Pengantin Berdarah Murni

Pengantin Berdarah Murni
Serigala Perbatasan Negeri Es


__ADS_3


BARACK BERHASIL lolos dari kejaran Hiirosen. Iblis itu tersenyum puas. Dia  membawa pergi Asuka ke sebuah pegunungan penuh salju—tidak mungkin bisa dilewati oleh werewolf hutan empat musim, apalagi vampir. Dengan begitu, ia bisa bersantai dulu di sana sebelum Tuan Rein tiba.



Barack mendudukan Asuka dekat batu besar, memeriksa keadaannya. Gadis itu terlihat menggigil, wajah pucat dan hidung memerah. Pandangannya tampak kabur. Hawa dingin saja tak mampu ia rasakan lagi. Kaki dan tangannya mati rasa. Samar-samar, suara Barack mengiang di telinga.



Pria itu mengelus wajah Asuka, "Kau tahu Asuka, keturunan iblis tak pernah kedinginan. Dan kau sangat kedinginan. Kini kau tahu jika kecacatan ini harus dihilangkan. Seandainya saja mereka tidak datang mengganggu, mungkin kau sudah menikmati musim dingin tanpa pakaian tebal."



Gadis itu tak menjawab, hanya menatapnya sejenak.



Barack memperhatikan pemandangan dari mulut gua. Negeri es terlihat seperti danau gula pasir halus. Saat ini ia memikirkan Argaes. Iblis berkepala kuda itu tidak mungkin bisa mengalahkan seorang panglima neraka. Satu-satunya cara untuk bisa selamat hanya satu, yaitu melarikan diri. Semoga saja, Argaes tidak mati begitu cepat. Barack masih membutuhkannya. Tanpa dia, semua rencananya akan berantakan.



Ada pergerakan di dalam hutan, sebuah cahaya jingga kemerahan berlari cepat di bawah pepohonan bersalju. Beberapa pohon tumbang, lalu terbakar—mengepulkan asap hitam yang mencurigakan. Barack langsung berwaspada dan memfokuskan mata iblisnya.



Dari bawah sana, auman singa menggema ... Barack berdecih dan memunculkan sayap elangnya, "Rein ...!!" geramnya. Namun dia telat menyadari sesuatu yang sesang melintas di depannya, "kurang ajar!!"



Sudah terlambat untuk menghindar ...! Rantai api tiba-tiba saja menjerat tubuh Barack. Ia dibantingkan ke sebuah batu pegunungan hingga terdengar suara hantaman yang cukup keras. Auman singa kembali memecahkan keheningan, mengalahkan tiupan badai salju yang semakin merajalela. Barack mendecih dan segera terjun bebas, mengubah dirinya menjadi seekor elang api besar. Dia menukik tajam, mengeluarkan belasan bola api dari mulutnya—tepat saat melihat keberadaan seekor singa api di kaki gunung.



Singa api perwujudan Tuan Rein terus menghindar dari serangan tersebut. Ia menyerang balik, melontarkan bola api hitam ke arah Barack. Dua bola api yang berlawan saling menabrak dan meledak di udara.



"Kau tak bisa membawa putriku, Barack! Kau hanya sedang dipengaruhi. Sadarlah!!" teriak Tuan Rein.



"Apa yang kaubicarakan? Kau sendiri yang tak mencintai putrimu, Rein!! Tidak akan kubiarkan kau membawanya pergi!"



"Kau tidak tahu apa-apa tentang putriku! Jangan mempengaruhinya dengan kata-kata kotormu ...!" Tuan Rein berhenti sejenak di batu yang menjulur, menatap Barack dengan mata iblisnya.



"Tapi aku memahami penderitaannya. Sedangkan kau tidak!!" Barack melontarkan bola api lagi. Kali ini, singa itu tak melawan balik, fokus menaiki gunung. Namun sesekali, perwujudan singa Tuan Rein mengaum. Surai-surai di sekitar lehernya mulai berkibar—tertiup angin, "lawan aku, Rein!! Kau boleh mengambil putrimu jika bisa mengalahkanku!!"



Entah apa yang terjadi, Barack tiba-tiba saja hilang keseimbangan dan jatuh menghantam gundukan salju. Kedua sayapnya terselimuti es, sulit untuk dicairkan. Dia berdecih dan mencari-cari pelaku yang melontarkan bola api biru tadi. Sementara di atas sana, singa perwujudan Tuan Rein sudah dekat dengan mulut gua.



"Jangan jadi pengecut! Tunjukan siapa kalian??!" Barack menangkap sesuatu di kejauhan.



