Pengantin Berdarah Murni

Pengantin Berdarah Murni
Iblis Peliharaan Half-blood


__ADS_3

SATU BULAN telah berlalu. Hideki begitu penasaran dengan apa yang terjadi dengan Asuka. Tapi sekarang, ia mendengarkan rencana Sayori yang ingin pulpennya kembali. Secara terang-terangan gadis itu menggambar sketsa tentang rencananya. Aluto merasa bahwa semuanya berlebihan. Dia lebih suka dengan saran Hideki—mendatangi kediaman Kuromi dan meminta pulpennya secara baik-baik.



Akibatnya, Sayori dan Aluto kembali bertengkar kecil mengenai rencana tersebut. Tapi Hideki terlihat gelisah dan murung selama satu bulan terakhir ini. Dia terus memikirkan perkataan Asuka. Haruskah ia jujur pada keduanya? Ya... Cepat atau lambat, mereka pasti akan tahu. Jika terus menyembunyikan identitasnya terlalu lama, mungkin mereka benar-benar akan kecewa. Apalagi kali ini, Darkur bukan hanya menginginkan Asuka, tapi juga dirinya.



Melihat Hideki yang terus melamun, pertengkaran keduanya berakhir. Mereka penasaran dengan sesuatu yang tengah melanda suasana hati laki-laki si misterius itu. Biasanya, Hideki sangat dewasa dan bersikap hati-hati dalam menyembunyikan masalah. Kali ini, semuanya tidak lagi.



"Kau baik-baik saja, Hideki?" tanya Aluto.



Laki-laki itu langsung terkesiap dan mengiyakannya. Ia menghela napas panjang, tak bisa menyembunyikan kegelisahannya lagi. Aluto dan Sayori pun masih menatapnya curiga, "Sebenarnya, ada sesuatu yang belum pernah kuceritakan pada kalian. Aku tidak tahu, apakah dengan memberitahukannya pada kalian, semuanya akan lebih baik atau justru sebaliknya," ia mulai bicara untuk bersikap jujur.



Keduanya kembali bertatapan sejenak. Suasana apartemen mendadak hening, "Hei, kenapa kau bersikap seolah-olah kami akan menghakimimu? Kau bahkan lebih bijak dari kami. Katakanlah. Kau tak perlu ragu," kata Aluto.



Hideki berpikir ulang. Ia menghirup udara dalam-dalam dan bersiap untuk mengatakan siapa ia sebenarnya, "Sebenarnya... Sebenarnya, aku adalah seorang half-blood turunan iblis," ungkapnya datar. Reaksi Aluto dan Sayori tak terbaca. Mereka tercenung hingga Sayori saja menjatuhkan pulpennya.



Aluto segera mendesah dan bersandar di kepala sofa, sambil memakan keripik kentangnya. Ia terkekeh lalu tertawa nyaring. Sampai akhirnya terbatuk karena tersedak makanannya sendiri. Hal tersebut justru menimbulkan tanda tanya besar di kepala Hideki. Ia serius mengucapkannya, tapi mereka justru tersenyum kecil.



"Kalian tidak terkejut? Aku ini sama seperti Asuka, seorang half-blood...," Hideki mencoba untuk mencerna situasi. Keduanya terlihat lebih santai dan sama sekali tidak terkejut.



"Kami sudah tahu soal itu, Hideki," sahut Sayori pelan, "kami sudah tahu kalau kau ini bukan seorang indigo seperti kami," ungkapnya. Aluto pun mengangguk setuju dan mengiyakannya dengan cepat.



"Ta-tapi sejak kapan? Dari mana kalian tahu tentang itu?" tanya Hideki yang justru terkejut.



"Saat tak sengaja melihatmu mengeluarkan energi dari segel iblis di punggung tangan kananmu. Saat itulah kami dapat mengetahui siapa dirimu," sahut Aluto.



"Jadi kalian juga tahu alasanku keluar dari organisasi?" tanyanya. Keduanya kembali mengangguk, "kenapa kalian mengikutiku jika tahu tentang hal itu?"



"Karena kita sahabat. Sahabat selalu bersama, tak peduli apapun perbedaannya. Kau sahabat kami. Kau pikir, kami berdua akan meninggalkanmu hanya karena sebuah perbedaan?" sahut Sayori begitu melankolis, "kami juga tahu, kau datang menemui Asuka untuk meminta perlindungan."



"Ka-kalian—" Hideki tak punya kata-kata lagi untuk mengungkapkan semua perasaannya. Aluto dan Sayori ternyata menyembunyikan fakta yang selama ini justru ia simpan rapat-rapat.



"Kami senang kau mengatakannya langsung, Hideki. Sekarang, mari kita buat putri Kuromi itu memiliki teman," usulnya langsung disetujui Sayori.





