
SETELAH MAKAN malam selesai, Tuan Rein memutuskan untuk kembali ke dunia fana. Yuukigao menunjukkan pintu rahasia—sebuah gua di kaki gunung. Asuka pun menghela napas saat melihat Shinwa sudah berubah menjadi serigala hitam. Sedangkan Tuan Rein mengubah dirinya menjadi singa api dan memasuki gua, sosoknya menghilang ketika melewati lubang gelap tersebut.
Hiirosen segera menaiki serigala perwujudan Shinwa lalu mengulurkan tangannya pada Asuka, "Ayo, naiklah."
"Naik? Menaiki hewan berbulu ini? Apa kau tidak mencium bau anjing hutan yang basah kuyup?" Asuka enggan untuk menaikinya. Ia melihat tubuh serigala perwujudan Shinwa yang mulai dipenuhi kepingan salju. Binatang itu tampak mendengus dan menatapnya sekilas, menanggapi komentarnya.
Asuka mencium bau anjing basah kuyup yang selalu berkeliaran di sepanjang jembatan dekat sungai. Bau mereka sangat tidak menyenangkan, seperti tidak pernah mandi berbulan-bulan. Dan Hiirosen menyuruhnya untuk naik, berpenggangan pada bulu-bulu hitam yang lumayan panjang itu. Itu menjijikan, pikirnya.
"Ini tidak semenjijikkan yang kaukira, Sayang...," timpal Hiirosen, seolah-olah mampu membaca pikirannya.
"Oh, bagaimana kauyakin?" Asuka terlihat kesal. Ia memakai jubah tebal pemberian Yuukigao, sepatu botnya masih punya Shinwa. Ditambah gaun yang belum ia ganti sedari tadi, akan sangat menyulitkannya
duduk di atas punggung serigala.
"Ayo cepatlah!"
"Tidak!" Asuka menggeleng, "aku tidak mau menaikinya!"
"Kita tidak punya waktu, Asuka. Ayo, naik."
"Aku bilang... Aku tidak mau! Aku akan tetap di sini dan menemani Yurai," Asuka berbalik, hendak menghampiri Yurai yang keberadaannya tak terlalu jauh dari tempatnya sekarang.
Hiirosen segera turun dan membopong Asuka. Gadis itu memekik minta diturunkan. Dalam sekali lompatan, pria itu sudah kembali duduk di punggung serigala penjelmaan Shinwa. Tangan sebelahnya lagi memegang erat tubuh mate-nya agar tidak terjatuh. Asuka mampu menghirup aroma maskulin Hiirosen—melihat wajah berahang tegasnya yang terbentuk sempurna.
"Lepaskan aku!!" Asuka berontak.
"Diam! Atau aku akan memperkosamu di hutan!" ancam Hiirosen, hanya menakut-nakuti. Tapi tindakannya berhasil membuat Asuka terdiam.
"Kalian akan langsung tiba di hutan. Berhati-hatilah, mungkin di sana hujan deras," kata Yuukigao.
"Terima kasih telah merawat kami. Pelayanan kalian lumayan juga," Serasawa menimpali. Mereka segera memasuki gua dan menghilang ditelan kegelapan. Sedetik kemudian, hujan memang turun deras.
Asuka merasa tubuhnya sudah terkena air hujan, bau pepohonan serta kegelapan yang merayap dari segala arah. Suara gemuruh menggema di cakrawala hitam, mengingatkan gadis itu akan kehidupan dunia fana yang menyesakkan. Mereka menjejaki hutan lebat—lebih tepatnya di atas bukit.
Mereka segera berlari menuruni bukit dan melewati pepohonan tinggi yang menghalangi. Serasawa sendiri berlari dan sesekali melompat dari dahan ke batang pohon lain dengan gerakan cepat. Sayup-sayup, suara ringkikan menggema, mengalahkan suara hujan. Dari belakang mereka, terdapat banyak cahaya jingga kemerahan, sesekali meredup lalu semakin besar.
"Argaes! Aku kenal dengan bau menjijikkan ini!" desis Hiirosen. Ia menunggu, mungkin sosok Argaes memang akan muncul di balik bukit dengan seringaian yang tak menyenangkan.
