Pengantin Berdarah Murni

Pengantin Berdarah Murni
Segel Iblis


__ADS_3

YURAI SEGERA melaksanakan perintah tuannya. Ia pergi dengan cara menghilang, menyisakan sedikit kepulan asap hitam. Asuka membicarakan tentang iblis yang suka mencuri informasi langit. Ayahnya pun membenarkan hal tersebut dengan senyuman aneh. Kebiasaan iblis mencuri informasi masa depan selalu mendapatkan teguran keras dari Tuhan. Jika tidak sedang beruntung, mereka akan dilempari panah api neraka oleh para malaikat.



"Kau selalu lihat meteor yang menghantam lapisan pelindung bumi? Manusia menyebutnya bintang jatuh. Tapi kalian tidak tahu jika benda bercahaya tersebut adalah panah api," ungkap Tuan Rein.



Ada jutaan iblis yang diam-diam mencuri informasi langit. Hanya demi permintaan manusia pembangkang Tuhan. Mereka dengan senang hati akan membantunya mendapatkan semua informasi. Iblis suka sekali meracuni hati dan pikiran makhluk fana. Tapi kaum mereka tak pandai merayu layaknya setan.



Saat keduanya tengah asyik berbincang-bincang mengenai kehidupan iblis, seorang maid datang dan memberitahukan sesuatu. Mereka kedatangan tamu. Asuka dan Tuan Rein saja tak pernah melihatnya. Seorang laki-laki seusia Asuka memasuki ruang keluarga, memakai jaket levis dan memiliki aura half-blood—cukup kuat. Wajahnya dominan seperti orang Jepang kebanyakan, matanya sipit namun memiliki iris sedikit kecokelatan.



Asuka bangkit dan menghampiri laki-laki itu. Tingginya mungkin sebatas telinga Hiirosen. Tiba-tiba saja, si laki-laki membungkukkan setengah badannya sambil meminta maaf, membuat Asuka heran.



"Aku adalah orang yang menyerangmu malam itu. Aku benar-benar minta maaf karena telah melukaimu," ungkapnya, masih membungkuk.



"Hei, apa-apaan kau ini? Aku ini bukan tuanmu. Bangunlah," kata Asuka. Ia masih ingat dengan lengan kirinya yang memar gara-gara terkena serangan elemen bumi. Ternyata laki-laki di depannya-lah yang melakukannya. Tapi, kedatangannya masih membingungkan. Tidak mungkin jika hanya untuk meminta maaf saja.



"Half-blood iblis keturunan elemen bumi. Ternya aku benar... Siapa namamu?" tanya Tuan Rein.



"Namaku, Senryu Hideki," sahutnya datar.



"Ah, salah satu mantan Exorcist yang dibilang Azuki. Benarkan?" tebak Asuka. Laki-laki itu mengangguk, "Argaes bilang, mungkin half-blood lain akan datang padaku untuk meminta perlindungan. Ternyata itu adalah kau. Apa tujuanmu datang kemari?"



"Persis seperti yang kaukatakan. Aku meminta perlindungan pada half-blood terkuat."



"Kenapa harus padaku?"



"Karena kau bisa mengalahkan Darkur," sahutnya cepat.



"Lalu, apa yang ingin kaulakukan dengan datang ke Hutan Aokigahara? Van bilang kau dan kedua temanmu ingin menemukan batu segel," tanya Tuan Rein, masih tetap pada posisi ternyamannya.



Tampaknya Hideki tidak kaget jika pria itu tahu apa yang dilakukannya pagi tadi. Ia menghela napas dan membenarkannya—menceritakan kronologis kejadiannya dari awal hingga akhir. Akhirnya ia tahu jika nama penjaga segel dan hutan itu adalah Van—iblis api bersurai merah tua yang tak sengaja dilihatnya.



Iblis milik Hideki sudah terbangkitkan. Segelnya terlepas sejak bergabung dengan organisasi Exorcist. Karena itulah, saat tahu monster Darkur mulai meracuni hati dan pikiran manusia, ia memilih menghilang dari organisasi tersebut. Kedua temannya malah memilih untuk mengikutinya. Padahal mereka belum tahu jika Hideki adalah half-blood iblis.



"Buka sarung tanganmu," titah Tuan Rein.



Hideki segera membuka sarung tangan yang melindungi tangan kanannya. Lalu ia menunjukkan tanda heksagon—terlukis di punggungnya. Segel iblis tersebut ternyata memang asli dan Tuan Rein kembali menghela napas. Kekhawatiran anak half-blood tersebut cukup berlebihan. Padahal auranya sangat tenang dan bersahabat, iblisnya tidak akan mengamuk jika pemiliknya dalam keadaan sadar.



