
TERIAKAN VENUS memancing semua kepala keluarga bangsawan untuk melihatnya. Mereka terkejut melihat kekacauan di ruang tamu. Melihat banyaknya orang, Asuka segera berlari dengan perasaan yang berkecamuk. Tuan Rein yang tahu siapa pelaku dari semua ini pun hanya menatap putrinya nanar.
"Ayahhh ...!! Tolong padamkan apinya, Ayah!!" Venus masih menjerit terlihat panik dan ketakutan. Kulitnya sedikit terbakar dan meninggalkan bekas merah.
"Gadis half-blood itu anakmu 'kan, Rein??" tanya ayahnya Venus sedikit memberi tatapan peringatan pada Tuan Rein. Ia segera memadamkan api yang membakar gaun putrinya.
"Ya," sahut pria itu pelan, menyesal karena telah membawa anaknya menghadiri pertemuan, "Yurai, kejar dia dan bawa pulang! Dia harus mendapatkan hukuman ...."
"Baik, Tuan," Yurai menatap khawatir, lalu segera menghilang untuk mengejar anak majikannya.
Butler itu muncul di halaman. Matanya menangkap sosok sang anak majikan memasuki mobil. Sedangkan Asuka hanya menatap Yurai dengan kekhawatiran. Semuanya sudah kembali normal, tak ada mata hitam atau kilatan amarah.
Saat ini, langit sedikit berbeda, awan menghitam dan mengeluarkan kilat merah. Tak ada gemuruh, rintik air ataupun angin sepoi-sepoi. Awan itu seperti tengah diaduk oleh sendok besar hingga menciptakan pusaran yang sedikit menjorok ke dalam.
Asuka keluar sambil terus menatap langit. Yurai menghampiri, melakukan hal yang sama. Bagi iblis itu, tanda awan di langit tidaklah baik. Akan ada sesuatu yang buruk keluar dari dunia dimensi empat, apapun jenisnya. Bisa saja makhluk mengerikan atau kaum abadi lain.
Biasanya mereka melanggar peraturan dua dunia saat ingin menyeberang ke dunia fana. Dan jika dipaksakan, maka langit adalah jawabannya.
"Nona Muda ... Apa Nona baik-baik saja?" tanya Yurai
"Ya, tapi apa itu?"
"Sepertinya sesuatu yang buruk akan terjadi," Yurai kembali memperhatikan langit.
Tak berselang lama, langit kembali normal. Tidak ada sesuatu yang keluar atau sosok asing tertangkap di mata Yurai. Namun ketika menoleh ke samping, anak majikannya sudah menghilang. Angin berembus cukup kencang seiring dengan hawa panas yang menampar.
Yurai menggeram. Ia baru saja terkecoh oleh fenomena langit. Tak perlu berpikir panjang lagi, dia berlari ke dalam hutan dan mengubah dirinya menjadi Hellwolf—serigala api. Indera penciumannya mulai menangkap bau Asuka yang terus menjauh dari jangkauannya.
Kobaran api menyelimuti tubuh Hellwolf penjelmaan Yurai. Mata merahnya yang agak kehitaman terus fokus pada jalan bebatuan serta pepohonan tinggi. Jika diukur seberapa besar wujudnya dalam bentuk iblis, mungkin setinggi kuda dewasa.
Yurai berspekulasi jika hilangnya Asuka pasti berkaitan dengan awan hitam berkilat tadi. Embusan angin yang menamparnya juga diperkirakan sebagai sisa-sisa energi iblis lain yang melintas begitu cepat. Ia mendengus saat mencium bau amis vampir bangsawan. Mayat hidup itu pasti bersembunyi di balik pepohonan, melintas begitu cepat dan menghilang ....
Tapi bukan vampir yang menculik Asuka.
Ketika sampai di atas bukit, perwujudan Hellwolf Yurai melolong panjang. Di sampingnya terbentuk sebuah gumpalan asap hitam yang kemudian berubah menjadi pria berjubah, berkulit pucat, mata beriris merah dan dua taring.
"Vampir ... SH," geram Yurai.
"Tenanglah, Yurai. Akan kutunjukan kemana makhluk itu membawa pengantinku pergi," timpal vampir pria itu, memberikan menyeringai. Surai peraknya sedikit mengkilap saat terkena cahaya matahari.
Mata serigala Yurai menajam dan masih senang menunjukkan deretan gigi runcingnya, "Pengantin? Heh? Rupanya kau adalah jodoh anak majikanku. Apa artinya SH?"
"Singkatan namaku, Hiirosen Sakamaki. Aku dari keluarga bangsawan vampir Sakamaki. Ayahku juga ikut dalam pertemuan bangsawan hari ini dan Asuka ... Dia adalah pengantinku."
"Jujur saja, pengakuanmu sulit untuk kuterima," timpal Yurai ragu.
Hiirosen terkekeh, "Benarkah? Tak apa. Kalau begitu, mari kita bicara sambil berlari saja."
