
"SEGEL IBLIS Asuka sudah kubuka. Kau harus ikut andil dalam melatihnya," Tuan Rein menjelaskan. Hiirosen terlihat diam sesaat sebelum akhirnya menghilang dari hadapan mereka. Barack dan Van dibuat kaget dengan sifat tak sopannya tersebut.
"Dasar vampir kasmaran! Apa dia tidak bisa menghargai kita sebagai iblis murni?" Van melipatkan kedua tangannya di dada.
Tak berapa lama, mereka mendengar suara Hiirosen yang memaki Yurai. Sosok vampir itu sudah tergeletak di lantai utama setelah sang butler kembali melemparnya dengan cara kasar. Ia tersenyum misterius saat Hiirosen benar-benar ingin mengutuknya menjadi kelelawar terkecil di dunia.
Sepertinya, Yurai sama sekali tidak takut. Ia memegang sebuah gaun milik Asuka. Sedari tadi, dia memang tengah memilihkan gaun untuk anak majikannya. Namun Hiirosen tiba-tiba datang saat gadis itu memakai pakaian. Lagi-lagi Asuka memekik dan menamparnya untuk yang kedua kali. Momennya sangat pas—cuci mata melihat tubuh mulus mate-nya. Tapi sang butler telah mengacaukannya lagi.
"Kau mengutukku menjadi kelelawar terkecil? Nona Muda saja mengutukku menjadi capung... Tapi aku masih menjadi iblis," Yurai terkekeh dan melenggang menuju kamar Asuka, "tunggulah sebentar lagi...Nona Muda ingin bicara empat mata denganmu," imbuhnya tanpa menoleh.
Entah berapa kali Hiirosen memakinya, namun saat ini, Van tertawa lebih keras dari yang tadi. Ia bersiaga jika seandainya vampir itu ingin melemparnya lagi dengan sepatu. Tapi, perkiraannya salah. Hiirosen malah memberikan sedikit pusaran angin kencang di sekitar kepala Van. Ia langsung mual dan pusing. Ini lebih parah...pikirnya.
Selama lima belas menit, Hiirosen mondar-mandir di dekat tangga. Van dan Barack sudah berpamitan pulang, sementara Tuan Rein kembali menjalani aktivitas kantornya. Yurai terlihat menuruni anak tangga. Di belakangnya ada Asuka—mengenakan gaun abu-abu tua setengah lutut, tanpa lengan. Hiirosen terlihat terkesima dengan dandanan mate-nya, cantik dan sangat membuatnya lapar.
Keduanya sudah berhenti di dekat Hiirosen yang masih terkesima. Asuka berpamitan dengan Yurai lalu melenggang, menuju pintu. Dan pria bersurai perak itu masih terdiam.
"Kau tidak ingin pergi dengan Nona Muda?" tanya Yurai santai.
"Kemana? Bukankah kau bilang dia ingin bicara empat mata denganku?" tanya balik Hiirosen, masih hilang jiwa.
"Ah, iya. Kau benar. Tapi bicara sambil kencan tidak masalah buatmu 'kan?" Yurai berjalan—hendak melenggang ke dapur. Hiirosen sudah menghilang, menyisakan embusan angin. Yurai hanya menghela napas dan menggeleng kecil, lalu terkekeh, "dasar tidak sopan!" gumamnya.
***
HIIROSEN MUNCUL di samping Asuka. Mereka menjejaki trotoar yang cukup ramai. Pagi hari di musim panas, suasana mulai terasa gerah. Pria itu menggamit tangan mate-nya dan berkeliling kota Tokyo. Asuka mengajaknya ke sebuah restoran bintang lima, menuju lantai dua yang telah tersewa seutuhnya.
"Kau tak pesan minuman atau makanan?" tanya Asuka yang sudah memesan kedua jenis hidangan.
"Tidak perlu. Makananku sudah siap gigit," sahutnya.
__ADS_1
"Keterlaluan!"
Saat pelayan sudah meninggalkan keduanya, Hiirosen langsung merangkul Asuka. Dia benar-benar sudah mabuk dengan aroma manis darah mate-nya. Gadis itu menghindar. Hiirosen terlihat seperti mayat yang ingin menyerangnya. Dan pria itu pun tertawa renyah dengan tanggapannya. Ia tak sempat menggigit leher Asuka karena pelayan telah kembali sambil membawa pesanan.
"Selamat menikmati," kata pelayan wanita itu sedikit membungkukkan badannya, lalu melenggang dengan meninggalkan senyum ramah.
