Pengantin Berdarah Murni

Pengantin Berdarah Murni
Iblis Penguasa Api


__ADS_3


YURAI KEMBALI ke rumah dengan keadaan terluka parah, melaporkan segalanya pada Tuan Rein. Tak lama kemudian dua vampir dan satu manusia serigala datang, menanyakan keberadaan Asuka. Mereka yang tadi siang membantu Yurai menolong anak majikannya. Ternyata, iblis yang menyamar menjadi Hiirosen memang menginginkan Asuka, dicurigai sebagai bagian dari rencana penculikan oleh Hellhorse.



Mereka berkumpul di ruang tamu, Tuan Rein menjadi pendengar yang baik. Pria itu mengkhawatirkan putrinya, tentu saja. Orang tua mana yang tak khawatir ketika darah dagingnya sendiri diculik oleh iblis kegelapan, apalagi dengan maksud tertentu. Beberapa saat lalu Asuka pergi dengan suasana hati yang kacau, kemungkinan gadis itu tak ingin kembali. Tapi jika hati manusia sedang gundah gulana, maka iblis mampu mengendalikan pikirannya.



"Aku tak tahu ternyata vampir memiliki kekhawatiran. Kupikir kalian hanya mayat hidup tanpa perasaan dan tak tahu caranya berpikir," ujar Yurai sedikit menyindir, berdiri di samping kursi yang diduduki majikannya.



"Kuanggap itu sebagai ujian kesabaranku, Tuan Iblis," timpal Hiirosen, "tapi memikirkan cara untuk menyelamatkan Asuka itu lebih penting."



"Kaumku kehilangan bau mereka tak jauh setelah menuruni bukit. Sepertinya mereka memasuki sesuatu," kata Shinwa. Seperti biasa, dia lebih suka bertelanjang dada. Selain itu, ada tato kepala serigala di dada kirinya.



"Mungkin ada sesuatu di bawah bukit," tambah Serasawa.



"Dan itu pasti adalah jalan masuknya. Asuka pasti dibawa ke sana. Aku akan menemukan pengantinku bagaimanapun caranya," timpal Hiirosen serius, ekspresi Tuan Rein masih bisa diketahui, "ternyata kau tak menyayangi anakmu," tambahnya menatap laki-laki itu.



"Benarkah?" tanya Tuan Rein seperti meminta pendapat. Dia memang pintar, tapi tidak peka dengan sesuatu yang harus diabaikan.



"Kau hanya menjadikan dia pion lalu membuangnya begitu saja. Asuka adalah half-blood yang memiliki hati dan perasaan, pikirannya sering bekerja setiap saat. Terkadang dia menginginkan sesuatu yang istimewa dari ayahnya sendiri tapi tak pernah terwujud. Yurai bagai ayah dan kakak lelaki baginya, tapi dia butuh kasih sayang. Kau membuangnya begitu saja seperti barang cacat produksi. Mungkin sekarang gadis itu memilih tak ingin kembali," tutur Hiirosen kesal, menggamit kedua tangannya dengan gelisah.



Vampir itu sudah memperhatikan Asuka sejak masih bayi, mengikuti pergerakan dan aktivitasnya. Dia menunggu waktu yang tepat untuk bisa berkenalan denganya. Keluarga iblis sangatlah ketat, sesuatu yang asing akan dianggap musuh. Dan Hiirosen mencoba mencari solusi agar bisa dekat dengan putri Tuan Rein, tanpa pertumpahan darah atau perjanjian kuno.



Zaman sudah berubah tapi dunia Immortal masih terlihat sama—sistem kerajaan masih berlaku. Tak ada benda-benda kaleng lalu-lalang di jalanan atau ponsel berdering di saku celana. Kerajaan Immortal hanya penuh dengan kuda dan kereta kencana, serta sistem komunikasi surat menyurat burung elang.



"Aku pasti akan membawa pengantinku kembali, membujuk dan menjadikannya istriku. Aku akan membawanya pergi ke istana dan menjadikannya ratu. Tidak masalah jika kau tidak mencintai putrimu sendiri, tapi dia harus punya alasan untuk kembali sebelum para iblis terkutuk itu memengaruhi isi kepalanya ...," jelas Hiirosen lagi.



"Aku memang tidak menginginkan kehadirannya, tapi bukan berarti aku ingin dia diculik! Dia putriku dan aku adalah ayahnya," sangkal Tuan Rein masih bersikap tenang.



"Kalau begitu tunjukan rasa pedulimu padanya. Buat dia tahu jikalau kau memang ayahnya."



