Pengantin Berdarah Murni

Pengantin Berdarah Murni
Kerja Sama Dengan Organisasi Exorcist


__ADS_3

SORE HARINYA, Argaes datang setelah Shinwa mengantarnya. Werewolf itu khawatir jika dia berbuat ulah di perjalanan atau mengamuk ketika benda-benda kaleng melintas. Seperti dugaannya, Argaes hampir saja menghadang sebuah mobil dengan cara berdiri di tengah jalan. Pria itu belum terbiasa dengan kehidupan fana—masih merasa menjadi seorang malaikat kematian dan iblis. Bahkan dia berteriak akan mencabut nyawa manusia.



Sungguh gila! Shinwa hampir kewalahan mengatasi tingkah gak jelasnya. Ia terpaksa memanggul pria itu dan membawanya dengan kecepatan tak biasa. Saat ini saja, Argaes merasa mual dan ingin muntah akibat perlakuan Shinwa. Baginya sangat aneh dan menjijikan. Dia juga sudah berkali-kali ingin itu dan pergi ke toilet.



"Wajahmu pucat," ujar Asuka.



"Sungguh?? Aku benar-benar tak percaya, bisa terlihat seperti makhluk fana," timpal Argaes seraya mengusap dadanya. Rasa mual itu masih ada, namun tidak separah sebelumnya.



"Kau sudah jadi fana. Mulai sekarang kau harus terbiasa dengan kegiatan manusia," kata Shinwa.



"Heh!! Aku tidak peduli. Aku bisa melakukan apapun yang kuinginkan!"



"Menghadang mobil di tengah jalan lagi? Apa kau ingin mati tertabrak?" tanya Shinwa sedikit kesal.



"Memangnya aku bisa mati jika tertabrak benda bermesin tak berguna itu?"



"Tentu saja. Kau bisa terpelanting, terlindas atau sekarat. Yang lebih parah lagi, kau mungkin akan kehilangan sebagian anggota badanmu! Cobalah tonton acara televisi dan lihat berita kecelakaan atau pembunuhan...," jelasnya.



Argaes mulai memikirkan perkataan Shinwa. Kedengarannya cukup mengerikan jika ia terlindas sedan atau truk, lalu organ dalamnya berceceran. Selama dia menjadi malaikat kematian, tak ada satu pun korbannya yang harus mati tertabrak atau terbunuh.  Kini, ia hanya diam dan menenangkan diri. Sedangkan Asuka sendiri tampak menikmati teh jahe merahnya.



"Mana manusia Exorcist yang kalian maksud? Kenapa dia tidak datang-datang?" marga mulai bosan.



"Yurai bilang, dia masih di perjalanan. Sebentar lagi sampai..."



Belum lama dibicarakan, Yurai memasuki ruang tamu bersama seorang pria berkacamata bening. Perawakannya tinggi, ramping dan terlihat lugu. Tapi bentuk wajahnya mendukung kesan ramah. Asuka hampir terpesona dengan senyum simpul pria itu. Ia berkedip dua kali, memperhatikan penampilannya—kemeja abu-abu dipadukan dengan jas hitam, celana formal serta sepatu hitam mengilap.



"Aku belum pernah melihatnya," gumam Asuka.



"Bukankah kau bilang, dia kenalan keluarga Kuromi?" tanya Hiirosen. Pria itu sudah duduk di samping Asuka. Gadis itu sedikit terperanjat dan bergerutu tak jelas.



"Ya, begitulah kata Yurai. Tapi yang kutahu, orangnya sudah berkumis dan menginjak kepala lima," Asuka menimpali, tangannya memperagakan gambar kumis melintang.



Pria berkacamata bening itu membungkukkan setengah badannya, lalu memperkenalkan diri sebagai Azuki—wakil ketua Exorcist bagian pengintai. Yurai segera mempersilakannya duduk dan diskusi pun dimulai. Mereka mengawalinya dari perkenalan, lalu dasar-dasar masalah hingga akhirnya menentukan keputusan. Argaes pun bergabung. Asuka mengajukan diri jadi anggota. Tak tertinggal pula Hiirosen dan Shinwa. Nama Serasawa pun tak luput dimasukan dalam data.



Azuki megetik semua data informasinya di laptop. Dia sudah cukup lama bekerja pada organisasi Exorcist, dan merupakan anggota termuda sejak kali pertama mendaftarkan diri. Banyak pengalaman mengerikan yang dilalui, tapi karena itulah ia sudah mahir untuk menjalani tugas berat. Sebagai seorang Exorcist, Azuki tidak boleh terpengaruhi oleh tipu daya hantu dan sebagainya.



