
Prolog
SEORANG GADIS berambut sepunggung tiba-tiba berteriak. Entah sejak kapan ia berada di atap rumahnya yang memiliki tiga lantai tersebut. Ketika melihat ke bawah, kepalanya langsung pusing dan mual. Ada gravitasi yang mencoba menarik jiwanya ke inti bumi. Akibat teriakannya, seorang butler langsung berjalan santai ke halaman depan. Dia menengadah sambil tersenyum layaknya maneken sempurna.
"Turunlah, Nona Asuka ...."
"Turun? Aku tidak mungkin melompat, Yurai! Bantu aku turun ...!"
Kuromi Asuka, itulah namanya. Dengan penuh kepanikan, gadis itu masih berteriak dan berpegangan seadanya. Dia tak boleh banyak bergerak atau nanti akan terjatuh dan tewas di tempat.
Pagi ini, gerimis sudah berubah menjadi hujan. Asuka menyuruh Yurai—sang butler untuk membantunya turun. Sudah belasan kali sejak ulang tahunnya yang ke-20, dia sering terbangun di berbagai sudut rumah.
"Cepat turunkan aku!! Aku bersumpah Yurai, jika kau tak mau membantuku turun, maka aku akan mengutukmu menjadi capung!!" teriak Asuka. Pria itu masih berekspresi datar, hingga membuat dirinya kesal, "Yuraiii!!!! Apa kau sudah tuli?!!"
Kebiasaan gadis itu dalam mengejek dan memarahinya sudah biasa di mata Yurai. Dia suka melihatnya. Aura manusia saat marah sangatlah menggoda, penuh energi dan mengenyangkan. Asuka juga tahu jika butler-nya selalu memanfaatkan kemarahannya untuk hal-hal aneh semacam makanan. Apapun itu namanya, jelas terdengar mengerikan.
Jika Yurai seorang manusia, lain lagi ceritanya. Tapi sayang, pria berwajah tirus nan tampan seperti patung yang terbuat dari lilin itu bukanlah manusia. Dia memiliki kebiasaan menghilang dan muncul tiba-tiba. Matanya lentik seperti boneka—irisnya cokelat kehitaman, bibirnya tipis kemerahan, serta suara merdu yang bisa membuat siapa saja jatuh cinta. Yurai berasal dari dunia dimensi empat, sebuah dunia lain dengan nama populer Immortality Kingdom. Manusia biasa mungkin tak akan memercayai keberadaan mereka di dunia fana.
"Yurai!!? Kau benar-benar mau kukutuk menjadi capung?" tanya Asuka sedikit mengancam.
Pria itu sudah menghilang dari pandangan Asuka. Dalam sekejap mata, sosoknya muncul di depan gadis itu, melungguh santai sambil menikmati guyuran hujan. Kulit putih bersihnya terlihat jelas jika dipandangi dari dekat.
Yurai menghela napas dan sedikit terkekeh. Rupanya, kutukan Asuka masih ia pikirkan dengan baik. Bagaimana bisa seorang half-blood murni mengutuk iblis menjadi capung, jika dirinya sendiri tak bisa turun dari atap rumah?
"Apa yang lucu? Jangan bilang jika kau mau mengejekku lagi!" Asuka mendengus kesal dan memeluk tubuhnya sendiri, merasa kedinginan.
"Ah, kapan Nona Muda bisa terbang dan turun sendiri?" tanyanya.
"Hah? Terbang??" kaget gadis itu. Sudah dia duga jika Yurai akan mengejeknya lagi.
Suara merdu Yurai menggetarkan semua syaraf Asuka. Sayangnya bukan getaran cinta, melainkan sebuah hasrat untukmeninju wajah kaku itu. Seandainya saja ia bisa melukai pria itu, sedikit saja ... maka dia yakin, semua kaum iblis yang menetap di dunia fana akan tunduk padanya.
__ADS_1
"Tidak ada manusia yang bisa terbang! Jangan berkhayal aku akan terjun lalu sepasang sayap muncul di punggungku. Itu tidak mungkin!" sahut Asuka ketus.
Lirikan mata Yurai seperti ingin membunuh Asuka—sebenarnya tidak—hanya terlalu tajam saja. Tapi bagi pria itu, tatapannya sendiri masih tergolong biasa, "Aku berharap manusia juga bisa terbang, mungkin tanpa sayap ...."
"Ya ampun, Yurai. Otakmu mungkin sudah tidak beres lagi! Jika itu terjadi, pasti dunia sudah kiamat! Cepat turunkan aku, hujannya semakin lebat."
"Tapi, Nona ... Iblis tak pernah kedinginan," kata Yurai lagi.
"Aku ini manusia."
"Manusia setengah iblis," Yurai tak mau kalah. Dia harus selalu yang paling maha tahu di rumah.
"Setidaknya aku ini bukan iblis setengah manusia!" nada bicaranya agak tinggi, mengalahkan suara hujan. Tubuh Asuka sudah menggigil, bibirnya agak pucat—anggap saja jika dia memang sedang kedinginan.
Sejak awal neraka diciptakan, tubuh iblis mengandung api hitam yang bersifat abadi. Sedangkan elemen tersebut merupakan bagian terpanas di neraka, mengalahkan matahari.
