Pengantin Berdarah Murni

Pengantin Berdarah Murni
Penjaga Hutan Yang Terkurung


__ADS_3


JAM MENUNJUKKAN pukul sebelas siang. Asuka bersiap untuk pergi ke dunia Paralel bersama Hiirosen dan Shinwa. Sedangkan Yurai menuju hutan tergelap untuk mencari keberadaan batunya, ditemani Serasawa. Bersenjatakan sebuah katana pemberian Tuan Rein, gadis itu memancarkan tatapan serius. Kali ini, Yurai kedatangan satu anggota baru, yaitu Venus. Vampir wanita itu bersikeras untuk ikut dan memastikan sendiri, jika para peri hutan serta si penjaga segel masih hidup.



Sebentar lagi, matahari akan berada di atas kepala mereka. Yurai membopong Asuka dan menghilang dengan cepat. Dengan sekejap mata, pemandangan sekitar berubah menjadi pepohonan tinggi serta rumput-rumput kering. Suara burung dan serangga lain saling bersahutan.



Tak lama, kepulan asap hitam muncul di samping Asuka—membentuk sosok Hiirosen, Venus dan Serasawa. Sedangkan Shinwa berubah menjadi serigala. Lagi-lagi, binatang itu harus menggaruk tubuhnya yang gatal gara-gara kutu musim penghujan.



"Shinwa, berhentilah menggaruk! Bulu-bulumu yang rontok itu menggelitiki hidungku!" protes Hiirosen. Serigala perwujudan Shinwa mendengus dan tak memedulikannya. Ia malah berbaring dan menggosokkan punggungnya ke rumput—masih merasa gatal.



"Dia harus mendapatkan perawatan pembasmi kutu," Yurai menanggapi.



"Bukankah dia lucu... Dia mirip anjing," Asuka segera mendekati serigala itu dan ingin membantunya menggaruk bagian perut. Tapi Hiirosen langsung melarangnya, "kenapa kau melarangku?"



"Aku tak mau tubuhmu bau anjing hutan. Kau mate-ku!" sahut pria itu tajam. Asuka mendengus kesal dan melipat kedua tangannya di dada—bergerutu tak jelas.



"Kurasa basa-basinya sudah selesai. Kita harus segera pergi," kata Venus tak sabar. Ia sudah penasaran seperti apa hutan tergelap hutan Aokigahara, tentang sosok para Darkur atau beruang hitam yang Hiirosen ceritakan.



Yurai menghela napas sejenak lalu menatap langit yang terlihat dipenuhi awan kelabu. Hujan akan kembali tutun, pikirnya..., "Nona Muda, panggil aku jika sesuatu yang lebih buruk terjadi. Aku akan datang secepatnya."



"Bukan Hellwolf-mu lagi yang datang 'kan?" terka gadis itu memperingati.



"Tentu saja bukan. Selagi Tuan Rein berdiskusi dengan werewolf negeri es, kita bisa mengulur waktu. Apa tidak ada dari kaum vampir dan werewolf yang membantu kita? Ketahuilah, kalian tinggal di bagian lain hutan ini. Malaikat buangan itu bisa melakukan apa saja pada kaum kalian," Yurai menjelaskannya dengan rinci.



"Keluarga Sakamaki sedang mempertimbangkan kekuatan mate Hiirosen. Jika Asuka tidak berbahaya bagi mereka dan mampu mengendalikan kekuatannya yang tersegel, mungkin mereka akan berubah pikiran...," kata Venus.



"Kau masih marah padaku, Venus?" tanya Asuka.



"Tidak! Aku mengatakannya karena aku juga dalam naungan keluarga Sakamaki. Itu wajar 'kan?" Venus mengedikkan bahunya.



"Aku melihat kebohongan dalam matamu itu," kata Asuka.



"Kau tidak tahu apa-apa. Tenang saja, untuk sekarang...Hiirosen masih milikmu."



"Apa maksudmu??" Asuka sedikit terpancing untuk meladeni perdebatan wanita maneken itu. Bisa-bisa dia membakar gaunnya lagi. Hiirosen pun segera menenangkan mate-nya.



