
LUKA MEMAR di lengan Asuka sudah sembuh total. Ia bisa melanjutkan makannya yang tertunda—tepat saat Shinwa, Hiirosen, Serasawa dan Argaes datang. Mereka semua langsung mengikuti acara sarapan tersebut bersama Azuki. Serta membicarakan hal serupa, tentang batu segel. Azuki terpaksa diberi tahu karena memang penting. Darkur bukanlah monster yang mudah tunduk seperti hantu atau lainnya.
Sebenarnya Azuki sudah tahu tentang rumor batu segel. Ia membeberkan, jika pernah ada beberapa orang dari organisasinya mencari letak batu tersebut untuk kepentingan penelitian sejarah. Namun tidak ada satu pun yang kembali. Sejak saat itu, Exorcist membatalkan misi tersebut.
Sekarang, semua itu tidak penting lagi. Misi mereka—menghentikan kasus pembunuhan berantai yang tak bisa diungkap pihak kepolisian. Setiap hari, kantor Exorcist mendapatkan ratusan e-mail. Isinya tentang kasus yang sama. Karena itu, beberapa Exorcist senior diterjunkan untuk menyelidiki kasus aneh tersebut.
"Ng... Ada satu hal lagi yang belum kuceritakan," kata Asuka.
"Apa itu?" tanya Shinwa.
"Semalam, sebelum aku tidur... Aku melihat penampakan yang mengerikan. Sepasang mata merah menyala muncul di salah satu pohon halaman depan. Lengkap dengan geraman dan tawa yang mampu membuatku merinding luar biasa. Aku bahkan tak sanggup memanggil Yurai karena terlalu terkejut," tuturnya.
"Makhluk apa lagi yang sekarang menginginkanmu, putriku? Jelas, ini pasti bukan kebetulan belaka," timpal Tuan Rein—baru saja menyelesaikan sarapannya.
"Mungkinkah...Darkur?" terka Shinwa.
"Darkur akan langsung memasuki tubuh manusia berhati gelap. Mereka tidak tahan dengan dunia luar. Tapi, jika aku boleh berspekulasi... Mungkin saja, ada salah satu inang yang merasuki seseorang, tengah mencari tumbal terkuat. Ingatlah satu hal, semakin besar keinginan manusia itu, maka semakin besar pula tumbal yang diinginkan," Argaes menuturkan, menatap Asuka sejenak.
Gadis itu menelan salivanya dengan susah payah. Pikirannya langsung terbang jauh. Semalam saja, dia terlihat merinding dan ketakutan. Apalagi jika perkataan Argaes memang terbukti. Ia takut. Wajar, karena sisi manusianya selalu menebar ketakutan.
Hiirosen mendesah melihat mate-nya terlihat pucat, "Kau membuatnya berpikiran yang tidak-tidak, Argaes!!"
"Aku mengatakannya agar dia berjaga-jaga. Karena jika lengah sedikit saja, kemungkinan nyawa adalah taruhannya. Tidak ada yang salah dengan ucapanku...," Argaes terlihat santai. Ia malah tersenyum datar lalu meminum airnya.
"Maksudmu, Asuka akan termutilasi seperti korban yang lainnya?" tanya Azuki.
"Mungkin. Atau lebih parah lagi."
"Hentikan!! Jangan membuat pengantinku murung!" Hiirosen mulai kesal dengan pembicaraan konyol tersebut.
"Ja-jadi, apa yang harus kulakukan jika perkataanmu benar Argaes?" Asuka terlihat gugup.
"Heh? Pikirkanlah sendiri. Setiap elemen pada diri seorang half-blood selalu memiliki makhluknya sendiri. Anggap saja sebagai iblisnya manusia. Kau harus bisa membangkitkannya jika mau selamat dari sasaran Darkur. Dan satu hal lagi...," Argaes menggantung ucapannya setelah memakan buah ceri. Lalu ia melanjutkan, "Darkur itu...lebih mengerikan daripada aku yang kaukenal sebelumnya."
Meja makan mendadak hening. Yurai yang sedari tadi diam di dekat tuannya pun mencerna semua perkataan mereka—menyimpulkan informasi guna mendapatkan solusi. Azuki tampak kebingungan dengan keheningan tersebut. Apa yang salah dengan ucapan Argaes. Lebih mengerikan daripada dirinya?
Bukankah itu berarti, pria bermata biru laut itu memang berasal dari makhluk yang lebih mengerikan dari iblis sekalipun? Argaes mungkin jenis makhluk immortal berasal dari Negeri Paman Sam. Hidung mancung dan logat bahasa Jepang-nya agak kurang lancar. Saat ia menanyakannya langsung, pria itu tampak kebingungan sesaat. Lalu mengiyakannya dengan keraguan. Justru hal tersebut malah membuat Azuki yakin, ada sesuatu yang tengah disembunyikan.
