Pengantin Berdarah Murni

Pengantin Berdarah Murni
Kembalinya Si Penjaga Segel


__ADS_3


"KITA TAK MENEMUKAN letak batu itu," kata Serasawa, memilih duduk di dahan pohon dan memperhatikan sekitar. Para Darkur masih melayang di atas mereka, lengkap dengan suara-suara keputusasaan yang menyayat hati.



"Dan kita tersesat!" gerutu Venus. Wanita itu sudah lelah berjalan. Kakinya pegal dan terasa bengkak. Sedari tadi, mereka hanya berputar-putar di dalam hutan tergelap Aokigahara. Ia haus dan butuh darah segar. Setiap kali melihat rusa, ia malah berburu sejenak.



Hari sudah mulai sore, tapi keberadaan batu segel masih belum terlihat. Tak ada tanda-tanda apapun selain tanah lembab, daun kering dan pepohonan yang terlihat mengerikan. Yurai mendesah dan mencoba fokus. Tanda-tanda keberadaan batu itu persis di dekat mereka—seharusnya.



"Seandainya saja Asuka ikut kita, semua ini tidak akan memakan waktu!" tambah Venus segera melipatkan kedua tangan di dada. Gaun selutut warna abu-abunya sedikit kotor karena bersentuhan dengan rumput-rumput ilalang basah yang berdebu.



"Bilang saja, jika kau cemburu melihat dia bersama Tuan Hiiro 'kan?" terka Serasawa, menyunggingkan senyum kemenangannya.



"Diam kau!" elak Venus.



Ketiganya langsung terkejut ketika melihat burung-burung gagak terbang sambil menggaok. Yurai melihat aura lain menyelimuti hutan tersebut, diiringi dengan sedikit goncangan dan tanah retak. Tiba-tiba saja, sebuah sulur muncul di dekat Venus—hendak melilitnya. Namun dengan cepat, Yurai membawa wanita itu ke atas pohon. Venus terlihat syok. Jika tak segera terselamatkan, pasti sudah tercekik sulur aneh tersebut.



"Benda aneh apa itu?" tanya Serasawa.



"Sulur para peri hutan," sahut Yurai datar.



"Bu-bukankah mereka menghilang dari hutan?" Venus mencoba mencerna  situasinya.



"Seharusnya. Tapi aura yang kulihat tadi jelas menunjukkan keberadaan sang penjaga segel," sahutnya lagi.



Tak berapa lama, terdengar tawa yang menggema. Ketiganya menoleh ke dahan lain. Sosok pria bersurai merah tua duduk santai di salah satu dahan, sayapnya terlipat ke belakang punggung lalu menghilang. Ada seringaian yang pria itu tunjukan pada ketiganya.



"Sepertinya, aku kedatangan tamu istimewa," katanya.



"Van!" ujar Yurai.



"Oh, kau mengenaliku, Tuan Iblis?"



"Kau belum setua itu untuk bisa melupakanku," sahut Yurai masih bernada datar.



Van baru saja keluar dari dunia aneh yang diciptakan malaikat buangan—berkat saran Asuka. Ia begitu senang. Karena terlalu bergembira, keberadaan ketiganya saja hampir tak terbaca oleh auranya. Saat ini, Van tengah mencerna ucapan Yurai. Lebih tepatnya mengingat-ngingat sesuatu. Sudah cukup lama ia terkurung dan tak memikirkan dunia fana. Hingga akhirnya dia mulai ber'oh ria.



"Yurai! Tangan kanan Panglima Rein Kuromi. Maaf, aku hanya sedikit linglung. Bagaimanapun juga, berkat bantuan Asuka... Aku bisa keluar," tutur Van. Dia segera menjentikkan jarinya hingga membuat sulur-sulur di tanah menghilang, "aku juga minta maaf atas penyambutan yang tak pantas tadi. Hampir saja, wanita vampir itu mati terlilit," kali ini ia terkekeh saat melihat ekspresi Venus yang cemberut.



"Namaku Venus! Ingat itu dengan baik!" wanita itu meralatnya.



"Ah, iya...iya. Dasar vampir kota," gumam Van. Ia mengatakannya karena bau perkotaan melekat pada Venus.



"Apa benar, di sini lokasi batu segel?" tanya Serasawa langsung ke inti.



"Tepat di bawah kalian berpijak tadi. Itulah batu segel."



"Kami tak melihat apapun selain berputar-putar di tempat ini!" Venus menimpali.

