
ASUKA TERBATUK-BATUK setelah tenggorokannya merasa lega. Ia hanya punya satu tujuan. Dan akan tercapai tak lama lagi setelah angin kencang menampar keempatnya. Sebuah tornado yang dikendalikan Hiirosen langsung mengelilingi Argaes, mengepungnya. Mega abu-abu dan mata petir ikut bergabung di cakrawala. Sesekali malaikat itu mencoba mengeluarkan diri dari dalam tornado, tapi mata petir yang mengelilingi setiap pusaran malah menyerangnya.
Argaes terlihat kebingungan saat api yang menyelimuti tubuhnya tersedot. Kekuatan dari tongkat bersabitnya tidak akan muncul saat berada dalam wujud iblis. Ia berteriak—lebih mirip ringkikan keras. Perlahan-lahan apinya menyusut. Hingga wujudnya kembali menjadi malaikat. Sayapnya sedikit terbakar.
Argaes langsung jatuh terlutut, berpegangan pada tongkat kekuasaannya. Ia merasa tubuhnya semakin melemah..., "Sayapku... Kau benar-benar makhluk fana yang merepotkan!" gerutunya.
Asuka segera berdiri tegak dan memfokuskan diri, memicingkan mata sambil membayangkan sesuatu. Kepingan-kepingan salju yang melayang langsung terkumpul di depannya, membentuk suatu benda secara kasar. Setelah semakin banyak dan padat, terciptalah sebuah pedang yang sebelumnya ia bentuk saat latihan bersama Hiirosen.
"Sejak kapan kau bisa menciptakan pedang dari es?" tanya Rein.
"Sejak aku berniat untuk mempertanggungjawabkan apa yang telah kubuat."
Hiirosen langsung menghilangkan tornadonya. Gumpalan awan di langit seketika berjauhan, menyisakan sedikit mata petir yang sesekali menyambar permukaan es. Di saat yang bersamaan, Asuka menghampiri Argaes. Malaikat itu sangat kelelahan dan susah bernapas. Ia ingin menyerang Asuka yang kian mendekat tapi energinya tak cukup untuk menyerang. Untuk berdiri saja rasanya sangat sulit.
"Apa yang akan kaulakukan dengan pedang itu?!" tanya Argaes berwaspada.
"Memberimu hukuman. Ini pesan dari pengantinnya Barack!" Asuka mengangkat pedang esnya dan bersiap untuk melakukan sesuatu.
Tak ada sahutan lagi. Rupanya Argaes sedang mengingat-ngingat kejadian belasan tahun lalu. Dia pernah membunuh seorang wanita yang sering ada di padang kusa. Wanita itu memang mate-nya Barack. Ia terpaksa membunuhnya karena wanita tersebut memiliki darah murni, serta seorang pengantin dari raja penguasa negeri api Dunia Paralel. Keberadaannya akan sangat mengancam, terlebih lagi setelah Van dikurung olehnya. Selama ini, Argaes membunuh para pengantin berdarah murni yang mencoba untuk melepaskan Van dari dunia buatannya.
"Kau... Dari mana kau mengenal mate-nya Barack?" tanyanya penasaran.
"Dia muncul di mimpiku..."
"Itu tidak mungkin! Jadi kau akan membunuhku dengan pedang es itu?" ia sedikit terkekeh.
"Tidak... Aku hanya menyampaikan pesan dari mereka yang telah kaubunuh!" kilatan kemarahan di mata Asuka telah membuat Argaes melemah. Mata penuh keyakinan dan tanpa rasa takut itu nyaris membuat ia ciut untuk membalas kata-katanya. Gadis itu mengayunkan pedangnya. Kemudian—
—Argaes berteriak histeris. Tubuhnya ambruk. Semua jati diri malaikatnya telah hilang. Wajah baru Argaes terlihat seperti manusia biasa. Sayapnya telah hilang tersapu angin. Dia bukan lagi malaikat kematian paling dibanggakan atau iblis yang memiliki kekuatan. Sosoknya hanya meninggalkan darah dan usia yang terus berkurang.
"Tanpa sayap, kau tak ada bedanya dengan manusia biasa," kata Asuka merasa puas setelah memotong sayap Argaes yang tersisa.
"Kau... Tidak mungkin... Bagaimana kau bisa...," gumam Argaes lemah.
"Mengalahkan seseorang tak selalu harus membunuh. Menaklukkan kekuatan tak selalu harus bertambah kuat. Pikiran diciptakan untuk mematahkan semua yang dianggap mustahil itu!" tutur Asuka.
