Pengantin Berdarah Murni

Pengantin Berdarah Murni
Dunia Di Balik Dunia


__ADS_3

"BUKANKAH TIDAK BAIK jika berhujan-hujanan seperti ini, Nona Asuka?"



Suara bariton itu membuat Asuka menengadah. Tak ada air hujan yang membasahi tubuhnya lagi, sebuah payung hitam sudah melindunginya. Dan sosok jangkung bersurai perak di depannya meyakinkan Asuka akan keberadaan salah seorang vampir.



Pria itu mirip maneken tapi lebih condong seperti mayat hidup. Katanya mereka benci bawang putih atau bawang bombay, atau sesuatu yang berlapis perak murni.



Tapi melihat sosok jangkung tersebut memiliki rambut perak saja, sudah menjelaskan bahwa tidak semua vampir benci barang-barang perak—atau belati seperti dalam cerita.



"Kau mengenaliku, Tuan?" tanya balik Asuka datar.



"Tentu saja. Namaku Sakamaki Hiirosen. Aku kenal dengan gadis yang membakar gaun kesayangan Venus."



"Ah, rupanya semua orang sudah tahu tentang itu," gumamnya muram.



"Tidak juga," pria itu tersenyum misterius, matanya sedikit aneh dari vampir lainnya.



"Apa kamu ada kepentingan denganku?" tanya Asuka masih menengadah.



Hiirosen berpikir sejenak, "Tidak terlalu penting... Maukah kau makan malam di rumahku?"



Itu adalah ajakan yang buruk dan penuh misteri. Seorang bangsawan vampir mengajaknya makan malam di tempat mereka, tidak. Asuka tak mau pergi. Lebih baik ia pulang dan menghangatkan diri di kasurnya. Tapi ajakan Hiirosen cukup menarik ketika Asuka teringat dengan ayahnya. Kembali ke rumah hanya akan menimbulkan luka baru.



"Tapi, ini mendadak sekali. Apa kau benar-benar seorang vampir?" Asuka mulai curiga.



"Kau pasti membaca surat dari SH."



"SH? Ah, surat aneh itu. Apa itu darimu?"



"Ya, tentu saja. Ceritanya panjang. Nanti kujelaskan saat kita makan malam...," pria itu tersenyum misterius lagi.



Baiklah. Asuka memutuskan untuk ikut. Namun bau Yurai sempat tercium olehnya. Mungkin saja iblis itu mengikutinya seperti biasa, lalu menghadang dengan tatapan tajam—seperti sekarang. Langkah keduanya terhenti saat Yurai berdiri di depan mereka, dan tatapannya tak bersahabat.



"Nona Muda. Ini sudah terlalu malam. Pulanglah," kata Yurai.



"Tidak. Aku akan pergi dengan Hiirosen," tolak Asuka lembut.



"Percayalah, dia tak akan membawamu ke rumahnya."



"Apa maksudmu?" Asuka mengerutkan keningnya lalu menatap Hiirosen. Pria itu terdiam, iris matanya berubah hitam lalu mencengkeram lengannya begitu kuat. Gadis itu meringis, kepulan asap muncul di lengannya dan rasa panas mulai menjalar ke seluruh tubuh.



"Cih! Dasar pengganggu!!" suara pria itu mirip geraman.


__ADS_1


Yurai sudah terpental dan menghantam mobil yang terparkir setelah energi besar mendorongnya. Sedangkan Asuka menjerit saat wajah tampan pria itu berubah menjadi wujud mengerikan. Ia mencoba melepaskan diri tapi gagal. Berulang kali Asuka menjerit memanggil nama butler-nya agar segera menolong.



Terlambat! Semuanya terasa ringan, angin malam menusuk tulang dan juga bau pohon tercium alami. Pria yang mengaku sebagai Hiirosen berlari kencang menaiki bukit, memanggul Asuka entah sejak kapan. Dan hutan gelap tiba-tiba saja terlihat dalam sekejap mata saat sosok Yurai tak lagi tampak di mata gadis itu.



Kini bau pria itu seperti iblis, namun agak gelap untuk seukuran aura iblis. Geraman dan juga ringkikan terdengar sayup-sayup, keluar dari balik pohon kurus. Entah bagaimana ceritanya, tapi kepala Hellhorse itu menyembul dari balik pohon, disusul badan dan ekornya. Seolah-olah ada gerbang lain di balik pohon bukit itu.



