
ASUKA MENEMUKAN sepucuk surat di atas meja riasnya, lengkap dengan perekat berbentuk hati dan tiga kata pengenal di sudut atas amplopnya, 'Untuk Masa Depanku'. Hanya itu saja, tapi gambar kelelawar di bawah tulisan membuat ia curiga.
Siang bolong seperti ini, siapa yang memberinya surat ancaman. Asuka menganggap jika isinya pasti sederet kata menakut-nakuti.
Bukan hanya amplop saja, tapi ada bentuk hati yang tergambar menggunakan lipstik-nya, terpampang di cermin. Asuka melirik sekitar, berwaspada. Setelah memastikan jika kamarnya aman dari penyusup, dia segera membaca suratnya.
Untuk beberapa saat ia mematung, lalu mengerutkan kening dan mengatupkan bibir. Siapapun pengirimnya, pasti ada sangkut pautnya dengan sosok asing yang sempat hadir di kamar mandi. Hanya dugaannya saja.
Gadis itu segera memanggil Yurai, menyuruh butler-nya untuk membaca isi surat. Sedari tadi dia gagal paham dengan bahasa aneh yang sama sekali belum pernah dilihatnya. Bukan aksara katakana ataupun hiragana, atau juga sansakerta. Pokoknya sangat aneh hingga ia menyerah untuk memahami isinya.
"Ini bahasa dunia kami," ujar Yurai setelah mengamati tulisan tangan surat tersebut, "kami memahami bahasa yang diucapkan tapi tidak dengan tulisan."
"Maksudmu bahasa apa? Kenapa bisa begitu?"
"Hmm ...," Yurai terlihat berpikir, mengelus dagunya yang tak berjenggot, "bahasa dunia Immortal. Kami harus memahami tulisan dunia manusia meski hanya memahami ucapannya. Ah, tidak mudah. Butuh waktu cukup lama untuk mempelajarinya. Tapi aku yakin, siapapun pengirim surat ini ... dia tahu bahasa Jepang," tuturnya.
"Tolong bacakan untukku," pinta Asuka langsung duduk di tepian ranjang, rambutnya masih digelung handuk.
"Baiklah, tunggu sebentar ...," Yurai membaca dalam hati untuk mengetahui keseluruhan isi surat tersebut. Di paragraf terakhir, si pengirim surat mengatakan sesuatu yang ditunjukan untuk dirinya.
Yurai, jaga mate-ku ... Itulah sebagian isi surat yang ditunjukan untuk Yurai.
"Yurai?" panggil Asuka.
"Ah, maaf Nona Muda. Aku hanya sedang menyimpulkan isi surat ini, apakah berbahaya atau tidak ...," pria itu tersenyum simpul, kemudian mulai membacakan isi suratnya, "Kepada calon masa depanku. Aku menyukai kamarmu, termasuk kamar mandi. Setiap malam, memandangimu tertidur lelap membuatku damai. Tak lama lagi, kita akan bertemu. Dari yang tersembunyi, SH ...."
"Apa maksudnya? Siapa SH ... semacam inisial?" tanya Asuka masih bingung.
"Entahlah Nona. Mungkin dia jodohmu," Yurai menanggapi, lengkap dengan senyum manisnya.
"Membingungkan. Yurai hanya pura-pura tidak tahu!" gumamnya.
"Bersiap-siaplah Nona, sebentar lagi kita akan berangkat. Pertemuan bangsawan Immortal akan diadakan pukul satu siang. Perjalanannya juga cukup jauh ...," Yurai segera melenggang dari kamar Asuka.
Gadis itu menghela napas panjang dan berganti pakaian. Ia terpaksa mengenakan gaun selutut atas perintah ayahnya. Ah, memalukan! Pikirnya. Gaya feminin cenderung terlihat lemah dan meremehkan kehebatan kaum hawa. Katanya wanita itu makhluk lemah lembut, tapi sekali marah maka gunung pun bisa meletus. Sepertinya agak berlebihan ....
***
__ADS_1
ADA SEBUAH mansion di tengah hutan, jalan penghubung tempat itu dengan yang lainnya cukup mencekam. Tapi tak semua orang mampu melihatnya. Belasan mobil mewah termasuk limosin langsung parkir di halaman luas bak istana kekaisaran. Para bangsawan keluar dengan pakaian kebesaran mereka, lengkap dengan pengawal pribadi yang merangkap menjadi asisten.
