Pengantin Berdarah Murni

Pengantin Berdarah Murni
Rencana Cadangan Argaes


__ADS_3

JAMUAN MAKAN malam di istana negeri api sangat meriah. Semua jenis makanan tersaji di meja panjang, minuman beralkohol serta beraneka penganan. Asuka duduk di samping Yurai, memilih makanan apa saja yang akan ia nikmati. Namuan, hal pertama yang membuatnya rindu adalah ayam goreng serta olahan daging sapi. Kini, piringnya penuh dengan dua makanan tersebut.



Semua tamu undangan melirik Asuka heran.  Gadis itu makan dengan lahap dan menghabiskan dua piring daging. Tak lupa, Yurai menambahkan sayuran di piringnya. Butler itu sudah tak merasa aneh lagi melihat cara makan Asuka yang tergolong banyak. Apalagi siang tadi, banyak energi yang terbuang.



Dalam acara makan malam ini, Hiirosen dan Venus tidak hadir. Shinwa bilang mereka masih mendiskusikan banyak hal terkait membekunya Hutan Aokigahara. Sedangkan Tetua Gunung Berapi sibuk mengurusi hal lain.



"Aku berterima kasih kepada kalian semua yang telah berjaya mengembalikan negeri api. Khususnya untuk Kuromi Asuka. Demi menyelamatkanku, kau harus rela mati di tangan Argaes. Aku senang karena Raja Lucifer melindungimu," tutur Barack dengan senyum simpulnya. Asuka meliriknya sekilas seraya memberikan tanda 'oke' melalui dua jari tangan kanannya.



"Lalu tentang mate-mu?" tanya Yurai.



"Ah, aku mengikhlaskan semuanya. Aku senang dia bisa tenang di alam sana. Jika ada kesempatan, aku pasti akan bertemu lagi," jawab Barack sedikit murung.



"Cari saja wanita lain," kata Shinwa sekenanya.



"Tidak. Aku bukan kaum serigala yang suka berganti-ganti pasangan. Bagiku, mate itu hanya satu. Meski aku sedang memikirkan pengganti lain," ia terkekeh.



"Kaw hawus punya ketuwunan untuk penewus negweri api. Banyuak wanita yang muwngkin cocok untukwu," Asuka menimpali dengan mulut penuh makanan.



Argaes yang duduk di seberang Asuka mendengus. Keduanya langsung bertatapan dengan sedikit jengkel. Tak lama, Asuka memilih menikmati makanannya kembali. Sedangkan pria itu mencomot makanannya dengan malas. Menyuap hidangan makhluk fana cukup enak, pikirnya. Ia mendapatkan kebebasan bersyarat dari Barack—yaitu harus menjadi pelayan pribadinya. Mau tak mau, Argaes mengiyakannya daripada harus membusuk di penjara bawah tanah yang kotor dan lembab.



"Terima kasih sarannya, half-blood," kata Barack.



Sedangkan Tuan Rein sendiri makan dengan etika kebangsawannya, seperti biasa—tampak anggun dan mempesona. Begitu pula dengan Yurai. Namun Shinwa berbeda jauh. Dia memilih makanan yang memiliki daging saja. Semua sayuran ia hindari, termasuk nasi. Cara makannya pun apa adanya, layaknya serigala yang lapar.



"Jadi kita anggap, semua permasalahan telah selesai?" tanya Shinwa.



"Tidak!" sahut Van, "batu segel terlihat aneh. Aku khawatir terjadi sesuatu."



"Maksudmu, tentang ukiran baru di salah satu pilar?" Yurai memastikannya lagi.



"Ya. Aku bisa dimutasi Raja Lucifer jika terjadi sesuatu pada batunya. Aku tak mau pindah kemanapun," ia berwajah suram.



"Kasihan sekali... Kalau begitu, Argaes adalah jawabannya," tuduh Asuka.



"Aku??" Argaes menunjuk dirinya sendiri, lalu terkekeh. Dia terlihat santai meski pembicaraan terdengar serius, "kenapa kau menuduhku?"



"Hanya kau yang selalu ke sana dan mencegah para half-blood berdarah murni agar tidak menghalangimu. Mengaku sajalah...aku ini bukan gadis bodoh!!" tekan Asuka, mewakili butler-nya.



Argaes mendengus, memperhatikan Asuka sejenak. Memang benar, ukiran yang ada di salah satu pilar batu segel adalah perbuatannya. Ia berantisipasi jika rencananya untuk mendapatkan Asuka gagal. Namuan sedetik kemudian, dia terlihat terkejut. Raut wajahnya serius. Ada satu hal yang ia lupakan tentang dampak dari rencana cadangannya tersebut.



