
"AKU TIDAK apa-apa. Jangan khawatir. Kita lanjutkan saja pencariannya," Asuka segera menanggapi pertanyaan Shinwa.
"Kau yakin?" Hiirosen memastikan.
"Ya. Masalahnya bukan pada wanita itu. Percayalah...semua ketakutanku sudah hilang," Asuka meyakinkan mereka.
Argaes hanya terdiam. Masalahnya bukan pada wanita itu...pikirnya, mengulang ucapan Asuka. Ia berpikir keras. Seandainya saja kecerdasannya sewaktu masih menjadi malaikat kematian masih ada—semuanya akan mudah dipahami. Dia ingin sekali menanyakannya langsung saat Azuki kembali mengeluarkan ghost detector-nya. Tapi suara benda jatuh di tempat lain membuat keenamnya saling bertanya-tanya.
"Argaes, ikut aku. Hiirosen dan yang lainnya, kalian berpencar agar pencarian bukti dan jejak Darkur lebih cepat," Asuka tiba-tiba membuat keputusan. Tentu Hiirosen langsung menolak. Pria itu tidak mau berpisah dengannya. Tapi sebisa mungkin, Asuka membujuk. Wajahnya terlihat serius, "aku akan baik-baik saja. Dia bisa saja kugantung di langit-langit...," bisik Asuka.
Hiirosen mendesah kasar dan mengiyakannya dengan berat hati. Argaes dan Asuka segera pergi ke arah suara tadi. Keduanya menghilang setelah melewati belokan. Namun Hiirosen masih khawatir jika mate-nya tiba-tiba berteriak setelah beberapa saat berlalu. Kenyataannya tidak. Ia terlalu berpikiran buruk terhadap mantan malaikat itu.
Azuki pun menepuk pundak Hiirosen, paham dengan kekhawatiran yang bisa menimpa kekasihnya kapan saja, "Dia akan baik-baik saja. Energi Argaes sangat positif. Pria itu bisa menjaga kekasihmu dengan baik."
"Paling juga, Argaes yang akan dijaga Asuka. Dan kami bukan pasangan kekasih," ungkap Hiirosen melirik pria indigo itu.
"Bukankah dia mate-mu?" tanyanya heran.
"Ya, tapi dia tidak mau jadi kekasihku."
"Oh, kasihan sekali. Pria setampan dirimu ditolak anak half-blood, pasti memalukan," Azuki terkekeh, menggoda vampir itu yang kini sudah berwajah kesal.
"Darahmu mau kuhisap 'ya?" ancamnya.
"Tidak, tidak... Aku hanya bercanda," dia sedikit terkejut dengan tatapan membunuh Hiirosen, "tenangkan auramu, Vampir," bujuknya.
Tanpa menghiraukan perdebatan keduanya, Shinwa justru mengintip dari jendela, melihat halaman depan. Bau wanita yang bernama Maria tadi masih tertangkap di indera penciuman serigalanya. Benar saja, wanita itu berjalan menuju pintu gerbang. Namun ada yang berbeda...
"Wanita itu, mungkin adalah orang yang kita cari. Aku baru saja merasakan aura Darkur dari tubuhnya," kata Shinwa.
"Buktinya?" tanya Serasawa.
"Bayangan tubuhnya berbeda. Auranya juga sangat gelap..."
"Monster seperti itu juga bisa meninggalkan jejak 'ya?" Hiirosen tersenyum miring, "jadi apa yang harus kita lakukan?"
Azuki tersenyum dan mengacungkan alat ghost detector-nya, "Mungkin jika kita membunuhnya, akan lebih mudah. Atau...Asuka yang akan dibunuhnya," sahutnya seraya membenarkan posisi kacamata yang kurang nyaman dipakai.
Tapi Serasawa belum yakin jika Fujihika Maria memang dalang dari semua kasus mutilasi. Meski dugaan Shinwa kuat, tapi dia tidak pernah lengah dalam menanggapi semua informasi. Wanita itu merupakan kepala sekolah, tapi bukan berarti pembunuhnya. Lalu urusan penting apa yang Maria katakan tadi. Mungkinkah hari ini ada korban lain? Shinwa tiba-tiba tersenyum misterius saat melihat Azuki begitu yakin dan bersemangat.
"Kau tahu, Azuki... Aku ini bisa membaca mimik mencurigakan dari makhluk fana," katanya santai.
"Jangan menuduhku, dong! Aku 'kan hanya gemas saja dengan kasus mutilasi dan monster aneh itu...," Azuki berkacak pinggang, nada bicaranya jadi agak ramah.
