Pengantin Berdarah Murni

Pengantin Berdarah Murni
Sebuah Mimpi Lain


__ADS_3

SEMUANYA SERBA putih... Hangat dan berkilau. Ada terpaan angin lembut membelai tubuh Asuka. Gadis itu berada di padang kusa. Kaki telanjangnya menjejaki kusa lembut. Ada banyak domba tengah makan, lalu mengembik seraya mengibaskan ekor pendeknya. Baru saja melangkah, ia terlempar ke tempat lain.



Kini, suasananya terlihat gelap dan lebih hangat. Asuka duduk pada kursi empuk seraya menghadap meja penuh buku aneh. Langit-langit terbuat dari kayu yang kokoh serta lantai marmer. Ia mendapati dirinya berada di samping Hiirosen. Pria itu tengah membaca sebuah buku usang, bertulisan kuno—entah apa artinya.  Kemudian, dia melihat sekitar. Sebuah ruangan cukup luas, dominan dengan warna gelap serta beberapa lentera terpasang pada sudut dinding.



Hiirosen terlihat berbeda. Wajahnya lebih dewasa. Rahangnya semakin terbentuk sempurna serta rambut yang sedikit panjang. Pria itu tak menyadari kehadirannya meski sudah berulang kali dipanggil. Asuka memastikan jika dirinya mungkin tengah bermimpi lagi.



"Hiirosen? Kau tak melihatku?" tanya Asuka hendak menyentuh pria itu, tapi tangannya hanya menangkap udara—menembus tubuh Hiirosen, "apa aku benar-benar sedang bermimpi?" gumamnya.



Tak lama, pintu ruangan terbuka lebar. Suara riang dari dua anak kembar berusia empat tahunan pun memanggil Hiirosen dengan sebutan 'Ayah'. Asuka semakin penasaran dengan mimpinya tersebut. Siapa ibu dari kedua anak kembar itu? Pikirnya. Tampaknya Hiirosen langsung menyimpan bukunya saat mereka itu menghampiri.



"Ayah, ayo makan... Ibu sudah menyiapkan makan malam," kata anak perempuan yang terlihat lebih mirip dengan seseorang.



"Ayah, ayo makan bersama...," rengek anak laki-lakinya.



Pria itu tersenyum dan mengusap puncak kepala keduanya, "Baiklah. Ayo makan bersama. Ayah juga sudah lapar," ia bangkit dan memegang tangan keduanya, lalu melenggang dari ruangan tersebut.



Asuka mengikuti ketiganya. Ia bahkan bisa menembus pintu. Mereka menuju ruang makan sederhana, lengkap dengan semua fasilitas. Di meja makan sudah terdapat banyak makanan bertema daging dan sayur. Sementara, seorang wanita terlihat tengah mencuci tangan di wastafel, membelakanginya. Hiirosen menghampiri lalu memeluk wanita itu, menghirup wangi rambutnya.



"Aku minta maaf, Sayang. Karena terlalu sibuk mengurus kerajaan, aku tak ada waktu untukmu," bisik Hiirosen.



"Tak apa, asal kau luangkan waktu untuk anak-anak. Mereka selalu menanyakanmu."



"Aku juga harus punya waktu untukmu. Sudah cukup lama aku tidak menyentuhmu," pria itu terkekeh.



"Sudahlah. Ayo makan! Jangan macam-macam di sini atau aku akan membakarmu!" ancam wanita itu.



Hiirosen mendengus dan duduk di salah satu kursi, berhadapan dengan kedua anaknya yang sudah makan lebih dulu. Sedari tadi, Asuka memperhatikan keluarga kecil tersebut sambil terus bertanya-tanya. Ia penasaran dengan wanita yang dipanggil 'sayang' oleh Hiirosen.



"Mereka lucu sekali," gumam Asuka tak henti-hentinya memandangi kedua anak kembar itu. Anak laki-lakinya memiliki surai perak, sama seperti Hiirosen. Sedangkan si anak perempuan bersurai hitam. Keduanya makan dengan lahap hingga wanita yang dipeluk Hiirosen tadi menghampiri sambil meletakkan keranjang kecil berisi buah-buahan segar.



"Makannya pelan-pelan... Nanti tersedak," tegurnya langsung geleng-geleng kepala.



"Biarkan saja. Kau lihat, betapa laparnya mereka," Hiirosen tersenyum. Wanita itu hanya terkekeh dan mengiyakannya dengan cepat.



Asuka menoleh ke arah wanita itu. Ia membulatkan kedua matanya dan langsung berdiri, memandangi si wanita yang kini menyediakan makanan untuk Hiirosen. Tidak mungkin!! Pikirnya terus menyangkal, "Kau adalah aku?? Eh..—maksudku, wanita itu aku??" kagetnya. Seberapa kencangnya dia berteriak, mereka tetap tak mendengarnya.



