
GELAP... KILAUAN di kejauhan terlihat semakin banyak... Bunyi tetesan air menggema...
... Cahaya terang pun menyilaukan mata Asuka.
Ia ada di sebuah padang kusa dengan puluhan domba. Angin membelai tubuhnya, berbisik untuk melihat sekeliling. Ada beberapa wanita bergaun rumah tengah menata bunga-bunga kuning dan putih ke dalam keranjang kecil. Terlihat juga dua ekor anjing gembala menggongong. Salah satunya berlari ke ke arah Asuka.
Asuka ingin lari, tapi kakinya tak mau bergerak. Hewan itu semakin mendekat, maka ia pun tampak berpikir keras. Anjing gembala tak akan menyerang orang. Mereka hanya menjaga ternak dan menghalau serigala. Asuka memberanikan diri untuk menatap hewan berkaki pendek tersebut.
Si anjing tampak berlari lambat, dan akhirnya berhenti. Tampaknya menatap Asuka dengan kebingungan. Telinga kirinya sedikit dimiringkan. Pada akhirnya, hewan itu kembali ke tempatnya—menggiring para domba yang keluar dari jangkauan mereka.
Beberapa saat kemudian, angin kencang menampar padang kusa. Asuka jatuh terduduk di tanah lembab dan banyak sekali daun kering yang berserakan. Keindahan siang hari tergantikan dengan malam yang mencekam. Sinar bulan berpinar, menyusup diam-diam dari balik pepohonan yang menjulang tinggi. Matanya menangkap sosok hitam melayang.
"Darkur," gumam Asuka mulai ingat. Dia ada hutan tergelap Aokigahara. Tempat di mana si beruang terbakar ketika hendak menerkamnya.
Asuka mencoba mencari jalan untuk keluar. Ini hanya mimpi, pikirnya. Penglihatannya terbatas sekali. Kakinya tak merasa menapak dengan benar. Ia seperti ada dalam tempat pengap dan butuh pasokan oksigen dalam jumlah banyak. Tak jauh darinya, seorang wanita bergaun rumah berlari secepat mungkin. Sesekali terjatuh dan meringis saat lututnya terluka. Asuka tahu betul jika dia adalah salah satu dari wanita yang merangkai bunga di padang kusa tadi.
Seekor Hellhorse mengejar wanita itu, lengkap dengan tawa mengerikan dari seseorang yang menungganginya. Argaes! Pikir Asuka. Ia segera mengejar keduanya. Sampai pada akhirnya, si wanita berhenti setelah tiba di dekat batu aneh. Cukup aneh di mata Asuka.
"Hei, larilah. Apa yang kaulakukan? Argaes bisa membunuhmu!" suara Asuka tak cukup keras. Ia mencoba berkeriau, namun seperti ada yang menarik pita suaranya. Tubuhnya mendadak sulit digerakan. Sementara Argaes sudah berhenti. Lalu turun sambil mengeluarkan sebilah pedang.
"Kau tak akan bisa lari lagi. Tak akan ada yang menyelamatkanmu! Bahkan Raja dan penjaga hutan ini sekalipun!" Argaes kembali tertawa dan menodongkan pedangnya.
"Dasar pengkhianat! Apa yang kaulakukan pada Raja?" tanya wanita itu parau.
"Hanya sedikit embusan kekuasaan."
Wanita itu menggeleng. Keberadaan Asuka seolah-olah tak terlihat oleh mereka. Ada aura half-blood yang cukup kuat dari tubuh si wanita. Kulitnya melepuh—memperlihatkan aliran lava pijar yang mengalir dalam tubuhnya. Asuka merasa jika dia juga memiliki elemen api. Dan Argaes hendak membunuhnya? Apa yang sedang terjadi? Pikir gadis itu berusaha berteriak.
"Heeiii!!!" Asuka berhasil meninggikan suaranya. Si wanita bermahkota bumban itu menoleh, menatapnya iba. Ada maksud tersembunyi di dalam mata indahnya, "kau harus lari!" katanya lagi.
"Aku tidak bisa lari lagi... Kau memiliki raga yang fana dan jantung yang abadi. Kau satu-satunya harapan kami. Jagalah darahmu...," jelas wanita itu parau. Ada mutiara bening yang keluar dari sudut matanya. Di belakang, Argaes sudah siap untuk mengayunkan pedang. Iblis itu tertawa mengerikan, namun tawanya terdengar berbeda bagi Asuka.
