
SEPERTI BIASA, meja makan keluarga Kuromi memang selalu mewah. Sayori, Hideki dan Aluto bahkan terpaku dengan semua makanan yang tersedia. Pertama kali, ketiganya duduk—makan bersama dengan para makhluk bangsawan Immortal. Asuka duduk dekat Sayori, memegang sumpitnya lalu berdo'a—menggamit kedua tangan di depan dada sambil terpejam.
Melihat apa yang dilakukannya, Sayori, Hideki dan Aluto juga melakukan hal serupa. Berdo'a sebelum makan, seharusnya wajib bagi mereka yang memiliki Tuhan. Tuan Rein tidak langsung makan, membuat Barack, Van dan juga Hiirosen menunggu si tuan rumah melakukan suapan pertama. Pria itu memang tengah menunggu Asuka selesai berdo'a.
Setelah menyelesaikan do'anya, Asuka mengambil beberapa lauk pauk—meletakkannya di atas piring kosong lain, "Makanlah yang banyak," ucap Asuka pada Sayori. Ia sedikit mengangkat semangkuk nasinya ke depan, "itadakimasu," imbuhnya dengan suara lantang. Lalu makan dengan lahap.
"Oh, ng... Se-selamat menikmati juga," gumam Sayori menimpali.
Semuanya langsung menyantap makanan. Obrolan ringan selalu terjadi, namun cukup serius. Saat Asuka dikendalikan oleh iblisnya, dia memang tidak sadar—tak merasakan apapun. Namun ketika Hiirosen berbisik, ia mulai mengenalinya. Asuka sudah memperkirakan jika kata-kata tak senonoh itu mampu membuatnya tersadar.
Latihan pertama hari ini sudah cukup baik. Van harus kembali ke Hutan Aokigahara, sedangkan Barack memiliki urusan dengan Tetua Gunung Berapi—membahas Dunia Paralel. Setelah makan siang, suasana meja makan kembali sepi. Asuka melenggang ke kamarnya, hanya sebentar.
Sementara di ruang utama, Sayori tampak bingung. Dia ingin meminta pulpennya kembali. Aluto dan Hideki sudah menyuruhnya untuk menyusul Asuka, memintanya baik-baik. Tapi terkadang, rasa gengsi dari gadis bersurai sebahu itu sepertinya terlalu tinggi. Ia hanya mondar-mandir dekat tangga, sambil menggigit kuku-kuku jari telunjuk kanan.
"Cepatlah, Sayori. Minta saja padanya. Kita harus pergi!" Aluto mendesak.
"Katanya kita ingin membuat dia menjadi teman kita! Lalu bagaimana dengan rencana yang sudah kita susun untuk mengambil pulpenku kembali?!" Sayori memelankan suaranya. Bisa-bisa, suaranya menggema di rumah mewah tersebut.
"Jangan gila! Setelah kita memperkenalkan diri pada mereka, kini kau ingin jadi penyusup seperti malam itu? Aku tak mau digantung butler-nya gad—" ucapannya terpotong setelah Sayori membekapnya.
"Pe-lan-kan...sua-ra-mu! Bodoh!" desis Sayori, memberinya sedikit pelototan. Tampaknya Hideki ingin menengahi, namun ia hanya memilih menghela napas kasar dan melipat kedua tangan di dada.
Ketiganya mendengar suara klakson mobil. Mereka mengintipnya dari salah satu jendela dekat pintu utama. Sedan hitam terlihat parkir di halaman. Tiga orang pria keluar sambil bercakap-cakap ringan. Sayori, Hideki maupun Aluto dilanda kepanikan. Sosok Azuki yang datang bersama dengan Argaes dan Serasawa pun tengah menuju rumah.
"Ba-bagaimana ini? Kita tak boleh ketahuan oleh Ketua Azuki," kata Aluto.
"Bagaimana jika Tuan Kuromi, Hiirosen atau Yurai menceritakan kedatangan kita pada mereka? Aku yakin, Ketua Azuki pasti akan segera menangkap kita," timpal Sayori, "Hideki, kau punya ide?"
"Sialnya, aku tidak punya rencana untuk ini. Terlebih lagi, Ketua Azuki bisa mengetahui keberadaan half-blood sepertiku. Dia itu cerdik!" sahut Hideki.
"Sembunyilah di kamar Nona Muda."
Ketiganya menoleh ke belakang. Yurai berdiri tegap—menampilkan ekspresi datarnya, "Energi kalian tidak akan terlacak di sana," katanya lagi.
"Bagaimana kau tahu?" tanya Hideki.