"Baiklah. Aku dan kaumku akan menyisir sekitar kaki bukit," Shinwa sudah berlalu dengan cepat, terdengar bunyi lolongan di halaman depan lalu hening kembali. Sosok Shinwa yang menjadi serigala sudah hilang di kegelapan, menerjang hujan lebat—penuh ketakutan. Sedangkan Serasawa dan Hiirosen juga langsung berpamitan, mengubah diri menjadi gumpalan asap hitam dan melesat cepat ke udara. Kepergian tiga makhluk itu menyisakan aura yang menenangkan lalu melebur, menyatu dengan udara sekitar.



Yurai tiba-tiba saja jatuh terlutut seraya menyentuh dada kiri. Ada kepulan asap keluar dari tubuhnya, seperti baru saja dikeluarkan dari dalam tempat kukus. Ia merasa sesak napas. Efek dari serangan iblis itu ternyata memengaruhi kerja tubuhnya.



Tuan Rein segera bangkit dan menghampiri Yurai, menyentuh kepalanya. Butler itu tak akan mampu untuk menyembuhkan diri dengan cepat karena lukanya terlalu parah. Sepertinya, iblis yang menculik Asuka memang sengaja melakukannya untuk memperlambat pencarian. Tapi Tuan Rein tak akan membiarkan anaknya berpihak pada mereka. Gadis itu adalah darah dagingnya, dan harus kembali ke tempatnya berasal.



Terlihat cahaya menyerupai heksagon terbentuk di dahi Yurai, lalu melebur begitu saja. Tubuhnya mulai pulih, menjadi lebih baik daripada terlihat seperti maneken. Tuan Rein menarik tangannya  dan duduk kembali di kursi kesayangan. Seorang majikan yang menyembuhkan pelayannya adalah hal wajar, kadang memberi sedikit energi untuk menambah kekuatan.



"Kuizinkan kau untuk membuka segel kekuatanmu, cari jalan masuk mereka dan laporkan padaku. Kita harus membawa kembali Asuka sebelum fajar tiba," titah Tuan Rein langsung menyesap teh jahe merahnya.



"Baik, Tuan."


__ADS_1


Dan Yurai sudah menghilang di detik berikutnya.









***









SESUATU YANG TERBANG di langit Dunia Paralel ternyata iblis berkepala elang, bersayap hitam besar dan bertubuh kekar. Elang itu menukik seiring dengan berhentinya para Hellhound, tak jauh dari keberadaan Asuka dan Argaes. Angin tercipta saat sayapnya mengepak beberapa kali lalu menghilang setelah terlipat di belakang punggung. Iblis itu memiliki paruh kuning keemasan serta tangan berkuku tajam.



Iblis itu mengeluarkan suara elang yang khas setelah Argaes sedikit membungkuk, "Hormatku, Tuan Barack."



"Kali ini kau berhasil membawanya, Argaes ...," iblis berkepala elang itu tertawa puas saat sorot mata tajamnya menatap Asuka.




Gadis itu sedang mencerna apa maksud dari semua ini. Langit yang kemerahan dan puluhan Hellhound siap berperang. Burung-burung gagak yang bertengger di setiap cabang pohon beterbangan entah kemana, namun sebagiannya lagi dimangsa oleh burung api. Dan pikiran Asuka mengatakan, jika iblis berkepala elang itu adalah penguasa para burung api.



"Ng ... Upacara apa maksud kalian?" tanya Asuka.



"Dasar wanita, berhentilah bertanya dan kau akan tahu nanti!" sahut Argaes.



"Kau iblis yang menyebalkan," Asuka mendengus sebal.



"Tak apa Argaes. Dia harus tahu dan memutuskannya sendiri. Asuka, kau adalah bagian dari kaum kami," jelas Barack mulai mendekati Asuka, tangannya terulur untuk menyentuh wajahnya. Namun pergerakannya terhenti. Asuka tidak suka melihat tangan berkuku tajam Barack hampir menggores pipi mulusnya.



Manusia memang makhluk lembut dan mudah mati. Kulit sempurna mereka bisa tergores, mengeluarkan cairan merah kental yang sedikit amis. Mereka seperti maneken sempurna ciptaan Tuhan namun memiliki sejuta kelemahan yang mudah diperdaya. Kini, Barack sudah menampilkan wujud manusianya saat menyentuh wajah Asuka, lembut dan hangat. Tak ada sayap di punggungnya. Bibir ranum gadis itu ingin sekali ia cecap sesaat, tapi tidak untuk sekarang.



"Kau bagian dari kami, Asuka ... Sang penguasa api. Lihatlah lenganmu yang seperti terbuat dari lava pijar itu ...," ujar Barack.



