
TERPAAN ANGIN membuat Asuka terjaga. Dia menghirup aroma khas padang kusa dan menangkap suara embikan yang bersahutan. Ia mengambil duduk dan melihat sekitar. Sayup-sayup, suara tawa riang mengiang di telinganya. Tak jauh dari keberadaan Asuka, beberapa gadis seumurannya tengah menghambur-hamburkan kelopak bunga sakura. Mereka melihatnya sesekali.
Padang kusa tersebut mengingatkan Asuka akan wanita berbumban yang ada dalam mimpinya. Ia juga teringat dengan Argaes yang menusuk dadanya. Mungkinkah sekarang, dirinya sudah mati? Bunga es mulai menyelimuti rerumputan, padahal langit cerah berawan. Dia merasa hangat meski di sekitarnya terdapat bunga-bunga es—namun tidak sedikit pun mencair.
Di depannya, ada beberapa wanita yang tengah menata bunga azalea ke dalam keranjang hias. Semuanya memakai gaun rumah, tapi Asuka sendiri memakai gaun putih bersih selutut. Bagaimana jika dirinya memang sudah mati dan kini ada di taman surga?
Tak berapa lama, seseorang menyentuh pundaknya. Ketika ia menoleh, senyum seorang wanita menghiasi wajah cantiknya. Dia wanita yang dikejar-kejar Argaes dalam mimpi Asuka.
Seketika, bunga-bunga es mencair. Asuka sempat terheran-heran dengan perubahan tersebut.
"Darah murni memang sangat bermanfaat tapi juga membahayakan. Buatlah sisi berbahaya itu patuh padamu," jelas wanita itu.
"Aku tidak mengerti maksudmu. Kau tahu kenapa aku di sini?" tanya Asuka.
Wanita itu tak menjawabnya dan langsung meraih tangan Asuka, mengajaknya ke suatu tempat. Mereka berdua berlari di sepanjang padang kusa, melawan arah angin dan merasakan kelembutan rerumputan di kaki telanjang.
Para domba seolah-olah bernyanyi, kedua anjing gembala berlarian dengan riang. Sampai akhirnya mereka berhenti di ujung padang, ada tebing curam. Di bawahnya terdapat mega putih, terlihat seperti kapuk yang ditumpuk.
"Sebenarnya kau ini siapa? Kenapa kau ada dalam mimpiku?" tanya Asuka sangat penasaran.
Wanita itu tak bersuara dan hanya menunjuk ke depan—lebih tepatnya sesuatu di seberang tebing. Ada banyak iblis yang bertarung dengan malaikat kematian. Mereka memakai jubah hitam dan tongkat bersabit tajam, membantai kaum iblis dengan brutal. Beberapa malaikat juga tumbang setelah kehilangan sayapnya. Sedangkan para iblis yang kehilangan sayapnya pun lenyap menjadi debu.
Tanpa sayap, iblis atau malaikat akan menjadi fana. Kekuatan mereka menyusut perlahan-lahan hingga akhirnya terlihat seperti half-blood. Asuka tidak mengerti kenapa wanita itu memperlihatkan pertarungan terlarang malaikat dan iblis. Lalu suasana berganti menjadi tempat lain. Sebuah Dunia Paralel. Ada kerajaan negeri api yang dipimpin oleh Barack, pasukan burung api serta Argaes sebagai lawannya. Pertarungan terjadi hingga kekalahan Barack membuat malaikat buangan itu menyeringai.
"Bukankah itu dirimu?" tanya Asuka saat melihat seorang wanita menghampiri Barack dan melindunginya.
Wanita itu mengangguk. Dan kejadiannya begitu singkat. Barack terkena mantra dan ia melarikan diri ke dunia fana setelah raja itu memintanya untuk pergi. Namun sayang, Argaes berhasil mengejar dan membunuhnya di dekat batu segel.
"Berarti tempat ini adalah tempat bagi orang yang mati... Kau sudah mati, dan aku di sini...," gumam Asuka.
Wanita itu menoleh namun tak mengatakan apapun.
"Kenapa Argaes membunuhmu?"
"Dia juga berusaha membunuhmu," sahut wanita itu lembut.
"Kenapa dia ingin membunuh kita?"
__ADS_1
"Karena kita pengantin berdarah murni. Para iblis percaya, jika darah kita mampu melampaui kekuatan mereka."
"Tapi Argaes kan malaikat kematian...," Asuka menimpali.