"SMA Karaha merupakan sekolah lama. Bangunannya pun masih terbuat dari kayu. Aku dengar-dengar, sudah banyak murid yang melihat penampakan tapi baru beberapa hari terakhir ini ada pembunuhan," jelas Azuki seraya menutup laptopnya.


__ADS_1


"Kalau begitu, Darkur terkuat pasti ada pada salah satu warga sekolah," Asuka menimpali.



"Monster terkuat tak akan bisa bertahan dalam tubuh anak-anak. Harus manusia dewasa yang memiliki ambisi besar," Argaes membenarkan.



"Guru?" terka Hiirosen.



Tak ada yang menyahut lagi. Kemungkinannya memang guru atau seseorang yang telah merencakan pembunuhan di SMA tersebut. Argaes menjelaskan, semua korban mutilasi adalah tumbal.



Darkur menyesuaikan diri dalam tubuh manusia yang dirasukinya. Mereka membutuhkan makanan lebih besar pada minggu-minggu pertama. Selanjutnya, tumbal hanya diambil seminggu sekali. Dalam penangkapan monster ini, Argaes akan menjadi wadah informasi.



"Ngomong-ngomong...," Azuki membenarkan posisi kacamatanya sambil melihat Argaes, "kau ini makhluk apa?"



"Tentu saja manusia! Tidak mungkin kalau kau tak menyadarinya," jawab pria itu sekenanya. Ia memilih meminum teh, rasanya juga agak hambar untuk ukuran minuman mantan malaikat.



"Bukan begitu. Maksudku, sebelum menjadi manusia...kau ini makhluk apa?"



Argaes hampir tersedak. Ia menatap Azuki, matanya menyipit. Apakah itu penting? Pikirnya. Dan bagaimana mungkin manusia indigo seperti Azuki mampu mengetahui aura yang pernah ia miliki sebelumnya.



Pria berkacamata itu terkekeh dan tersenyum simpul, "Jangan berpikiran macam-macam. Aku hanya merasakan energi kelahiran kembali dalam tubuhmu. Jadi kupikir, mungkin awalnya kau bukan manusia," ia mengutarakan isi pikirannya.




"Apapun itu katamu, aku ini baru saja memulihkan diri akibat luka serius. Bisa dibilang, aku pernah  diambang kematian. Dan aku bukan anak kota, jadi tolong maklumi jika tingkahku aneh...," jelas Argaes menunjukkan senyum datarnya. Setidaknya ia mulai membiasakan diri bertingkah seperti manusia.



"Oh, tentu saja. Tak usah khawatir. Baiklah, pembicaraannya kita akhirnya dulu... Besok, kita akan mulai melakukan pencarian. Lebih cepat, lebih baik. Seharusnya, para master yang memegang kasus ini...tapi mereka terlalu disibukan dengan urusan lain...," Azuki bangkit dari duduk dan menjinjing tas laptopnya, "aku permisi dulu...," ia sedikit membungkuk lalu melenggang, diantar Yurai hingga ke pintu utama.



Selepas kepergian Azuki, keempatnya menghela napas lega. Lalu mewanti-wanti Argaes agar tidak kelepasan kontrol saat nanti terjun ke lapangan. Tiba-tiba saja Asuka menoleh ke belakang dan bangkit. Ia baru saja menangkap suara aneh di belakang rumahnya, namun tidak berniat untuk mengecek. Tapi Hiirosen maupun Shinwa sama sekali tak mendengar suara apapun.



"Mungkin hanya perasaanmu saja karena terlalu terbawa suasana," kata Hiirosen.



"Oh, mungkin saja kau benar. Tapi suaranya jelas sekali. Aku akan mengeceknya dulu."



Asuka berlari kecil ke luar ruangan. Ia menuju teras belakang dan menggeser pintu kaca yang menghubungkan halaman belakang. Tak ada siapapun. Keadaan terlihat normal. Awalnya ia mengira ada pencuri yang memasuki kawasan rumahnya—mengingat, tidak ada CCTV sama sekali.



Kakinya tak sengaja menginjak sebuah pulpen berwarna hitam, terlihat seperti benda mahal. Ada nama yang tertera, "Sayori The Exorcist?" gumamnya. Mungkinkah ada yang mengintai Azuki atau seseorang suruhannya? Batin Asuka. Ia kembali melihat sekitar, lalu masuk rumah. Pulpen itu ia masukan ke dalam saku, tak berniat untuk memberi tahu siapapun. Untuk saat ini, dia akan merahasiakannya terlebih dahulu.