"Kamar Nona Muda kudesain khusus menggunakan barrier pelindung. Sebagai half-blood terkuat, dia sangat rawan diserang. Karena itu, Darkur hanya bisa melihatnya dari kejauhan saja. Percayalah padaku," kali ini Yurai menunjukkan senyum simpulnya.
"Percaya pada iblis? Yang benar saja!" gumam Aluto.
Hideki segera berlari kecil menaiki anak tangga, disusul keduanya dengan tergesa-gesa. Yurai mengisap aura ketiganya yang menguar hampir ke semua sudut ruang utama. Sensasinya cukup nyaman, dingin dan tenang. Itulah yang Yurai rasakan setelahnya. Tak berapa lama, pintu berdaun dua terbuka. Azuki, Argaes serta Serasawa masuk—menyapa butler itu.
__ADS_1
Azuki menghirup udara dalam-dalam, lalu mengembuskannya perlahan. Kediaman keluarga Kuromi terasa bersih dari aura apapun. Yurai berdalih—mengaku jika ia baru saja membersihkan energi gelap Asuka akibat latihannya.
"Mana Shinwa?" tanyanya.
"Dia kembali ke hutan. Ada pertemuan antar pack yang harus dihadirinya," sahut Serasawa.
"Jadi, kalian mendapat informasi sesuatu yang menarik?" tanya Yurai sedikit menyeringai.
"Tentu saja. Jumlah korban bertambah satu. Dan kita harus waspada terhadap Fujihika Maria," kali ini Azuki menyahut dengan penuh semangat. Yakin, jika wanita itu memang ada hubungannya dengan para Darkur. Untuk yang ke sekian kali juga, Argaes tak sependapat.
***
ASUKA MASIH terdiam di dekat jendela, melihat ketiga mantan organisasi Exorcist itu masuk ke kamarnya. Aluto menutup pintu seperti perampok yang hampir ketahuan. Terjadi saling tatap sejenak, sebelum akhirnya Hideki menghela napas—menjelaskan semuanya secara terperinci.
Sang pemilik kamar mengizinkan mereka untuk duduk di sofa. Untuk pertama kalinya, Asuka memiliki tamu yang tak sengaja datang. Dia menghampiri meja belajar, membuka salah satu laci. Sedangkan, Sayori terlihat memperhatikan seisi kamar, cat dinding bertema padang kusa, domba, langit berawan serta beberapa boneka hewan mengembik itu juga memenuhi tempat tidur.
"Yurai yang selalu membacakannya untukku, sebelum tidur," sahut Asuka, "aku tak bisa tidur nyenyak jika tidak mendengar dongeng. Kekanak-kanakkan bukan?"
"Lalu ibumu? Biasanya kalau tidak ibu, seorang ayah yang melakukannya," Sayori terlihat penasaran.
Asuka menghela napas panjang dan duduk di seberang Sayori, "Ibu meninggal saat aku lahir. Sejak saat itu, Ayah selalu merasa kesepian karena mate-nya meninggal. Kadang Ayah menganggapku seperti orang asing. Dia selalu merasa bahwa kematian ibu adalah kesalahanku." sahut Asuka mulai bernostalgia.
"Pantas saja, jika kau lebih akrab dengan butler-mu...," timpal Hideki santai. Setidaknya, ia masih memiliki keluarga yang lengkap—tanpa banyak masalah internal.
"A-aku, aku tidak bermaksud membuatmu sedih. Maafkan aku. Kupikir kau masih punya ibu," Sayori terlihat gugup.
"Tak apa. Lagi pula, itu sudah cukup lama. Sejak seorang malaikat kematian yang meracuni pikiran Barack menginginkanku mati, Ayah pun mengunjungi kamarku untuk pertama kali. Ceritanya panjang. Berawal dari berniat kabur dari rumah dan tidak ingin kembali. Bahkan aku sendiri hampir mau menjadi half-blood sempurna lalu tinggal bersama Barack di Dunia Paralel. Tapi Ayah datang dan menyelamatkanku. Sejak saat itu, hubungan kami membaik hingga sekarang," Asuka menceritakannya panjang lebar.
"Bagaimana perasaanmu sekarang?" tanya Hideki. Dilihatnya, Aluto tengah asyik membaca buku dekat rak setinggi dua meteran.
"Maksudmu?" gadis itu mengerutkan kening.
"Setelah menceritakan semua yang membebani pikiranmu pada kami, bukankah terasa lebih lega?" kali ini Aluto angkat bicara saat Hideki hendak membuka suara. Ia memilih menyimpan bukunya kembali.
Asuka terdiam sejenak. Tanpa sadar, mulutnya mengatakan banyak hal yang tak perlu orang lain tahu. Ia tak menyahutnya lagi dan meletakkan sesuatu di meja, dekat Sayori. Sebuah pulpen yang mungkin gadis itu cari selama ini.
