
ASUKA TERHUYUNG ke belakang. Hideki segera menahan tubuhnya agar tidak terjatuh. Ketiganya memberikan berbagai pertanyaan terkait apa yang telah menimpanya. Namun gadis itu menggeleng kecil, kepalanya pusing, serta energinya seolah-olah terkuras. Suara pintu kamar dibuka membuat ketiganya menoleh. Keberadaan Yurai di ambang pintu juga menimbulkan banyak pertanyaan. Pria itu tampak menunjukkan raut wajah serius—menghampiri jendela.
Aura Darkur terkuat seolah-olah telah menyusup ke dalam kamar anak majikannya. Setelah memastikan jika monster itu telah pergi, Yurai membopong Asuka—membaringkannya di tempat tidur. Suhu badan gadis itu mulai tinggi.
"A-apa yang terjadi dengan Asuka?" tanya Sayori.
"Energinya baru saja dihisap oleh Darkur terkuat," sahut Yurai datar, sambil memakaikan selimut pada tubuh Asuka. Ia kembali menempelkan telapak tangannya ke dahi anak majikannya. Demam, pikirnya.
"Bukankah kau bilang, Darkur tak bisa memasuki kamar Asuka?" Hideki memastikan.
"Seharusnya begitu. Ini aneh ... Energi gelap Darkur memang tak akan bisa menembus barrier-ku," Yurai mulai merasa curiga. Saat latihan pagi tadi, tak ada sedikit pun energi iblis Asuka yang menguar bebas.
"Monster itu memang terlihat di salah satu pohon. Kami semua melihat wujudnya yang mirip asap mengepul. Makhluk itu menggeram dan tertawa mengerikan, setelah itu menghilang begitu saja," tutur Aluto.
Yurai menghela napas panjang, tak tega melihat anak majikannya mulai melenguh kesakitan. Bibirnya memucat, bahkan penglihatan Asuka sedikit kabur. Ketiga mantan Exorcist itu saling berpandangan, bingung harus melakukan apa. Hideki awalnya ingin memberi Asuka sedikit energi, tapi Yurai menolak dengan alasan keselamatan keduanya.
"Ada dua korban mutilasi setiap harinya. Pihak yang berwajib bahkan hampir putus asa dengan penyebab kematian korban. Bekas mutilasi sangat rapi seolah-olah dipotong dengan sesuatu yang sangat tajam. Kini, hampir semua stasiun televisi swasta menyiarkan berita serupa. Sebenarnya, siapa pemilik Darkur terkuat?" jelas Sayori.
"Soal itu ... Azuki, Serasawa, Shinwa dan Hiirosen, kini tengah mencurigai seorang kepala sekolah Karaha. Mereka bilang jika penguasa sekolah itu memiliki energi Darkur yang kuat. Tapi anehnya, Argaes tak merasakan hal itu," ungkap Yurai segera bangkit dan membenarkan sarung tangan putihnya—khas kepala pelayan.
"Sebenarnya, aku juga hampir sering melihat Ketua Azuki melintas di depan gedung apartemen yang kuhuni. Menjelang tengah malam, dia selalu terlihat ...," Hideki juga membeberkan informasinya.
"Ketua Azuki sampai berpatroli hingga tengah malam? Ah, bukankah itu berlebihan?" Aluto mengerutkan keningnya, heran.
"Dia memang seperti itu. Kalian tidak ingat? Dulu dia pernah menugaskan kita untuk mengusir hantu di salah satu rumah tua. Bukankah juga tengah malam?!" Sayori mulai mengingat sepenggalan kisah masa-masa menjadi anggota organisasi Exorcist.
"Benar! Kadang dia menyebalkan!" Aluto menimpali, "bukan hanya dia saja yang sering dilihat Hideki, tapi aku selalu curiga pada seorang wanita yang kadang berhenti di luar pagar apartemen, lalu menatap ke tempat yang kami huni."
