
ARGAES SEMAKIN geram dan murka. Pergerakannya untuk menemukan Asuka terhambat gara-gara segelintir pengganggu terus mengepung dan mencoba mengalahkannya. Energinya saat ini terlalu sedikit untuk bisa bertarung secara maksimal. Lapisan es yang tercipta di segala arah seperti sedang menyedot semua kekuatannya. Dengan sayap yang tinggal sebelah, Argaes hanya bisa mengepakkannya secara sembarang untuk menghindar dari serangan mereka.
Badai salju serta udara dingin yang menusuk tulang seolah-olah tak ada artinya bagi Tuan Rein dan Yurai. Entah berapa lama mereka bertarung, tapi sampai detik ini belum ada yang mengalah. Kekuatan Argaes hampir setara dengan Tuan Rein.
"Kita harus segera mengakhiri ini," ujar Tuan Rein pada Yurai.
"Benar Tuan. Tapi dia masih terlihat kuat."
Cukup menggelikan. Pertarungan malaikat kematian dengan iblis kembali terulang, setelah sejarah lama menggores undang-undang peraturan langit. Namun sayangnya, malaikat kematian atau iblis —tak bisa saling membunuh lagi.
Seandainya saja Argaes memiliki dua sayap, sedari tadi pasti sudah menciptakan bola api raksasa. Daripada membiarkan Dunia Paralel mencair, akan lebih baik jika hancur sekalian. Dia akan melarikan diri ke neraka dan menjadi iblis seutuhnya. Lambat laun, gemuruh di langit gelap dan kilat merah yang terus menyambar akan menghancurkan Dunia Paralel.
"Kurang ajar! Enyahlah kau, Rein!!!" teriak Argaes langsung mengetukkan tongkat bersabitnya ke permukaan es. Dari dalam lapisan tersebut, terbentuk sebuah lava pijar hitam yang membuat jalur ke arah Tuan Rein berada.
Tuan Rein sempat membatin kecil dan hampir kehilangan akal. Kini, lava pijar hitam sudah muncul di depan kakinya. Lava tersebut menyembur, hampir saja membakarnya jika lapisan es tak langsung membekukan. Bunyi retakan di setiap sisi bekuan lahar membuat Argaes tertegun. Dia melakukan hal yang sama di jalur berbeda, namun hasilnya nihil.
Mustahil! Itulah yang memenuhi kepala Argaes saat ini. Api neraka mampu mengalahkan dinginnya es di belahan dunia manapun. Melihat apa yang diinginkannya tak berhasil, kali ini sebuah tornado api hitam tercipta—mengurung tubuhnya. Pusaran api tersebut menyatu dengan awan hitam bermata petir merah.
"Baiklah! Jika lava pijarku tak mampu untuk menyerang kalian, maka biarkan tornado api hitamku yang menghabisi dunia ini," ucap Argaes dengan bangganya. Ia tertawa keras, mengiringi suara guntur. Badai salju semakin lebat. Namun tak disangka-sangka, tornado api hitam buatan Argaes langsung menyusut, "apa yang terjadi?"
Kedua kaki malaikat itu diselimuti bunga es, perlahan berubah menjadi lapisan. Tanpa kesulitan, Argaes langsung mencairkannya dan berpindah tempat. Ia merasa ada yang aneh dengan situasi tersebut. Mata merah menyalanya bergerak-gerak, menangkap semua pemandangan yang kemungkinan besar mencurigakan. Dan bau vampir menusuk indera penciumannya.
"Tunjukan dirimu, vampir! Baumu menggangguku!" ia segera mendengus. Tuan Rein dan Yurai juga terlihat bingung. Sebelum pada akhirnya, kehadiran seorang vampir bersurai perak berdiri di samping Argaes.
"Hai," sapa vampir itu.
Argaes langsung menoleh, melihat sosok vampir itu menyeringai. Seketika, ia mendapatkan bogem mentah di wajah tengkoraknya. Tubuhnya terdorong beberapa meter namun tidak sampai terjengkang. Makhluk pengisap darah itu sudah menghilang lagi.
"Sialan! Keluar ... Jangan menjadi pengecut!" sergah Argaes geram. Ada retakan kecil di tulang pipinya, "kau membuat wajahku terlihat buruk," desisnya.
"Malaikat yang menyedihkan! Bertobatlah sebelum terlambat, Argaes. Sayap malaikatmu masih ada," ujar Tuan Rein.
