
SUDAH SATU jam lebih Hiirosen bergulat dengan rasa dingin badai salju yang terus menampar. Tubuhnya semakin pucat dan kaku. Energinya tak lagi bisa dinetralkan. Dia berharap jika Argaes tidak sedang mencari Asuka. Setahunya, Tuan Rein dan Yurai sedang mencoba melawan malaikat itu—karena itulah Shinwa kembali ke sana untuk memanggil kawanan werewolf negeri es.
Sedikit demi sedikit kakinya melangkah dan meneriakkan nama Asuka berkali-kali. Di langkah berikutnya, dia ambruk. Suara badai yang berbisik telah mengalahkan teriakannya. Samar-samar, sosok seorang gadis bergaun rumahan terlihat berada di dekatnya. Surai putih metanya yang berkibar tertiup angin dan wajah cantik itu sangat Hiirosen rindukan.
Gadis itu menyebut nama Hiirosen berkali-kali. Suara merdunya mengiang di telinga, meski sayup-sayup. Namun dia sudah tak bisa mempertahankan dirinya agar tetap terjaga.
"Apa dia pingsan? Hei, Hiirosen? Bangunlah... Jangan mati di sini!" Asuka mencolek wajah Hiirosen. Tak ada pergerakan apapun. Ia hanya menghela napas kasar, "kenapa dia nekat mengejarku segala?!" gumamnya.
Tubuh Hiirosen mulai dipenuhi salju. Dengan susah payah, Asuka menyeretnya ke sebuah gua yang cukup nyaman. Awalnya ia merenung selama belasan menit—sebelum akhirnya mendengar teriakan Hiirosen yang terdengar parau. Pria itu benar-benar gigih untuk mengejar. Padahal musim dingin bisa membuatnya tewas.
Kaum vampir biasanya sangat benci sinar matahari, tapi kali ini mereka benci musim dingin. Mentari yang bersinar terang akan membuat kulit lebih indah, bersih dan mempesona. Mungkin itu juga salah satu alasan, kenapa mereka menghindari cuaca siang. Tapi di musim dingin, para vampir akan terlihat pucat bak mayat sungguhan.
"Seharusnya kau tidak perlu mengejarku...," gumamnya.
Asuka membersihkan sisa-sisa salju pada pakaian Hiirosen. Ia keluar sebentar, mencairkan salah satu pohon pendek tak berdaun dan mematahkan dahan kering yang cukup besar. Asuka segera menyusunnya di dekat tubuh Hiirosen, lalu berusaha memercikan api dari tangannya sendiri. Percobaan pertama dan kedua gagal. Dipercobaan ketiga, api langsung menyala. Kehangatan pun mulai menyebar ke sekitar.
Asuka menghangatkan telapak tangan lalu menempelkannya pada tangan dan wajah Hiirosen. Ia melakukannya berulang kali. Namun tidak ada tanda-tanda perubahan. Dia kembali menghela napas dan sempat terdiam sejenak, memikirkan sesuatu.
"Ini tidak akan berhasil. Aku harus bagaimana?" gumamnya. Ia melihat kedua telapak tangannya. Darah... Pikirnya. Hiirosen pasti akan sembuh jika meminum darahnya. Tanpa pikir panjang, gadis itu segera melukai tangannya sendiri dan meneteskannya ke mulut Hiirosen.
Ia menunggu beberapa menit. Sedangkan lukanya sudah sembuh dengan sendirinya. Perlahan, kulit pucat Hiirosen menyusut. Bibirnya sedikit memerah—memang aslinya seperti itu. Saat Asuka menyentuh tangan kekar itu, semuanya sudah tidak terlalu dingin lagi. Sejujurnya, vampir tak pernah memiliki tubuh yang hangat.
Asuka segera kembali ke tempatnya semula saat Hiirosen mulai menemukan titik kesadaran, menunjukkan sikap pura-pura tidak tahu apapun. Namun dalam hati, ia sangat bersyukur. Darahnya memang bisa menyelamatkan seseorang. Asuka jadi teringat kembali dengan wanita berbumban di mimpinya. Darah half-blood murni bisa bermanfaat untuk dunia, tapi juga bisa menghancurkan suatu negeri...
Mungkinkah apa yang dikatakan wanita itu adalah peristiwa seperti sekarang? Negeri api telah berubah menjadi musim dingin tanpa akhir. Awan gelap di cakrawala terus menghalangi petir yang saling bersahutan.
Hiirosen melenguh kecil, memegangi kepalanya yang sedikit berdenyut. Ia mencoba mencerna langit-langit gelap dan lembab. Kehangatan dari api unggun membuat dia menyadari sesuatu tentang mate-nya. Gadis itu duduk di seberang, menghangatkan diri sambil menambahkan beberapa potong ranting serta dahan basah ke dalam api.