Sebelum makan, Asuka berdo'a terlebih dahulu. Kedua telapak tangannya menyatu di depan dada, matanya terpejam. Hiirosen sempat heran dengan apa yang dilakukan mate-nya, ia pun mengikuti meski hanya sebentar. Ternyata, manusia memang aneh. Makan saja harus berdo'a terlebih dahulu. Dia saja tak pernah melakukan hal-hal seperti itu.
Setelah selesai berdo'a, Asuka mengambil sumpit dan bersiap untuk menyantap makanan, "Itadakimasu," ucapnya sambil menyumpit tempura saus teriyaki.
"Kau berdo'a sebelum makan? Apa faedahnya?" tanya Hiirosen.
"Tuhan akan memberkatimu," sahut Asuka datar.
"Hah? Kau begitu percaya pada Tuhan?"
"Tentu saja. Kau tidak akan ada di dunia ini jika bukan karena Tuhan," sahutnya lagi.
Pria itu terdiam sejenak lalu tersenyum datar, "Ah, baiklah. Kalau itu menurutmu. Jadi, apa tujuanmu mengajakku berkencan?" tanya Hiirosen. Gadis itu terlihat mengerutkan kening, "maksudku, Yurai bilang kau ingin bicara empat mata. Aku juga ingin membicarakan tentang segel iblismu."
"Untuk mengalahkan Darkur, aku harus melepaskan segel iblis. Yurai sudah menjelaskan semuanya. Aku harus berlatih untuk bisa mengalahkan induk Darkur. Hari ini yang kudengar, Serasawa, Shinwa dan Argaes akan melakukan pencarian lagi. Selama mereka mengintai, aku akan berlatih," Asuka mencoba mengganti topik pembicaraan menjadi lebih serius lagi.
"Ayahmu menyuruhku untuk ikut andil dalam latihanmu. Dia ingin aku mengendalikan sifat liar iblismu jika tidak terkendali. Hubungan mate memang memiliki banyak keuntungan," timpal Hiirosen.
"Kalau kau tak sibuk, silakan saja."
"Aku tidak sibuk. Ayah memberiku kebebasan untuk menemuimu. Dia paham betul dengan sistem mate."
"Lalu, apa kabarnya Venus? Aku sudah cukup lama tidak melihatnya. Kau masih sering jalan dengannya?" tanya Asuka seraya menyantap irisan daging sapi panggang.
Hiirosen berekspresi kurang suka, "Bisakah kita tidak bicarakan Venus? Dia sibuk dengan kegiatannya sendiri dan aku tak pernah jalan dengannya lagi. Oh, bagaimana jika kita menikmati pemandangan hutan setelah sarapan?"
"Boleh saja. Asal jangan melibatkan binatang apapun."
"Kau bercanda?!" Hiirosen tersenyum kecil.
Setelah sarapan dan membayar segalanya, Asuka dan Hiirosen menuju tempat yang lebih sepi. Sebuah gang sempit dipilih karena memang tak ada siapapun yang melihat keduanya. Hiirosen segera membopong mate-nya dan menghilang, meninggalkan sedikit kepulan asap hitam. Selama hal tersebut terjadi, gadis itu hanya memejamkan mata. Dalam sekali tarikan napas, ia melihat pemandangan hijau sudah mengelilinginya. Bau hutan sangat kental.
__ADS_1
Hiirosen menurunkan Asuka dan menggamit tangan kanannya saat menelusuri tanah berumput lembab. Mereka menuju ke sebuah air terjun berair jernih. Tak ada siapapun selain keduanya. Lagi-lagi, pria itu membawa Asuka ke sebuah pohon besar. Keduanya duduk pada salah satu dahan kokoh yang lebar. Meski begitu, gadis itu tetap saja terlalu takut dengan ketinggian.
Hiirosen bersandar pada batang pohon dan menyuruh mate-nya untuk duduk dipangkuan. Dari atas pohon yang cukup tinggi, keduanya mampu melihat pemandangan indah. Mereka tidak sedang berada di Hutan Aokigahara, melainkan hutan terdekat kota Tokyo. Hiirosen memegangi tubuh Asuka agar tidak terjatuh. Pria itu menghirup aroma manis dari leher mate-nya, sangat memabukkan.
"Jangan melakukan itu, Hiirosen. Rasanya geli," komentar Asuka sedikit merasakan sesuatu yang aneh tengah merayapi pikirannya. Tapi perkataannya malah dibalas kecupan di leher.
"Aku lapar," ujar Hiirosen, "biarkan aku minum darahmu sebentar," pintanya.