Sosok wanita itu mungkin memang Asuka. Dirinya yang sudah dewasa dan sedikit berisi. Ia akui itu. Kini, wanita tersebut menikmati makan malam sambil bercanda ria dengan ketiganya.



"Tidak mungkin... Itu aku," gumam Asuka. Di saat ia tengah mencerna segalanya, si wanita melihat ke arahnya. Asuka meoleh ke belakang, tak ada siapapun. Wanita itu benar-benar melihatnya, memberikan senyuman yang teramat manis—tanpa beban.



"Takdir tak akan salah," kata wanita itu pelan, hampir bergumam. Tapi Asuka mendengarnya sangat jelas.



Tubuh Asuka terdorong ke belakang. Semua gambaran itu menghilang, tergantikan dengan kegelapan yang menyelimutinya. Sesak, sakit dan panas mulai ia rasakan. Suara geraman menggema, berubah menjadi tawa mengerikan. Ia melihat sesuatu dari arah depan, kedua mata merah menyala, tangan berkuku tajam dan badan mengerikan.


__ADS_1


"Apa itu?!" Asuka ingin pergi, tapi tubuhnya melayang—jatuh ke bawah, mungkin. Sementara makhluk mengerikan itu semakin mendekat seraya mengulurkan tangannya.



"Asuka... Menyatulah denganku," suara yang mirip menggeram tersebut berasal dari makhluk itu. Deretan gigi runcingnya seperti siap untuk mencabik-cabik tubuh kecil Asuka.



Asuka menggeleng. Tubuhnya sudah dalam genggaman makhluk itu. Ia ingin melepaskan diri tapi tidak mampu. Makhluk tersebut mengeluarkan suara lengkingan, membuka mulutnya lebar-lebar. Perlahan-lahan, wujudnya berubah menjadi asap dan masuk ke dalam tubuh Asuka.



"Tidakkk!!" Asuka berteriak kesakitan. Penglihatannya kabur, hingga akhirnya tak bisa merasakan apapun lagi.









***








HARI SUDAH PAGI. Sinar mentari mulai menampakkan diri. Yurai dan Tuan Rein masih setia menyaksikan pelepasan segel Asuka. Sosok iblis yang keluar dari pola heksagon di atasnya langsung berubah menjadi asap hitam—tengah memasuki tubuh Asuka. Keduanya menyaksikan detik-detik iblis itu masuk seutuhnya.



Sedangkan Barack dan Van sudah hadir beberapa saat yang lalu. Mereka berdiri saling berlawanan arah, bersiap untuk memasangkan kunci iblis di tubuh Asuka. Saat iblis itu masuk sepenuhnya, pola heksagon di atas menghilang. Kedua lilin merah yang menyala langsung padam. Tubuh gadis itu bereaksi. Bayangan iblis mengerikan terlihat dari pola heksagon—tempat Asuka terbaring.




"Tidak!! Jangan! Jangan kurung aku di sini!!" suara Asuka tampak berbeda. Ia menatap nanar pada Tuan Rein yang tengah membacakan mantra, "Ayah!! Tolong hentikan ini...," pintanya.



Asuka berteriak histeris saat tubuhnya mulai berasap. Beberapa saat kemudian, semuanya kembali normal. Gadis itu pingsan. Pola heksagon pun tak lagi bercahaya. Barack dan Van sedikit terengah-engah karena kehabisan energi yang cukup banyak, begitu pula dengan Tuan Rein.



"Benar-benar menyusahkan. Kupikir iblis putrimu tak akan memanggilmu 'Ayah'," ujar Barack.



"Itulah tipu daya iblis...," Van menimpali.



"Sekarang  apa yang akan kita lakukan? Melatih Asuka mengendalikan iblisnya?" tanya Barack.



"Kita akan mulai latihannya setelah Asuka siap," kali ini Tuan Rein angkat bicara, "Yurai, bawa kembali Asuka ke kamarnya."



Yurai mengangguk dan segera membopong gadis itu ke luar ruangan. Beberapa menit lagi, jam weker akan berbunyi. Pria itu membaringkan Asuka pada tempatnya semula lalu memakaikan selimut. Ia menghampiri jendela, membuka gorden hingga cahaya mentari langsung menyapa seisi kamar. Bertepatan dengan itu, jam weker berbunyi nyaring.



Perlahan, kedua mata Asuka terbuka. Samar-samar, sosok Yurai sudah berdiri di dekat meja nakas—melakukan kebiasaannya, membawa segelas susu hangat. Gadis itu memegangi kepalanya yang berdenyut. Mimpinya sangat mengerikan namun juga aneh. Badannya terasa pegal luar biasa, hingga Yurai pun menawarinya untuk mandi air hangat.



"Aku akan menggosok punggung Nona," katanya seraya tersenyum.


__ADS_1


"Baiklah," Asuka duduk di tepian ranjang seraya mengucek kedua matanya. Sebelum ke kamar mandi, ia menghabiskan minumannya. Sedangkan Yurai sudah mengambilkan handuk dan juga piama mandi. Air hangat juga telah disiapkan sehingga ia bisa langsung berendam.