"Asuka...," gumam Hiirosen segera mengambil duduk dan ikut menghangatkan diri, "kau baik-baik saja?"
Gadis itu mengangguk. Hiirosen pun memerhatikan sekitar. Indera penciumannya hanya bisa menangkap bau Asuka saja. Tapi, ia masih bingung dengan adanya api. Setahunya, Asuka belum bisa mengendalikan energi apapun, "Siapa yang membuat api?"
"Aku," sahut Asuka pelan.
"Tapi kau 'kan... Maksudku...Asuka, tentang kondisimu sekarang—ini masalah tentang darahmu yang—"
"Aku tahu," tukas Asuka, "es terbentuk di mana-mana karena darahku. Sebelum aku terbangun, aku memasuki mimpi. Ada padang kusa dengan beberapa gadis seusiaku. Salah satunya adalah wanita yang akhir-akhir ini muncul di mimpiku," tuturnya.
__ADS_1
"Mimpi?" gumam Hiirosen. Ia kembali memegangi kepalanya yang masih meninggalkan rasa sakit, "mimpi apa maksudmu?"
"Hmm, sebuah petunjuk. Kurasa wanita yang ada dalam mimpiku itu adalah mate-nya Barack," Asuka sedang mengingat-ngingat.
Hiirosen tentu langsung teringat Barack. Sebelum iblis itu pergi untuk menghadang Argaes...ada sesuatu yang diucapkannya. Katanya malaikat itu telah membunuh mate-nya. Mungkin saja, orangnya sama seperti dalam mimpi Asuka, "Dari petunjuk itu, apa kau sudah punya rencana untuk menghentikan musim ini?"
"Kau yakin mau ikut denganku?" Asuka terlihat meragukan Hiirosen. Ia hanya khawatir jika pria itu akan kembali membeku saat di perjalanan nanti.
"Kaupikir aku akan membiarkanmu pergi sendirian untuk melawan Argaes? Membiarkanmu dibunuhnya lagi dengan tongkat kematiannya itu?? Tidak, mate-ku!"
"Baiklah. Aku tak mau tanggung jawab jika kau membeku lagi seperti tadi... Tapi kali ini, aku bisa mengalahkan Argaes tanpa harus membunuhnya," sebuah ide muncul. Asuka merasa seperti ada bohlam lampu yang menyala di atas kepalanya.
"Kenapa kita tidak membunuhnya saja? Aku ingin sekali dia mati karena telah membunuhmu!"
"Tidak bisa. Peraturan hukum undang-undang langit tidak seperti itu...," Asuka mengerutkan kening, bingung dengan ucapannya sendiri. Ia tiba-tiba saja memiliki banyak informasi langit, "ada apa denganku? Jangankan peraturan langit, peraturan rumah saja aku lupa...," gumamnya.
"Kita bunuh saja! Itu akan lebih memuaskan!"
"Tidak boleh. Aku punya ide yang lebih baik daripada membunuhnya," Asuka mencoba menjelaskan agar pria itu mengerti apa tujuannya.
"Lalu bagaimana dengan Barack? Kenapa aku ada di istananya?"
"Dia sudah kembali menjadi dirinya yang baik dan agak... Sudahlah! Aku tak bisa menjelaskan sifat seorang raja yang sedikit gak jelas," sahutnya sambil menunjukkan ekspresi jijik.
"Gak jelas? Oke, baiklah. Kuanggap dia sudah mendapatkan kembali kesadarannya. Kau tahu, hanya ada hal yang bisa membuat malaikat jera...," jelas Asuka. Pria itu terlihat menunggu penjelasan. Asuka pun tersenyum penuh rencana, "semuanya hanya tentang abadi atau fana!"
"Abadi... Atau fana??" pria itu membeo, keningnya berkerut.
***
__ADS_1
ASUKA MEMUTUSKAN untuk meminta Hiirosen mengajarinya cara mengendalikan energi. Kuncinya hanya fokus, membayangkan jika elemen tersebut mengalir dalam tubuh—terkumpul di dada dan tangan. Keduanya memutuskan berlatih di depan gua. Berkali-kali Asuka jatuh terduduk atau terdorong ke belakang saat mencoba mengendalikan elemen es. Tanpa sengaja, bahkan mencairkan es di sekitarnya.
Pria itu menggeleng kecil, menyaksikan sambil memakan daging panggang hasil buruannya. Asuka membutuhkan waktu untuk bisa menguasai teknik tersebut. Gadis itu tak mau menyerah dan terus mencoba. Sebenarnya mereka tidak tahu, apakah hari sudah siang, malam atau pagi. Tapi rasa lapar mulai menyerang.
