Pengantin Berdarah Murni

Pengantin Berdarah Murni
Celah Dan Malaikat Kematian


__ADS_3


ASUKA MULAI melihat kemunculan Argaes yang menunggangi Hellhorse. Iblis berkepala kuda itu berhenti di depan ketiganya lalu meringkik kecil—tampak nyengir. Tapi tatapan matanya sama sekali tak terlihat seperti kuda. Ketandusan negeri Paralel berubah menjadi padang kusa hijau berbunga. Embusan angin musim semi sesekali membelai. Iblis itu terlihat geram. Kelihatannya dia tidak menyukai tempat yang memiliki banyak warna dan aroma. Asuka memiliki kesempatan untuk memancing malaikat buangan itu keluar dari persembunyiannya.



Gadis itu akan memainkan banyak suasana alam...



"Kau tidak berhak mengubah negeri apiku menjadi padang rumput!" kata Argaes.



"Ini negeri api untuk semua kaum elemen api. Kau hanya tangan kanan Barack. Dan aku ingin menemuinya," Asuka menimpali, berusaha menormalkan detak jantungnya yang tak beraturan.



Argaes tertawa renyah, "Apa kau menyerahkan diri pada Raja? Sudah sepatutnya seperti itu. Padahal aku berencana untuk ke dunia fana dan menculikmu lagi!"



Asuka mencegah Hiirosen agar tidak bertindak gegabah. Lalu ia menatap Argaes setenang mungkin, "Aku datang untuk menyadarkannya dari pengaruh jahat malaikat kematian itu. Kudengar malaikat kematian yang membelot pada Tuhan, kini tengah menangis ketakutan," sahut Asuka menyindir.



Argaes menahan diri untuk tidak membakar Asuka melalui tatapan mata iblisnya, "Kau hanya half-blood rendahan, makhluk fana yang sepatutnya tak terlahir ke dunia. Namun darahmu sangat dibutuhkan Raja Barack untuk membuat pasukan monster api yang hebat."



"Dibutuhkan Barack atau malaikat kematian itu?"



"Aku tak mengerti apa maksudmu, Asuka. Heh?! Jangan banyak bertanya. Aku 'kan sudah bilang, aku tak suka banyak menjawab pertanyaan konyol!"



"Aku hampir lupa tentang itu, Kepala Kuda...," Asuka menimpali.



Ada kesempatan emas. Argaes tak suka menjawab berbagai pertanyaan dalam satu situasi tertentu. Hal tersebut akan memecahkan fokus iblis itu, hingga Asuka mampu melihat di mana celah yang tengah terbuka lebar. Sedari tadi Argaes terus saja mengelak dan mengganti topik pembicaraan. Jadi sudah jelas jika dia ada hubungannya dengan malaikat tersebut.



Kali ini tampaknya Barack tak akan datang. Malaikat buangan itu pasti sudah tahu tujuan Asuka, dan Barack disembunyikan di istana dengan apik—berpesta dengan dikelilingi banyak wanita iblis.



"Siapa kau sebenarnya?" akhirnya Shinwa angkat bicara.



"Kau bilang siapa aku?? Aku Argaes, tangan kanan Raja Barack," jawab Argaes dengan bangga.



"Kaupikir kami bodoh!? Kau suruhan malaikat kematian itu 'kan?" kali ini Hiirosen hampir kehilangan kontrol.



"Malaikat kematian? Suruhan? Sungguh, kalian terlihat konyol," Argaes tertawa keras, memecahkan keheningan padang kusa yang sedikit tergoyangkan angin. Sedetik kemudian, ekspresinya berubah serius, "sepertinya kalian mulai mengetahui banyak hal tentang itu. Jika sudah begini, maka kalian tak akan kubiarkan keluar dari Dunia Paralel!"



Terdengar gemuruh di cakrawala jingga. Jalan masuk di belakang mereka menghilang entah kemana—tergantikan dengan tanah tandus yang mencekam. Hawanya sedikit panas, seolah-olah matahari sedang berada dalam posisi terdekat dengan bumi. Argaes tidak mungkin melakukan itu. Yurai saja bahkan tidak mampu. Butuh kekuatan besar untuk bisa menghilangkan dan membuat sebuah jalan keluar–masuk dunia lain.



