
ENTAH SEJAK kapan musim dingin dunia Paralel terjadi begitu cepat—lebih tepatnya di negeri api. Barack bilang, jika musim cepat berganti tanpa ada yang tahu. Tapi Asuka mampu mengubah musim yang tandus menjadi padang kusa hijau penuh domba. Dan sepertinya Barack belum menyadari hal tersebut.
Sekarang, Asuka tidak membayangkan musim dingin, hanya memikirkan semua yang akan terjadi berikutnya. Tanpa sadar, Barack sudah ada di dekat perapian, menambahkan potongan kayu kering agar apinya sedikit lebih besar. Pria itu juga membawa sebuah gaun putih beserta sepatu kaca yang indah. Lalu beberapa maid masuk setelah Barack memerintah. Di dahi mereka terdapat dua tanduk merah kecil.
"Ada apa?" tanya Asuka segera duduk di tepian ranjang.
"Menunda-nunda itu merupakan sesuatu yang membuang waktu. Upacara kebangkitan kekuatanmu akan dilaksanakan hari ini. Setelah itu kita akan menikah ...," sahut Barack, menyunggingkan senyum. Pria itu sudah rapi dengan pakaian serba putih dan jubah rajanya.
"Tapi, aku belum memutuskan apapun!"
Barack mencondongkan tubuhnya dan menyentuh wajah Asuka, memberi tatapan hangat, "Kau akan menjadi half-blood yang sempurna, tanpa sedikit pun kecacatan. Kekuatanmu akan membuat rakyatku mengakui keberadaanmu. Bukankah kau ingin hidup seperti itu? Disayangi dan dicintai?" bisiknya.
"Ka-kau? Dari mana kau tahu begitu banyak tentangku? Lagi pula, aku punya Yurai," sahut Asuka sedikit gelagapan, keraguan tampak terpancar di matanya.
"Aku ini iblis, lebih mengetahui apapun dibanding setan atau jin! Kami pintar mencuri informasi langit, termasuk tentangmu ...," Barack terkekeh sejenak, lalu melanjutkan, "tapi kau tak bisa selamanya hidup dengan pelayanmu itu 'kan?"
Asuka terdiam. Itu ada benarnya juga. Tapi Yurai sangat peduli, penuh kasih sayang meski kadang menyebalkan. Selama ini ia hidup di antara pelayan, tanpa pelukan sang ayah atau nyanyian seorang ibu sebelum tidur. Asuka selalu iri setiap kali melihat anak lain berjalan beriringan dengan ayahnya, sambil menikmati gula kapas.
Tuan Rein selalu sibuk dengan pekerjaan yang sebenarnya diragukan kebenarannya—setelan jas dan sepatu mengkilap selalu menemani langkah pria itu setiap saat. Asuka juga ragu tentang pekerjaan kantornya. Karena yang dia tahu, iblis tidak menyukai pekerjaan dunia fana.
"Daripada kau hidup tanpa kasih sayang ayahmu dan tanpa ibu sejak kecil, hidup denganku akan lebih baik. Aku ingin menciptakan negeri api yang tak terkalahkan oleh penguasa lain. Dan darahmu akan sangat membantuku," jelas Barack mengintimidasi.
"Darahku? Apa maksudmu dengan darahku?"
"Kau merupakan salah satu pengantin darah murni yang terikat dengan seorang vampir. Tapi, daripada menjadi pengantin makhluk rendahan, lebih baik menjadi milikku saja. Ini, pakailah ... para maid akan mendandanimu," Barack menyerahkan gaun panjang putih susu itu beserta sepatu kaca bertabur berlian.
"Maksudmu, wanita-wanita bertanduk itu?" Asuka melihat para maid masih menunduk di tempatnya masing-masing, tanpa berani mengeluarkan sepatah kata.
"Ohh, jangan khawatir. Mereka akan melayanimu dengan baik. Aku akan menunggumu ...," sahut Barack seraya mengusap leher jenjang Asuka. Bekas gigitannya masih sedikit terlihat. Ia sengaja membiarkannya terlihat untuk memancing kemarahan Hiirosen.
Setelah Barack meninggalkan kamar, para maid mulai memakaikan gaun. Rambut dan wajah Asuka dirias dengan berbagai macam benda aneh, namun terlihat cantik. Salah satu maid memakaikan sepatu kaca serta beberapa aksesoris yang terbuat dari permata. Saat itulah Asuka memikirkan sesuatu. Haruskah ia melakukan semuanya sejauh ini? Meninggalkan rumah dan menjalani hidup baru sebagai pasangan Barack?