Dan Yurai sama sekali tak pernah kedinginan saat melewati musim dingin tahun lalu, atau wajah memerah akibat suhunya. Tubuhnya tetap hangat dan selalu menjadi selimut kedua untuk Asuka.
Akhirnya Yurai mengalah. Dia berdiri dan membopong Asuka. Dalam satu kali kedipan, keduanya sudah berpijak di lantai. Tubuh butler itu tidak basah sama sekali, justru hangat. Ia segera menurunkan Asuka dekat tangga penghubung lantai dua.
Suasana kediaman keluarga Kuromi tampak sepi namun menenangkan. Beberapa maid yang melintas pun langsung membungkuk hormat lalu melenggang begitu saja. Sedangkan Yurai pamit pergi ke dapur untuk membuat minuman penghangat tubuh.
Kosong ....
"Aku merasa ada aura vampir di sekitar sini. Tidak mungkin mereka bisa masuk ke rumah ini. Yurai pasti akan menyadarinya," gumam Asuka.
Tuk, tuk, tuk ....
"Yurai??" panggil Asuka ketika suara ketukan di pintu membuatnya curiga.
"Ya, Nona. Ini aku ...," sahut dari luar.
"Bisakah kau gosok punggungku? Tanganku tak bisa menjaungkaunya."
Tak ada jawaban lagi. Asuka menghela napas dan hendak menutup tirainya kembali, tapi keberadaan Yurai yang muncul tiba-tiba membuatnya memekik. Tanpa rasa bersalah sedikit pun, pria itu tersenyum simpul sambil menyodorkan secangkir teh jahe merah. Asuka bersumpah, lain kali dia benar-benar harus mengutuk butler-nya menjadi capung putih.
"Bisakah kau masuk lewat pintu? Kau bisa membobol pintu yang terkunci. Aku tahu itu!" omel Asuka. Dia menghirup aroma teh jahe merahnya, sangat harum. Semua kemarahannya langsung sirna ketika minuman tersebut masuk ke tenggorokannya.
__ADS_1
"Maaf, Nona. Aku tak mau mengotori tanganku dengan memegang handle pintu. Sebenarnya, kata 'mombobol' itu terdengar seperti seorang pencuri ...," Yurai masih tersenyum dan langsung melakukan perintah nona mudanya.
"Apa kau bisa memasuki bank dan mencuri uang di brangkas tanpa ketahuan?"
"Jangankan uangnya Nona, emas batangan pun mudah untuk kami ambil jika mau ...."
Asuka menoleh ke belakang, menatap pria itu dengan sedikit berbinar, "Bisakah kau mencuri satu sepuluh juta yen dari bank terbesar di Tokyo?"
Yurai terkekeh, masih sibuk menggosok punggung nona mudanya dengan sabun dan sikat mandi. Dia tak memedulikan tubuh bagian atas Asuka yang terlihat jelas. Sama sekali tak tertarik atau mencoba macam-macam untuk membuat anak majikannya tergoda. Bagi iblis, tubuh manusia yang bukan mate mereka tidaklah menarik.
"Untuk apa?" tanyanya datar.
"Hmm, entahlah. Mungkin membagikannya pada rakyat miskin di luar sana ...," gadis itu sedikit berpikir.
"Tidak perlu mencuri untuk berbuat kebaikan. Aku yakin, masih banyak manusia di luar sana yang peduli dengan sekitarnya," timpal Yurai.
"Hah? Tumben kau jadi iblis baik. Tapi kau tahu sendiri 'kan kalau masyarakat Jepang itu tidak suka ikut campur urusan orang lain, mereka lebih cuek dan menutup diri tentang pribadinya."
"Ah, jika Nona berpikiran seperti itu, maka kenapa masyarakat negeri ini tak memiliki catatan kejahatan yang besar? Jika banyak rakyat jelata yang kesusahan, kenapa mereka tak merampok saja?"
Asuka menghela napas panjang, memikirkan dua pertanyaan butler-nya. Ternyata, iblis mengetahui banyak hal tentang manusia, memiliki kepedulian dan melakukan riset.
"Oh, iya Nona. Aku punya informasi penting ... Hari ini Ayah Nona akan menghadiri pertemuan para bangsawan makhluk abadi, membahas kekuatan murni darah campuran. Sepertinya Nona harus ikut," kata Yurai.
"Aku tidak mau mempermalukan Ayah lagi di depan mereka. Bahkan aku tak bisa menggunakan kekuatanku," timpal Asuka muram, "mungkin aku ini memang terlahir cacat."
"Jangan bicara sembarangan ...! Nona Muda lebih kuat dibanding iblis murni manapun, kecuali jika melawan Raja Lucifer ... Kekuatan Nona hanya tersembunyi dan harus dibangkitkan," jelasnya.
"Tapi tak pernah berhasil 'kan? Semua itu seperti bualanmu saja."
Yurai terdiam. Anggap jawabannya adalah 'iya'. Namun pria itu berkilah, "Hanya tinggal menunggu waktu yang tepat saja. Percayalah, ramalan iblis tak pernah melesat ...."
"Huh? Dari mana kau tahu?" tanyanya sebal.
"Aku sering mencuri informasi dari langit."
"Benarkah? Kalau begitu kau tahu siapa jodohku?"
__ADS_1
"Hmm ... rahasia," sahut Yurai tersenyum misterius.