__ADS_1



"Benarkah?" Van terkekeh lagi dan segera turun. Tanah di depannya bergetar. Tak berapa lama kemudian, sesuatu muncul dari dalam tanah, membentuk sebuah batu bundar dan enam pilar yang mengelilinginya. Ada banyak pahatan dan tulisan kuno di setiap pilar, serta lambang bulan–matahari pada permukaan batu segel.



Ketiganya turun dari atas pohon dan mengamati batu segel. Cukup besar dan agak kotor. Van memastikan jika batunya masih aman dan tidak rusak. Namun ia mendapati keganjilan ketika melihat sesuatu terlukis di permukaannya.



"Ba-batu segel. Inikah batunya? Jadi rumor itu benar. Batu ini benar-benar ada," Serasawa tampak terpesona.



"Luar biasa," puji Venus.



"Ya, batu ini memang ada. Selama ratusan tahun aku menjaganya. Bahkan membuat siapapun yang memasuki hutan tergelap ini tidak akan bisa keluar. Tapi batu ini terlihat aneh di mataku," jelas Van. Dia masih memperhatikan keseluruhan batu segel. Ada yang salah dengan ukiran pada salah satu pilar.



"Apa yang aneh?" tanya Venus.



"Entahlah. Sepertinya, ada ukiran yang dibuat oleh malaikat kematian itu sebelum dia mengurungku! Sialan! Berani-beraninya dia menyentuh batuku!"



Dugaan Yurai selama ini benar. Van dan para peri hutan menghilang saat malaikat buangan itu turun ke dunia fana. Malaikat tersebut juga membunuh para half-blood iblis yang merupakan pengantin berdarah murni. Alasannya masih belum jelas, tapi mungkin saja...batu segel adalah satu-satunya cara untuk menjawab semua pertanyaan yang ada.



Sebenarnya Yurai ingin mengutarakan pendapat. Tapi dia terlihat terkejut— wajahnya memucat, hingga jatuh terlutut seraya menyentuh dada kirinya. Venus dan Serasawa langsung menanyakan perihal kondisinya, tak terkecuali Van. Dia sendiri merasa sesuatu tengah menghilang namun tergantikan dengan energi yang lebih besar. Angin kencang langsung berembus—mengantarkan hawa dingin dan kepingan salju.



"Ada apa ini?" tanya Venus. Ia merasa jika salju sedang turun.



"Hawa dingin dan energi kegelapan ini berasal dari Dunia Paralel. Ada energi tergelap dari yang gelap sekalipun. Hanya half-blood berdarah murni yang memilikinya...," Van menjelaskan seraya membuat barrier di sekitar batu segel, "ini bahaya!"



Sementara Yurai masih berusaha menetralkan rasa sakit di jantungnya. Dia terlihat diam dan mencoba untuk mencerna apa yang kini menimpa Asuka, "Nona Muda," gumamnya.




"Aku harus ke Dunia Paralel!" Yurai mencoba untuk berdiri tegak.



"Kau terhubung dengan Asuka? Bukankah itu berisiko? Jika gadis itu mati, kau juga akan merasakan sakitnya. Bahkan rasa sakitnya dua kali lipat!" kata Van.



"Apa maksud pembicaraanmu, Van?" tanya Venus.



"Asuka mungkin terluka parah atau—"



"Dia mati!" tukas Yurai langsung diselimuti amarah, "malaikat kematian itu membunuh anak tuanku!!"



Serasawa dan Venus tercengang, tapi Van tampak biasa-biasa saja. Ia sudah tahu jika malaikat itu sudah membunuh banyak anak half-blood berdarah murni yang berpotensi menghalangi jalan rencananya.



"Ta-tapi, tapi bagaimana bisa? Siapa malaikat itu?" tanya Venus pelan.



"Argaes!" sahut Van seraya tersenyum miring, "jangan khawatir Yurai. Asuka memiliki raga yang fana dan jantung abadi."



"Aku tidak mengerti," kata Serasawa.



Iblis itu terkekeh dan langsung bertengger di salah satu cabang pohon, "Meski dia dibunuh, tapi dia tak akan mati. Malaikat kematian memiliki wewenang untuk mencabut nyawa manusia, tak terkecuali keturunan apapun. Asalkan mereka fana. Tapi Argaes lupa satu hal... Sejak Asuka lahir ke dunia sebagai anak Panglima Rein, dia telah dilindungi oleh Raja Lucifer. Itu artinya, dia bisa memiliki umur yang setara dengan raja kita..."