__ADS_1
Sosok vampir itu sudah berlari menuruni bukit begitu cepat, meninggalkan embusan angin yang menggoyangkan dedaunan di sekitarnya. Wujud Hellwolf Yurai mulai mengejar dan menyeimbangkan kecepatan. Indera penciuman iblis itu kembali menangkap dua bau yang berbeda, sepertinya vampir dan satu makhluk berbulu penguasa hutan.
Lolongan serigala di kejauhan langsung dibalas oleh Yurai.
"Pengawalku sedang memotong jalan untuk menghadang makhluk yang membawa Asuka pergi. Sebentar lagi kita sampai," kata Hiirosen terus berlari dan terlihat begitu ringan ketika melompat dari batang pohon ke pohon yang lain.
"Lalu bagaimana dengan werewolf itu? Tamu undanganmu juga?"
"Oh, jangan khawatir... Dia mantan wali kelasku semasa sekolah. Anggap saja hanya werewolf itu yang bersahabat dengan kami."
"Dasar makhluk penghuni hutan," ejek Yurai.
Terdengar bunyi ringkikan di depan keduanya, begitu pula dengan pohon tumbang dan lolongan serigala. Burung-burung beterbangan, embusan angin panas sampai menampar tubuh. Terjadi pertarungan antara Hellhorse—iblis kuda api dengan serigala hitam yang ditumpangi vampir bersurai cokelat. Di dalam perut kuda itu terlihat ada Asuka yang pingsan, hingga Yurai tak bisa langsung menerkamnya begitu saja.
"Makhluk itu mencoba mencari keuntungan dengan keberadaan Asuka di dalam perutnya. Apa kau punya solusi?" tanya Hiirosen.
"Kau diam saja jika tidak ingin terbakar. Dia hanya iblis lemah, aku bisa mengatasinya," Yurai berubah kembali menjadi wujud manusianya.
Sebuah rantai api keluar dari dalam lengan baju Yurai dan melingkar di leher Hellhorse tersebut. Suara ringkikan terdengar lebih nyaring saat kedua kaki depannya diangkat tinggi-tinggi, mencoba untuk melepaskan diri tapi Yurai tak akan membiarkannya terjadi.
"Kau akan selamat jika melepaskan gadis itu!" kata Yurai langsung mengeluarkan bunyi geran serigala. Si Hellhorse meringkik lagi, kemudian mendengus kasar. Anggap saja makhluk itu baru saja menunjukkan penolakan, "baiklah. Aku akan gunakan cara kasar!"
Api hitam perlahan-lahan menyelimuti rantai dan membakar leher Hellhorse. Ia meringkik kesakitan dan memberontak, tak lama kepalanya terpenggal. Tidak ada darah merah atau hitam, hanya letupan api biru dari rongga leher. Tubuhnya pun ambruk dan lenyap tersapu angin seperti debu yang diterbangkan. Asuka langsung tergeletak tak sadarkan diri dengan banyak luka api yang menyatu dengan kulitnya.
Saat Yurai dan Hiirosen memeriksa kondisi gadis itu, ternyata bukan luka bakar. Lava pijar mengalir dalam tubuh Asuka, membuat keduanya saling berpandangan sejenak.
"Kurasa kau benar. Nona Muda harus dilindungi," Yurai menimpali. Dia bertanya-tanya siapa vampir itu.
"Maaf, aku belum memperkenalkan diri padamu, Tuan Iblis. Namaku Serasawa, pengawal Tuan Muda Hiirosen. Dan ini—" Serasawa menunjuk serigala besar yang ada di sampingnya. Serigala hitam itu langsung berwujud seorang pria bertelanjang dada, berkacamata bening dan memiliki kulit sedikit kecokelatan.
"Namaku Shinwa," tukasnya, "bukankah dia adalah gadis yang dihina Putri Venus?"
"Ya, Si Maneken Penjilat," Serasawa terkekeh sebentar, lalu melanjutkan, "seharusnya wanita itu sadar diri kenapa Tuan Muda Hiirosen menolak bertunangan dengannya."
"Sudahlah, aku tak mau membahas dia," Hiirosen melerai. Pengawalnya itu langsung meminta maaf.
Yurai menghela napas panjang dan segera membopong Asuka, "Senang berkenalan dengan kalian. Namaku Yurai, butler keluarga Kuromi dan—sulit untuk menjelaskannya pada kalian tentang posisiku. Tapi terima kasih sudah membantuku untuk menyelamatkan Nona Muda. Bertamulah ke tempat kami jika berkenan," Yurai berbalik dan segera menghilang begitu saja dalam sekejap mata, bahkan sebelum Hiirosen menyuarakan pendapatnya.
"Apa kita harus membawa beberapa hadiah saat berkunjung ke rumah iblis itu?" tanya Shinwa seraya menggaruk dadanya yang gatal. Saat menjadi serigala, ia sedang terkena kutu musim hujan.