Si pria menurunkan Asuka di dekatnya, lalu tersenyum mengerikan. Perlahan wujudnya berubah menjadi iblis berkepala kuda, atau setidaknya pria dewasa berkepala kuda. Asuka mundur dan tak punya banyak kata, kegelapan menjadi saksi bisu keberadaan ketiganya. Cahaya dari si Hellhorse membuat sekitarnya terlihat samar-samar, hangat namun juga dingin. Gadis itu merasakan lengannya melepuh—tidak! Tapi kulitnya terlihat seperti permukaan lava pijar yang mengeluarkan asap dan hawa panas.



"Si-siapa kau?" tanya Asuka.



"Aku Argaes. Iblis penguasa Hellhorse di neraka," sahut si pria dengan geraman yang khas, namun sedikit meringkik.



"Apa kau yang menculikku tadi siang?"



"Ya, tapi gagal karena iblis itu memenggal kudaku."



Semuanya menjadi masuk akal sekarang. Asuka mulai memikirkan kejadian tadi siang. Wajah iblis itu terlihat aneh di mata Asuka. Ia tak pernah melihat sesuatu yang seperti itu. Yurai juga belum pernah menampakkan wujud aslinya. Entah kenapa ia merasa jika Argaes tidak akan menyakitinya, meski terlihat mengerikan dan buruk rupa, tapi gelagatnya biasa-biasa saja.



Hal-hal tak terduga bisa saja terjadi sekarang, terlebih lagi jika iblis memasuki dunia fana dalam wujud kasat mata. Atau monster yang keluar dari dalam danau, itu mungkin.



Asuka melihat sekitar, berharap Yurai datang dan menyelamatkannya seperti tadi. Namun tak ada sesuatu yang terjadi selain dengkingan anjing hutan di kejauhan. Argaes tampak mendengus dan menaikkan Asuka ke atas kuda. Hellhorse itu tidak membakar tubuhnya, mirip seperti menunggangi kuda biasa. Suara dengkingan di kejauhan berubah menjadi bunyi lolong yang bersahutan.



Tampaknya Argaes sedikit panik dan menatap sekitar tanpa jeda, tak ada satu pun benda yang tertinggal. Asuka terus berharap seseorang datang, menyelamatkannya. Ia akan meminta maaf pada Yurai karena selalu bertindak ceroboh. Namun rasa penasarannya dengan seseorang bernama Hiirosen masih ada, pasti bukan hanya tipuan semata. Yurai pernah mengatakan jika iblis mampu menyamar menjadi sosok siapapun yang dilihatnya, termasuk aura. Tapi iblis tidak akan bisa menyamar menjadi sosok lain sesuka hati—hanya akan menampakkan wujud manusianya sendiri.




"Hei, Argaes atau siapapun itu namamu... Apa maumu dan kau mau membawaku kemana?" tanya Asuka berusaha untuk tenang dan tak menunjukkan rasa takutnya. Iblis paling suka dengan ketakutan yang terlihat di wajah makhluk fana.



"Ikut saja jika ingin selamat atau kaum manusia akan kumusnahkan malam ini juga," ancamnya.



"Apa maumu sebenarnya?"



"Dasar wanita, berhentilah banyak bertanya karena aku tak suka banyak menjawab. Kau bukan tuanku! Kau akan mengetahuinya nanti, Putri Iblis!" Argaes menyuruh si Hellhorse untuk berlari kencang menuruni bukit dan menerjang hujan deras, lalu mengikutinya di belakang. Asuka tak tahu harus berpegangan pada bagian tubuh yang mana hingga dipeluk saja leher si kuda. Tapi tak benar-benar memeluknya, hanya sedikit berpegangan agar tidak terjatuh.



"Yurai pasti akan menemukanku," kata Asuka sedikit bernada tinggi agar pria berkepala kuda itu mendengarnya.



Argaes tertawa renyah tapi terdengar mengerikan, "Sayangnya saat ini, kau tidak lagi dalam radarnya."



"Apa yang kaulakukan pada butler-ku?" tanya Asuka khawatir.



"Jangan khawatir. Dia hanya sedikit sakit. Tapi kaum vampir dan werewolf itu telah ikut campur dalam urusanku. Setelah melewati perbatasan ini, mereka tak akan bisa masuk...," sahut Argaes.



"Vampir dan werewolf siapa? Perbatasan apa?"

__ADS_1



Kuda yang membawa Asuka melambat. Di depan mereka saat ini ada banyak tanaman merambat yang menggantung setinggi... —Asuka tak bisa memperkirakannya, mungkin setinggi pohon di sekitar mereka.  Tak ada yang istimewa dengan akar-akar yang banyak dan cukup panjang itu. Ternyata ada gua besar ketika Argaes menceritakan tentang tempat yang dimaksudnya.