Shinwa kembali ke wujud manusianya, "Berhentilah memikirkan masalah itu. Kita akan membahasnya lain kali. Waktu yang tersisa bukan digunakan untuk membicarakan masalah ini. Kita harus mengejar waktu sebelum waktu mengejar kita," lerainya, "pack-ku akan membantu berjaga-jaga. Mereka selalu siap kapan saja...asal ekornya tidak terbakar sepertiku," nada bicaranya memelan di kalimat terakhir. Peristiwa itu adalah kejadian yang memalukan dalam seumur hidupnya. Ia berubah lagi menjadi serigala hitam, lebih besar dari beruang tentunya.



Mereka berpisah. Asuka mulai menaiki punggung serigala penjelmaan Shinwa, merasakan bulu-bulu yang agak kasar. Sedangkan Hiirosen ada di belakangnya sambil mengawasi sekitar. Suasana mencekam mulai terasa saat menaiki bukit yang dingin dan menggelap.



Asuka tidak akan tertipu dengan bayangan. Atau sesuatu yang terlihat nyata, padahal sebenarnya hanya tipuan. Ia sangat penasaran dengan misteri Dunia Paralel, malaikat buangan serta darah half-blood iblis. Barack pasti masih mengincarnya. Jika dia memilih untuk berdiam diri dan mencari pelindungan  Yurai, pasti akan timbul korban jiwa. Hidupnya tidak akan tenang sebelum semua masalah terselesaikan.



Ketika sampai di pintu masuk Dunia Paralel, hawanya semakin panas. Asuka turun dari punggung serigala perwujudan Shinwa untuk melihat sekitar. Ada banyak pasang mata yang mengawasi, namun tidak terlihat. Hal pertama yang ia lakukan hanya—memejamkan mata sambil melangkah masuk—menerobos tumbuhan merambat. Angin sepoi-sepoi langsung berembus. Kicauan burung dan suara mengembik mengiang di telinganya.



Perlahan, Asuka membuka mata, melihat padang kusa hijau yang bergoyang tertiup angin. Tapi Hiirosen dan Shinwa sama sekali tak terlihat. Tidak ada gua di belakangnya. Ia hanya melihat hamparan rumput hijau dan dua anjing gembala, sedang bersantai di dekat para domba.



"Hiirosen? Shinwa? Kalian di mana?" ia berteriak. Tidak ada tanda-tanda jawaban. Suaranya yang menggema langsung diembuskan angin.

__ADS_1



Dari kejauhan, tepat di depan—ada seseorang yang menunggangi hewan berkaki empat—penuh api. Terdengar auman yang menggema. Sosok itu terus mendekat. Asuka merasa bahaya sedang mendekat. Ia memilih untuk berlari menjauh, secepat mungkin. Dalam hitungan detik, seekor singa api jantan melompat tinggi.



Tiba-tiba saja Asuka memekik dan jatuh telungkup. Seperti ada sesuatu yang mendorongnya begitu kuat. Ia melihat seorang pria bersurai merah tua turun dari punggung singa api. Sosok itu memiliki mata lentik serta dua taring. Dan Aura iblisnya terasa lebih besar. Asuka mencoba bangkit untuk mengambil pedangnya yang tersarung di belakang punggung.



"Mencari ini, Pengantin Vampir?" tanya pria itu seraya menyeringai. Tapi seringaiannya tergantikan dengan kemarahan dan sedikit geraman, "lambat! Baru hari ini kau datang setelah kami menunggumu selama ribuan tahun?!"



"A-apa? Apa maksudmu dengan ribuan tahun? Siapa kau?! Dan di mana aku?" Asuka mengambil duduk, pedang katananya ternyata ada pada iblis bersurai merah tua itu.