***
__ADS_1
SUASANA HUTAN Aokigahara terlihat gelap meski cuaca cerah berawan. Lebatnya daun dari pohon-pohon tinggi dan besar, membuat kondisi di bawahnya lembab. Suara lolongan serigala hutan semakin menambah seram. Sayori, Aluto dan Hideki menjejaki tempat bunuh diri tersebut dengan langkah hati-hati. Banyak akar-akar yang mencuat ke permukaan. ketiganya pun kesulitan untuk berjalan cepat.
Langkah ketiganya melambat saat melihat perbatasan hutan tergelap Aokigahara. Ada kabut yang menyelimutinya. Hideki mengulurkan tangannya ke depan, memeriksa aura sekitar. Tempat tersebut terpasang pagar pelindung, semacam barrier gaib tingkat tinggi. Mustahil untuk bisa melewatinya dengan mudah.
"Ternyata lebih menyeramkan daripada informasi yang kudapat. Yakin, kita harus mencari batu segel ke dalam? Bagaimana jika kita tidak keluar lagi atau justru jadi mangsa iblis?" tanya Aluto merinding. Sayori justru merapatkan diri padanya.
"Aku setuju! Kita kembali saja. Kita serahkan diri pada Azuki dan minta bantuan gadis half-blood itu," Sayori terlihat menyerah, sedikit merengek minta pulang.
Tak jauh dari keberadaan mereka, seekor ular hijau keluar dari hutan tergelap—sempat menoleh lalu pergi begitu saja. Hal tersebut membuat Aluto dan Sayori menelan saliva. Hideki sama sekali tak menanggapi ucapan keduanya. Ia lebih suka memperhatikan dan mencari tahu sebuah petunjuk. Beberapa pohon tampak bergoyang—bukan tertiup angin. Banyak burung yang beterbangan, meyakinkan ketiganya akan sesuatu.
Tak lama, suara binatang buas menggema—kian mendekat. Ketiganya mulai berwaspada. Sesaat kemudian, seekor beruang hitam keluar dari dalam hutan tergelap, terlihat mengamuk. Binatang besar itu menatap nanar dan terus berteriak mengerikan.
"Be-beruang...!!!!" Sayori langsung histeris dan berlari menjauh, meninggalkan keduanya yang masih terpaku, "aku belum mau mati!! Cepat pergi!" teriaknya dari kejauhan.
"Tunggu kami, Sayori!! Hei!!" teriak Aluto. Ia segera menarik Hideki untuk berlari secepat mungkin, menghindari si beruang hitam yang tengah mengamuk.
"Kenapa tiba-tiba ada beruang di sini? Aneh sekali," gumamnya heran. Hideki terpaksa mengikuti jejak Aluto dan sesekali menengok ke belakang. Beruang itu masih mengamuk. Namun matanya tak sengaja melihat seorang pria bersurai merah tua—duduk manis pada salah satu dahan pohon. Ada seringaian dari pria misterius tersebut. Ia tak mau ambil pusing dengan sosok itu.
"Dasar makhluk fana," gumamnya.
Seekor serigala putih langsung melompat ke luar perbatasan, berubah menjadi manusia bersurai putih salju. Yuukigao mendesah kasar saat melihat kejahilan iblis itu, "Kau keterlaluan sekali," komentarnya.
"Mereka ingin memasuki wilayah kekuasaanku. Menakuti mereka sedikit, tidak melanggar aturan langit 'kan? Lagi pula, iblis diciptakan untuk menakuti makhluk fana," Van menanggapi, bersedekap seadanya.
"Ya...terserah kau saja. Sekarang aku harus kembali ke Dunia Paralel. Nanti siang ada rapat khusus di istananya Barack. Tetua Gunung Berapi mengundangmu. Jangan lupa datang," Yuukigao segera bersiut. Tak lama, seekor Hellwolf datang dan berdiri di depannya.
"Hah? Mau membahas apa lagi? Urusan Barack dan Argaes sudah selesai. Masalah Darkur juga bukan urusanku," Van menanggapinya dengan malas.
"Memangnya kau mau dimutasi oleh Rajamu?"
"Tentu saja tidak!!" sahutnya cepat, sedikit khawatir.
"Kalau begitu datanglah. Tetua ingin membicarakan lambang yang dibuat Argaes pada salah satu pilar batu segelmu," Yuukigao menaiki punggung Hellwolf dan segera meninggalkan iblis itu.
"Menyebalkan!" gerutu Van.