Setelah mengisi perut yang keroncongan, Asuka bisa lebih fokus. Dia mulai bisa mengendalikan elemen es, membentuknya menjadi apapun lalu dicairkan dengan elemen api. Sisi berbahaya dari darah murninya perlahan tertaklukan. Kini ia siap untuk melawan malaikat buangan itu. Sebelum berangkat, Asuka memilih istirahat sejenak—menghilangkan rasa lelah karena berlatih.
"Aku minta maaf soal Venus," ujar Hiirosen.
"Tak apa. Dia mungkin benar tentang diriku," sebisa mungkin Asuka menanggapinya dengan senyuman. Namun Hiirosen segera menyangkalnya.
"Itu tidak benar! Dia memang sudah keterlaluan! Aku tak akan memaafkannya begitu saja!" ada sorot kemarahan dalam mata Hiirosen.
"Kau sendiri yang meminta maaf padaku soal dia. Kenapa kau bilang begitu, Hiirosen?!"
"Karena aku merasa bersalah. Tidak seharusnya aku meladeni ucapan Venus mengenai dirimu. Dia menjelek-jelekkanmu dan berusaha untuk menghasutku agar menikahinya! Tapi aku tidak mau memaafkannya. Dia saja bahkan menghasut ayahku agar tidak menerimamu sebagai mate-ku!" tutur Hiirosen, tersulut emosinya sendiri. Namun Asuka tak mau ambil pusing dengan kemarahannya.
"Kalau kau tak bisa memaafkannya hanya karena itu, maka jangan harap kau mendapat maaf dariku!! Memaafkan orang lain itu tidaklah mudah, Hiirosen! Aku ini wanita, memiliki perasaan. Aku tahu pria hanya mengikuti egonya saja saat mengambil keputusan. Kaumeminta maaf padaku tapi tak mau memaafkan orang lain? Kaupikir itu adil?"
Hiirosen terdiam. Mungkin Asuka benar. Sangat memalukan. Ia meminta maaf tapi tidak mau memaafkan orang lain. Cukup egois. Asuka segera duduk membelakangi, mungkin marah atau sejenisnya. Kaum hawa selalu sensitif jika perasaannya terguncang. Mereka terlalu lemah untuk mempertahankan benteng emosinya.
"Jangan marah, Asuka. Aku tidak tahu bagaimana cara menenangkanmu," ujar Hiirosen pelan.
"Aku bukan anak kecil. Jangan khawatir, aku tidak apa-apa," ia menimpali.
Hiirosen duduk di samping Asuka. Gadis itu hanya menatap ke bawah dengan tangan bertumpu di lutut. Ia membelai rambut mate-nya, napasnya mulai memburu. Aroma manis darah Asuka sangat menggoda.
Kedua taring Hiirosen memanjang. Dia menepis pikiran yang seharusnya tak terlaksana lalu membawa mate-nya dalam dekapan. Ia merasa bersalah. Bagaimanapun juga dirinya harus bisa menjaga Asuka. Mereka akan membuat Argaes tunduk pada Tuhan dan memberikannya karma yang setimpal.
"Minumlah darahku. Kau akan bertahan dalam cuaca dingin di luar sana," ujar Asuka. Keduanya saling berpandangan sejenak, sebelum akhirnya Hiirosen mencium bibirnya. Tak berapa lama, pria itu melakukan apa yang mate-nya minta. Asuka sedikit meringis ketika lehernya terasa pegal.
"Apa sakit?" tanya Hiirosen setelah selesai mengisap darah di leher Asuka. Ia mengusap bekas gigitannya yang perlahan menghilang. Sebenarnya ada bekas gigitan lain di leher mate-nya. Tapi dia tak mau ambil pusing dan segera menghilangkannya. Pelakunya pasti Barack, pikirnya.
"Hanya sedikit pegal."
Keduanya saling bersikap dewasa dan mulai menyusun rencana. Asuka menciptakan pedang dari es. Beratnya lumayan, tapi masih bisa ia ayunkan dengan baik. Hiirosen akan membuat tornado lagi. Energinya sudah bertambah dua kali lipat.
__ADS_1
Sekarang, badai salju bukan lagi masalah bagi keduanya. Dalam sekali genggaman kosong di udara, Asuka mampu membuat badai berhenti. Ia menengadah, petir yang saling berteriak padanya perlahan hilang. Namun awan-awan masih berkumpul serta saling menghalangi sinar mentari. Hiirosen tersenyum simpul. Dia yakin, keluarga Sakamaki bisa menerima mate-nya.