***
__ADS_1
ASUKA DIBAWA ke sebuah bangunan lain di belakang istana. Terdapat ruangan luas layaknya aula, serta panggung kecil—lengkap dengan meja panjang setinggi dada. Di belakang meja tersebut ada lubang cukup besar—mengeluarkan cahaya jingga kemerahan. Hawa panas pun terasa. Ternyata, ada lava pijar dalam lubang tersebut yang mengalir langsung dari gunung berapi.
"Kau sangat cantik, Asuka. Aku yakin Tetua akan menyukaimu," ujar Barack segera berbalik dan menghampiri Asuka, memperhatikan penampilannya dari bawah hingga atas. Sempurna, pikirnya.
"Siapa itu Tetua?" tanya Asuka masih bingung dengan tempat yang dilihatnya.
Terdengar letupan kecil dari lubang lava pijar. Tak lama kemudian, sebuah tangan penuh lava pijar muncul dan mencengkeram bibir lubang. Kepalanya terlihat, mirip kerangka manusia. Makhluk aneh itu pun keluar seutuhnya.
"Makhluk apa itu?" tanya Asuka sedikit was-was.
"Dia Sang Tetua Gunung Berapi di neraka," sahut Barack seraya merangkul Asuka.
Sosok penuh lava pijar itu perlahan berdiri sempurna, berubah menjadi seorang pria berjenggot serta berjubah putih. Ada lambang gunung berapi di bagian kiri jubahnya. Perawakan yang mirip kakek bertubuh kekar tersebut menatap Asuka tajam, lalu melirik sekitar. Barack langsung memberi hormat dan memperkenalkan Asuka padanya. Tanpa disangka-sangka, Si Tetua Gunung Berapi melontarkan sesuatu ke arah Asuka.
Gadis itu memekik saat pipinya berasap, kulitnya mengelupas dan terlihat lava pijar mengalir di dalam tubuhnya, "Apa yang kaulakukan...?" tanyanya sedikit khawatir.
"Tetua?!" Barack terlihat terkejut.
"Jangan khawatir, aku hanya ingin memastikan jika gadis itu memang half-blood berdarah murni. Tapi sepertinya, aku mengenali aura gadis itu...," ujar Si Tetua Gunung Berapi, terlihat tenang.
"Rein Kuromi? Setahuku, dia panglima tertinggi sekaligus tangan kanan raja pertama," Si Tetua Gunung Berapi tampak berpikir keras.
"Ya, Tetua. Tapi setelah raja pertama neraka memberikan singgasana kerajaan pada Lucifer, maka Rein pun mengabdi padanya dengan jabatan yang sama."
Dan kali ini, Si Tetua Gunung Berapi berpikir lebih dalam, mengelus jenggot panjangnya yang hampir sedada. Akan sulit melakukan pembangkitan kekuatan api milik keturunan panglima, apalagi jika bersangkutan dengan Lucifer. Bisa saja Asuka memiliki barrier darinya secara langsung.
Ia pun menghela napas panjang sejenak, lalu menatap Barack, "Kuharap kau hanya ingin membangkitkan kekuatan gadis itu saja, Barack," kata Si Tetua Gunung Berapi tetap berusaha tenang.
"Sayangnya aku ingin dia jadi pengantiku juga," timpal Barack cepat.
Si Tetua Gunung Berapi mendesah kasar, "Membangkitkan kekuatan seseorang secara paksa saja merupakan suatu pelanggaran neraka. Dan merebut pengantin makhluk lain juga melanggar aturan Tuhan. Kau bisa dijerat pasal berlapis undang-undang dunia langit jika sampai ketahuan," tuturnya menasihati, "lagi pula, kau sedang dipengaruhi oleh energi gelap, Barack. Apa kau sadar tentang hal itu?"
"Aku tidak peduli!" Barack sedikit mendecih.
Asuka berpikir, pasti tidak ada polisi di dunia langit. Atau hakim yang duduk di depan meja dan mengetuk palu tiga kali. Rasa penasarannya semakin bertambah besar.
"Lakukan saja tanpa sepengetahuan mereka, Tetua."