"Hellhorse sialan! Rupanya dia belum kapok juga dengan seranganku. Iblis itu ternyata cukup kuat. Berhati-hatilah... Hiirosen, bawa Asuka pergi dari sini...," jelas Tuan Rein seraya menatap Asuka sekilas. Hiirosen pun mengangguk.
Serigala perwujudan Shinwa melolong panjang sebanyak tiga kali. Lalu terdengar sahutan dari berbagai arah. Itu artinya, ia berhasil memanggil kawanannya. Sementara, Tuan Rein kembali ke wujud manusianya—menajamkan penglihatan ke sisi lain. Cahaya jingga kemerahan terlihat jelas. Ternyata, belasan Hellhorse mulai menuruni bukit. Ada tawa menggema dari seorang pria berkepala kuda yang menunggangi Hellhorse lain.
"Ternyata benar. Argaes mengejar kita! Pergilah sekarang!" titah Tuan Rein pada Hiirosen.
"Berhati-hatilah," Hiirosen turun dari punggung serigala perwujudan Shinwa—masih membopong mate-nya. Serasawa pun membuntuti. Asuka sempat melihat ke belakang dan menyaksikan sekilas ayahnya tengah beradu pedang dengan Argaes. Sedangkan Shinwa menggunakan taringnya untuk menggigit para kuda api. Dari segala penjuru, sekelebatan werewolf bermunculan dan membantu pertarungan.
__ADS_1
***
HIIROSEN TERUS BERLARI, melompati beberapa bebatuan, menerobos ilalang serta menyeberangi sungai dangkal. Mereka juga memasuki hutan gelap berkabut. Ada sesuatu yang melayang—samar-samar seperti kain hitam. Hiirosen dan Serasawa langsung berhenti berlari. Keduanya mengamati langit dengan hati-hati, lebih tepatnya mengamati puluhan Darkur yang melayang santai.
"Aku berharap tidak akan pernah bertemu dengan mereka," bisik Hiirosen waspada.
"Sepertinya mereka sudah menyesatkan jalan kita...," Serasawa menimpali.
"Pantas saja aku merasa terlalu lama berlari di hutan ini."
"Tuan Hiiro, apa yang harus kita lakukan sekarang?" tanya Serasawa.
"Entahlah. Aku tak punya rencana dengan masalah ini. Seandainya saja kita punya api yang cukup besar, biasanya mereka akan menghilang."
"Aku punya api...," Asuka menimpali. Tapi terlihat tidak meyakinkan.
"Aku tidak ingin kau membakarku, Sayang. Gaun Venus saja kau bakar dengan mudah."
"Kalau begitu ajari aku cara mengendalikannya."
"Bahkan aku bukan pengguna elemen api."
"Kalau begitu aku akan panggil Yurai. Turunkan aku...," Asuka merasa punya ide cemerlang di dalam kepalanya.
Hiirosen menurunkan gadis itu dan mengamati setiap gerak-geriknya. Asuka memanggil Yurai tiga kali. Butler itu biasanya akan datang ketika ia memanggilnya berkali-kali. Awalnya tidak terjadi apa-apa, tapi kemudian suara geraman dari arah depan mereka memecahkan keheningan.
"Kau sedang memanggil Yurai atau beruang hutan?" tanya Hiirosen.
"Memangnya itu suara beruang?"
__ADS_1
"Tentu saja aku kenal suara beruang. Indera penciuman dan penglihatanku tidak salah. Hewan itu ada di depan kita. Hati-hati..."
Bunyi geraman binatang buas terasa sangat dekat, mungkin hanya berjarak beberapa meter saja dari keberadaan Asuka sekarang. Bayangan hitam besar melompat ke udara—tepat saat cahaya kilat muncul. Binatang besar itu hendak menerkamnya. Sontak Asuka menjerit dan memejamkan mata, membayangkan sesuatu yang bisa membuatnya menghasilkan api. Bayangan hitam tersebut kemudian terbakar dan terjatuh, meraung kepanasan sambil menggulingkan tubuh berbulunya.
Seekor beruang hitam terbakar hebat. Hiirosen segera membawa Asuka menjauh dan memasang kuda-kuda, siapa tahu jika beruang itu bangkit kembali secara ajaib. Tapi yang ada hanya bau bulu dan daging terbakar. Beberapa Darkur yang melayang di sekitar mereka menjauh ketika kobaran api.
