Pengantin Berdarah Murni

Pengantin Berdarah Murni
Surga Kecil Di Balik Rumah


__ADS_3


HUTAN AOKIGAHARA seperti tidak berujung. Entah berapa lama Asuka menunggangi Hellwolf milik Yurai. Tapi saat ini, mereka kembali menuruni bukit. Kabut tebal-lah yang membuat penglihatan Asuka menjadi tidak fokus. Ia mulai mengandalkan Hellwolf-nya untuk menuntun jalan. Sementara suara ringkikan di belakang membuat bulu kuduknya meremang.



"Hellwolf, lebih cepat lagi. Cari perlindungan!" bisik Asuka.



Dari kejauhan, suara geraman terasa berbisik di telinga. Ada tawa mengerikan dalam geramannya. Asuka terus berpikir, mencari cara agar Argaes tak sampai menangkapnya lagi. Sebuah ide melintas di dalam benak kecilnya. Ia merobek bagian bawah gaun—cukup besar. Kemudian melakukan sesuatu pada robekan itu. Risikonya cukup berbahaya, tapi Asuka mulai bisa mengendalikan kekuatannya dengan baik. Bahkan menyembuhkan luka sayatan pada lengannya.



"Gigit ini dan arahkan iblis itu ke tempat lain."



Serigala api itu berhenti berlari. Robekan gaun Asuka digigit dengan baik. Gadis itu turun dan berlari  ke arah yang berlawanan. Ia bersembunyi di  salah satu pohon besar, mengintip Argaes yang tengah berhenti. Iblis itu mendengus dan meringkik, sepertinya sedang mencium bau Asuka.



"Asuka!! Sepertinya kauingin bermain petak umpet denganku, 'ya? Aku pasti akan menemukanmu!" teriak Argaes kesal. Dan pada akhirnya ia mengikuti jejak Hellwolf.



Cahaya api itu meredup seiring dengan menjauhnya Argaes. Asuka menghela napas dan segera berlari menjauh. Terdengar bunyi kendaraan serta cahaya remang-remang. Ia berlari menerjang rumput ilalang—melewati pepohonan besar. Bahkan sempat terjatuh karena tersandung batu dan akar. Akhirnya  tiba di perbatasan hutan.



Di depannya ada jalan raya yang cukup ramai kendaraan. Tanpa memedulikan benda-benda kaleng bermesin itu, ia menyeberang dan berlari sepanjang sisi jalan, "Lututku!" Asuka berhenti dan melihat lututnya yang berdarah. Ada luka lecet karena terjatuh tadi.



"Yurai... Kau di mana?" gumamnya dilanda ketakutan. Hujan masih belum reda, ia mulai kedinginan dan  tak tahu harus pergi kemana. Mungkin saat ini dirinya berhasil lolos dari Argaes. Cepat atau lambat, iblis Hellhorse itu akan mencium jejaknya.



Kepulan asap hitam terbentuk di samping Asuka. Dan munculah sosok Yurai. Pria itu langsung memastikan keadaan anak majikannya, "Nona baik-baik saja? Kau terluka..," katanya.



"Hanya luka kecil...," sahutnya. Yurai segera membopong Asuka. Dalam sekejap mata, keduanya menghilang—menyisakan kepulan asap putih yang langsung tersapu air hujan.



Sebelumnya, sebuah sedan hitam berhenti di pinggir jalan tak jauh dari keberadaan mereka. Venus yang duduk di jok belakang pun mengintip dari kaca pintu. Matanya tidak salah lihat. Ia baru saja menangkap sosok Asuka tengah bersama Yurai, bermandikan hujan—lalu menghilang. Sepertinya, telah terjadi sesuatu pada keduanya. Ia menghela napas dan melihat jam tangannya. Pukul tiga pagi, pikirnya.



"Apa Ayah juga melihat mereka?" tanya Venus.



"Ya. Itu asistennya Rein dan Asuka," sahut seorang pria yang duduk di jok depan, sambil merokok.



"Sebenarnya apa yang terjadi?"



"Gadis itu membakar gaunmu tadi siang."