__ADS_1


Yurai terkejut mendengar penuturan itu. Ia tidak percaya. Tapi mengingat bahwa Van adalah utusan khusus dari neraka untuk menjaga gerbang tiga dunia, maka ia harus memercayainya. Perlahan-lahan, tanah yang mereka pijak diselimuti bunga es, lalu menyebar ke pepohonan dan membekukannya. Venus dan Serasawa mulai merasa kedinginan, tubuh mereka pasti akan membeku dalam hitungan jam saja.



Van menghela napas dan mengeluarkan sesuatu dari dalam saku pakaiannya—dua buah berukuran kecil berwarna merah. Ia melemparkannya pada kedua vampir itu, "Makan buah itu. Tubuh kalian akan hangat dan terlindungi selama dua puluh empat jam."







***








"Minggirlah, Barack! Aku tak akan membiarkanmu membawa Asuka!!" Shinwa berdiri di depan Hiirosen yang membopong Asuka. Dia memasang posisi siap menyerang, jika seandainya raja negeri api  yang menunggangi elang api itu menyerang.



Keduanya berencana untuk membawa Asuka ke negeri es dan meminta bantuan Tetua Gunung Berapi. Belum sempat melewati istana negeri api, mereka dihadang oleh Barack. Iblis itu terlihat kebingungan melihat Shinwa melakukan tindakan siaga bertarungnya. Kedatangan Barack sebenarnya bukan untuk menculik apalagi merebut Asuka. Ia hanya ingin membantu mereka dengan memberikan tempat yang lebih hangat.



"Kau bertingkah, seolah-olah aku ini jahat," kata Barack heran. Ia turun dari elang apinya.



"Kau memang penjahat sialan! Gara-gara dirimu dan Argaes, mate-ku harus tewas!" Hiirosen menggeram, tubuhnya sudah terlihat seperti mayat yang dibekukan.



"Apa? Argaes? Malaikat itu? Terakhir kali yang kuingat hanya satu... Dia meracuni pikiranku. Setelahnya aku tidak ingat apapun...," Barack terlihat mengingat-ngingat apa yang telah ia lakukan selama ini, "yang jelas aku tidak sejahat yang kaukira. Aku temannya Panglima Rein. Siapapun yang memasuki negeri api maka patut disambut dengan baik. Mari ikutlah denganku, ayah dari gadis itu sudah menunggu dengan raut khawatir," ia menjelaskannya serinci mungkin, meyakinkan keduanya. Yang dikatakan Tuan Rein benar, mereka tak akan percaya begitu saja.



Hiirosen dan Shinwa saling bertatap sejenak lalu balik badan. Keduanya tampak berdiskusi, merencanakan sesuatu atau sebagainya. Untuk beberapa saat, Shinwa menoleh ke belakang lalu berbisik-bisik lagi dengan Hiirosen.



"Kurasa dia tidak lagi dalam pengaruh Argaes," Shinwa menyimpulkan.



"Bagaimana kau bisa seyakin itu?"



"Dia tidak terlihat sedang merencakan sesuatu atau sebagainya. Ekspresinya benar-benar datar."



"Dia iblis! Dan iblis pandai berbohong!" Hiirosen tak sependapat.



"Aku tahu. Tapi iblis tak pandai memasang tampang kebohongan."



Setelah berdebat cukup panjang, keduanya kembali berbalik dan mengangguk kecil. Shinwa segera berubah menjadi serigala hitam, lalu Hiirosen menungganginya seraya memegang Asuka dengan erat. Ketiganya mendengar suara Argaes yang meneriakkan nama Asuka. Malaikat buangan itu masih jauh di belakang mereka.



Kali ini, Barack terlihat menahan amarahnya, "Pergilah ke istana. Aku akan menghadang malaikat sialan itu! Dia telah membunuh mate-ku!"



"Tapi—"



"Cepatlah. Asuka masih memiliki kesempatan untuk hidup. Tetua Gunung Berapi akan menyembuhkan lukanya. Aku akan segera kembali setelah memberinya pelajaran!" Barack menukas ucapan Hiirosen. Dia segera menaiki elang apinya dan terbang ke sisi lain.



Hiirosen segera mengintruksikan serigala perwujudan Shinwa untuk berlari. Badai salju langsung menampar tubuh mereka. Jarak istana masih lumayan jauh, sebisa mungkin serigala itu berlari lebih cepat. Sedangkan Hiirosen setia memeluk Asuka yang sudah pucat pasi. Luka di dada gadis itu masih terlihat jelas, darahnya yang menempel pada baju menguarkan bau manis. Membuat Hiirosen benar-benar tak tahan lagi melihat mate-nya harus merenggang nyawa.

__ADS_1



__ADS_2