Argaes turun dari kudanya. Pertarungan kecil akan segera dimulai. Asuka dan keduanya pasti akan kalah, tapi setidaknya mereka berusaha untuk membuat si malaikat buangan itu menampakkan diri. Kali ini gadis itu tengah memikirkan sesuatu.



Aku pasti akan mendapatkan caranya. Tak ada jalan buntu, pasti ada celah untuk jalan keluarnya...berpikirlah Asuka! Pikiran kedua Asuka terus menuntut.



"Katana yang cantik, Pengantin Darah Murni! Aku akan menghabisimu seperti aku menghabisi pengantin yang lain. Darahmu tak lagi berarti untukku!" Argaes tertawa lagi.

__ADS_1



"Kau membunuh manusia?" tanya Shinwa.



Iblis itu terkekeh sejenak,"Ah, ya. Kau benar anjing hutan. Memangnya apa yang harus kulakukan lagi? Membunuh manusia adalah hal yang menyenangkan. Tentu saja... Tanpa sepengetahuan Raja Barack," ia menyeringai.



Gadis itu tak akan tergoyahkan dengan kata-kata ancaman Argaes. Iblis selalu menakut-nakuti, karena mereka sendiri yang takut akan kelemahannya. Di saat lawannya ketakutan, iblis akan semakin mudah membunuhnya. Setidaknya, aku ini bukan iblis setengah manusia... Lagi-lagi pikiran itu muncul setelah teringat percakapannya dengan Yurai beberapa hari lalu.



Asuka berusaha untuk menyerang, mengayunkan katana seadanya. Argaes hanya tersenyum datar dan menghindar dengan mudah. Di saat ada kesempatan, tangan berkuku tajamnya mencekik leher Asuka—mengempaskannya ke sisi lain.



"Asuka!!!" Hiirosen segera berlari untuk menghampiri mate-nya, tapi Argaes menghalangi. Iblis itu mengeluarkan api dari kedua tangan, mengarahkannya pada Hiirosen dan Shinwa. Keduanya terpaksa menghindar.



"Sepertinya kau ingin ekormu terbakar lagi, werewolf!"Argaes menyeringai—menyemburkan api besar ke arah Shinwa yang telah berwujud serigala. Dengan cekatan, serigala hitam itu berlari kencang dan menghindari serangannya, lalu melolong panjang.



Hiirosen segera berdiri di depan mate-nya untuk melindungi. Gadis itu terbatuk beberapa kali, "Kau baik-baik saja? Aku tak ada waktu untuk melihat kondisimu. Tapi kurasa kau baik-baik saja. Temukanlah celahnya selagi kami membuat dia kewalahan..."



"Dia iblis api, Hiirosen. Kalian tidak mungkin bisa mengatasinya...," Asuka terlihat ragu.



"Mungkin kau benar. Tapi para vampir selalu memiliki elemen angin."



"Angin?!" Asuka mengerutkan kening. Belum sempat ia meminta penjelasan, pria itu sudah menjauh.




Angin berembus kencang setelah Hiirosen merentangkan kedua tangan. Matanya berubah menjadi merah pekat, surai peraknya sedikit memanjang. Angin tersebut kemudian semakin kuat dan membentuk tornado—mengunci Argaes yang ada di tengahnya. Iblis itu sedikit terkejut dan berusaha untuk mempertahankan diri agar api di tubuhnya tidak tersedot pussran.



"Elemen angin!! Kalian mungkin pengguna elemen angin, tapi aku tak bisa kaukalahkan dengan mudah, mayat hidup!" Argaes menggeram.



"Memang benar. Namun aku menyimpan energiku untuk ini, Iblis. Kaum vampir tidak tahan dengan api, karena itulah angin menjadi elemen kami!" vampir itu menimpali.