"Ada apa? Jangan bilang jika kau membuat hidup dunia fana dalam ambang kehancuran," terka Tuan Rein. Kebetulan dia duduk disampingnya.



"Bukan seperti itu. Tapi...ukiran di pilar yang kubuat adalah lambang untuk memanggil monster kegelapan," ungkap Argaes sekenanya. Tak ada gunanya lagi berbohong. Ia sudah menjadi fana dan butuh perlindungan. Jika tidak, dia bisa mati. Semua mata memandangnya bingung, tapi tidak dengan Barack.



Van terlihat menggebrak meja dan menatap Argaes nanar, "Apa yang kaulakukan pada batu segelku, Argaes?!! Kau sadar makhluk apa yang kaupanggil??" nada bicaranya meninggi. Asuka sampai tersedak karena terkejut.



"Tenanglah Tuan Van. Kau harus bersikap sopan saat di meja makan," Shinwa menenangkan.Van mendengus.

__ADS_1



"Apa itu monster kegelapan?" tanya Asuka sedikit terbatuk.



"Monster yang meracuni pikiran dan hati manusia agar memiliki pikiran jahat. Manusia yang imannya lemah akan mudah termakan oleh bisikan monster kegelapan. Jika manusia memiliki rencana buruk demi kepentingannya sendiri, monster itulah yang akan membantunya...," tutur Tuan Rein terlihat memikirkan sesuatu.



"Tapi tak semudah membalikkan telapak tangan. Manusia itu sendiri harus memberikan tumbal manusia lainnya agar tetap mendapatkan apa yang diinginkan. Jika tidak, maka dirinya sendiri yang akan menjadi tumbal," Yurai menambahkannya.



"Itu benar," Argaes menyetujui penjelasan keduanya, "sebenarnya itu hanya rencana cadanganku untuk membunuh Asuka agar tidak menghalangi rencanaku. Karena sekarang aku sudah fana, monster kegelapan itu mungkin tak akan mencariku lagi."



"Jadi... Monster itu akan mengincar siapa?" tanya Barack.



"Jujur saja, aku tidak tahu. Tapi tujuannya jelas hanya satu, membuat dirinya kuat dan memakan semua jiwa manusia yang dipengaruhinya. Berhati-hatilah half-blood, manusia yang dipengaruhi oleh makhluk itu bisa saja mengincar kalian. Karena kalian memiliki darah yang lebih manis," tutur Argaes.



"Benar-benar kurang ajar!!" Van berusaha duduk tenang dan menahan emosinya yang hampir meledak.



"Apa nama monster itu?" tanya Yuukigao yang sedari tadi hanya diam dan menyimak.



"Darkur," sahut Argaes pendek.



Asuka tentu masih ingat dengan Darkur yang melayang di hutan tergelap Aokigahara. Makhluk itu menyesatkan jalan dan cukup berbahaya. Jumlahnya tidaknya sedikit. Itu artinya, ada banyak manusia yang bisa makhluk itu kendalikan. Para Darkur menghilang saat Asuka membuat Dunia Paralel dan Hutan Aokigahara membeku.



Ternyata monster itu tidaklah menyesatkan mereka. Van sendiri yang memasang mantra khusus untuk menyesatkan siapapun yang memasuki hutan tergelap. Lalu, apa yang para Darkur lakukan di hutan tersebut selama ini? Pertanyaan itu membuat semuanya berpikir keras. Lalu Argaes menghela napas sejenak sebelum berbicara.



"Mereka membuat inang pada tubuh manusia. Aku tidak percaya mereka bisa berkembang pesat dari perkiraanku," jelasnya.




"Ya," Argaes menukas perkataan Yuukigao, "mereka sudah bergerak."



"Apa ada cara untuk menghentikannya?"



"Hmm, aku tidak yakin. Tapi, jika inang terkuatnya dilenyapkan...maka yang lainnya pun akan hancur."



Tapi meskipun begitu, mereka tidak tahu siapa yang memiliki Darkur dengan inang terkuat. Banyaknya monster itu akan membuat mereka sulit menemukan manusia berhati gelap. Argaes menjelaskan, jika butuh waktu cukup lama untuk menyesuaikan diri dalam tubuh manusia. Selama itu terjadi, Tuan Rein akan memikirkan cara lain untuk mendapatkan solusi.