"Terima kasih sudah memberi tahuku. Kalau begitu aku harus pergi, Sayori dan Aluto pasti sudah mencariku kemana-mana," katanya.



"Kau tak perlu mengkhawatirkan apapun. Kedua temanmu selalu ada...dan aku yakin, meski kau menceritakan siapa dirimu... Mereka pasti akan tetap menjadi sahabatmu. Kau sangat beruntung," timpal Asuka.



"Bagaimana bisa, kau yakin mereka tidak akan memusuhiku?"



"Karena mereka adalah sahabatmu."



"Bagaimana denganmu?" Hideki berbalik dan berjalan cukup jauh, hendak pergi.



"Aku tak punya sahabat atau teman sepertimu."

__ADS_1



Hideki menoleh sedikit lalu tersenyum misterius, "Benarkah? Apa kau yakin, kau tidak punya teman? Baiklah, aku pergi."



Asuka baru teringat dengan pulpen milik Sayori. Tapi laki-laki itu bilang, biarkan saja pemiliknya yang mengambilnya sendiri. Kini, sosoknya sudah menghilang di balik pintu, menyisakan tanda tanya besar di kepala Asuka. Apa maksudnya?



"Teman? Apa perlu aku punya teman?" tanya Asuka pada ayahnya. Pria itu mengedikkan bahu, terserah, pikirnya. Anaknya memang tidak punya teman.








***









YURAI MEMBENARKAN posisi selimut Asuka, lalu membacakan dongeng tentang kisah para domba dengan si gembala. Selama bertahun-tahun ia menceritakan kisah tersebut, gadis itu tak pernah bosan. Jika anak majikannya susah tidur, maka dia harus menceritakan sesuatu yang unik. Dan selama setengah jam Yurai bercerita, akhirnya Asuka mulai menguap.



Gadis itu memeluk salah satu boneka dombanya dan mulai terpejam. Hingga akhirnya, suara Yurai hanya terdengar sayup-sayup.




Pintu kamar yang terbuka cukup lebar memudahkan Tuan Rein melihatnya dari luar. Ia mendengarkan cerita hingga selesai, sampai putrinya tertidur. Seharusnya dialah yang berada di posisi Yurai. Tak berapa lama, butler-nya keluar setelah mematikan lampu—hendak menutup pintu namun ia mencegah. Meski meninggalkan rasa heran, Yurai tetap menghormati majikannya. Pria itu mengambilkan salah satu buku cerita yang besok akan dibacakan untuk Asuka.



"Kisah domba lagi?" tanya Tuan Rein pelan.



"Semua cerita sebelum tidur Nona Muda memang menyangkut domba. Ini buku terakhir yang belum dibaca. Besok, aku harus membeli yang baru lagi," sahut Yurai.



Tuan Rein tersenyum datar, "Aku ingin membaca ini nanti. Tapi sebelum itu, bagaimana pertemuanmu dengan Raja?"



Butler-nya mulai paham apa yang akan tuannya utarakan. Ia meminta tempat privasi untuk tetap menjaga keamanan dari informasinya. Keduanya menuju ruang pribadi Tuan Rein, bahkan dipasang barrier agar tidak ada penyusup yang sedang mencuri informasi. Sementara Yurai menghela napas sejenak sebelum berbicara.



Keadaan ruangan yang temaram membuat Tuan Rein terlihat seperti penjahat bayaran, duduk di kursi kebesarannya seraya membuka lembar buku cerita. Kisah domba dan si gembala...cukup menarik, pikirnya.



"Seperti yang Tuan ketahui bahwa iblis Asuka sangat liar dan ganas. Ukuran iblisnya semakin bertambah besar setiap kali energi Nona Muda meningkat. Jika segelnya di lepas...kemungkinan besar iblis itu tak akan pandang bulu, bisa menyerang kita semua dan kaum yang lain," Yurai menuturkan.



"Raja mengizinkanku?"



"Ah, soal itu...Raja Lucifer tidak pernah melarangmu jika bertujuan untuk mengembalikan makhluk neraka yang terlepas. Darkur sangat berbahaya. Raja sendiri hampir marah besar saat mengetahui monsternya terlepas. Karena Raja tak bisa turun ke dunia fana, dia akan meminta bantuan Asuka. Di bawah perlindungannya, Asuka mampu mengalahlan Darkur," tuturnya lagi.