Dari kejauhan, terlihat cahaya jingga yang mendekat. Kali ini mereka semua berwaspada dan hendak berlari menjauh jikalau sesuatu itu membahayakan. Lalu kemudian bunyi lolongan menggema. Suara serigala, pikir Asuka.
Cahaya jingga itu kian dekat hingga terlihatlah seekor binatang berkaki empat. Hellwolf berhenti di depan mereka, lalu melontarkan beberapa bola api ke pohon-pohon. Pepohonan itu langsung terbakar, tak memedulikan air hujan yang membasahi. Para Darkur mengeluarkan bunyi lengkingan yang memekakkan telinga lalu lenyap. Kemudian terbentuklah Yurai dari punggung serigala tersebut, hanya sebatas bayangan yang terbuat dari api biru.
"Nona Muda, serigalaku akan menuntunmu keluar dari sana. Cepatlah pergi sebelum terlambat, aku akan segera menyusul," bayangan pria itu lenyap tersapu angin.
"Pesan yang bagus. Setidaknya dia mendengar permintaanku," Asuka segera menaiki Hellwolf tersebut tanpa kesusahan, "tunjukan jalan keluar kita."
Si Hellwolf melolong lalu mulai berlari. Serasawa dan Hiirosen berubah menjadi kelelawar yang cukup besar, kemudian terbang di samping Asuka. Tak lama, mereka berhasil keluar dari hutan tergelap. Hiirosen menunjukkan arah kemana Hellwolf itu harus berlari.
"Sebenarnya kita di mana?" tanya Asuka seraya mengusap wajahnya yang terus terkena air hujan.
"Hutan Aokigahara," sahut Hiirosen.
"Apa tidak ada hutan lain yang lebih nyaman untuk kubayangkan? Ini hutan kematian...," komentarnya.
"Kurasa tidak ada untuk saat ini."
"Lalu, kemana kita akan pergi?"
"Kemanapun, yang penting kita menjauh dari pertemp—" perwujudan kelelawar Hiirosen langsung menghantam tanah berumput . Sosoknya kembali menjadi manusia dan segera berjongkok, melihat lengannya yang mengalami luka bakar.
"Hiiro!!" teriak Asuka melihat ke belakang. Hellwolf-nya berhenti. Ia langsung turun dan menghampiri pria itu.
"Pergilah, Asuka. Aku akan menyusul. Percayalah padaku..."
"Tapi—...baiklah. Kau harus kembali hidup-hidup...," Asuka menatap Hiirosen, "kau bilang aku ini mate-mu. Jadi kau harus bertahan dan jangan membuatku menjadi janda kembang."
Kata 'janda' sebenarnya tidak tepat, tapi dia serius. Hingga akhirnya Hiirosen terkekeh dan menyentuh wajah mate-nya, "Kita bahkan belum menikah... Pergilah, setelah itu...aku akan menikahimu."
"Menikah? Pikirkanlah itu jika kau kembali hidup-hidup! Dasar vampir!" protes Asuka.
Terdengar suara elang serta cahaya jingga kemerahan yang melesat cepat. Sedetik kemudian tanah berumput di belakang mereka terbakar hebat. Disertai bunyi ledakan yang cukup keras. Hiirosen menyuruh Asuka dan Hellwolf itu untuk terus berlari, sementara ia dan Serasawa akan mengalihkan perhatian.
Ini bukan ide bagus! Bahkan aku tidak tahu harus pergi kemana. Pikiran pertama Asuka berbicara. Namun pikiran keduanya mengatakan jika dia harus berlari ke hutan untuk menyulitkan burung itu menyerangnya.
Hellwolf yang ditunggangi Asuka langsung berlari ke dalam hutan, melewati pepohonan menjulang tinggi. Perjuangan orang-orang yang melindunginya tak boleh sia-sia. Ia sendiri masih belum tahu pasti alasan Barack menginginkan darahnya. Apapun itu, Asuka butuh jawaban untuk memutuskan rencana selanjutnya.
Seandainya saja Asuka memiliki kekuatan api yang terkontrol, pasti sudah sedari tadi dia berada di garis depan. Namun untuk sekarang, menghindari medan peperangan mungkin lebih baik. Asuka tak mau mati konyol hanya karena ditembak bola api.
__ADS_1