"Kau gila!" ucap Si Tetua Gunung Berapi sedikit khawatir, "aku bisa diusir dari istana Raja Lucifer. Daripa—"
__ADS_1
Ucapan Si Tetua Gunung Berapi terhenti ketika bunyi sepatu kuda menggema. Sosok Argaes menghadap Barack, memberi hormat sebelum membuat laporan. Tubuh iblis itu penuh luka dan berasap. Kemungkinan besar telah terjadi pertarung yang cukup sengit di jalan masuk Dunia Paralel
"Maaf, Tuan Barack. Yurai dan kedua makhluk rendahan itu berhasil memasuki Dunia Paralel," lapornya.
"Bagaimana bisa?" Barack terkejut. Pikirannya tiba-tiba saja buntu.
"Yurai menggunakan kekuatan aslinya. Sepertinya Kuromi Rein telah membuka segel kekuatannya ...."
"Sial!! Halangi mereka. Jangan sampai memasuki istanaku. Kerahkan semua pasukan ke barisan utama. Dan aku akan menyusul setelah—"
Pintu ruangan didobrak paksa hingga menimbulkan bunyi ledakan yang cukup keras. Si Tetua Gunung Berapi memilih pergi saat tahu siapa yang datang dengan aura penuh kemarahan. Lebih baik dia cari aman daripada dituduh sebagai pelaku, yang tidak ada sangkut pautnya dengan masalah Barack.
"Panglima sialan! Dia menghancurkan pintu suciku!" desia Barack.
Argaes segera berdiri di depan Barack, melindungi. Sosok itu kian jelas hingga menampilkan seorang pria berkepala singa api. Asuka tidak mengenali sosok itu, sama sekali tak pernah melihatnya. Argaes menggeram, mengubah dirinya menjadi Hellhorse besar—bertanduk banteng.
Iblis itu meringkik keras—api yang menyelimuti tubuhnya semakin berkobar. Barack benar-benar tak habis pikir dengan kedatangan mereka yang begitu cepat. Ia segera membopong Asuka dan terbang, mengepakkan kedua sayapnya dengan terburu-buru. Kali ini, Barack tidak boleh kehilangan kesempatan lagi.
"Barack, siapa iblis berkepala singa tadi? Kenapa dia terlihat marah?" tanya Asuka.
"Dia ayahmu!"
Barack melihat ke belakang, rupanya ada seorang vampir mengejar. Sayap kelelawar itu mengepak lebih cepat, menyeimbangi posisi Barack. Keduanya terlibat aksi saling mendahului. Iblis itu mengumpat—mempererat pegangan pada tubuh Asuka.
"Siapa lagi dia? Kenapa dia mirip laki-laki yang bernama Hiirosen?" tanya Asuka pelan.
"Kau memang benar. Tapi, makhluk rendahan itu terlalu lemah untuk menjadi lawanku," Barack berdesis.
"Kembalikan pengantinku!" teriak Hiirosen, menatap nanar ke arah Barack yang terus menjauh.
"Cobalah kalau bisa," Barack menyeringai.
Iblis itu mulai memasuki negeri es. Ada kepingan es di mana-mana, pepohonan dan tanah tertimbun salju tebal. Sialnya, vampir tidak terlalu kebal dengan musim dingin. Hingga kemudian, tawa Barack menggema, saat tahu jika Hiirosen mulai kesulitan mengendalikan kepakan sayap tipisnya.
Di daratan, lolongan anjing hutan terdengar. Serigala hitam yang ditunggangi Serasawa mencoba mengejar Hiirosen dan Barack. Pergerakan makhluk berkaki empat itu sangat lihai di musim dingin, mereka senang bermain salju atau bermandikan butiran es. Kadang bulunya akan lebih tebal dan berubah sedikit keputihan.
Sengkingan belasan Hellhound langsung mengejar Serasawa. Ia terpaksa melontarkan belasan anak panah beracun untuk memperlambat gerakan mereka. Sejujurnya, vampir murni sangat benci api, tapi juga tidak bisa bertahan di musim dingin yang panjang. Mau tak mau, Serasawa terpaksa menahan udara dingin dan memeluk serigala penjelmaan Shinwa agar tubuhnya lebih hangat.
Sedangkan di udara, Hiirosen segera berubah menjadi puluhan kelelawar yang cukup besar, lalu mengerumuni Barack. Hal tersebut membuat Asuka memekik. Iblis itu sedikit mengalami kesulitan terbang—hampir kehilangan keseimbangan.
"Dasar makhluk lemah! Kau tak bisa mengalahkanku begitu saja!" seluruh helaian bulu sayap Barack diselimuti kobaran api. Puluhan kelelawar itu langsung berbunyi nyaring dan terjatuh—kembali berubah menjadi sosok Hiirosen dengan jubah yang terbakar.
__ADS_1