"Diam kau iblis! Aku tak perlu kau kasihani. Kaupikir aku akan bertobat dan tunduk pada Tuhan? Yang kuinginkan hanya kekuatan dan kekuasaan. Putrimu harus lenyap atau paling tidak menjadi sumber kekuatanku. Aku harus mendapatkannya!" Argaes menimpali.
Sebuah petir merah langsung menyambar Argaes. Ia sedikit memekik. Tubuhnya berasap. Karma mungkin sedang menghampiri tapi sungguh—ini bukan perbuatan Tuhan. Ada orang lain yang melakukan hal tersebut. Ketiganya terfokus pada seorang gadis bersurai putih meta—berdiri tak jauh di belakang Argaes. Gadis itu menggenggam kosong di udara, sehingga badai berhenti. Hanya terlihat kepingan salju kecil melayang seperti ada di dunia tanpa gravitasi.
__ADS_1
"Asuka! Akhirnya kau datang juga. Jika sebelumnya aku ingin kau tiada, kali ini aku menginginkanmu seutuhnya. Menyatulah denganku ...," Argaes merasa gejolak nafsu untuk mendapatkan Asuka kian menggila.
"Aku tidak mau ...," gadis itu rupanya adalah Asuka. Ia menimpali dengan penuh percaya diri. Sekali lagi Argaes mendapatkan pukulan telak di dagunya, saat Hiirosen muncul dari bawah dan mengagetkannya, "oh, jangan lupakan juga kekasihku!"
"Kalian bedebah kecil!" Argaes berpindah tempat, menghindar dari area yang membahayakan dirinya.
Yurai dan Tuan Rein menghilang dari tempatnya lalu muncul di belakang Asuka. Kali ini Hiirosen sedang mencoba untuk mengukur sejauh mana malaikat itu bisa bertahan dengan kondisi yang cukup memprihatinkan. Asuka memperhatikan sekitar, namun ia teringat dengan ayah dan butler-nya.
"Nona Muda. Bagaimana mungkin nona—"
"Ceritanya panjang," Asuka menukas ucapan Yurai. Ia menghela napas dan menceritakan mimpi yang sebelumnya ia alami. Sesekali memantau keadaan Hiirosen.
"Sisi berbahaya itu juga diceritakan oleh Tetua Gunung Berapi," kata Tuan Rein.
"Lalu di mana si kakek itu?" tanya Asuka.
"Ada di istana Barack. Dia yang memeriksa kondisimu. Dan Barack mungkin sudah tahu kalau mate-nya dibunuh Argaes. Kalau dia benar-benar tahu mate-nya sudah mati ....—"
"Pasti mencari wanita baru lagi. Mencari wanita yang cocok dan mengikat mereka dengan darah sucinya," Yurai menukas ucapan Tuan Rein, dan memberikan sedikit senyum simpul.
"Tentu saja, Nona Muda. Kenapa tidak? Jodoh itu selalu berganti-ganti pada waktu yang ditentukan."
"Lalu kenapa Ayah tidak mencari lagi?"
Sebenarnya Tuan Rein ingin menghindari pertanyaan tersebut. Seandainya saja Yurai tak menjelaskan tentang sistem mate pada Asuka, pasti akan lebih baik diam dan pura-pura tidak mengetahui apapun. Ia hanya ingin yang terbaik untuk marga Kuromi. Mencari seorang pendamping hidup yang bisa menyayangi anak tiri itu susah. Sejak dari dulu iblis itu mencari, tapi belum menemukan kecocokan. Para karyawan wanita di kantornya saja tak meyakinkan.
"Memangnya kau ingin punya ibu baru?" tanya Tuan Rein.
"Sebenarnya aku tidak ingin punya ibu baru. Aku tak mau ada yang mengaturku ini dan itu seperti Yurai. Yah ... bagiku, Yurai saja sudah cukup terlihat seperti seorang ibu yang cerewet ...," Asuka mengedikkan bahunya.
"Kita bicaranya nanti saja. Hiirosen sepertinya sudah kewalahan," Yurai mengganti topik. Ketiganya memperhatikan pertarungan vampir itu dan Argaes.
Serasawa dan Shinwa sebenarnya sedang menuju dunia fana untuk menemui Van, si penjaga segel. Para werewolf negeri es juga ikut ke sana. Sesuai dengan informasi yang Asuka dengar dari Venus, hutan Aokigahara juga dalam keadaan mengerikan. Van yang baru keluar dari dunia ciptaan Argaes, langsung dihadapkan dengan situasi kurang menyenangkan. Katanya, iblis bersurai merah itu berkali-kali mengutuk Asuka, menuntut untuk mengembalikan keadaan seperti sedia kala.