Mengendalikan monster sebesar itu, Asuka tidak mungkin mampu. Maka dari itu, Lucifer akan membuat ukuran iblis Asuka lebih kecil dan sesuai dengan kemampuannya yang masih belajar. Tuan Rein akhirnya mengerti. Ia segera menyuruh Yurai untuk menyiapkan lilin merah.



Empat lilin pun diletakkan pada lantai yang telah tergambar pola heksagon. Tuan Rein bergumam, membaca sebuah mantra hingga pola heksagon bercahaya. Upacara pelepasan segel sudah siap untuk dilaksanakan. Sementara Yurai kembali ke kamar Asuka dan membangunkannya.


__ADS_1


"Ngg... Ada apa Yurai? Apa sudah pagi?" tanya Asuka masih setengah sadar, melihat butler-nya yang berdiri di samping ranjang.



Tak ada jawaban. Pria itu hanya tersenyum simpul lalu menyentuh dahi Asuka. Gadis itu meringis saat dahinya bercahaya, menampakkan simbol sekeping salju. Tak lama kemudian, ia pingsan. Yurai segera membopong anak majikannya ke ruang pribadi Tuan Rein, membaringkannya di tengah-tengah pola heksagon.



"Kau tahu di mana letak simbol segel apinya?" tanya Tuan Rein.



"Ada di punggungnya, Tuan."



Tuan Rein membaca mantra pembuka segel. Pola heksagon bercahaya. Simbol sekeping salju di dahi Asuka bercahaya, begitu pula dengan lambang elemen api pada punggungnya. Rambut gadis itu berubah putih meta tapi tubuhnya menunjukkan aliran lava pijar. Ia membaca mantra lagi, pola heksagon lain terbentuk—satu meter di atas tubuh Asuka.



Selama lima belas menunggu, dari pola heksagon di atas, muncul sesuatu—meski kecil, bentuknya menyerupai kuku tajam. Tuan Rein kembali duduk di kursi kebesarannya seraya membaca buku cerita milik Asuka.



"Berapa lama, iblisnya akan muncul sepenuhnya?" tanya Yurai penasaran.



"Kita tunggu sampai pagi nanti. Berjaga-jagalah, jangan sampai Darkur mengetahui proses pelepasan segel ini. Hindari telepon dari siapapun, tak terkecuali Azuki. Lalu panggil Van dan Barack kemari. Aku butuh mereka untuk mengurung iblis itu dalam tubuh Asuka," tuturnya.



"Apa Tuan tidak bisa melakukannya sendiri?"



"Terlalu berisiko. Aku tidak ingin aura gelapnya menyebar dan mengganggu makhluk lain."



"Baiklah. Akan segera kulaksanakan."








***








HIDEKI TERBANGUN. Ia melirik jam dinding apartemennya, pukul satu pagi. Sementara kedua sahabatnya masih tertidur pulas. Tanpa membuat suara, laki-laki itu bangkit dari sofa dan memeriksa punggung tangan kanannya. Simbol heksagon miliknya terasa panas dan bercahaya. Dia merasa ada half-blood lain tengah membuka segel. Ketika mencoba mencari tahu letaknya, ternyata dari rumah Asuka.



"Apa gadis itu mencoba untuk membuka segel?" gumamnya penasaran. Ia berniat pergi ke sana tanpa memberi tahu kedua sahabatnya. Untuk berjaga-jaga, ia terpaksa memberi mantra tidur agar mereka tidak terbangun saat dirinya belum kembali.



Sebelum pergi, Hideki melihat keadaan luar apartemen dari jendela. Matanya menangkap seorang wanita tengah berjalan sendirian di trotoar. Bukan itu yang ia lihat, tapi orang lain tengah mengikutinya dari belakang. Hideki memfokuskan penglihatannya. Sosok yang mengikuti wanita itu terlihat jelas ketika melintas di bawah lampu jalan.



"Ketua Azuki...?" gumamnya. Ia kenal dengan baik sosok Azuki, "kenapa dia mengikuti wanita itu? Mungkinkah, dia juga sedang mencari Darkur hingga dini hari seperti ini?"



Ia tak jadi untuk pergi ke rumah Asuka. Keberadaannya bisa diketahui oleh Azuki dan urusannya akan sangat merepotkan. Dia memilih untuk kembali berbaring di sofa sambil menatap langit-langit, "Lain kali saja," gumamnya.





__ADS_1


__ADS_2