"Benar. Tapi malaikat tidak bisa tinggal di dunia mana pun selain dunia langit dan alam para malaikat. Mereka yang membelot pada Tuhan akan dilempar ke neraka. Tapi saat ini, Raja Lucifer masih yang terkuat. Dia juga berasal dari kaum malaikat hingga akhirnya dilempar ke neraka karena mencoba menduduki kursi Tuhan...," tutur si wanita lalu tersenyum.
"Tapi—"
"Waktumu sudah habis. Ini adalah perpisahan terakhir kita. Aku senang karena Tuhan mengizinkanku untuk memberimu petunjuk. Kau satu-satunya half-blood terkuat yang tersisa... Jaga dirimu," kata si wanita lagi.
"Tunggu... Kenapa aku tidak tinggal di sini saja dengan kalian?" tanya Asuka.
Wanita itu tersenyum penuh arti, "Di sini bukanlah tempatmu, Asuka. Belum saatnya kau berkumpul bersama kami. Kembalilah dan sampaikan salamku pada Raja Barack. Katakan padanya, jika aku akan selalu setia menjadi pelayan dan pengantinnya..."
Angin berembus sangat kencang. Wanita itu perlahan menjadi debu dan hilang diterbangkan angin. Padang kusa lenyap perlahan, domba-domba menghilang serta langit berubah gelap. Semuanya menjadi beku dan badai salju di mana-mana. Banyak jeritan dari berbagai penjuru, tangisan dan kemarahan para half-blood yang telah tewas lebih dulu sejak dia dilahirkan. Semua rasa itu mengiang—menusuk hati gadis itu.
Asuka dapat merasakan kepedihan, rasa takut, gelisah, marah dan dendam pada malaikat buangan itu. Argaes harus mendapatkan hukumannya, sebab Tuhan saja tak mau menghukum malaikat yang ternoda. Sosok wanita itu muncul di depan Asuka, melayang beberapa jengkal dari tanah.
"Kami berikan sedikit energi yang tersisa agar kau tetap hidup Asuka. Hukumlah malaikat itu dan akhiri rasa sakit kami...," wanita itu meniupkan debu biru ke arah Asuka.
"Tidak, tunggu! Aku—" belum selesai mengucapkan sesuatu, tiba-tiba saja Asuka sudah terjatuh ke dalam tebing, tenggelam di gumpalan mega putih tersebut. Bayangan wanita itu menghilang, seiring dengan senyapnya suasana. Dadanya kini mulai sesak dan—
***
DALAM SATU kali tarikan napas, Asuka membuka mata. Ia sedikit terkejut. Hanya terlihat langit-langit yang sedikit usang, kelambu berkibar dan cahaya jingga kekuningan dari api perapian. Tubuhnya berselimut tebal. Perlahan-lahan Asuka melihat tangannya yang sedikit pucat, rambutnya putih meta dan—tubuhnya terasa sakit semua.
__ADS_1
"Apa yang terjadi dengan diriku? Apa aku menjadi makhluk aneh?!" gumamnya sedikit panik.Terdengar bunyi retakan dari sisi lain. Asuka keheranan melihat nakas hampir seluruhnya diselimuti bunga es. Ia berusaha bangkit. Mencari tahu apa yang terjadi di kamar—mungkin milik Barack. Namun saat Asuka tak sengaja menyentuh nakas, justru bunga es tersebut malah menjadi lapisan es dan membekukannya.
Hampir seluruh barang terselimuti bunga es, perapian dan lentera langsung padam, langit-langit kamar serta dinding juga memutih. Hawa dingin seketika menghapus kehangatan yang memenuhi seisi kamar. Asuka segera bangun dan melihat pemandangan negeri api dari jendela, semua terlihat seperti negeri es tanpa cahaya. Mata petir saling berteriak dari balik awan kelabu yang berpusar di sekitar tornado beku.
Asuka terpaksa memanjat jendela dan keluar dengan cara melompat, tak peduli jika ia merasakan kakinya akan patah. Rasanya seperti terbang, dia mendarat dengan sempurna tanpa rasa sakit atau cedera apapun. Padahal tinggi dari tempatnya melompat cukup berbahaya—setidaknya untuk seukuran istana besar negeri api.
Setiap kali Asuka melangkah, retakan di tempatnya berpijak terdengar cukup keras. Mata nilakandinya melirik sekitar, tak ada satu pun benda yang terselamatkan dari lapisan es. Tidak ada udara dingin yang membuatnya kesakitan dan lemah seperti biasanya.
Ada yang salah dengan diriku, pikiran pertama Asuka berbisik...