Tak ada manusia biasa yang duduk di ruang tamu besar mansion tersebut, semuanya berasal dari jenis makhluk abadi —kecuali werewolf dan vampir. Kedua makhluk itu memang tak abadi, tapi mampu menyesuaikan diri di dunia manusia. Mereka musuh bebuyutan sejak zaman Drakula masih berjaya. Namun para bangsawan selalu menghormati satu sama lain, memenuhi etika yang seharusnya, meski kadang tatapan tidak bersahabat muncul beberapa kali.
Dari ruangan sebelah, Asuka mengintip sekumpulan makhluk abadi tersebut. Aura para kepala keluarga bangsawan memang kuat dan mengerikan. Ia mampu membaca beberapa lapis aura di sekitarnya. Kaum iblis memiliki aura yang lebih besar, termasuk Tuan Rein—ayahnya Asuka.
Gadis itu menghela napas saat melihat Yurai tengah berbicara sesuatu, pengawal kaum bangsawan lainnya menimpali. Perdebatan mereda setelah sang tuan rumah langsung menengahi.
Kenyataannya, Asuka mampu mendengar pembicaraan mereka meski katanya dipasangi barrier. Perdebatan tentang kaum half-blood menjadi perbincangan serius. Ada yang mengatakan jika keturunan half-blood manusia harus dibunuh, atau ke depannya bisa membahayakan keseimbangan dunia fana dan Immortal Kingdom.
Tapi Yurai menanggapi jika itu harus dilakukan, maka makhluk abadi dilarang untuk memasuki dunia manusia lagi. Pembicaraan itu terus memanas. Kecerdikan Yurai dalam membuat seseorang mati kutu selalu membuat majikannya bangga.
Tanpa sadar, Asuka terlalu fokus menyimak, hingga tak menyadari kehadiran seorang wanita bersurai perak di belakangnya.
"Half-blood berenergi rendah ... Sedang apa kau di sini?" suara merdu si wanita membuat Asuka berbalik.
"Kau bicara padaku?" tanya balik Asuka, memperhatikan sekitar.
Tak ada half-blood manusia lain selain Asuka sendiri. Semua anak kepala keluarga bangsawan merupakan turunan darah murni. Mereka menatapnya dengan ketidaksukaan. Tampaknya Asuka sedang mendapatkan kesialan. Lagi-lagi, ia harus mendapatkan tatapan merendahkan yang sama seperti pada pertemuan terdahulu.
"Tidak. Aku akan menunggu ayahku di sini," tolak Asuka halus.
"Kau tak pantas disebut sebagai keturunan kaum Immortal. Energi serendah itu mana bisa membuatmu bertahan hidup lebih dari dua ratus tahun! Seharusnya kau sadar akan posisimu."
Wanita itu memiliki kulit putih pucat, mirip boneka barbie, sangat sempurna di mata Asuka. Gaun putri yang indah menonjolkan sifat kebangsawanannya. Wanita itu berasal dari kaum penghisap darah. Asuka bisa mencium bau vampir yang menyengat, amis dan juga sedikit beraroma mawar. Mungkin aroma tersebut berasal dari parfumnya.
"Dasar half-blood. Setidaknya dia hormat padaku, membungkukkan badan atau apalah ...," gerutu si wanita sambil berkacak pinggang.
"Kenapa aku hormat padamu?" tanya Asuka datar.
Wanita itu cukup terkejut karena gumammannya dapat terdengar jelas di telinga Asuka. Sepertinya dia tak boleh meremehkan anak-anak darah campuran, karena sebagian dari diri mereka tersembunyi kekutan besar. Dan itu mungkin sekali ... Pikirnya.
"Lupakan! Asal kau tahu, namaku adalah Venus. Dan aku bangsawan vampir," wanita itu memperkenalkan diri dengan sikap arogan. Beberapa anak bangsawan murni lainnya memilih menyimak, tak mau membuang-buang suara hanya untuk bicara dengan kaum half-blood.
"Aku tahu kau vampir," Asuka menimpali.
"Cih!!" Venus mendengus sebal.
__ADS_1
Anak-anak half-blood turunan makhluk abadi harus selalu patuh pada mereka yang berdarah murni, itu peraturan mutlak. Para half-blood dianggap keturunan terlemah bangsa mereka sehingga tak jarang kadang menjadi pelayan atau butler bangsawan murni. Tapi Asuka tak mau menjadi pelayan, budak atau sejenisnya. Dia mau menjalani hari-harinya di rumah, bermain dan bersenang-senang. Tak perlu ada acara kebangsawanan atau etika berlebihan layaknya mematuhi pemerintah kekaisaran Jepang.