"Kalian ... kenal ... siapa wanita itu?" tanya Asuka pelan. Kondisinya sedikit membaik.
__ADS_1
"Sayangnya kami tidak tahu siapa. Tapi dia masih muda, dandanannya kantoran, mirip orang kaya. Wanita itu seolah-olah mengetahui kami sedang bersembunyi. Kalau masalah aura, mungkin seorang indigo. Entahlah, wanita itu menyamarkan auranya dengan bau parfum," ia menuturkannya secara gamblang.
Ketiganya berpamitan. Setelah mereka melenggang dari kamar, Asuka bersandar di kepala ranjang. Yurai tak henti-hentinya memeriksa kondisi gadis itu, demamnya masih belum turun. Keadaan tampaknya menjadi lebih rumit. Seandainya Yurai bisa turun tangan langsung, mungkin permainan monster itu tak akan melebar. Tapi ia harus mematuhi semua perkataan Tuan Rein—mengawasi Asuka merupakan kewajibannya.
Sosok Hiirosen terlihat di ambang pintu. Yurai segera menyuruhnya untuk menjaga Asuka sebentar. Dia punya urusan penting dengan Tuan Rein—masih membahas masalah yang sama. Kini, vampir bersurai perak itu ikut menyandarkan diri di kepala ranjang—merangkul mate-nya.
"Tidak akan kubiarkan monster itu menyakitimu, Asuka," bisik Hiirosen, lalu mencium keningnya. Gadis itu hanya diam saja, masih terlihat lemas, "mau makan penganan?" tawarnya.
Asuka menggeleng. Ia melirik Hiirosen yang tengah memperhatikannya—mungkin khawatir, "Boleh aku bertanya sesuatu?"
"Tanyakan apapun yang ingin kauketahui," sahutnya diiringi senyum simpul.
"Apa kau punya sebuah tempat yang ada ruang pribadi bernuansa klasik? Ruangan itu cukup luas, kuno ... memiliki lentera di setiap sudutnya. Bukan hanya itu, ada sebuah meja penuh buku-buku usang, lantai keramik marmer—serta lilin sebagai penerangannya. Plafonnya juga terbuat dari kayu yang kokoh. Kau mengenali tempat yang kumaksud?" tanyanya setelah menjabarkan cukup panjang.
Hiirosen terdiam, terlihat berpikir. Perkataan mate-nya sama persis seperti yang ada dalam pikirannya, "Kau sedang membicarakan ruang kerjaku?" terkanya.
"Jawab dulu pertanyaanku, Hiiro!"
"Ah, tidak kok. Hanya menebak. Suatu hari nanti, mungkin aku akan punya anak kembar ...," timpal Asuka pelan, lalu terkekeh.
"Apa? Anak kembar? Tunggu dulu. Apa kau bermimpi sesuatu tentang kita?"
"Ti-tidak!! Hanya bicara asal saja," elaknya.
***
"Sebaiknya kau di rumah saja," kata Hiirosen memperingati. Ia melihat Asuka sudah rapi dan hendak pergi ke apartemen milik Hideki. Dia ingin melihatnya langsung tentang wanita misterius dan Azuki—si Exorcist itu.
Namun Asuka tetap bersikeras pergi. Bahkan tak mau diantar. Meski begitu, Hiirosen menyuruh Shinwa untuk mengantarnya—demi keselamatan. Gadis itu tidak mau ada korban yang berjatuhan lagi. Waktu yang dimilikinya juga tidak banyak. Bahkan Van dan Barack telah bekerja sama untuk menyisir hutan tergelap—mengumpulkan beberapa fakta. Mungkin saja ada jejak Darkur atau sesuatu tentang monster tersebut.
__ADS_1
Malam hari cukup dingin. Namun syal bulu beruang yang diberikan Shinwa sangat hangat. Gadis itu menaiki punggung serigala penjelmaannya lalu berlari di atap. Manusia biasa tak bisa mengetahui mereka, keberadaannya sudah tersamarkan. Mereka berhenti di depan sebuah apartemen —lebih tepatnya pada bagian yang gelap.