Saat berendam, Yurai langsung menggosok punggungnya seperti biasa Namun bukan itu yang ia lakukan. Dia hanya ingin melihat simbol heksagon yang ada di punggung anak majikannya. Sedari tadi, Asuka terus mengeluhkan sakit pada bagian yang sama—lalu menceritakan tentang mimpi buruknya.



"Itu iblis milik Nona Muda. Semalam, Tuan Rein telah melakukan apa yang Nona inginkan. Jika Nona sudah siap, Tuan Rein akan melatih Nona untuk mengendalikan iblisnya," ungkap Yurai sekenanya.



"Jadi, semalam kau membangunkanku untuk itu? Tapi aku tak ingat apapun selain mimpi saja," Asuka menimpali.



"Maksud Nona, selain mimpi buruk?"



Gadis itu mengangguk, "Aku melihat padang rumput lagi, tapi setelahnya...aku berada di tempat aneh. Ada Hiirosen serta anak kembar, lalu ada diriku yang menjadi ibu dari anak-anak itu. Bukankah tidak masuk akal?!" Asuka ingin sekali menyangkal tentang mimpi yang satu itu.



"Bagiku mungkin sebuah pertanda. Punya anak kembar sangat menyenangkan...," timpal Yurai.



"Yuraaiii....," Asuka mengerucutkan bibirnya, "itu tidak mungkin. Pokoknya itu hanya mimpi. Tak sekadar bunga tidur saja!" keukeuhnya.



"Bagaimana jika mimpi tersebut adalah pertanda? Sama seperti mimpi saat Argaes menginginkan Nona?"



"Hentikan! Jangan menggodaku!"



Pria itu terkekeh dan mengganti topik pembicaraan. Keduanya tampak asyik mengobrol hingga Asuka langsung terdiam ketika merasakan kehadiran makhluk lain. Ia melihat sekelebat bayangan hitam, Yurai juga mengatakan hal yang sama. Tak berapa lama, kedua mata gadis itu melebar saat sosok Hiirosen muncul di depannya. Pria itu berada dalam bathtub seraya tersenyum ketika melihat mate-nya sangat terkejut.



Asuka berteriak seraya menutupi dadanya dengan kedua tangan "Dasar mesummm!!!! Keluar kau dari sini!!!" ia menampar Hiirosen cukup kencang.



"Kenapa kau menamparku? Kau—Yu-yurai?" sialnya, Hiirosen tidak tahu jika butler itu juga ada dalam ruangan yang sama, tengah menggosok punggung majikannya.



Iblis itu tak bicara sepatah kata pun tapi menunjukkan senyum misteriusnya. Hiirosen menelan saliva. Aura Yurai mulai menjadi waspada baginya. Dalam sekejap mata, vampir itu merasa tubuhnya melayang, lalu membentur lantai ruang utama rumah. Dia meringis dan merutuki Yurai.



"Keterlaluan. Apa salahku?? Kau saja bahkan menggosok punggung mate-ku!" tanyanya langsung mendengus kesal. Sementara Yurai sudah berdiri tegak di dekat tangga, menunjukkan senyum misterius. Hiirosen ingin memakinya, tapi keberadaan Tuan Rein membuatnya bungkam. Bukan hanya pria itu saja, tapi sosok Van dan Barack bahkan menatapnya heran.



Hiirosen mulai tidak peduli. Ia terus memaki Yurai yang mulai menaiki anak tangga, "Hoii...tunggu! Kau belum menjawabku!!"



Yurai berhenti dan menoleh, "Nona Muda bilang...kau mesum!" ia terkekeh dan melenggang begitu saja.



"Aku tidak mesum!! Jangan macam-macam pada mate-ku! Hoii... Yurai!?" teriaknya kesal, "kurang ajar!"



Van terkekeh, lalu tertawa lepas. Ia mengejek Hiirosen yang baru saja tertangkap basah. Tawanya terhenti setelah sepatu vampir itu mendarat mulus di wajah tampannya. Dia mendesis, membersihkan debu-debu yang menempel. Itulah akibatnya jika menertawakan seorang pria bernasib sial seperti Hiirosen. Sementara Barack hanya mendeham.



"Kau berani melempar sepatu pada iblis sepertiku?" tanya Van kesal saat Hiirosen meminta sepatunya kembali.



"Karena kau berani menertawakan seorang pangeran vampir sepertiku!" sahut Hiirosen tak kalah kesal.



"Hentikan pertengkaran kalian. Dan jangan mengganggu ketenanganku... lagi pula, ada hal penting yang sedang kita bicarakan... Hiirosen, kau juga harus tahu sesuatu," Tuan Rein melerai. Keduanya pun memilih menenangkan diri, berusaha bersikap layaknya bangsawan. Vampir itu mengerutkan keningnya lalu menatap Barack dan Van bergantian.


__ADS_1




__ADS_2