Ada yang salah dengan Argaes...
Iblis itu tampak ganjil...
"Apa... Apa maksudmu? Jelaskan padaku!" tanya Asuka. Penglihatannya mulai kabur. Tiba-tiba saja, ada sesuatu yang menarik gadis itu ke suatu tempat. Rasa dingin langsung menyergapnya begitu kuat. Kemudian, semuanya terlihat gelap...
__ADS_1
***
SUARA YURAI menggema... Semakin keras... Dan kehangatan menyentuh kulit wajahnya. Sinar mentari menyapa ketika Asuka membuka mata perlahan, tubuhnya tampak banjir keringat. Sosok Yurai tengah meletakkan segelas susu hangat di atas meja nakas, kemudian tersenyum simpul seperti sapaan mentari di bumantara lepas.
Mimpi... Tadi itu hanya mimpi... Batinnya
Bunyi 'kukuruyuk' dari kejauhan telah menyadarkan Asuka dari dunia khayali.
Mimpi itu seperti nyata. Asuka segera bersandar di kepala ranjang dan memikirkan banyak hal. Wanita yang dikejar-kejar Argaes tadi mungkin pernah terjadi. Kadang mimpi adalah sebuah petunjuk, teka-teki ataupun hanya bunga tidur. Ia tidak takut pada iblis berkepala kuda itu, mungkin sedikit rasa takut menyelip pada pikiran keduanya.
Asuka mengingat perkataan yang diucapkan wanita itu. Kata-katanya terus mengiang di telinga, berulang-ulang. Kemungkinan besar jika wanita dalam mimpinya tersebut memiliki kemiripan dengan Asuka.
"Berpikir keras setelah bangun tidur, tidaklah baik untuk kesehatan," suara Yurai membuyarkan lamunan. Asuka ingin menceritakan mimpinya, seperti saat masih kecil dulu. Tapi kali ini bukan memimpikan padang kusa yang penuh domba saja.
...dan tiga boneka domba di atas tempat tidur.
Kamar Asuka mirip seperti negeri antah berantah... Pikir Tuan Rein, "Tidurmu nyenyak?" tanyanya.
"Lumayan... Tapi, aku mendengar suara ayam jantan berkokok berkali-kali. Jam berapa sekarang?" Asuka mengucek kedua mata lalu mengambil segelas susu hangat yang dihidangkan.
"Jam setengah tujuh pagi, Nona," Yurai menjawab lirih.
Asuka cukup terkejut. Tapi keterkejutannya tersingkirkan oleh mimpi aneh itu. Dia tak mungkin hanya tidur kurang lebih dari dua jam. Semalam ia ingat dengan baik, tidur di sofa dekat perapian dan Hiirosen pergi entah kemana. Ayahnya langsung menuturkan jika dia tidur selama dua puluh enam jam lebih tiga puluh menit.
"Tidak mungkin," Asuka segera meminum susu hangatnya, masih setengah berpikir.
Kemarin, Venus dan ayahnya datang untuk meminta penjelasan tentang insiden semalam. Kedua vampir itu melihatnya saat melintas di jalan dekat hutan Aokigahara. Tak banyak yang Yurai katakan pada mereka.
Asuka tak mau peduli lagi dengan wanita meneken itu. Dia memilih menceritakan apa yang dimimpikannya. Tentang padang kusa, beberapa wanita dan anjing gembala. Sebenarnya Yurai sudah terbiasa mendengarkan semua mimpinya. Tapi Tuan Rein tampak berekspresi bingung. Selama ini dia tak pernah bermimpi. Iblis tidak punya mimpi, pikir pria itu.
Tuan Rein sempat tak menerima cerita Asuka, semuanya tampak dibuat-buat. Manusia fana suka sekali bermimpi, tapi baginya semua itu hanya khayali yang terlalu primitif. Asuka mencoba meyakinkan keduanya. Kali ini Yurai tak menunjukkan tanggapan biasa. Dia seperti sedang mencerna dengan teliti.
__ADS_1
Suasana langsung ening...
Kedua iblis itu hanyut dalam pikiran, memilah informasi yang lama tertimbun di kepala. Pernah ada rumor mengatakan, jika hutan tergelap Aokigahara—tempat para Darkur itu ada sebuah segel misterius. Dijaga oleh seorang iblis api bernama Van. Tapi sampai sekarang, Van sendiri menghilang sejak salah satu malaikat kematian turun ke bumi. Tetua Gunung Berapi mengatakan jika mungkin saja, malaikat kematian itu menguasai hutan Aokigahara—tepat pada saat Darkur mendadak tercipta dan peri hutan menghilang tanpa jejak.