"Aku membicarakan Maria, bukan dirimu!" ralat Serasawa.
Pria indigo itu hanya tertawa renyah dan mengibas-ngibaskan sebelah tangannya di depan wajah. Ia memang salah paham, tapi aura vampir memang dingin dan harus diwaspadai. Bagaimanapun juga, mereka bukanlah makhluk fana bernyawa atau pemilik jantung berdetak. Dalam pikiran vampir hanya ada darah serta aliran energi. Tapi dia masih bingung, kenapa pencernaan mereka bisa berfungsi dengan baik..
__ADS_1
***
ASUKA MEMERIKSA setiap sudut ruang olahraga. Dia sangat yakin, bunyi benda jatuh tadi berasal dari ruangan tersebut. Keduanya tidak menemukan apapun selain kursi kayu yang tergeletak sembarang. Di depannya ada beberapa meja, saling menumpuk rapi hingga ke dekat plafon.
Melihat kursi yang tergeletak, membuat ia yakin jika mungkin saja ada seseorang memasuki plafon. Tentu melalui lubang langit-langit yang tertutupi bahan sejenisnya. Asuka penasaran dan segera memanjati semua meja. Sementara tak jauh darinya, Argaes hanya menghela napas, bersedekap seraya memperhatikan gadis itu.
"Turunlah! Kau hanya akan mendapati tikus di sana," katanya memperingati.
"Aku tidak yakin tikus bisa menumpukkan meja hingga ke lubang plafon," timpal Asuka, "kupikir kau tidak tahu tentang hewan pengerat itu," ia melirik sebentar lalu bersiap-siap untuk membuka tutup lubang.
"Dulu aku pernah mencabut nyawa manusia yang hobi sekali menjual daging tikus. Dia menipu banyak pelanggan dan pantas mendapatkan ajal yang menyakitkan."
"Oh, pantas saja," Asuka mulai mendorong tutup plafon, tapi rasanya sangat sulit. Ia merasa ada pemberat yang menindih tutupnya. Tak berapa lama, keduanya mendengar bunyi sesuatu yang berjalan cepat di dalam loteng—menjauh. Asuka malah semakin penasaran. Itu bukan suara kaki tikus...batinnya.
"Sudah kubilang, kau hanya akan mendapati tikus liar di dalamnya," Argaes tersenyum miring.
"Sejak kapan kau jadi pintar menanggapi ucapan orang?" pria bermata biru laut itu tampak mulai kesal. Ia lebih tua dari Asuka, usianya sangat beda jauh. Bedanya bahkan jutaan tahun.
"Sejak aku bisa menanggapi ucapan Yurai untuk pertama kalinya," sahutnya ragu-ragu. Sejak kecil, pikirnya berbisik.
Keduanya keluar dari gedung olahraga dan menelusuri lorong. Tak ada yang memulai percakapan—hanyut dalam pikiran masing-masing. Argaes hanya menghela napas dan melipatkan kedua tangan di dada, mencoba untuk melihat sekeliling. Tak ada hal aneh yang keduanya temukan, selain sekelebatan hantu dan arwah gentayangan. Ini bukan cerita horor. Jangan berharap hantu menyeramkan akan muncul begitu saja sambil merintih.
Argaes berdeham kecil lalu membuka suara, "Aku tahu, kau mengajakku ke sini bukan untuk mencari asal suara tadi."
"Hhmm? Aku tidak yakin. Aku hanya merasa aneh saja dengan wanita itu."
"Makhluk half-blood memang unik," Argaes menyeringai, "bilang saja, jika kau sedang butuh bantuanku untuk mengajari bagaimana caranya membangkitkan iblismu."
Asuka menghentikan langkahnya dan berbalik. Ia hanya tersenyum menanggapi ucapan pria itu. Sesuai tebakan Argaes, ia memang ingin tahu lebih banyak tentang Dunia Immortal. Terlanjut menyentuh dimensi mereka, membuat gadis itu sangat kecanduan dengan kekuatan di luar nalar. Dia bisa mengendalikan api dan es, kini dirinya ingin melihat iblisnya sendiri.
Pria itu mendesah kasar dan menyesal mengikutinya. Mau bagaimana lagi, dia harus membantu Asuka untuk bisa mengalahkan Darkur. Jika tidak, maka gerbang tiga dunia dari batu segel akan terbuka. Kekacauan akan terjadi di mana-mana. Bahkan Van bisa terancam dimutasi. Setidaknya, Argaes ingin menebus kesalahannya melalui bantuan kecil.
"Kau bisa 'kan?" tanya Asuka memastikan.