__ADS_1


***





PULUHAN KALI Asuka terpental saat Van dan Barack menyerangnya dengan barrier pertahanan. Gadis itu mencoba menahan sebuah dinding transparan setinggi delapan meter. Tuan Rein tetap memantau di dekat kedua iblis itu, memperhatikan apakah iblis Asuka mulai terpancing atau tidak. Namun tidak ada pergerakan.



Tanah lapang milik kaum vampir sengaja dipilih untuk latihan Asuka. Hiirosen juga terpaksa menyerang mate-nya hanya untuk memancing iblis itu keluar. Tapi tetap saja tak terpancing. Gadis itu sudah mengalami memar cukup banyak. Kekuatan apinya langsung menyembuhkan. Bahkan Asuka tak sengaja menyebarkan banyak api ke sekitar, lalu membekukan tanaman hingga menjadi es. Dengan mudah, Barack mencairkannya.



Dinding transparan dari energi Van kembali mendorong Asuka. Ia berusaha menahan—tapi gagal lagi hingga terpental cukup jauh. Hiirosen bisa saja sudah menolongnya jika Tuan Rein tidak melarang keras.



"Dia bisa terluka parah!" ujar Hiirosen.



"Biarkan saja. Iblis itu tak akan keluar jika kau menyelamatkannya. Kita gunakan—" ucapannya terhenti saat melihat Asuka sudah tidak ada di tempatnya. Mereka semua merasakan kehadiran iblis api berelemen bumi. Suara geraman dari pepohonan langsung membuat suasana menjadi lebih mencekam.



Ada beberapa pohon tumbang setelah terkena serangan dari makhluk yang mengeluarkan suara lengkingan. Sosok Asuka muncul dari dalam hutan dan mendarat di tanah lapang dengan posisi berdiri sempurna. Tubuhnya sedikit berasap dan memperlihatkan aliran lava pijar. Kedua matanya menghitam, kedua taring muncul cukup panjang. Rambutnya juga berubah putih meta. Ia menggeram.



Tiba-tiba saja, pola heksagon raksasa muncul pada permukaan tanah lapang—Asuka berada di tengahnya. Embusan angin kencang membuat makhluk yang ada dalam hutan semakin melengking keras. Saat menampakkan diri, mereka terkejut. Sosok Hideki ada di atas iblis api berwujud kucing. Laki-laki itu turun dan menangkis serangan yang terlontar dari tangan Asuka.




"Terima kasih half-blood iblis api elemen bumi. Tapi...," Tuan Rein memperhatikan iblis kucing api setinggi delapan meter. Bentuknya memang bagus, tapi terlihat lucu, "kenapa harus kucing?" tanyanya. Barack dan Van saja bahkan terkekeh.



"Jangan komentar jika menyangkut kucing apiku. Aku juga tidak tahu kenapa harus kucing. Padahal dia hanya bisa mencakar dan mengeong saja," sahut Hideki berwajah masam. Dan benar apa yang dikatakannya. Iblis kucing api itu malah mengeong dan rebahan. Padahal di awal, keduanya sudah cukup keren.



Sekarang Tuan Rein mengerti kenapa Hideki tetap terkendali meski segel iblisnya terlepas. Jika peliharannya sejinak itu, Asuka juga mampu mengendalikannya. Hideki yang mendengar penuturannya pun tampak kesal, lalu memilih duduk bersila di samping iblisnya sendiri.



"Aku tidak peduli lagi. Dia tak akan mau menyerang Asuka jika tidak mendapatkan makanan," kata Hideki.



"Ikan? Apa seekor ikan cukup?" tawar Barack.



"Jangan mengejeknya! Dia bukan anak kucing," sahutnya.



Mereka memperhatikan Asuka yang sudah tak terkendali lagi. Gadis itu terlihat sedang berusaha untuk tetap terjaga. Kedua matanya sudah menghitam sempurna. Ia berteriak saat pola heksagon di punggungnya bercahaya. Polanya sedikit berubah hingga munculah kepulan asap hitam ke udara—membentuk seekor singa api jantan, hanya setengah badan saja—kedua matanya pun merah menyala. Teriakan Asuka berubah menjadi auman.



Asuka bangkit. Pola heksagon pada tanah lapang langsung dikelilingi lingkaran. Polanya berputar lambat seiring dengan bertambahnya energi yang terkumpul pada tubuhnya. Meski iblis singa api itu hanya membentuk sebuah asap saja, tapi Tuan Rein memastikan—jika makhluk tersebut akan menggunakan tubuh Asuka untuk menyerang.


__ADS_1


Kedua kaki depan singa itu saling menggamit, begitu pula dengan tangan Asuka. Bola api hitam tercipta di atas kepala singa lalu melesat cepat ke arah Tuan Rein, Barack dan juga Van. Sementara Hiirosen terdiam di dekat Hideki, masih mencoba mencerna sosok iblis milik mate-nya. Bola api hitam itu  mengenai barrier yang mengurung Asuka—memantul dan meledak.