Aku pengguna elemen api, dan es adalah kelemahanku... Kini, pikiran keduanya juga berbisik. Asuka menghela napas, memikirkan apa yang telah menimpanya sebelum ia bermimpi lagi tentang wanita itu.
Tak jauh di depannya, sesuatu yang berlari kencang samar-samar terlihat. Mata Asuka harus menyipit untuk bisa memastikan apa yang datang. Dan seekor serigala hitam besar memasuki gerbang istana. Di atas punggungnya ada Hiirosen dan Venus. Keduanya berjalan beriringan setelah serigala penjelmaan Shinwa pergi lagi entah kemana.
Asuka segera bersembunyi di salah satu pohon—maksudnya es yang mirip dengan pohon. Ia mampu mendengar apa yang mereka bicarakan, sedikit perdebatan dan juga rasa marah diperlihatan Hiirosen. Venus sepertinya mencoba untuk membuat pria itu berubah pikiran dengan keputusannya.
"Hiiro! Hiiro! Dengarkan aku," Venus menghadang jalan pria itu, menatapnya penuh keseriusan, "tinggalkan manusia half-blood itu dan nikahi saja aku!"
"Dia mate-ku!" tampaknya Hiirosen terus menekankan kalimat itu ketika Venus selalu mencoba untuk membuatnya berubah pikiran.
"Apa salahnya jika kau putuskan hubungan mate-mu itu dan bilang padanya... Jika kau memiliki indera penciuman yang buruk. Mudah bukan?"
"Aku tidak mau melakukannya Dia mate-ku dan aku tak ingin kehilangannya lagi hanya karena posisi pemimpin keluarga Sakamaki. Aku tak peduli jika tidak menjadi pewaris di keluargaku sendiri! Sekarang minggirlah dan urus dirimu!" Hiirosen menepis keberadaan Venus dan melenggang begitu saja. Wanita itu sampai jatuh terduduk di atas lapisan es yang cukup keras dan licin.
Rasa amarah menggelayuti pikiran Venus. Wanita itu sangat mencintai Hiirosen dan harus menerima kenyataan, jika Asuka adalah mate dari orang yang dicintainya. Dia mengepalkan kedua tangannya dan menatap punggung Hiirosen yang kian menjauh.
"Gadis itu hanya monster!! Dia menyebabkan dunia Paralel di ambang kehancuran. Kaupikir berapa lama dunia ini akan bertahan? Gerbang Dunia Immortal tertutup sepenuhnya. Ayahmu bilang, jika gadis itu bisa mengembalikkan semuanya seperti semula maka dia akan merestui hubungan kalian. Tapi itu tidaklah mungkin, Hiirosen! Coba kaupikirkan itu!!" sergah Venus. Tapi Hiirosen sama sekali tak mengindahkan kata-katanya. Wanita itu terus saja memanggil Hiirosen yang langkahnya mendadak terhenti. Sepertinya pria itu mulai menyadari perkataannya. Tapi tidak!
Ada sesuatu yang tengah Hiirosen lihat. Ia sedikit mengendus dan mencocokkan bau manis yang teramat memabukkan. Seketika pandangan Hiirosen beralih ke sebuah jendela tanpa kaca yang tampak memutih. Jendela itu terselimuti bunga es. Dia segera melompat ke atas dan bertengger di kusen jendela. Seisi kamar Barack terselimuti bunga es, tak ada tanda-tanda mate-nya di ranjang.
Pintu juga tertutup rapat. Pandangannya mulai beralih ke luar, menelisik setiap pepohonan dan halaman. Ada sesuatu yang berlari menjauh, membuat ia yakin jika itu adalah Asuka. Perasaan khawatir akan apa yang Venus katakan, mungkin terdengar oleh gadis itu. Sementara di luar sana, Argaes masih berkeliaran sejak Barack mendapatkan kembali kesadarannya.
"Tidak! Jangan pergi lagi!" gumamnya. Hiirosen segera turun kembali dan menyuruh Venus untuk memberi tahu semuanya jika Asuka melarikan diri. Ia sendiri segera menerjang hujan salju yang mulai lebat. Tanpa menghiraukan Venus yang mengkhawatirkan dirinya akan membeku di perjalanan.
Segala bujukan telah wanita itu teriakan tapi tanda-tanda Hiirosen di depan sana sudah tak mungkin ada. Ia berdecak kesal dengan sorot tajam. Jika Asuka mati di luar sana sebelum pria itu menemukannya, bukankah itu bagus? Pikiran gila itu sekilas meracuni akal sehatnya.
__ADS_1