Sedangkan Tuan Rein maupun Yurai tak bisa memanggil pasukan dari neraka. Portal menuju neraka terputus sejak Dunia Paralel menjadi putih dan dingin. Jikalaupun bisa, nasibnya akan sama seperti pasukan Hellhorse Argaes—api di tubuh mereka menyusut dan akhirnya mati.
__ADS_1
"Sejak kapan kalian menjadi sepasang kekasih?" tanya Tuan Rein.
"Ng, itu ... hanya ... kata-kata pemanis. Sebenarnya kami belum benar-benar menjadi sepasang kekasih...," Asuka sedikit gugup ketika menjawab pertanyaan ayahnya.
"Dia macam-macam padamu?"
"Tidak Ayah. Dia terlihat menahan diri."
"Bau vampir melekat di tubuhmu," jujur pria itu.
"Dia hanya memelukku saat kami sedikit bertengkar di gua," Asuka menimpali.
"Gua? Apa yang kalian lakukan di gua?" kali ini Yurai semakin penasaran.
"Ceritanya panjang. Lagi pula kalian kan bisa tahu kalau aku ini masih gadis atau tidak!" Asuka mulai kesal. Kedua iblis itu tersenyum datar dan berdeham.
Dinding es tercipta di tengah Argaes dan Hiirosen, memisahkan keduanya yang hendak kembali bertarung. Asuka menyuruh pria itu untuk berhenti. Tornado beku milik Hiirosen sudah mulai mencair. Sekarang giliran dirinya yang mengambil alih situasi, mengalihkan fokus Argaes. Sedangkan vampir itu mencoba mengendalikan tornado miliknya.
Argaes tampaknya mulai menyerang Asuka, mengayunkan tongkatnya sehingga terciptalah bola api hitam. Tuan Rein langsung menangkis serangan tersebut dan melindungi putrinya. Di dekat malaikat itu tercipta banyak es, melilit tubuhnya dengan erat. Lagi-lagi, serangan gadis itu dapat dipatahkan.
"Kau hanya makhluk fana! Kaupikir serangan seperti itu mampu membunuhku?" desis Argaes.
"Aku hanya perlu mengalahkanmu!" Asuka menciptakan banyak sulur air. Kemudian langsung berubah menjadi es ketika melilit di tangan dan kaki Argaes. Gadis itu mencoba untuk memperkuat lilitannya tapi mungkin tak akan mampu. Ia memang terlalu lemah untuk melakukan hal yang baru. Mau tak mau, sulur lain tercipta untuk menahan malaikat itu menggunakan tongkatnya.
"Bedebah!" tiba-tiba saja Argaes menghilang. Ia muncul lagi di samping Asuka dan langsung mencekik lehernya. Yurai yang berada di dekat mereka pun terpental cukup jauh hingga menghantam salah satu pohon besar. Gadis itu mencoba untuk melepaskan tangan Argaes, kakinya tak lagi menapak, menyebabkan dirinya semakin sulit melakukan sesuatu.
Malaikat buangan itu tertawa. Melihat Asuka sulit bernapas, mengingatkan Argaes dengan pekerjaannya dulu sebagai malaikat pencabut nyawa. Setiap hari dia selalu melakukan pekerjaan yang sangat menyenangkan tersebut selama ratusan kali. Mencabut nyawa para manusia berdosa dengan kejam dan penuh kesakitan. Mendengarkan jeritan histeris mereka hingga tangis keluarga pecah. Semua bayangan itu berputar-putar di kepala kosongnya.
Tuan Rein hendak menghampiri dan merebut kembali Asuka. Tapi Argaes mengancamnya dengan sesuatu yang lebih berbahaya. Siapapun yang mendekat, maka jantung Asuka akan kembali berhenti berdetak seperti sebelumnya.
Dari tangan Asuka, muncul api yang langsung menjalar ke tubuh Argaes. Malaikat itu sama sekali tidak merasa panas atau khawatir tubuhnya akan terbakar. Ia malah senang, semakin banyak api, maka bertambahlah kekuatannya.
Tubuh Argaes mulai diselimuti api. Menjadi iblis lebih menyenangkan! Itulah yang terlintas di benaknya. Namun rasa heran mulai membuat Argaes waspada. Ia melemparkan Asuka ke sisi lain dan langsung ditangkap oleh Tuan Rein.
"Manusia itu penuh kelicikan! Dan anak half-blood itu sangatlah licik! Apa tujuanmu setelah memberiku banyak api, Asuka?" tanya Argaes.
__ADS_1