***






__ADS_1




Sudah seminggu. Akhirnya musim panas tiba. Cuaca di luar justru membuat Asuka malas untuk beraktivitas. Dia hanya rebahan di ruang keluarga seraya menikmati sejuknya AC, menonton televisi dan mendengarkan berita terkini.



"Asuka..."



"Hmm...," sahu gadis itu tanpa menoleh. Keberadaan Hiirosen tak dihiraukannya. Ia terlalu fokus menyimak berita pembunuhan berantai yang terjadi di kota Tokyo. Khususnya di salah satu SMA.



"Kau tidak rindu padaku?" Hiirosen mengerutkan kening, masih berdiri di samping sofa, tempat Asuka duduk.



"Kenapa aku harus merindukanmu?" tanya baliknya. Kini dia meminum jus alpukatnya.



"Karena aku merindukanmu. Syukurlah kalau kau baik-baik saja," Hiirosen duduk di samping Asuka, merangkulnya, "Ayahku merestui hubungan kita."



"Jadi?" Asuka masih bergeming, tak menoleh sedikit pun. Tanpa sadar, ia memberikan jus alpukatnya pada pria itu. Tak berapa lama kemudian, Asuka memekik. Dia melirik dan menyentuh pipinya yang baru saja dicium Hiirosen, "apa yang kaulakukan?" protesnya.



"Kau tak memperhatikanku dan fokus ke layar televisi. Dengarkan aku dulu," Hiirosen membela diri sendiri.



"Aku mendengarnya...! Memangnya kenapa jika ayahmu merestui hubungan kita?"



"Aku ingin kau menjadi kekasihku."



"Aku tidak mau! Ada hal yang lebih penting daripada harus menjadi kekasihmu," timpal Asuka. Hiirosen terlihat meminta penjelasan yang logis, "tentang batu segel. Kami membicarakannya saat jamuan makan malam di istana Barack. Memangnya kau belum tahu? Ada ukiran lain di salah satu pilar yang dibuar Argaes. Dia bilang ukiran itu untuk memanggil monster kegelapan. Ternyata makhluk itu Darkur. Mereka sudah memasuki hati manusia dan bisa membahayakan semua orang, termasuk anak half-blood sepertiku. Apa kau belum mende— Hiiro?"



Sosok Hiirosen sudah tidak ada saat Asuka melirik ke samping. Padahal dia sedang menjelaskan semuanya. Kepergian vampir itu menyisakan embusan angin yang cukup kencang, "Kenapa perginya cepat sekali? Aku belum selesai bicara!" gumamnya.



"Nona Muda ...," panggil Yurai.



Asuka menoleh ke belakang. Sosok Yurai yang memakai baju butler datang dengan membawa makanan pesannya—ayam goreng semangkuk ramen super pedas. Pria itu meletakkannya di atas meja, lengkap dengan segelas air putih.



"Cuaca hari ini panas sekali. Tapi Nona ingin makan ramen pedas. Apa tidak apa-apa?" tanya Yurai.



"Tidak apa-apa. Hari ini aku memang ingin makan ramen. Sudah lama sekali tidak memakannya. Oh, iya...kau melihat Hiirosen. Dia baru saja pergi ..."



"Tadi aku berpapasan di ruang utama. Dia bilang ingin menemui Van dan Argaes. Terlihat terburu-buru sekali ..."



"Aku menjelaskan topik yang kita bicarakan di istana Barack. Belum sempat aku menyelesaikan ucapan, dia sudah menghilang," kata Asuka.



"Kalau begitu, dia mungkin ingin membahas itu dengan Van ...," Yurai berdiri kokoh di dekat meja.



"Lalu bagaimana dengan Argaes? Apa dia akan betah tinggal di istana Barack?"



"Barack akan menyuruhnya untuk tinggal di dunia fana. Dia ditugaskan untuk mencari para Darkur ...," sahutnya.



Argaes sudah menjadi manusia—lebih tepatnya seorang indigo. Matanya bisa melihat aura dan sesuatu yang ada pada diri manusia. Termasuk energi kegelapan. Mungkin karena sebelumnya, pria itu adalah malaikat kematian dan iblis, maka kemampuan matanya berfungsi di luar nalar manusia. Tuan Rein memberikan masukan pada Argaes agar bergabung dengan organisasi EXORCIST.



Kebetulan sekali, dalam organisasi tersebut, ada seseorang yang sudah keluarga Kuromi kenal baik. Yurai baru saja menghubungi orang itu untuk datang ke rumah. Menurut informasi, Argaes akan datang sore ini dan memutuskan keinginannya.

__ADS_1




__ADS_2