"Kau mungkin baru saja melihat kepingan masa lalu. Aku yakin, para peri hutan dan juga penjaga segel itu menghilang bukan karena tak disengaja. Malaikat buangan itu pasti telah melakukan sesuatu di hutan Aokigahara. Kita harus mendiskusikan ini dengan para werewolf negeri es. Mereka juga pasti tahu tentang ini," Tuan Rein menimpali.
Asuka tidak tahu menahu tentang segel, peri hutan apalagi penjaga. Hutan Aokigahara sudah dikenal masyarakat luas sebagai tempat berenergi negatif. Tuan Rein berspekulasi, jika anaknya mampu menunjukkan jalan ke tempat di mana batu segel itu berada.
Sejak Argaes menjadi tangan kanan Barack, negeri api selalu tandus. Tuan Rein tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi, dan kenapa mereka menginginkan darah Asuka. Tapi, Barack yang ia kenal baik telah dipengaruhi sesuatu. Iblis itu tak pernah menyerangnya. Selama ini mereka tampak berkawan baik. Ada kemungkinan jika Argaes, sebenarnya adalah suruhan malaikat buangan itu.
Asuka mulai menangkap inti dari penjelasan mereka tentang batu segel. Ia menceritakan sisa-sisa mimpinya tentang keberadaan batu aneh itu. Namun, hal pertama yang ia lakukan sekarang hanyalah...mendengarkan perutnya yang keroncongan.
"Tak heran jika ada malaikat yang menjadi iblis. Tapi untuk apa ia membelot? Kupikir mencabut nyawa manusia lebih menyenangkan," ujar Asuka.
"Entahlah. Terkadang aku ingin menjadi malaikat kematian dan bertemu Tuhan," sahut Yurai.
Asuka memutuskan untuk pergi ke hutan itu dan mencari letak batunya berada. Dia harus mencari petunjuk. Bagaimanapun juga, ia harus memastikan sendiri bahwa mimpinya merupakan sebuah petunjuk. Sebelum itu, ia berniat untuk kembali ke negeri api. Pasti dalang dari semua kekacauan ini ada di sana, mengawasi setiap gerakan yang ada.
Tuan Rein melarangnya pergi. Peristiwa seperti kemarin tidak boleh terjadi lagi. Tapi Asuka tetap bersikeras. Ia mengatakan jika keluar dari zona nyaman adalah tindakan awal untuk mencari keamanan. Bahaya itu harus segera dihilangkan agar keamanan bisa terpenuhi. Asuka akan memastikannya hari ini atau besok. Waktu sangat berharga, dan ia tak mau melewatkannya satu menit pun.
"Memastikan apa?" tanya Yurai.
"Memastikan jika malaikat kematian yang dibuang itu ada di sana dan mungkin mencuci otak Barack."
"Kenapa kau begitu yakin?" sebenarnya Tuan Rein sedikit terkesan dengan ide putrinya.
"Malaikat buangan itu pasti ada di negeri api, mengawasi siapapun yang mencurigakan. Seaneh-anehnya dunia fana, tak ada yang lebih aneh dari dunia Paralel. Apapun bisa terjadi di sana, aku akan mengubah pemandangannya sesuai yang kuinginkan."
Tuan Rein menunjukkan senyum simpul, matanya yang lentik semakin memperjelas kharismanya, "Kaubutuh sesuatu untuk senjatamu?"
Tidak banyak yang dibutuhkan Asuka untuk melawan malaikat pembangkang. Mereka mungkin lebih kuat dari iblis dan lebih pintar dalam segala hal. Termasuk memberikan banyak gambaran yang tidak nyata.
Bisa saja malaikat pembangkang juga menghancurkan suatu negeri dan menguasai neraka, seperti Lucifer. Tapi mereka tak akan mampu mengalahkan manusia yang memiliki keyakinan pada Sang Pencipta. Meski Asuka adalah turunan iblis, tapi dia memiliki keyakinan pada yang menciptakannya.
"Aku akan memastikannya hari ini juga... Sepertinya, aku sudah merasa lebih baik," Asuka memutuskan.
__ADS_1