Suasana alam seketika berubah lagi menjadi padang kusa setelah Asuka membayangkannya. Argaes semakin geram dan membenci pemandangan penuh warna. Kali ini iblis itu tidak akan main-main. Tornado yang diciptakan Hiirosen membuat keadaan sekitarnya bergetar. Helaian kusa rusak dan terbawa angin. Puluhan domba mengembik lalu berlari menjauh. Cakrawala yang dipenuhi mega mulai menyatu dengan tornado, disertai petir bersahutan tiada henti. Matahari berpinar tergantikan dengan kegelapan layaknya akan turun hujan.



Asuka mulai memikirkan sesuatu. Hiirosen dan Shinwa telah mengorbankan banyak energi hanya untuk membantunya menemukan kelemahan Argaes. Mungkin sekarang, si malaikat buangan yang dicari mereka sedang menyamar menjadi sesuatu—memperhatikan dari jauh. Atau mengendap-ngendap seperti pencuri yang takut jati dirinya terbongkar.



"Kalian benar-benar merepotkan!" Argaes menggeram dan langsung mengeluarkan kekuatan apinya. Tapi lagi-lagi tersedot oleh pusaran angin dan menghilang ditelan tornado, "aku akan membunuh kalian semua...!!" teriaknya diliputi kemarahan.



Terlihat sesuatu di punggung Argaes, hanya samar-samar, tapi Asuka melihatnya dengan jelas. Iblis itu berhasil mematahkan tornado milik Hiirosen. Asuka mulai menyadari sesuatu yang penting. Celah itu telah terlihat—kelemahan Argaes. Iblis selalu punya sayap. Ia berlari ke arahnya sambil memegang katana kuat-kuat.



Argaes masih berusaha membuat tubuhnya berapi. Ia tak menyadari jika saat ini Asuka sudah berada di sampingnya. Ketika melirik, dia hanya bisa membelalak saja. Dalam hitungan detik, ia langsung meringkik keras dan jatuh terlutut.



"Kurang ajar!!" geramnya. Sayap hitam tercipta dipunggung Argaes, sebelahnya lagi lenyap karena Asuka berhasil memotongnya. Iblis itu terlihat sangat marah dan kesakitan dalam waktu yang bersamaan. Wujud kepala kudanya berubah menjadi kepala pria berwajah tampan dan penuh kharisma. Asap mengepul dari tubuhnya. Perlahan-lahan, Argaes bangkit dengan keadaan terluka.


__ADS_1


Asuka terlalu terkejut hingga menjatuhkan katananya. Ia mundur perlahan-lahan seraya memperhatikan Argaes yang menunjukkan tatapan mengintimidasi. Pakaian iblis itu berubah seperti sebuah jubah hitam bertudung, kepalanya menjadi tengkorak. Ada warna merah menyala di kedua lubang mata besarnya. Keganjilan Argaes mulai terlihat, seperti firasat dalam mimpi Asuka.



"Asuka...!" dari tangan kanan Argaes muncul tongkat bersabit. Kepala tongkat itu memiliki ujung yang sangat runcing, "beran-beraninya kau memotong sayap malaikatku!"



"Dia... Malaikat itu? Tidak mungkin!" gumam Shinwa tercengang.



"Malaikat kematin rupanya adalah dirimu sendiri??! Jadi selama ini, kau tidak bersembunyi tapi menyamar dan mengendalikan Dunia Paralel, meracuni pikiran Barack, mengurung Van dan para peri hutan serta membunuh banyak pengantin darah murni. Kau takut untuk kembali ke neraka dan berniat untuk menguasai negeri api, 'kan? Kau ingin membunuhku setelah Barack berhasil membangkitkan kekuatanku 'kan?" tutur Asuka. Ini semua di luar rencana ketiganya. Ia tidak memiliki rencana lain setelahnya.



Iblis—bukan! Tapi malaikat buangan itu tertawa menyeramkan. Padang kusa yang dibuat Asuka berubah menjadi tandus dan mencekam. Langit cerah berubah jingga kemerahan. Lalu alam berganti lagi menjadi musim panas, musim semi kemudian musim dingin. Dalam sekali ayunan tongkatnya, Argaes mampu membuat Hiirosen dan Shinwa terpental puluhan meter.