Asuka melihat lengan atasnya yang sempat dicengkeram Argaes. Ternyata masih terlihat sama seperti sebelumnya, "Jadi, apa maksud ucapanmu?"



"Tinggal bersamaku akan lebih baik ketimbang bersama dengan dunia fana yang menyiksa. Kita bisa menguasai negeri api di Dunia Paralel, dan mengendalikan segalanya yang berunsur api."


__ADS_1


"Bagaimana jika aku menolak?" tanya Asuka santai.



Wajah tampan Barack sedikit menghipnotis Asuka. Rahang tegas yang sempurna dan mata lentik. Senyumnya mengembang seperti pangeran yang hendak menyambut tuan putri memasuki istana, "Ada banyak hal yang harus kauketahui dulu sebelum memutuskannya, Asuka ... Mari, kuperkenalkan kau pada negeriku. Argaes, berjaga-jagalah di pintu masuk. Kuyakin  akan ada pengacau yang datang."



"Baik, Tuan," Argaes segera menunggangi kuda api yang sebelumnya dipakai Asuka. Sosoknya menghilang di balik akar-akar gantung yang ada di belakang mereka.



Asuka menjejaki tanah tandus, beriringan dengan Barack yang telah menyuruh para Hellhound  untuk pergi. Suasana kembali hening dan mencekam. Dia tak tahu kemana para anjing neraka itu pergi. Yang jelas, mereka menghilang menjadi debu—menyisakan embusan angin dan asap jingga aneh.



"Sepertinya kau tidak setakut yang kubayangkan," kata Barack.



"Karena kalian menyukai ketakutan manusia. Dan aku hanya memikirkan sesuatu yang biasa," timpalnya.



Barack terkekeh, "Kau memang pintar."



Tanah tandus yang dipijaki Asuka sekarang berubah menjadi padang kusa, angin sepoi-sepoi dan aroma bunga azalea. Ada deretan pohon sakura tak jauh dari keberadaan mereka saat ini, lalu puluhan domba berbulu putih memakan rumput-rumput, sesekali mengembik. Ini adalah suasana musim semi di padang kusa, bunga-bunga kecil tumbuh dan tergoyang angin.



Istana Barack mulai terlihat. Asuka memandangi bangunan yang masih cukup jauh dari keberadaannya. Ada bendera di atas atap utama, berbentuk kerucut—berkibar ketika tertiup angin. Saat keduanya sampai di depan pintu gerbang, gadis itu melihat bendera berlambang api. Rasanya seperti dalam negeri dongeng, kisah putri dengan pangeran sangat popular hingga sekarang.



"Ini adalah istanaku. Semoga kau menyukainya, Asuka"



"Wahh ... Ini tampak luar biasa. Aku tak pernah memasuki istana sebelumnya. Ternyata sangat mengesankan dan agak kuno," Asuka mengerutkan kening, ada beberapa bagian yang usang dan berdebu.



"Maklumi saja, Asuka. Kerajaan ini sudah lama berdiri."



"Tapi, apa maksud dengan upacara pembangkitan seperti yang dikatakan Argaes??"



"Hmm, tentu saja tentang dirimu. Kau akan dibangkitkan seutuhnya menjadi half-blood api. Kerajaanku membutuhkan seorang ratu untuk melahirkan keturunan ...," sahut Barack.



"Ke-keturunan? Kau seorang raja?" kaget Asuka.



"Bagaimana menurutmu?" tanya balik pria itu.



"Kau cocok menjadi si gembala domba di padang rumput."



Barack mendesis dan mencengkeram lengan Asuka. Lengannya yang mirip kulit berisi lava pijar itu sudah hilang karena ulahnya, "Kuanggap itu sebagai pujian pertamamu. Dan kau harus menjadi pengantinku!" tatapannya mengintimidasi Asuka, lalu terlihatlah seringaian yang menunjukkan dua taring kebanggaannya. Gadis itu mulai merasa pusing saat taring Barack menancap di leher, menghisap darah manisnya sedikit demi sedikit.



"Apa yang kau—" pandangan gadis itu pun kabur.



Asuka langsung pingsan. Barack segera membopongnya ke dalam istana. Ia menuju tempat peraduan—membaringkan Asuka dengan hati-hati. Dipandanginya wajah cantik itu untuk waktu yang cukup lama, hingga napasnya saja tak mampu terkontrol dengan baik.



"Pengantin berdarah murni ... Kau sangat memabukkan akal sehat dan membuatku lapar," bisik Barack. Tanpa sadar, ia sudah melepas jaket yang dikenakan Asuka.

__ADS_1




__ADS_2