"Sekarang aku sudah fana. Meski tahu caranya, tapi tidak yakin kau bisa mengendalikan iblismu sepenuhnya," sahut Argaes khawatir.
"Memangnya apa yang salah?"
__ADS_1
"Kekuatanmu masih tersegel. Darah murnilah segel itu. Jika kau ingin memanggil iblismu sendiri, maka harus membuka segelnya."
"Segel?" gadis itu mengerutkan kening, "seperti apa bentuknya jika segel itu ingin kulepas?"
Argaes menghela napas dan melihat pemandangan dari jendela, Hiirosen serta yang lainnya sudah berkumpul di halaman. Mungkin mereka tengah menunggu, "Segel elemen es ada di dahimu...tapi kalau elemen api, aku tidak tahu. Sebaiknya kau minta izin pada ayahmu. Dia juga bisa membuka segelmu jika mau...," ungkapnya langsung tersenyum.
***
"AYAH TIDAK akan mengizinkanmu! Bagaimanapun juga, Ayah tak akan membuka segelmu!" ucap Tuan Rein tegas, berdiri membelakangi Asuka seraya menikmati pemandangan dari jendela ruang keluarga. Secangkir teh jahe merah yang dipegangnya masih terlihat mengepul.
"Tapi Ayah, tak ada cara lain selain aku sendiri yang harus menghentikan Darkur...," Asuka terus membujuk. Setelah melakukan pencarian di SMA Karaha, dia segera mendiskusikannya dengan Tuan Rein. Yurai hanya diam—seperti biasa, akan menyimpulkan semua informasi di akhir perdebatan.
Tuan Rein jelas melarang keras. Tidak akan pernah menyetujuinya. Membuka segel bukan rencana bagus untuk Asuka. Terlebih lagi, iblis milik putrinya bukanlah makhluk sembarangan. Ia pernah melihatnya di neraka—terkurung jeruji besi besar dan sangat ganas. Tubuh iblis itu lebih mengerikan dari dugaannya. Bahkan, Raja Lucifer sendiri menempatkan makhluk tersebut di penjara api hitam.
Alasan kenapa Asuka dilindungi Raja Lucifer memang masuk akal...
"Ayah tetap melarang!! Kau bahkan tidak tahu, bahwa iblismu sangat mengerikan! Ayah saja tak bisa menaklukkanya! Jadi lupakan dan cari cara lain!"
"Jika Darkur berhasil mengumpulkan banyak tumbal manusia, maka gerbang tiga dunia akan terbuka, Ayah! Lagi pula, aku percaya pada Tuhan-ku!" timpalnya.
Tuan Rein segera menghadap putrinya dengan ekspresi sedikit bingung, "Gerbang tiga dunia? Maksudmu batu segel?"
"Ya. Argaes menceritakannya padaku. Gerbang itu bisa terbuka jika Darkur berhasil mengumpulkan banyak jiwa manusia. Jika aku adalah incarannya, berarti bukan kehendak Darkur, tapi manusia itu sendiri yang memiliki hasrat besar...," ia menuturkan.
Pria berjas hitam itu mendesah kasar dan mengambil duduk di sofa, menyimpan cangkir tehnya yang telah kosong. Yurai segera menuangkan air teh lagi dari teko kecil. Ia sudah menangkap garis besar dari perdebatan keduanya.
"Nona Muda memang sudah tahu, siapa pemilik Darkur terkuat?" tanya Yurai datar.
"Kami baru berspekulasi pada kepala sekolah Karaha. Namanya Fujihika Maria. Uzuki menyarankan kami untuk membunuhnya. Tapi diam-diam aku tidak setuju dengan tindakan itu," sahut Asuka, sudah merasa lebih tenang dan ikut duduk di seberang ayahnya.
"Kenapa Nona tidak setuju?"
"Entahlah. Monster mengerikan itu memang menempel padanya, tapi tidak berpengaruh apapun. Jadi kupikir, terlalu cepat untuk menyimpulkan. Dan jika benar, Maria adalah dalang dari semua korban mutilasi, pasti dia akan datang ke sekolah."
"Fujihika Maria? Sepertinya aku pernah mendengar nama itu," Tuan Rein terlihat berpikir keras. Ia kembali meminum tehnya dan menatap Asuka, "Ayah akan pertimbangkan permintaanmu. Tapi sebelum itu...," ia seketika melirik butler-nya, "Yurai, pergilah ke neraka dan minta pendapat Raja Lucifer."
Yurai membungkukkan setengah badannya, "Baik, Tuan."
__ADS_1