Si pria terkekeh dan tersenyum miring, "Aku adalah penjaga hutan Aokigahara. Namaku—"



"Van! Namamu pasti Van, 'kan? Ayahku bilang mungkin kau dan para peri hutan menghilang, bersamaan dengan turunnya malaikat buangan itu ke dunia fana," Asuka menyela. Sepertinya si pria tak suka ucapannya disela, tapi kali ini ekspresinya sedikit mengharapkan sesuatu.



"Siapa ayahmu?"



"Re-rein Kuromi..."



"Hmm..., rupanya kau merupakan anaknya panglima terkuat di neraka...," gumam Van, "cepat keluarkan aku dari sini, atau kupotong kepalamu untuk makanan singaku yang sedang lapar!!" ancamnya.



"Dugaanku benar atau tidak?" gadis itu sama sekali tidak takut dengan ancamannya. Ia bahkan tidak tahu caranya keluar meski berhasil masuk tanpa sengaja.



Si pria tampak berpikir sejenak lalu menurunkan pedang katana milik Asuka. Helaan napas terdengar cukup keras. Ia melihat hamparan kusa dan langit nilakandi yang warnanya agak ganjil. Pria itu memang Van, si penjaga hutan Aokigahara. Kekalahannya dari malaikat buangan itu adalah peristiwa memalukan dalam sejarah hidupnya. Terutama untuk para peri hutan yang seharusnya ia jaga.



Setelah mendapat ilham, Van menunggu seorang gadis half-blood pengantin berdarah murni untuk datang. Setiap kali terlihat ada anak manusia berdarah iblis memimpikan batu di hutan itu, maka dialah yang terpilih agar bisa menyelamatkannya. Sayang sekali, mereka selalu mati sebelum sempat menyelamatkannya. Dan semua ini gara-gara si malaikat buangan.




"Lebih tepatnya membunuh para pengantin half-blood berdarah murni. Darah mereka  sangat kuat dan belum tercampur unsur kotor. Sekarang, cepat keluarkan aku...," Van menuntut.



"Aku tidak tahu caranya keluar dari sini!"



"Tidak tahu caranya, bukan berarti tidak ada jalan keluar. Cepat cari jalannya!"



"Jangan memaksaku!! Atau aku benar-benar akan mengutukmu menjadi capung!" ancam Asuka.



Van justru menggeram dan menodongkan katana, "Kaupikir aku tak berani untuk memenggal kepala anak panglima? Cepat cari jalan keluarnya!" ia mempertegas setiap katanya.



"O-oke... Ba-baiklah... Pertama-tama, ini dunia apa?" tanya Asuka.



"Aku tidak tahu. Yang jelas bukan dunia yang kautahu," Van menyahut sekenanya sambil menurunkan katana. Dia sendiri tidak tahu ada di mana. Setiap kali mencari jalan keluar, selalu saja ada masalah. Entah itu bertemu makhluk aneh atau kembali ke tempat awal. Seolah-olah ia hanya berputar-putar.



"Lalu di mana para peri hutan?" tanya Asuka.



"Mereka ada di tempat yang lain, kurasa. Sebaiknya kau cari jalan keluarnya sekarang sebelum malaikat itu menyadari kehadiranmu di sini," pria itu mendesaknya.



Dunia yang Van tempati saat ini sering kali berubah. Kadang malam dengan lava pijar yang mengamuk, atau badai salju tiada henti. Selalu ada makhluk-makhluk aneh mengejarnya tapi ketika dibunuh, semuanya seperti ilusi dengan dampak yang nyata. Apapun bisa jadi kenyataan di dunia aneh tersebut.


__ADS_1


"Beri aku waktu. Aku harus melihat sekitar dan memikirkan caranya. Pasti ada cara dan celahnya. Aku hanya perlu menemukan celah dunia ini. Apa ada sesuatu yang sering diabaikan olehmu?" tanya Asuka.



"Domba," sahutnya pendek, "bagiku mereka hewan yang menjijikkan."



Asuka mendekati beberapa domba yang tengah memakan rumput, memperhatikannya. Bisikan angin sepoi-sepoi memaksanya untuk melakukan hal tersebut. Ada seekor domba gemuk tengah mencuri-curi pandang ke arah keduanya.  Menurut Asuka, hewan hembivora itu terlihat aneh—jalannya agak kaku dan matanya merah.