Lolongan serigala saling bersahutan. Dari balik pepohonan muncul belasan binatang berkaki empat—berbulu putih kehitaman. Mereka menggeram dan menatap Barack dengan nanar. Semua binatang itu merupakan perwujudan werewolf musim dingin. Barack sudah menduga, jika mereka datang gara-gara serigala hitam yang bersama vampir tadi.



Salah satu dari serigala itu melontarkan bola api biru dari mulutnya, hingga mengenai leher elang perwujudan Barack. Seketika, leher makhluk itu langsung membeku.



"Dasar binatang pengganggu ...," desis Barack.



Serigala yang menjadi pelaku penembakan itu malah melolong ke langit. Mereka tak suka dengan kehadiran iblis yang mengganggu wilayah kekuasaan negeri es. Sayangnya, Barack baru menyadari hal tersebut. Ia kembali berwujud manusia, kedua tangannya membiru dan sulit digerakan. Tak ada cara lain selain pergi, atau nanti dirinya menjadi kudapan makan malam mereka. Barack segera berubah menjadi kobaran api, lalu lenyap tanpa jejak.



__ADS_1






***









SETELAH SAMPAI di gua, singa perwujudan Tuan Rein berubah menjadi manusia biasa. Ia segera menghampiri Asuka dan memeriksa kondisinya. Tubuh putrinya sangat dingin, bibirnya pucat pasi serta terdapat bagian kulit wajah yang memerah.



Perlahan Asuka membuka mata, menatap sayu ayahnya. Ia berusaha untuk bisa menyentuh wajah berahang tegas itu dengan tangan gemetar, "Ayah ...," ucapnya pelan. Ia merindukan rumah, Yurai dan juga kehidupan dunia fana.



"Iya, putriku ...," Tuan Rein meletakkan tangan gadis itu di wajahnya, "bertahanlah. Kita akan segera keluar dari sini."



"Ma-maafkan aku," Asuka mulai mengeluarkan mutiara beningnya. Bibirnya gemetar karena menahan isak tangis, "a-aku tak tahu, ha-harus bagai-mana ...."



"Ini semua bukan salahmu. Seharusnya Ayah mengerti perasaanmu ...," ia menukas, menatap iba kondisi putrinya




Para serigala itu merupakan werewolf dari Pack penjaga perbatasan. Mereka mendapat sinyal dari werewolf hutan empat musim yang masuk ke daerah negeri es. Saat menyisir lokasi, ternyata ada dua vampir dan seekor serigala tergeletak tak berdaya.



"Terima kasih karena sudah membantuku," ujar Tuan Rein. Ia tak sengaja melihat salah satu dari mereka tengah menggaruk lehernya yang gatal.



"Tak masalah. Iblis api bukanlah musuh kami. Tapi Barack memang sedikit gila selama dua puluh tahun terakhir ini. Jadi kami mengusirnya ...," timpal pria itu, "perkenalkan, namaku Yuukigao ... Ketua pack penjaga perbatasan negeri es. Dan mereka semua adalah kawananku," katanya seraya melihat sekitar. Sekelompok serigala berbadan besar itu mengeluarkan suara kecil dan anggukan kepala yang khas.



"Aku Rein Kuromi, panglima tertinggi Raja Lucifer. Hmm ... sepertinya kalian terkena kutu musim dingin, sama seperti Shinwa ...," Tuan Rein menimpali, tampak gemas melihat mereka yang menggaruk dan berguling. Bahkan menggesek-gesekan punggungnya ke permukaan salju—untuk meredakan rasa gatal.



"Ah, benar. Kutu memang menyebalkan bagi kami. Bulu kami yang hangat menjadi tempat yang nyaman bagi kutu penghisap darah," Yuukigao mendesah kasar.



"Senang bertemu kalian. Tapi sayangnya aku harus segera kembali ke dunia fana untuk mengobati putriku."



Yuukigao tampak memperhatikan Asuka yang menggigil, "Jika berkenan, ikutlah dengan kami ke pondok. Kebetulan sekali, penguasa gunung berapi sedang berkunjung hari ini. Beliau mungkin bisa mengembalikan kondisi putrimu. Salah satu informanku melapor, ada empat makhluk lainnya di camp kami ...."



"Itu pasti Yurai dan yang lainnya ...," Tuan Rein berpikir sejenak, lalu melihat Asuka yang semakin kedinginan karena kepingan salju terus mendarat di tubuhnya. Mengikuti kawanan werewolf  mungkin akan lebih baik, demi keselamatan putrinya.



"Baiklah, aku akan mampir sebentar."