Gadis itu terdiam sejenak lalu mengiyakannya. Ia meringis saat Hiirosen benar-benar mengisap darah di lehernya. Rasa pegal tak tertahan lagi, bahkan penglihatannya sedikit mengabur. Tiba-tiba saja, ada perasaan lain yang menyergap pikiran Asuka. Dia sedikit bergairah dan menginginkan sesuatu yang tak seharusnya terbesit dalam benaknya. Saat Hiirosen selesai mengisap darah, dia mencium bibirnya tanpa permintaan. Pria itu membalas tanpa berkomentar.
Tanpa sadar, Hiirosen mengelus paha Asuka. Gadis itu melenguh namun tidak menepis. Pikirannya seolah-olah telah teracuni oleh hasratnya sendiri, "Jangan memancingku, Asuka. Aku bisa saja memerawanimu, jika kau tidak menghentikannya sekarang," bisiknya seraya memandangi wajah gadis itu lekat-lekat.
"Benarkah? Tapi aku tidak ingin kau berhenti. Maaf, aku terlalu hanyut dalam kesenanganku sendiri," sahut Asuka seraya menyentuh rahang tegas Hiirosen, "asal kau benar-benar menikahiku nanti... Bagiku tak masalah lagi. Aku bukan anak kecil lagi, Hiirosen," ia kembali mencium Hiirosen, tapi pria itu langsung menepis dan mendesah kasar.
"Kau benar-benar membuat sisi liarku bangkit, Asuka," bisik Hiirosen segera membopong gadis itu dan pergi dari sana.
Asuka belum mengatakan apapun, tapi keduanya menghilang lagi seperti tadi. Ia tak bisa mencerna, kemana Hiirosen membawanya. Namun saat ini, Hiirosen suda berjalan di ruangan yang cukup gelap. Asuka diturunkan dekat ranjang king size. Gadis itu memperhatikan seisi ruangan. Kamar, pikirnya. Dia belum pernah melihatnya.
"Kita di mana?" tanyanya. Hiirosen tidak menjawab dan malah menarik pinggang Asuka. Lehernya kembali diserang dengan berbagai kecupan dan gigitan kecil. Gadis itu hanya mendesah. Kakinya tak sengaja menyentuh batas ranjang hingga hilang keseimbangan. Ia jatuh di atas kasur empuk.
"Asuka, kuharap kau tidak menarik ucapanmu tadi. Karena sekarang, aku tak akan menahannya lagi," ujar Hiirosen seraya melepaskan bajunya. Ia tersenyum namun mirip seringaian.
"Jangan memberiku seringaian seperti itu. Kau membuatku takut, Hiirosen!!" timpal Asuka sedikit merinding. Ia semakin mundur untuk menghindari apapun yang akan pria itu lakukan.
"Sudah kubilang, seharusnya...kau tak membangkitkan sisi liarku," Hiirosen mencegah Asuka untuk turun dari sisi lain. Ia menarik salah satu kakinya hingga gadis itu berada dalam jangkauannya. Dalam sekali tarik saja, dia bisa menindih mate-nya dengan mudah. Lalu mencecap lehernya. Kedua taringnya memang kembali terlihat, meski tidak mengisap darah tapi gairahnya semakin memuncak.
"Hiirosen," bisik Asuka tak punya daya untuk bisa melepaskan diri darinya. Akal sehatnya mulai tenggelam oleh perlakuan pria itu. Ia membiarkan Hiirosen melepas gaun dan menjamah setiap inci tubuhnya yang hampir telanjang.
"Katakan Asuka, kalau kau tak serius mengenai ucapanmu tadi. Aku akan menghentikannya jika kau minta," Hiirosen tetap memastikan jika Asuka tidak terpaksa untuk berada dalam setiap aksinya nanti.
"Tidak! Aku tidak bercanda, Hiirosen!" sahut Asuka sekenanya. Pipinya sudah merona saat tubuhnya sedikit menegang. Apa yang kupikirkan? Hiirosen membuatku gila? Batinnya.
Tanpa menunggu sahutan, Asuka sudah menunggu rasa sakit itu muncul saat Hiirosen benar-benar akan memerawaninya. Ia tak bisa menahan sakitnya lagi saat pria itu menyentuhnya lebih intim. Pagi ini, dia telah kehilangan kehormatannya sebagai seorang gadis hanya karena sebuah hasrat. Asuka sampai menitikkan air mata, perih, sakit dan sensasi lain menyelimuti tubuhnya.
"Aku tak bisa melihatmu kesakitan seperti ini, Asuka. Tapi percayalah, semua rasa sakitnya akan sirna," bisik Hiirosen tak henti-hentinya mencumbu. Pikirannya sudah dipenuhi dengan gairah hingga tak memedulikan rintihan mate-nya. Namun ia tetap bermain lembut agar tidak membuatnya terluka.
__ADS_1