Kini, Asuka ingin pergi. Bicara dengan makhluk yang mirip maneken itu menyebalkan. Mereka sombong dan seenaknya sendiri, kadang tunjuk-tunjuk kekuatan saat sadar bahwa ia hanya makhluk berenergi rendah. Terlebih lagi jika mereka adalah kaum adam—sok gagah dan tebar pesona sudah mendarah daging dalam keluarga mereka.
"Kau tidak mau menghormatiku?" tanya Venus mulai dingin.
"Aku bukan bagian dari kaummu," sahut Asuka sekenanya.
"Sudah lemah, kau juga tidak sopan! Sepertinya kau mau mencoba dipeluk asap-asap kesayanganku."
Jari telunjuk kanan Venus bergerak seperti hendak mengucapkan 'abrakadabra'. Lalu munculah gumpalan asap hitam yang menyelimuti sekitar pinggang Asuka, terlihat seperti asap biasa tapi mencengkeram cukup kuat. Wanita itu terkekeh dan menikmati pemandangannya, hiburan yang sangat menyenangkan. Pikirnya.
Para anak bangsawan lain terkikik, tapi tidak dengan laki-laki bersurai cokelat yang Asuka ketahui berasal dari kaum werewolf. Di sampingnya ada lagi laki-laki bersurai perak kemerahan yang merupakan keturunan vampir.
"Bagaimana, anak half-blood? Kau suka?" tanya Venus sinis. Ia tertawa seperti orang jahat yang bersiap membunuh musuhnya.
"Lepaskan aku!!" Asuka merasa tubuhnya ringan, kakinya mencari pijakan. Dia hanya melayang satu jengkal saja dari lantai, tak tahu bagaimana caranya melepaskan diri. Gumpalan asap itu ternyata memiliki sensasi dingin di kulit, sedikit menggelitiki perut.
"Kasihan sekali. Kau seperti half-blood cacat yang tak sengaja lahir ke dunia. Kekuatan saja tak punya meski harus kuakui pendengaran dan indera penciumanmu sangat tajam ...," Venus bersedekap.
"Apa maumu sebenarnya?" tanya Asuka mulai jengkel.
"Mauku? Aku mau kau hormat padaku, anak half-blood! Ayahmu pasti sangat malu punya putri cacat sepertimu!" cemoohnya. Dan tawa lagi-lagi menggema. Kedua pria yang sama sekali tak tertawa tadi menatap Asuka iba.
Hati gadis itu pun bergemuruh. Sudah ratusan kali ia mendapatkan hinaan yang menusuk hati. Tapi kali ini dia mulai muak mendengarnya. Ia menggeram dan kembali menapak di lantai setelah gumpalan asap hitam yang menguncinya lenyap begitu saja. Venus terdiam, mungkin tertegun saat asap ciptaannya sendiri terpatahkan.
Selama ini, tak pernah ada anak half-blood yang berani melakukannya. Tawa semua anak bangsawan Immortal terhenti, tatapannya berubah heran.
Ada kilatan amarah dalam mata Asuka. Entah sejak kapan matanya menghitam layaknya iblis murni, hingga Venus saja mengatupkan bibirnya. Energi gelap mulai menyebar, tidak terkendalikan dengan baik. Sepertinya vampir itu telah melakukan suatu kesalahan, atau mengatakan sesuatu hingga membuat Asuka tersinggung.
"Oke, ba-baiklah anak half-blood ... Sepertinya aku memang salah bicara," Venus mencoba untuk tenang saat ketakutan mulai berbisik di telinganya.
"Mungkin kau benar jika aku ini cacat, dan ayahku mungkin malu punya anak sepertiku! Tapi cara bicaramu itu tidak sesuai dengan etika kebangsawan. Aku sudah muak mendengar semua cemoohan kalian!" Asuka langsung mengentakkan sebelah kakinya.
Bunyi retakan di lantai dan dinding sayup-sayup terdengar. Venus mundur beberapa langkah saat retakan itu juga menghampiri lantai yang dipijakinya. Yang lainnya juga memperhatikan dengan seksama. Aura iblis menyebar kuat, membuat semua anak bangsawan merasa melemah.
"Apa-apaan kau ini?" Venus terlihat panik, "hentikan! Kau bisa membunuh kami."
"Kau bilang aku ini lemah. Kenapa kau jadi takut?" Asuka menyeringai, seperti bukan dirinya saja.
Elemen api langsung terbesit di benak Asuka, hingga menyebabkan gaun indah Venus terbakar. Jeritan langsung keluar dari mulut wanita itu sambil mencoba memadamkan apinya, tapi Asuka bergeming. Semuanya semakin terkejut atas apa yang telah dilakukannya.
__ADS_1