__ADS_1



"Kalau begitu pakaikan ini pada putrimu, perjalanan ke perbatasan cukup jauh. Putrimu akan terlindungi dari badai salju jika memakai ini," Yuukigao melepaskan jubah putih berbulunya lalu diberikan pada Tuan Rein. Asuka dapat merasakan kehangatan menyelimuti seluruh tubuhnya ketika jubah tersebut dipakaikan.



"Lalu bagaimana denganmu?" tanya Tuan Rein saat melihat Yuukigao hanya memakai baju tanpa lengan saja.



"Jangan khawatir Tuan, aku akan berlari seperti biasanya dan menikmati sentuhan salju. Kami tak akan kedinginan, sama seperti iblis."



Para kawanan serigala putih mulai berlari memasuki hutan, lalu disusul Yuukigao yang mempertahankan wujud manusianya. Tuan Rein berlari menyeimbangi lari mereka sambil membopong Asuka. Tebalnya salju memperlambat lari mereka. Tuan Rein terpaksa menyebarkan energi panas pada tempat yang dipijakinya.



"Tetua Gunung Berapi juga sering membuka jalan untuk kami. Karena itulah, iblis berelemen api menjadi teman kami," kata Yuukigao. Ia tak terlihat lelah atau terengah-engah.



"Aku akan memberikan beberapa Hellwolf untuk kalian," timpal Tuan Rein.



"Sungguh? Kami akan senang jika memilikinya."



Salju-salju yang menutupi jalanan mulai meleleh, mereka semua dapat berlari lebih cepat lagi. Dan akhirnya, mereka tiba di perbatasan setelah menempuh perjalanan kurang lebih tiga puluh menit. Ada banyak camp yang dikelilingi pepohonan tinggi. Beberapa werewolf bertelanjang dada dan melakukan kegiatan, mengumpulkan kayu bakar serta membuat api unggun untuk menghangatkan diri.



Yurai dan ketiganya sudah sampai beberapa saat lalu. Namun sayangnya, Hiirosen serta Serasawa mengalami luka akibat melawan Hellhound. Khususnya Hiirosen, lukanya lebih parah. Kini sedang menjalani perawatan di tenda medis.



Yurai menghampiri Tuan Rein dan melihat Asuka, "Anda baik-baik saja?"



"Ya ... Asuka harus segera mendapatkan penanganan khusus," sahut Tuan Rein pelan.



Yuukigao menyuruh salah satu temannya untuk memanggil Si Tetua Gunung Berapi. Tak lama, kakek berjanggut putih itu menghampiri dengan wajah yang sedikit bingung. Tongkat kekuasaannya dipegang dengan sangat baik. Seperti dugaannya, panglima itu akan memperingatinya agar tidak melanggar undang-undang langit.



"Berbincang-bincanglah sebelum makan malam tiba. Beberapa dari kawananku sudah berburu ke hutan ...," kata Yuukigao. Dia menyuruh seseorang untuk menunjukkan tenda yang bisa ditempati Asuka. Lalu pamit untuk mengurus hal lain.



Salju masih turun lebat, tapi keadaan di camp sangat hangat. Tetua Gunung Berapi memasang barrier agar kepingan-kepingan es tak memadamkan api unggun. Sebenarnya, ia sedikit khawatir ketika melihat Asuka. Bagaimana jika nanti gadis itu memberitahukan segalanya? Dia tahu betul, Tuan Rein bukanlah panglima santai. Iblis itu selalu sigap menanggapi berbagai hal yang mengganggu—termasuk urusan dunia fana. Apalagi jika menyangkut keturunannya.



"Tetua, kau bahkan tahu, apa akibatnya jika ada undang-undang langit yang dilanggar...," ujar Yurai.



Si Tetua Gunung Berapi menghela napas panjang dan mengangguk "Aku tahu kemana arah bicaramu, Butler."



"Ng ... apa kau ingin aku memeriksa putrimu?" tanya Si Tetua Gunung Berapi agak ragu dengan pertanyaannya.



"Jika aku tidak membutuhkanmu, maka sekarang aku tidak akan ada di sini," sahut Tuan Rein santai. Kakek itu tersenyum masam, merasa dimanfaatkan. Rein pun menambahkan, "karena segel kekuatan putriku masih utuh, kuanggap kau tidak melakukan kesalahan apapun," imbuhnya.



"Ah ... syukurlah, Panglima," Si Tetua Gunung Berapi mengangguk. Ia mengelus janggutnya sambil menghela napas lega, lalu mengantar mereka ke salah satu tenda untuk memeriksa keadaan Asuka.



__ADS_1



__ADS_2