Domba bermata merah itu mengembik. Asuka terus memperhatikan. Matanya menajam, tapi hewan itu masih mengembik. Dia tak akan tertipu dengan penampilannya yang gemuk.



"Berikan pedangku," kata Asuka.



Van memberikan pedangnya, memperhatikan gerak-gerik Asuka, "Apa yang akan kaulakukan?"



"Membunuh seekor domba."



"Apa itu cara terbaikmu?" tanyanya sedikit mengejek.



"Ya!" Asuka berjalan agak cepat. Dengan pedang katana yang dipegang erat, matanya tak lepas dari domba aneh itu. Terlihat bagaimana reaksi si domba saat Asuka mulai mendekat. Tampak panik—seperti sedang melihat serigala yang mengintai mangsanya.



"Domba sialan!!!" desis Asuka.



Si domba berlari ke arah Asuka, hendak menyeruduk seperti banteng. Larinya agak sempoyongan karena kakinya terlihat kurus. Gadis itu tak takut, mencoba untuk tidak mendengarkan bisikan ketakutan di belakang punggungnya. Sedangkan Van masih diam, menguji keberaniannya. Jika tidak hati-hati, si domba bisa langsung memental Asuka hingga beberapa meter. Apalagi hewan jantan itu memiliki dua tanduk mirip banteng.



Semakin dekat... Langkah kaki domba itu seperti menderap... Keganjilannya kian terlihat. Suara embikannya berubah menjadi geraman raksasa. Wajahnya terlihat mengerikan dengan gigi-gigi tajam penuh darah kental.



"Asuka!! Dia iblis! Kau tak bisa membunuhnya dengan katana!" teriak Van hendak melindungi Asuka.



"Dia tidak nyata!!!" teriak gadis itu menimpali.



Asuka mengayunkan pedangnya dengan mata terpejam. Bunyi erangan panjang memekakkan telinga, lalu berubah seperti geraman keputusasaan. Dan bunyi 'brukk' pun membuat Asuka mengintip, domba itu terkapar—bersimbah darah di padang kusa, tengah sekarat. Bau darahnya khas. Kakinya menendang-nendang udara seolah-olah tengah menanti ajalnya tiba.



Angin berembus kencang, menerpa padang kusa, menjatuhkan para domba. Si domba yang kepalanya terpenggal itu akhirnya tewas, tubuhnya berubah menjadi debu hitam lalu diterbangkan angin. Van melongo di tempat, menyaksikan dengan baik aksi gadis itu.



"Kalian tak bisa mengalahkan manusia!! Tidak untukku! Karena aku tidak sebodoh itu!" gerutu Asuka. Ia berbalik dan menatap Van yang masih mencerna semuanya, "sudah kubilang, dia tidak nyata."



"Tapi kita masih di sini," kata Van.



"Bayangkan saja jika tempat ini tidak nyata. Dunia aneh ini tidak nyata! Kau ini iblis! Kau pasti bisa..."



Asuka kembali memejamkan mata, terpaan angin itu menghilang. Kakinya berpijak pada tanah tandus dengan cakrawala jingga kemerahan. Saat melihat sekitar, Hiirosen dan Shinwa terlihat khawatir. Di belakangnya ada batu besar yang terhalangi tumbuhan merambat raksasa. Kali ini ia memastikan jika dirinya ada di dunia Paralel.



"Kau baik-baik saja, Asuka?" tanya Shinwa.



Asuka menyentuh kepalanya yang berdenyut, "Aku baru saja bertemu Van. Dia terkurung..."



"Sedari tadi,  kau bersama kami," Hiirosen menimpali.


__ADS_1


"Anggap saja, aku baru mengunjungi dunia lain," Dia tak mau mempertanyakan apa yang terjadi. Saat ini, sesuatu yang berlari kencang dari arah depan mereka lebih penting untuk diperhatikan.



__ADS_2