__ADS_1
"Pulpenku!! Aku memang ingin meminta ini darimu," Sayori segera mengambilnya, mencium pulpen itu berulang kali.
"Tidak, Asuka! Dia bohong. Sejak awal, dia mengajak kami untuk menyusup dan mengambil pulpen itu diam-diam," ungkap Aluto. Laki-laki itu langsung terjengkang setelah sebelah sepatu Sayori, mencium wajahnya. Tentu saja, Asuka merasa kasihan melihat kondisinya sekarang.
Ekspresi wajah Sayori tampak menahan malu, kesal bercampur marah, "Dasar tidak tahu situasi! Diam!" desisnya.
"Sepertinya pulpen itu sangat berharga bagimu," kata Asuka.
"Tentu saja. Aku harus menjaganya baik-baik. Kali ini, aku tidak akan sembarangan lagi menyimpannya...," timpal Sayori sedikit terkekeh, "ngomong-ngomong, kau kuliah di mana?" tanyanya.
Hideki mendesah kasar lalu menepuk jidatnya. Untuk yang ke sekian kali, Aluto juga memperingatinya untuk tidak menanyakan kehidupan pribadi orang lain. Asuka berbeda dari mereka. Keturunan bangsawan iblis, jangankan kuliah, sekolah umum saja tak pernah.
"Tolong maafkan aku... Entah kenapa aku selalu ingin tahu," kali ini, Sayori sedikit merutuki diri sendiri.
"Tidak apa-apa, kok. Rasanya memang agak aneh saat ada orang lain yang menanyakannya. Dengan tetangga saja, aku tidak pernah berkenalan sedikit pun. Ayah melarangku untuk berinteraksi dengan manusia biasa...," jelas Asuka mulai merasa heran.
"Kenapa memangnya?" tanya Hideki.
"Hmm, entahlah. Ayah pernah mengatakan, jika manusia biasa selalu berdo'a, mengunjungi kuil lalu menyembah Tuhan. Tangan mereka terlalu berbahaya jika bersentuhan dengan iblis. Dia tidak ingin, aku jatuh sakit," sahutnya.
"Kita sama. Ayahku juga bilang begitu," Hideki mengiyakan.
"Ada satu hal yang ingin kami katakan selain meminta pulpen Sayori," Aluto mengganti topik pembicaraan. Dia menghampiri jendela yang tirainya setengah terbuka—mengamati pemandangan halaman depan.
Asuka mengerutkan kening. Ketiganya terdiam sejenak lalu Aluto dan Hideki menatap Sayori. Gadis itu menunjuk dirinya sendiri. Kenapa harus ia yang mengatakannya?
"Kenapa kalian tiba-tiba diam? Memangnya apa yang ingin kalian katakan?" tanya Asuka.
"Begini... Apa kau mau...menjadi...teman...kami?" Sayori sedikit ragu akan tanggapan Asuka ke depannya.
"Teman? Apa alasan kalian mau berteman dengan anak half-blood sepertiku? Kehidupan kalian tidak akan normal jika berkawan denganku."
"Jika aku dan Aluto bisa berteman dengan Hideki, kenapa tidak denganmu juga?"
Benar juga, pikir Asuka. Ia tak langsung menjawabnya namun mengangguk kecil seraya menyunggingkan senyum. Pembicaraan mereka tentang pertemanan harus terpotong oleh ucapan heboh Aluto. Dia menyuruh ketiganya untuk melihat sesuatu. Di dalam lebatnya dedaunan sebuah pohon, mereka mendapati sebuah bayangan hitam—sepasang mata merah—lalu tawa mengerikan menggema.
Jantung Asuka terasa berdegup tak karuan. Ia tiba-tiba merasakan bahaya sedang mendekat. Bayangan misterius itu sama seperti yang dilihatnya malam itu. Tawa mengerikan terdengar menyayat hati. Sebisa mungkin, dia mencoba untuk tenang meski keringat dingin mulai keluar. Sayori, Hideki dan Aluto segera menjauh dari jendela. Sosok Azuki tertangkap dalam pandangan Asuka—tengah melangkah menuju mobil.
Azuki berhenti sejenak dan menoleh ke arah keberadaan kamar Asuka. Dia tersenyum. Gadis itu membalas senyumannya sambil melambaikan tangan. Tak berapa lama, pria berkacamata tersebut memasuki mobil, meninggalkan kawasan kediaman Kuromi. Bayangan hitam tadi masih ada, menatapnya penuh nafsu membunuh. Kemudian menghilang, menyisakan geraman dan kepulan asap tipis.
__ADS_1