__ADS_1
Argaes segera bangkit dengan bersusah payah. Wajahnya ternyata cukup tampan di mata Asuka. Ia memiliki rambut agak gondrong, mata biru laut dan hidung mancung. Badannya tegap dan berotot, serta memiliki kulit kekuningan. Argaes menatap Asuka dengan kemarahan, tapi tak ada kuasa untuk melawan. Rasa dingin langsung menampar tubuh setengah telanjangnya.
"Setelah menjatuhkan malaikat kematian seperti diriku menjadi fana... Kau memang pantas untuk tinggal di neraka ...," ujar Argaes masih berlagak.
"Terima kasih untuk perkenalannya!" Asuka memberikan bogem mentahnya ke wajah Argaes. Pria itu terjengkang sambil mengaduh kesakitan, memegangi pipinya yang terasa memanas. Belum lagi, sudut bibirnya berdarah dan perih. Argaes terkejut untuk beberapa detik ketika melihat cairan merah itu nyata dirasakan oleh jarinya.
"Selamat menjadi makhluk fana...," ujar Asuka.
"Mustahil! Aku menjadi manusia? Tidakkk!" elak pria itu masih terkejut.
"Nikmatilah, hidup barumu Argaes," ujar Yurai menunjukkan senyum simpulnya.
"Diam! Dasar iblis!" sergah Argaes.
"Ah, menjadi manusia saja masih sombong? Aku bisa dengan mudah memakanmu," ancam Yurai menyeringai.
"Bedebah!" desisnya.
Hiirosen tiba-tiba muncul di samping Asuka dan bergumam tak jelas. Ia juga memberikan pukulan telak di wajah Argaes. Kedua pria itu kini beradu mulut dan saling melemparkan tatapan tajam. Aura iblis atau malaikat milik Argaes sama sekali tak terlihat. Semuanya hilang tanpa bekas. Yurai dan Tuan Rein pun rasanya ingin sekali menghajar, tapi sekarang situasinya sudah berbeda.
Rerumputan hijau tumbuh di semua tanah tandus. Pepohonan berdaun rindang, bunga musim semi mekar dan kicauan burung saling bersahutan. Mega gelap bermata petir tergantikan dengan langit nilakandi. Mega putih berarakan seperti sekumpulan kapas yang ditiup lembut untuk menemani mentari.
Negeri api telah kembali. Suasana negeri es juga sudah normal. Salju di sana turun lebat, beberapa werewolf keluar dari tempat terhangat mereka dan melolong panjang. Perbatasan terlihat menjadi lebih kokoh dan indah. Air sungai yang memisahkannya justru dipenuhi ikan—tampak jernih. Tanpa sengaja, pelangi pun terbentuk—terlihat seperti jembatan dua negeri.
Kepingan salju yang terkumpul di depan Asuka meledak menjadi kupu-kupu, burung serta debu biru. Rambut gadis itu perlahan menghitam kembali, kulitnya berangsur normal. Semuanya terlihat seperti tak terjadi apa-apa. Dan cahaya biru keputihan berkumpul di dahi Asuka, membentuk sebuah lambang salju dan menghilang.
Angin sepoi-sepoi kini menyapu tubuh mereka. Tak ada rasa dingin, salju atau badai yang mengerikan. Kehangatan musim semi padang kusa jelas terlihat nyata. Domba-domba mengembik dan ada dua anjing gembala yang menggongong, lalu segera menghampiri Asuka—mungkin minta dielus. Kedua anjing itu menggeram saat melihat Argaes. Pria itu langsung berlari kencang, sambil berteriak tak jelas saat dikejar oleh binatang berkaki empat tersebut. Dia juga mengucapkan sumpah serapah pada Asuka, meminta untuk membuat anjing itu berhenti mengejarnya.
"Anjing itu menyukaimu, Argaes!" teriak Asuka lalu terkikik.
"Akan kubalas kau nanti, manusia!!!" sahut Argaes dari kejauhan, sambil terus berlari.
Pintu masuk dua dunia kembali terlihat. Batu besar dipenuhi tumbuhan merambat, tampak masih sama. Asuka segera pergi ke dalam sana dan melewatinya. Matanya langsung disuguhi pemandangan hutan dari atas bukit. Hutan Aokigahara tampak lebih asri. Pepohonan terlihat lebih hijau dan indah. Banyak tanaman berbunga serta akar-akar yang—hidup. Maksudnya para peri hutan sudah melaksanakan tugas mereka, pasti bersembunyi di dalam pohon atau menyamar menjadi sebuah tanaman.
Hiirosen sudah ada di samping Asuka, merangkulnya. Dibelakang keduanya ada dua pohon yang cukup besar dan tinggi. Termasuk dua dahan yang saling melilit. Jika melihatnya dari kejauhan, maka bentuknya akan menyerupai pintu.