Hiirosen melipatkan kedua tangannya di dada, menatap Shinwa—agak sebal, "Tidak perlu! Kita bukan manusia."
__ADS_1
***
ASUKA TERBARING di kasurnya dan berulang kali bersin. Sedari tadi, Yurai terus berusaha mengobatinya dengan energi penyembuhan. Tapi tampaknya tidak mempan. Ia menghela napas panjang, tak tega melihat gadis itu bersin-bersin hingga hidungnya saja memerah. Asuka tidak mengingat apapun setelah sadar dari pingsannya
Yurai keluar dari kamar Asuka dan berjalan santai menghampiri majikannya. Ia setengah membungkuk, dan memberi hormat, "Dia masih demam," lapornya,"dan juga bersin."
Tuan Rein menghela napas dan menyimpan korannya di atas meja balkon, menatap langit berbintang yang mulai diselimuti awan hitam. Hujan akan turun lagi.. Pikirnya, "Dia menanyakanku?" tanyanya datar.
"Tidak Tuan. Tapi dia terlihat khawatir saat aku bilang akan membujuk Anda, agar tidak menghukumnya."
"Aku memang tak pernah perhatian padanya. Selama ini aku selalu menyalahkan dia atas kematian istriku. Mungkin akan lebih baik jika dia tidak lahir ketimbang aku harus kehilangan istriku sendiri. Ditambah aku tak bisa mencari wanita lain...seorang mate hanya ada satu di dunia ... Tapi dia tetap putriku ...," tutur Tuan Rein muram.
"Aku mengerti Tuan," gumam Yurai.
"Jagalah dia. Kekuatannya mulai bangkit dan kau harus mengawasinya. Aku tak ingin Asuka melakukan hal yang buruk seperti tadi. Dia mempermalukanku di depan bangsawan lainnya ...."
"Oh, mengenai gaun Nona Venus—"
"Aku sudah meminta maaf pada keluarganya. Kaum mereka membenci api ... Aku tidak tahu kenapa Asuka sampai melakukan tindakan bodoh seperti itu ...."
"Nona Muda memiliki alasan kenapa melakukannya, Tuan ...," bela Yurai.
Tuan Rein terdiam sebentar lalu melirik butler-nya, "Kupikir manusia tidak memiliki alasan saat bertindak gegabah. Apa karena dia lebih lemah dari half-blood lain? Atau cemburu pada kaum turunan murni?"
"Nona hanya tidak senang saat ada kaum lain yang mengatainya anak cacat atau...keturunan yang hanya mempermalukan keluarga. Itu menjadi alasan kenapa dia tak mau mengikuti acara kebangsawanan— ah, Nona Muda ...," pandangan Yurai teralihkan oleh keberadaan Asuka yang hendak menuruni anak tangga.
Gadis itu sudah rapi dengan jaket musim dingin serta sepatu bot sepaha. Kelihatannya masih demam dan agak pucat. Asuka hanya sedikit membungkukkan badannya ketika melihat sang ayah menoleh sebentar, tanpa ekspresi atau pun bertanya kemana ia akan pergi.
Suasana hatinya tidak baik, itulah yang dikatakan hati Yurai. Seorang anak tak perlu membungkuk pada orang tuanya, mereka bukan budak atau pelayan. Tapi sepertinya ada sesuatu yang menjadi alasan kenapa Asuka melakukannya pada Tuan Rein. Dan apapun alasannya, pria itu tidak senang dengan tindakan putrinya.
Keduanya melihat kepergian Asuka. Gadis itu berada di bawah guyuran hujan, tanpa payung atau pun jas hujan. Sosoknya menghilang setelah keluar pagar. Padahal demamnya belum sembuh, ditambah berhujan-hujanan sepertinya malah akan membuat Asuka sakit lebih parah.
Yurai segera mengikutinya diam-diam sesuai perintah Tuan Rein, menerjang hujan—menghilang dari pohon ke pohon. Kadang mengikutinya tanpa suara.
Tujuan Asuka adalah taman bermain, duduk di salah satu bangku dan bertumpu tangan pada lutut. Ia memandangi bianglala yang menyala indah, berputar perlahan pada tempatnya. Lalu ada beberapa orang berpayung tengah menikmati permainan dan makanan, berbincang dengan orang tersayang sambil tersenyum tanpa beban.
Kehidupan manusia normal sepertinya tak akan bisa ia rasakan. Keluarga tak lengkap dan seorang ayah yang membencinya, sudah cukup membuktikan jika kehadirannya di dunia memang sebuah kesalahan.
Mungkin menjadi manusia biasa lebih baik meski tidak abadi, pikirnya.
Asuka menangis, mutiara beningnya bercampur dengan hujan. Ia mulai ingat saat dirinya ditelan oleh seekor Hellhorse, semua warna dunia langsung meredup. Terbesit dalam benak Asuka... Lebih baik jika ia tak kembali ke rumah atau mati saja ....
__ADS_1