"Ayah benar... Hah! Dasar half-blood...," Venus menghela napas lagi dan kembali melihat sesuatu yang keluar dari hutan. Dua sosok itu membentuk setengah asap hitam, lalu melompat ke setiap atap mobil dengan kecepatan tak biasa. Venus dan ayahnya semakin bertanya-tanya.






***





__ADS_1




ASUKA SUDAH berganti pakaian dan menghangatkan diri di depan perapian. Ia senang bisa kembali ke rumah, menceritakan peristiwa saat mengelabui Argaes. Sayang sekali, Hellwolf itu harus tewas terpenggal. Yurai tak pernah merasa kehilangan jika salah satu dari koloninya mati. Mereka yang mati akan kembali ke neraka, terbentuk seperti semula. Tapi bukan reinkarnasi.



Menurut Yurai, ide Asuka cukup cerdas. Setidaknya lumayan untuk ukuran manusia. Cara berpikir makhluk fana memang selalu mengejutkan, tak terduga dan kadang gegabah. Tapi ia bangga dengan tindakan anak majikannya.



Saat ini, Tuan Rein sendiri sedang melakukan pemulihan di ruang bawah tanah, mungkin berdiam diri sambil memicingkan mata. Pertarungannya dengan Barack dan Argaes ternyata menghabiskan banyak tenaga. Kedua iblis itu memilih mundur ketika fajar tiba. Matahari bukanlah alasannya untuk pergi. Pintu menuju dunia Paralel tertutup jika mentari mulai merangkak dari celah bukit-bukit timur. Dan gerbangnya akan terbuka lagi saat tengah hari.



Yurai melihat Hiirosen sudah berganti pakaian dan duduk di samping Asuka, "Bagaimana kondisimu, Vampir?"



"Lukaku sudah pulih. Darah mate-ku sudah mulai bekerja," sahut Hiirosen. Wajahnya terlihat lebih segar.



Saat mengatasi elang neraka milik Barack, Hiirosen bersembunyi di pepohonan dan terbang menjadi kelelawar. Ia menyerang secara diam-diam, lalu Serasawa mengalihkan perhatian. Pada akhirnya, mereka bisa melenyapkan si elang dengan menggunakan tornado. Bagi Hiirosen, mengatasi burung api itu merepotkan. Rasanya ingin sekali mencabuti bulu-bulu sayapnya hingga tak tersisa. Tapi dia dan pengawalnya tahu, jika api tak mungkin bisa dikuliti.



"Lain kali jangan menggigitku tiba-tiba. Aku seperti diserang zombie. Kondisimu tadi sangat mengerikan!" protes Asuka.



"Jadi maksudmu, aku harus bilang dulu saat ingin darahmu?" tanyanya dengan sedikit seringaian. Dua taring di rahang atasnya sedikit terlihat.



"Tidak juga. Aku ini bukan stok darah untuk makananmu saat lapar. Lagi pula kita baru bertemu hari ini."



"Baru bertemu atau sulit untuk mengakui?"



"Lebih tepatnya, sulit mengakui jika aku bertemu denganmu," ungkap Asuka. Pipi dan hidungnya memerah karena menahan malu, kesal dan efek cuaca dingin di luar, "lalu di mana werewolf berbau anjing basah itu? Dia baik-baik saja 'kan?" setidaknya ia mencari topik lain untuk mengalihkan pembicaraan yang mulai menyudutkannya.




"Berhentilah memanggilku dengan sebutan 'Sayang'. Kau bukan bagian dari keluarga atau kekasihku," Asuka kembali memprotes.



"Kalau begitu mari kita resmikan hubungan ini."



"Meresmikan bagaimana?" tanya gadis itu heran.



"Menikahlah denganku."



Asuka menggeleng cepat—tersenyum masam menanggapi ajakannya. Apa yang akan gadis lain katakan jika ada seseorang mengajaknya untuk menikah? Atau menjadi sepasang kekasih? Bahkan dia tak pernah merasakan jatuh cinta, indahnya masa sekolah atau mempunyai teman.



"Kau tidak mau menikah denganku?"



"Tidak! Tidak semudah itu," tolak Asuka.



"Baiklah, aku tak akan memaksamu...," Hiirosen mengambil keputusan dengan seulas senyum. Setidaknya, dia masih bisa melihat mate-nya dari jarak sedekat ini," harus kuakui, nyalimu besar juga untuk mengelabui Argaes..."



