan ada yang masi menetap untuk menikmati keindahan kota Loukyan yang sangat kerkenal.
Kwee Li Siang yang masi berada di Markas Pengemis Teratai, nampak sedang berbinacang dengan para tokoh partai pengemis dan beberapa tokoh dunia persilatan lainnya.
__ADS_1
“Lihiap, bagai mana kabar Suhu mu Pendekar Perantau”. Terdengar suara Kanya Ketua Yu.
Kwee Li Siang tertegun mendengar pertanyaan Ketua Yu yang langsung bisa menebak siapa gurunya.
“hahaha. Lihiap tidak usah kaget jika Pancu Yu bisa mengenali Suhu Lihiap”. Kata Dewa Arak sambil tertawa.
“Saya harap para locianpwe dan para tetua tidak memanggil saya Lihiap, saya merasa malu dengan sebutan itu di depan para Locianpwe semua. Saya harap cukup dengan memanggil nama saya Kwee Li Siang saja, namun kiranya bagaimana Pangcu bisa mengetahui tentang Suhu saya”.
“Dari ilmu silat mu Nona Kwee. Kiranya siapa tokoh tua di jaman ini yang tidak mengenal Suhu mu”. kata Ketua Yu yang kini memanggil nama pada Kwee Li Siang.
“Nona Kwee, apakah Nona Kwee mengenal seorang seorang Pedagang Marga Kwee dari kota Chang’An?”. Kata Yu Bing memotong pembicaraan Ketuanya dan Kwee Siang.
Kwee Li Siang yang mendengar di sebutnya mana mendiang ayahnya terlihat terdiam dan memandang Yu Bing dalam dalam.
“Nona Kwee ada apa? Apakah Nona Kwee mengenalnya hartawan Kwee?”.
“Apakah yang tetua Yu maksud Hartawan Kwee yang berasal dari Louyan?.”
“Benar Nona, hartawan Kwee yang kami maksud adalah Hartawan Kwee yang bersal dari kota ini”.
“Hartawan Kwee yang tetua maksud adalah Mendiang Ayah saya”.
“Mendiang!” terdengar suara Yu Bing dan Yu How secara bersamaan.
“Nona, bisakah nona menceritakan secarah jelas dan kenapa nona menyebut mendiang ayah nona?”.
“Tetua Yu, sebelum saya menceritakan semuanya baiknya tetua Yu berterus terang apa hubungan tetua Yu dan mendiang ayah saya?”
Yu Bing menatap kakanya sekan meminta ijin untuk meceritakan semuanya dan di balas agukan kepala oleh Yu How.
“Anak Siang.” kata Yu Bing yang merubah panggilan pada Kwee Li Siang.
__ADS_1
Kwee Li Siang yang perubahan sikap tetua Yu bertanya Tanya dalam hati, apa gerangan hubungan mendiang Ayahnya dan Para tetua Partai Pengemis.
“Anak Siang, dengarkan cerita masa lalu mu dan keluarga mu. Mendiang ayah mu bisa di bilang Sute kami berdua”.
Kwee Li Siang seakan terperajat kaget mendengar keterangan ini, kalau benar mendiang ayahnya adalah sute para tetua Parta Pengemis kenapa ayahnya dengan mudah bisa di bunuh para perampok itu dan selama mendiang ayahnya masi hidup, Kwee Li Siang tidak pernah melihat ayahnya berlatih silat.
“Tetapi bagaimana mungkun Locianpwee, mendiang ayah saya orang hanya pedagang dan tidak mengerti Ilmu Silat, bahkan ketika terjadi pembantaian keluarga kami, ayah dengan mudah di bunuh para perampok”.
“Hal itu tidak heran anak Siang karena ayahmu tidak mengerti ilmu silat dan tidak mau belajar ilmu silat. Saya dan Suheng adalah murid Mendiang Suhu Kwee Hong Ti seorang Pangeran Dinasti Qi Utara. Mendiang ayahmu membenci dan tidak menyukai ilmu silat di karenakan, semasa mudahnya ayah mu sering melihat orang orang yang pandai ilmu silat menindas orang lain. Suhu yang saat itu merasa kecewa dengan ayah mu memilih mendiamkan ayah mu, bertahun tahun hubungan suhu dan ayah mu tidak akur dan hal itulah yang menyebabkan ayah mu pergi meninggalkan Loukyan. Bertahun tahun kemudian, kami mendengar ayah menetap di utara dan menjadi pedangan yang cukup terkenal. Masa peperangan antara Qi dan Sou utara membuat kami tidak bisa mengunjungi ayah mu, karena jika itu kami lakukan akan sangat berbahaya bagi keselamtan ayah mu dan keluarganya. Hingga suhu meninggal ayah mu tidak mengetahui hal itu dan kami pun tidak bisa memberi kabar pada ayah mu. Saya sendiri pun saat suhu meninggal tidak mengetahui hal itu, di karenakan saya yang memiliki kesenangan merantau”.
Kwee Li Siang yang mendengar cerita itu merasa terharu akan cerita Yu Bing.
“Tidak kami sangka, di usia kami yang sudah tua ini kami masi bisa bertemu dengan keturunan Suhu. Kekuasaan Tian tidak ada batas.” Terdengan suara Yu How yang penuh syukur dan tanpa terasa kake tua itu meneteskan air matanya.
“kemarilah anak ku, biarkan kake tua ini memluk mu”.
Kwee Li Siang yang melihat ketulusan yang terkandung dalam suara Yu How segera maju kedepan dan berlutut di depan Ketua Yu.
“Paman. maafkan mendiang ayah dan kami sekaluarga”. Kwee Li Siang terlihat meneteskan air mata.
Pertemuan keluarga dalam ikatan perguruan itu mendatangkan haru yang sangat dalam hingga beberapa tamu yang masi tingga ikut merasakan kegembiraan itu. Beberapa tamu yang yang merasa bahwa para tuan rumah membutuhkan suasana sendiri memilih untuk berpamitan, baik para pendekar ataupun para pembesar kota Loukyan.
“Dewa Arak, sepertinya sudah saatnya pengemis tua ini meminta kembali sesuatu yang pernah saya titipkan puluhan tahun lalu”. Kata Yu Bing pada Dewa Arak.
Dewa Arak yang mengerti maksud sahabatnya tampak tersenyum.
“Ah. akhirnya beban ini bisa selesai hari ini. Pengemis tua berikan belati mu pada ku”. Kata Dewa Arak.
Yu Bing menyerahkan belati kecil yang selalu menemaninya selama ini. Dewa Arak yang menerima belati dari tangan Yu Bing langsung mengerakan belati ke arah paha kirinya, terlihat darah mengalir dan sebuah sayatan memanjang terlihat pada paha Dewa Arak. Kwee Li Siang dan para tetua pengemis kaget melihat tidakan Dewa Arak, namun ketika tangan dewa arak tampak menarik sesuatu dari bekas sayatan pahanya baru mereka mengerti bahwa Dewa Arak menyembunyukan sesuatu dalam daging pahanya. Tangan Dewa Arak terlihat memengan sebuah lembaran dari kulit dan menyerahkannya pada sahabatnya.
\=\=\=\=\=\=》》》》
__ADS_1
Jangan lupa like dan komennya. 🙂