__ADS_1
***
SMA KARAHA terlihat mencekam. Sejak insiden pembunuhan berantai yang menewaskan belasan murid, pihak sekolah meliburkan mereka untuk sepekan terakhir. Polisi masih mendalami kasus tersebut. Banyak police line terpasang di beberapa lokasi berbeda, termasuk gudang dan toilet. Lantai serta dinding sekolah masih terbuat dari kayu, warnanya agak pudar. Beberapa lampu bahkan tidak berfungsi dengan baik.
Asuka berulang kali menekan sakelar lampu salah satu ruang kelas, tapi sama sekali tidak menyala. Meski matahari sudah merangkak lebih tinggi, keadaan mencekam masih menyelimuti setiap sisi. Ia memperhatikan sekitar, papan tulis penuh dengan sisa debu kapur. Di tengah-tengah ruangan terdapat sebuah meja berdarah—lengkap dengan police line. Bau amis sedikit menyeruak, membangkitkan rasa lapar Hiirosen dan Serasawa. Padahal, darah bekas korban mutilasi tersebut sudah mengering.
"Hawa mencekam ini, memang perasaanku saja atau benar-benar nyata...," ujar Shinwa. Kali ini dia memakai pakaian yang semestinya, kaus pendek warna putih bergambar kepala serigala. Meski dia merasa kurang nyaman dengan serat kainnya, tapi lumayan nyaman dan pas di tubuh.
"Kau kan serigala. Memangnya kau tak bisa melihat hantu-hantu atau sejenisnya?" tanya Azuki—sibuk mencari petunjuk dengan menggunakan alat detector.
"Tidak. Lebih tepatnya jarang. Aku hanya bisa melihat aura dan merasakan hawa dari makhluk tak kasat mata...tapi tidak dengan wujudnya," sahut Shinwa sekenanya.
"Sayang sekali. Padahal, arwah gentayangan itu banyak."
"Aku justru merasa terganggu dengan mereka yang menembus tubuhku. Dasar makhluk rendahan! Entah kenapa aku jadi merinding!" Argaes justru mendengus. Mengibaskan sebelah tangannya pada para arwah yang mendekatinya. Ia sama sekali tidak takut. Para arwah itu sendiri yang merasa ketakutan ketika melihatnya. Sudah sepatutnya begitu. Aku ini mantan malaikat kematian! Batinnya.
Terdengar langkah seseorang dari kejauhan. Keenamnya segera bersembunyi di salah satu kelas, namun terlambat. Suara seorang wanita telah membuat langkah mereka terhenti. Sebisa mungkin, Azuki bersikap tenang dan menyembunyikan alat ghost detector-nya.
"Siapa kalian? Sepertinya kalian bukan warga sekolah ini. Padahal di sini sedang tahap penyelidikan kasus," wanita bergelung itu menatap curiga keenamnya.
Dandanannya mencolok, terlihat sudah berusia kepala tiga. Penampilannya juga modis—tidak terlihat seperti seorang guru. Namun Hiirosen menduga jika wanita berlipstik merah cerah itu merupakan bagian dari organisasi sekolah. Tiba-tiba saja Asuka membalikkan badan saat tatapan wanita itu tertuju padanya. Ia memegang lengan Hiirosen, sedikit mencengkeram.
"Anda sendiri siapa? Apa yang Anda lakukan sendirian di sini?" tanya balik Argaes. Berbeda, ia merasa ada hawa aneh dari tubuh si wanita.
"Saya Fujihika Maria, kepala sekolah SMA Karaha. Saya di sini memang ada keperluan khusus," sahut wanita bernama Maria itu—santai, masih penasaran dengan seorang gadis yang tengah membelakangi, "apa yang kalian lakukan di sini. Kalian tidak melakukan sesuatu yang aneh kan dengan gadis itu? Soalnya dia satu-satunya perempuan di antara kalian."
"Dia kekasih saya, Bu," sahut Hiirosen.
"Kami ke sini hanya ingin tahu tentang kasus itu, melihat langsung tempat kejadian perkara untuk tugas kampus. Bila diperkenankan, izinkan kami di sini sedikit lebih lama," Azuki menambahkan.
"Kami akan pergi setelah mengumpulkan informasi," timpal Serasawa.
Maria terdiam sejenak lalu mengangguk. Ia segera pamit dengan langkah terburu-buru. Ketika sosoknya menghilang di belokan koridor, keenamnya menghela napas lega. Hiirosen langsung memeluk Asuka. Tubuh mate-nya sangat gemetar. Entah apa yang membuatnya ketakutan, tapi mungkin ada hubungannya dengan wanita tadi.
__ADS_1
"Ada apa dengan Asuka?" tanya Shinwa penasaran.