"Terima kasih. Sebenarnya, itu hanya ide yang muncul tiba-tiba. Aku tidak benar-benar berani melakukannya."


__ADS_1


Saat berusaha lari dari kejaran Argaes, Asuka memang memiliki ide cemerlang. Biasanya dia hanya bisa merengek dan merajuk saat Yurai menempatkannya dalam situasi darurat. Kini dia tahu sesuatu yang hebat dari pikirannya sendiri. Hanya dengan darah yang dioleskan pada robekan gaun, iblis itu mengira jika Asuka pergi kemanapun Hellwolf-nya berlari. Bagaimanapun juga makhluk Immortal sangat sensitif terhadap bau darah.



"Jadi, kau senang bisa kembali ke rumah?" tanya Hiirosen.



" Aku tak bisa berbohong  jika aku memang ingin terlihat seperti half-blood lainnya. Sepertinya, penawaran Barack cukup menggodaku," ungkap Asuka sekenanya.



Yurai menghela napas panjang sebelum mengomentari, "Nona Muda tidaklah cacat. Seperti yang kukatakan sebelumnya, hanya perlu waktu yang tepat untuk kekuatan itu sendiri bangkit."



"Kau benar, Yurai. Aku terlalu cepat menyerah...," timpal Asuka seraya bersandar di sofa, menatap api perapian yang mulai mengecil.



"Ayahmu sangat khawatir saat tahu dirimu diculik," Hiirosen menanggapinya dengan suara kecil, menatap mate-nya yang sedikit bernostalgia, "aku senang melihatmu di rumah. Dan ayahmu sangat menyayangimu... Sebenarnya dia memang menyayangimu, percayalah."



"Benarkah? Begitu ya... Bagaimanapun juga, surga kecilku ada di rumah ini... Yaaah...kadang ayah terlihat seperti orang asing bagiku. Tapi dia tetap ayahku. Dua hal yang berdampingan kadang tak bisa bersatu, itu wajar..."



"Kau mulai tumbuh dewasa," bisik Hiirosen.



"Aku memang sudah dewasa. Usiaku dua puluh tahun. Asal kau tahu saja!"



"Aku tahu... Jangan khwatir, aku selalu berada di belakangmu, tanpa kau sadari selama ini."



"Jangan jadi penguntit!" Asuka menimpali, mewanti-wanti vampir itu, "lalu, di mana pengawalmu?"



"Dia sedang kembali ke klan vampir untuk membicarakanmu. Tidak semua vampir di bawah pimpinan keluarga Sakamaki bisa menerimamu," jawab Hiirosen.



"Kenapa memangnya? Karena aku half-blood iblis? Tidak memiliki kekuatan atau lainnya?"



Hiirosen tersenyum ragu, "Karena kau memiliki elemen api."



"Aku mengerti apa yang hendak kaubicarakan..." Pikiran Asuka mengatakan jika maksud dari perkataan Hiirosen itu mengarah pada arti kepunahan. Jika ada seseorang berlemen api di dalam klan vampir, sesuatu yang buruk bisa saja terjadi.



Asuka tiba-tiba saja menguap, membuat Hiirosen tersenyum simpul. Seandainya dia bisa tahu bagaimana rasanya tidur dan bermimpi...



"Pergilah tidur...," bisik Hiirosen.



"Ya. Aku memang mengantuk," jam dinding sudah menunjukkan pukul empat pagi. Yurai menyuruhnya untuk kembali ke kamar. Tapi Asuka ingin tidur di sofa dekat perapian. Tubuhnya pegal dan ada beberapa luka memar di betisnya. Selain itu, badannya agak meriang.



"Kau tidak tidur?" tanya Asuka.



"Makhluk Immortal tidak membutuhnya. Tidurlah yang nyenyak. Hari ini sangat berat bagimu. Semoga mimpi indah...," sahut Hiirosen mengelus puncak kepala Asuka, membenarkan posisi selimutnya.



"Hmm... Selamat pagi...," perlahan, Asuka memejamkan mata. Tak lama, ia sudah terlelap. Yurai hanya tersenyum saat melihat keduanya mulai saling mengenal.



__ADS_1



__ADS_2