Dari atas pohon dekat pagar, ada tiga orang yang tengah bersembunyi. Ketiganya menghela napas bersamaan dan turun terburu-buru. Salah satu di antara ketiganya adalah seorang gadis seusia Asuka. Dia memasang wajah masam lalu mencak-mencak tak terima. Awalnya ia berniat untuk ke rumah tersebut dan meminta pulpennya kembali, tapi kedua teman laki-lakinya melarang.



"Kau gila 'ya Sayori?! Kita bisa ketahuan! Sebaiknya kita pergi sebelum gadis itu kembali ke sini lagi," bisik Aluto—si rambut spiky.

__ADS_1



"Tapi itu pulpenku..."



"Lain kali saja kita ambil. Cepat naiki pagarnya dan kita pergi!" sela Hideki—laki-laki yang lebih tua dari keduanya.



Pagar semen yang cukup tinggi mengharuskan keduanya saling membantu. Sayori memanjat lebih dulu setelah menaiki pundak Hideki. Namun dia belum berani untuk melompat ke bawah. Padahal keduanya sudah melompat dan mendarat sempurna di tanah berumput. Mereka melihat sekitar, siapa tahu saja ada yang tengah memperhatikan dari kejauhan.



"Curang! Kenapa kalian lompat duluan?" tanya Sayori sepelan mungkin.



"Karena aku ingin melihat rok terbangmu, Sayori...," sahut Aluto lalu terkikik.



"Kurang ajar. Dasar mesum!" Sayori mengamati rok rimpelnya yang memang hanya sebatas lutut. Ia bersiap untuk melompat.



Belum sempat turun, suara pintu digeser kembali terdengar. Sayori melihat ke belakang dan mendapati gadis tadi kembali memperhatikan sekitar. Mau tak mau dia melompat sembarang dan mendarat di tubuh Aluto. Keduanya mengaduh kesakitan, tapi yang paling parah tentulah laki-laki itu. Rintihan Aluto terdengar seperti kucing terjepit pintu. Sementara Hideki hanya bisa menahan tawa.



"Karma menghampirimu," katanya pada Aluto.



"Diam dan bantu aku. Hei, Sayori!! Cepat menghindar dari tubuhku. Rasanya sakit sekali," Aluto terlihat tak berdaya.



"Ma-maafkan aku...," ia segera menghindar dan bangkit, membenarkan pakaiannya.



Aluto merenggangkan tubuh, membenarkan susunan tulang-tulang punggungnya yang hampir patah. Ia berdecih dan meminta penjelasan logis atas peristiwa yang menimpanya. Sayori terlalu panik saat Asuka keluar dan kembali mencurigai sekitar. Maka dari itu ia tak punya cara lain selain lompat tanpa memprediksikan akibatnya.



"Bisakah kau tidak jatuh di tubuhku?" protes Aluto.



"Mana aku tahu akan jatuh di tubuhmu. Sudahlah, ayo pergi... Gadis itu bisa menyuruh butler-nya untuk menguliti kita!"



Ketiganya segera menaiki sepeda dan meninggalkan kawasan kediaman Kuromi. Sayori menoleh. Ada seseorang tengah memperhatikan ketiganya dari atap rumah. Ia terkejut. Jantungnya berdegup lebih keras. Itu pasti Yurai, pikirnya. Tanpa sadar, dia melupakan jalan di depannya dan menabrak pohon sakura. Lagi-lagi dirinya harus terjatuh dan mengaduh.



Aluto dan Hideki berhenti lalu menepuk jidat. Mereka segera membantu Sayori untuk bangun, "Matamu sudah tidak beres 'ya? Kenapa kau bisa ceroboh?" tanya Aluto.



"Tadi aku melihat seseorang di atap rumah gadis itu!" ia menunjuk ke arah yang dimaksudnya, tapi tak ada siapapun. Ia mulai merasa merinding dan merengek pada Hideki, "gendong aku!!"



"Dasar penakut! Kau ini kan mantan Exorcist! Jangan cengeng!" kata Hideki.



Kali ini, ketiganya benar-benar meninggalkan kawasan rumah keluarga Kuromi. Sayori memimpin agar kedua teman laki-lakinya bisa mengawasi dari belakang. Karena di antara mereka, yang paling ceroboh dan penakut adalah gadis berambut sebahu itu.



__ADS_1


__ADS_2