Pola heksagon semakin bersinar terang, putarannya lebih cepat. Tanah di sekitar bergetar. Kepulan asap hitam yang menyerupai iblis singa api Asuka pun semakin keluar sepenuhnya. Dalam hitungan detik saja, bentukan asap seekor singa api terlihat sempurna—memgaum di belakang Asuka. Sedangkan gadis itu masih terlihat sama, tak terkendali. Tidak ada tanda-tanda kesadarannya akan kembali.



Tinggi asap perwujudan singa api mungkin lebih dari delapan meter. Energinya semakin bertambah besar. Barack dan Van semakin kesulitan saat menahan barrier pertahanan. Keduanya tidak cukup kuat untuk melawan iblis peliharaan half-blood. Jika terus seperti itu, maka barrier akan pecah.



Tanah masih bergetar. Kini, serpihan es mulai tercipta dan menyelimuti sekitar tanah lapang. Angin berembus kencang, menerbangkan burung-burung—membangunkan para peri hutan. Belasan sulur langsung muncul dari balik pepohonan dan menembus barrier, melilit kedua tangan serta kaki Asuka. Asap hitam perwujudan singa api tak terpengaruh dengan sulur yang hendak membelenggunya.



Hiirosen segera berdiri di depan luar barrier, berhadapan dengan keberadaan Asuka yang terkurung, "Hei, Tuan Iblis. Mungkin aku tahu caranya menyadarkan Asuka. Selagi sulur peri hutan membelenggu mate-ku, bisakah kau rantai raja hutan berapi itu?" tanyanya pada Tuan Rein.



"Apa kau yakin? Kau bahkan bisa mati dalam sekali gamparannya. Kucingku saja bertingkah masa bodoh," Hideki berkomentar cepat. Ia semakin kesal saat iblis kucing api peliharaannya malah tiduran, lalu mengeong satu kali, "pemalas," gumamnya pada sang kucing.



"Aku punya rahasia yang Asuka sarankan padaku jika dia benar-benar tidak terkendali. Percayalah...," sahut Hiirosen.



Tuan Rein mendesah dan melakukan apa yang Hiirosen minta. Dengan menggunakan mantra terlarang dari Lucifer, rantai api hitam langsung muncul, mengunci semua pergerakan asap perwujudan singa api. Asuka bahkan menggeram dan berusaha melepaskan diri dari sulur-sulur yang semakin melilitnya. Hiirosen memasuki barrier setelah Van memberi jalan. Vampir itu mendekati Asuka, menyentuh wajahnya dengan lembut.



Gadis itu terlihat tidak menyukai kehadiran Hiirosen. Ia berusaha keras melepaskan diri untuk menyerang, tapi tatapannya seperti mengisyaratkan vampir itu untuk menjauh. Hiirosen mensejajarkan kepalanya dengan Asuka lalu berisik di telinga. Apapun yang dia katakan, ekspresi Asuka berubah datar, suasana alam tiba-tiba kembali normal. Iblis singa api yang dirantai Tuan Rein menghilang, menyisakan kepulan asap.



Setelah Hiirosen berbisik, pola heksagon meredup. Tubuh Asuka kembali seperti semula. Gadis itu langsung kesal dan menampar wajah Hiirosen cukup kencang—memakinya habis-habisan. Perubahan drastis tersebut mendapatkan tatapan tak percaya dari mereka yang sedari tadi menyaksikan. Mereka tercenung, kecuali vampir itu yang sedang beradu mulut dengan Asuka. Bahkan, iblis kucing api milik Hideki menghilang begitu saja.



Apa yang dibisikan Hiirosen, sehingga Asuka—tengah tak terkendali tiba-tiba tersadar? Sekiranya pertanyaan itulah, kini melintas di kepala mereka.



"Menjijikkan! Kenapa kau mengatakannya padaku?" tanya Asuka seraya berkacak pingggang, menatap Hiirosen dengan sedikit menahan malu.



"Kau sendiri yang menyuruhku untuk mengatakannya jika kau benar-benar tak terkendali. Tadi itu kau sangat mengerikan! Seharusnya kau berterima kasih padaku!" timpal Hiirosen tak terima karena dia baru saja mendapatkan tamparan kedua.



"Hah??!" Asuka berpikir sejenak. Memang benar, dia yang menyuruhnya. Tapi tidak harus mengatakan hal-hal senonoh seperti pertama kali ia melepas keperawanannya. Itu sangat memalukan.



Pertengkaran itu terhenti setelah perut Asuka keroncongan, "Aku lapar...," keluhnya. Ia melambaikan tangan ke arah Tuan Rein, Barack dan juga Van, "bagaimana jika kita makan dulu? Aku lapar...," katanya sedikit berteriak.



"Aku juga," Hideki menyetujui. Hari memang sudah menjelang siang. Ia yakin, Sayori dan Aluto sudah menunggu di kediaman keluarga Kuromi.





__ADS_1


__ADS_2