Argaes tidak menyangka jika Asuka mampu melihat sayap malaikatnya. Serangan beruntun Hiirosen dan Shinwa hanyalah pengalihan saja untuk menemukan celah kelemahannya. Ia akui Asuka memang peka dan memiliki kemampuan tinggi. Tapi dia tak akan terkalahkan oleh makhluk fana seperti half-blood. Tanpa sayap, maka tak bisa terbang. Kekuatannya juga berkurang. Tapi selama tongkatnya masih ada, ia masih bisa menjadi malaikat setengah iblis lalu menguasai berbagai negeri.



"Kau benar... Dan kau juga harus mati seperti para pengantin lainnya, Asuka!!! Tak ada darah murni! Tak ada half-blood terkuat! Hanya ada malaikat kematian. Hanya diriku yang boleh menjadi penguasa semua negeri!" Argaes menghunuskan tongkatnya ke arah Asuka. Ujung tongkatnya yang tajam langsung menusuk dadanya. Gadis itu memekik kesakitan. Darah segar keluar dari mulutnya. Untuk beberapa saat, Asuka mencoba untuk melepaskan diri tapi gagal.



"ASUKAAAA!!" Hiirosen berteriak panik. Ia segera membuat tornado kedua lalu mengempaskan malaikat itu ke sisi lain. Kali ini tornado yang diciptakannya lebih kuat dan besar hingga petir dan hujan salju deras menyuarakan kemarahannya. Asuka ambruk begitu saja, tengah berusaha untuk bernapas. Darah segar mengotori salju putih di bawahnya.



Hiirosen segera menghampiri Asuka dan melihat kondisinya, "Bertahanlah, mate-ku...," ujarnya dengan suara gemetar.



"Hi-hiirosen... Aku...," Asuka berusaha melihat pria itu selama mungkin, tapi kegelapan sudah menyelimuti kedua matanya.



"Tidakk!! Asuka, kumohon bertahanlah!" Ada kilatan kemarahan yang terpancar di mata Hiirosen saat melihat mate-nya tak lagi bernyawa. Tak ada detak jantung yang mengiang di telinganya ataupun napas teratur penuh kehangatan.



Sementara di seberang mereka, Argaes tertawa laknat saat melihat Asuka benar-benar telah tiada, "Akhirnya!! Akhirnya apa yang kutunggu-tunggu telah terjadi! Sungguh malang sekali nasibmu, Asuka!"



"Dasar malaikat sialan!!" desis Shinwa.



Darah Asuka yang awalnya membanjiri tanah bersalju, perlahan-lahan terserap ke bawah. Hiirosen dan Shinwa menantikan sesuatu. Ada es yang tercipta di dekat tubuh gadis itu, membentuk lapisan salju lalu menutupi semua permukaan.  Pepohonan terlihat seperti pahatan es cantik, tornado dan mega juga ikut membeku.



Argaes menggeram dan mencoba untuk mencairkan negeri api yang mulai sepenuhnya tertutupi es. Begitu pula dengan perbatasan negeri es, perlahan-lahan pepohonan di sana membeku. Para werewolf melolong panjang.



"Apa yang kaulakukan pada negeri ini Argaes? Apakah ini yang kauinginkan?" tanya Shinwa sedikit kedinginan.



"Tidak!! Aku tidak menginginkan ini! Tidak mungkin darahnya mampu membekukan negeri ini. Tidak mungkin! Dia seharusnya sudah mati dan darahnya tidak lagi berfungsi!" Argaes terlihat panik. Elemen apinya tak mampu mencairkan es tersebut, "apa yang sedang terjadi?' gumamnya.



Warna rambut Asuka berubah putih meta, kulitnya sedikit pucat. Hiirosen segera membopong gadis itu dan membawanya pergi menjauh. Semua Hellhorse milik Argaes langsung tergeletak. Api yang menyelimuti tubuh mereka menyusut lalu menjadi debu hitam—hilang diterbangkan angin.



"Tidak mungkin! Tidak! Asuka...! Sebenarnya, kau ini makhluk apa??!!" Argaes menggeram.




__ADS_1



__ADS_2