__ADS_1
Lolongan serigala hutan langsung menggema, bersahutan satu sama lain. Ada serigala hitam yang ditunggangi Shinwa menghampiri mereka. Kedua makhluk itu berhenti di depan Asuka dan Hiirosen, "Tuan Muda. Ada sedikit masalah di wilayah kita. Ketua memanggilmu dan Nona Venus untuk ke sana," kata Serasawa.
"Ayah memanggilku? Baiklah. Tapi kenapa Venus juga dipanggil?" tanya Hiirosen.
"Ah, menurut yang kudengar...ini semua menyangkut perjodohan kalian. Tapi aku tidak tahu apa yang akan dibicarakan," sahut Serasawa ragu saat melihat Asuka masih ada di dekat mereka.
Hiirosen mendesah panjang dan menepuk pundak Asuka. Ekspresi bersalah langsung terlihat jelas, "Jangan khawatir. Semuanya akan baik-baik saja. Kupastikan Ayah menerimamu."
"Aku tidak khawatir! Aku hanya sedikit kesal saat nama wanita itu disebut lagi di depanku!"
Hiirosen dan Serasawa langsung berubah menjadi asap hitam, melayang ke udara dan melesat ke suatu tempat. Serigala hitam penjelmaan Shinwa hanya mendengus, menatap Asuka datar. Hanya hewan itu yang mampu mengetahui betapa sedihnya anak half-blood tersebut. Perjodohan Hiirosen dan Venus bagi Asuka cocok. Mereka pasangan yang dapat memajukan kaum vampir murni.
Tanpa sepengetahuan keduanya, seekor kelelawar yang awalnya diam di salah satu dahan pohon pun terbang menjauh.
Tak berapa lama, muncul kepulan asap putih di sekitar mereka—membentuk sebuah kerangka manusia. Wujudnya kian jelas. Sosok Van dengan sayap hitamnya langsung bertengger pada salah satu dahan, duduk santai tanpa rasa takut akan terjatuh. Senyuman yang ditunjukkan pria itu menyerupai seringaian, penampilannya masih sama seperti saat mereka bertemu.
Kedua sayap itu menghilang. Van melirik sekitar dan mendeham. Ia ingin berterima kasih, tapi gengsi. Iblis seperti dirinya mana mungkin meminta maaf atau berterima kasih pada keturunan iblis campuran. Harus ia akui jika Asuka memang lebih hebat dan kuat dibanding dengannya. Tak ada half-blood yang mampu menguasai dua elemen berlawanan secara bersamaan. Gadis itu sungguh spesial, darah murninya sangat manis.
"Kaum vampir sangat bodoh jika tidak mengakui gadis itu sebagai mate Hiirosen...," gumam Van. Gadis itu masih memperhatikannya, tapi dengan sedikit kesedihan. Ia dapat memahami perasaannya.
"Halo... Ng, aku tak tahu harus memanggilmu siapa," ucap Asuka sedikit lebih keras. Serigala penjelmaan Shinwa memilih rebahan di samping gadis itu dan menguap lebar. Dia tak lagi menggaruk badannya yang gatal. Semua kutunya sudah hilang berkat bantuan kaum peri hutan.
Van terdiam sejenak lalu terkekeh, "Sama seperti kaum werewolf negeri es... Kau boleh memanggilku Van."
"Baiklah Van. Aku berterima kasih padamu karena telah membuatku merasa lebih peka terhadap sekitar."
"Heh, kau terlalu naif. Kenaifanmu bisa menghancurkan diri sendiri. Berhati-hatilah."
Van pamit, menghilang bagai debu. Kepergiannya menyisakan sedikit pertanyaan baru dalam benak Asuka. Benarkah ia terlalu naif? Apakah dia harus bertingkah sok keren dan banyak omong seperti Venus? Sepertinya terlalu berlebihan. Keberhasilannya dalam mengalahkan Argaes dan mengungkap siapa dalang yang membuat Barack dikendalikan, hanyalah sebagian kecil dari ujian hidup.
Asuka telah banyak memahami beberapa hal dari kejadian tersebut. Seorang half-blood sangatlah unik, kuat dan cerdas. Kadang, kecerobohan yang dibuat secara tak sengaja justru membuka sebuah informasi baru. Ia memang sedikit lebih peka seiring bertambahnya usia.
Tapi pada saat itulah, masalah yang dihadapi akan semakin sulit untuk mengatasinya. Asuka memandang cakrawala sore. Embusan angin meninggalkan aroma pepohonan. Ia teringat sosok wanita yang ada dalam mimpinya.
Terima kasih... Ia membatin kecil dengan mengukir senyum simpul.
__ADS_1