Asuka segera turun dan masuk. Setelah memastikan dia masuk, Shinwa pun pergi.
Di dalam apartemen, Asuka merasakan aura kegelapan yang cukup kental. Beberapa orang berlalu lalang dan menaiki lift. Ia segera memasukinya—berdiri paling belakang. Sesampainya di lantai yang dituju, Asuka menekan bel salah satu pintu. Tak berapa lama, si pemilik apartemen merespon.
Batang hidung Sayori terlihat. Asuka menyapa kecil hingga membuat gadis itu senang. Setelah dipersilakan masuk, kedua laki-laki itu tengah mengobrol ringan seraya minum bir.
"Sudah datang 'ya? Kau diantar serigala?" tanya Hideki.
"Bagaimana kau tahu?" Asuka curiga.
"Jangan lupa, aku ini pengguna elemen bumi. Aku mencium jejak kaki serigala di tanah apartemen," sahutnya bangga.
"Huh! Kau ini ternyata sama sombongnya dengan butler-ku. Tapi lupakan saja. Bagaimana dengan malam ini? Ada sesuatu yang aneh?" ia mengalihkan pembicaraan lalu duduk di sofa tunggal.
"Hmm, hanya aura beberapa Darkur kecil. Tapi sepertinya cukup berdampak juga untuk hati manusia biasa. Setelah Darkur bangkit, kami jadi jarang keluar malam," Aluto menuturkan, wajahnya sudah memerah akibat efek bir.
"Oh iya, Putri Asuka ... Apa kau tahu banyak tentang batu segel di hutan tergelap Aokigahara?" saat ini Sayori menuangkan segelas bir untuk teman barunya itu.
Dengan senang hati, Asuka menerimanya. Dihirup dari aromanya, bir tersebut memiliki kualitas terbaik dan harga mahal. Mengenali jenis bir dan alkohol lain memang pernah diajarkan Yurai sebagai dasar belajar seorang bangsawan.
"Tidak perlu memanggilku dengan embel-embel putri segala. Cukup panggil namaku saja. Kita kan teman," Asuka langsung mencicipi birnya. Enak, pikirmya.
"Ehmm ... Karena kau anak bangsawan keluarga iblis Kuromi, jadi sudah sewajar—"
"Kau kan manusia dari organisasi Exorcist dan itu bertentangan dengan kami. Kau bukan pengikut bangsa iblis. Jangan sampai memuja bangsa mereka. Aku saja bahkan berharap bisa masuk kuil," Asuka menukas, membuat Sayori agak kasihan padanya, " mengenai pertanyaanmu itu, aku juga belum pernah melihat secara langsung. Tapi seluk beluk batu segel tahu sedikit. Soalnya aku pernah berhubungan dengan masalah itu ketika di Dunia Paralel."
"Bisa beri tahu detailnya?" tanya Hideki.
__ADS_1
"Intinya, batu segel sangat penting untuk menjaga tiga dunia. Darkur keluar dari neraka melalui simbol yang dibuat oleh mantan malaikat kematian. Dan ... Untuk membuat Darkur bisa menjejaki dunia manusia, maka dia menggunakan gadis half-blood sebagai tumbal. Aku juga hampir jadi korban. Saat ini, penjaga batu segel sedang berdiskusi dengan Argaes, Barack dan kemungkinan pemimpin werewolf perbatasan negeri es juga membantu."
Asuka menuturkannya dengan terperinci. Ada banyak nama yang ketiga mantan Exorcist itu belum ketahui. Tapi setidaknya, Hideki paham sedikit. Ia tahu soal werewolf penjaga perbatasan negeri es dunia Paralel. Sedangkan menyangkut Barack, mungkin saja Raja Iblis Dunia Paralel. Ternyata yang dikatakan oleh orangtuanya benar, dunia itu memang ada.