Saat Hellhorse itu yang membawa Asuka memasuki gua, suasana benar-benar pengap—sangatlah besar, melebihi tinggi pintu sebuah istana atau gerbang pertahanan daerah peperangan. Asuka pernah memasuki dunia Dimensi Empat dan tempatnya lebih pengap lagi, atau manusia lain bisa mengenalnya dengan dunia Immortal—tempat para Vampire, Werewolf, Mermaid, Merman, Witch, Devil serta segala jenis makhluk lain ada. Termasuk naga. Tapi iblis biasanya lebih suka menempati dunia langit, lebih tepatnya dunia di bawah dunia para malaikat dan Dewa.



Setelah berjalan beberapa menit, terlihat titik cahaya di depan—semakin besar dan terang. Ketika sampai di ujung gua, Asuka melihat padang rumput yang hijau, angin sepoi-sepoi dan...



—matahari ada di atas kepalanya.



Mustahil, pikiran Asuka langsung menyangkal. Dia tahu betul di luar sana langit gelap berawan hitam dan hujan berkilat memarahi sebagian dunia. Namun ketika dia turun dan menginjak rumput, semuanya terasa nyata.



"Selamat datang di Dunia Paralel, Putri Iblis," kata Argaes dengan santainya.



"Seperti inikah Dunia Paralel? Apa memang diawali dengan padang rumput atau jalan masuk dan keluarnya memang ada di padang rumput?"



Argaes tampak nyengir, tapi sebenarnya dia selalu seperti itu. Kuda memang bersikap unik—kadang-kadang, "Mungkin kau membayangkan padang rumput. Dunia Paralel berbeda dengan dunia Dimensi Empat atau dunia Immortal. Anggap saja tempat ini sebagai replika dunia fana."



Manusia sering menyamakan dunia Dimensi Empat dengan Immortal Kingdom, tapi sebenarnya berbeda. Seorang cenayang atau ahli metafisika akan melihat makhluk-makhluk  urband legend, atau hantu-hantu pada zaman Edo. Mereka akan bilang jika makhluk-makhluk itu berasal dari dunia abadi tapi sebenarnya bukan.



Makhluk seperti itu hanya ada di Dimensi Empat—dunia lain yang bersanding dengan dunia fana, dan bisa menyamar jadi apa saja. Bisa hewan atau manusia siluman. Tapi Immortal  Kingdom ditempati oleh kaum tertinggi, aneh dan mustahil. Namun mereka nyata. Tak ada seorang manusia indigo manapun yang mampu menebus alam terkuat itu, karena makhluk abadi bisa kasat mata saat memasuki dunia fana.



Anggap saja jika tempat tersebut adalah kebalikannya dari dunia fana. Satu hari di dunia fana sama dengan satu bulan Immortal Kingdom. Itulah yang Yurai ceritakan ketika bercerita sebelum menidurkan Asuka sewaktu kecil.



Namun saat ini, padang kusa seketika berubah menjadi tempat gelap, tandus dan mengerikan. Ada banyak burung-burung aneh terbang di langit jingga kemerahan, pepohonan kering tanpa sehelai daun, dipenuhi burung gagak pada setiap dahannya. Asuka tidak takut sama sekali. Ia pernah melihat tempat yang lebih mengerikan. Dan itu adalah neraka. Asuka pernah memasukinya sekali, hanya sebentar —karena Raja Iblis langsung mengusirnya. Raja itu bilang jika neraka bukanlah tempat bagi manusia half-blood  yang masih hidup.



Dan jika ada manusia yang hilang dari dunia fana karena dibawa ke alam gaib, maka pasti ada di Dimensi Empat. Makhluk penghuni alam gaib senang sekali mencuri manusia untuk dijadikan pelayan atau sebagainya.



"Sejak kapan ada Dunia Paralel di hutan tadi?" tanya Asuka pelan.



"Sejak seratus tahun yang lalu. Lagi pula, pintu masuknya tidak hanya satu. Penghuni Dunia Paralel bisa keluar–masuk dari mana saja, tapi tidak dengan makhluk yang hanya singgah sebentar. Mereka hanya boleh keluar dari pintu yang seharusnya," tutur Argaes.



"Bisa kau jelaskan sedikit?"



"Heh? Ada dua pintu keluar–masuk utama. Yang satu di negeri api, artinya di sini. Dan satunya lagi di negeri es, di mana tak pernah ada hal lain selain es dan salju," ia menjelaskannya.



Di kejauhan, ada sesuatu yang terbang dengan sepasang sayap besar serta puluhan Hellhound menjejaki tanah tandus. Sekilas, mereka mirip Hellwolf, tapi lebih besar.



"Apa itu? Pasukanmu?" tanya Asuka.



"Kau akan segera tahu, Putri Iblis. Dialah yang akan menentukan segalanya di sini ...."



__ADS_1




__ADS_2