Pengantin Rubah

Pengantin Rubah
Episode 11 - Malam yang indah


__ADS_3

Setelah dua hari Rang baru sadarakan diri. Namun, kali ini Yuri lah yang merawat Rang dengan membasuh lukanya juga merawat lukanya dengan baik.


Dia perban dengan sangat hati-hati.


"Aw! Pelan-pelan!"


"Ck, baru seperti ini saja sudah mengeluh!" ujar Yuri.


"Lagipula kenapa berlaga dengan melawan perampok itu sendiri?" Yuri mengerutkan dahi.


"Jika tidak, kau sudah mati di tangan perampok. Lihatlah! Rumahku hancur, butuh beberapa hari untuk membereskannya."


"Ini semua karena kesalahanmu, dengan membiarkan orang asing masuk!" Rang mengerutkan dahi.


Sedangkan Yuri menekan agak keras luka Rang yang sedang dia obati.


"Aw, perlahan!" Rang menggenggam tangan Yuri untuk menghentikannya.


Rang menatap agak lama wajah itu.


"Aku bahkan tidak ingat bagaimana kejadiannya, kenapa kau terus menyalahkanku?" Yuri melepaskan tangannya dari Rang.


"Hei, obati lagi!"


Yuri beranjak dari sana, "obati saja sendiri!"


Kemudian melenggang pergi ke kamarnya.


"Kenapa aku tidak bisa marah padanya? Aish, dasar menyebalkan!" Ujar Rang pada Yuri yang telah berlalu.


Yuri duduk termenung di kasurnya, dia merasa banyak kejanggalan yang dia alami selama di rumah itu.


"Dimana ponselku?" Yuri mencoba mencari ponselnya kesana kemari namun tidak terlihat. Akhirnya dia keluar lagi dan meminta bantuan Rang untuk menelepon ponselnya.


"Pak Rang, tolong telepon nomorku, aku lupa menyimpannya dimana."


"Merepotkan," walau mengeluh Rang tetap melakukannya.


Saat mendengar dering ponsel, Yuri langsung meraih ponsel yang tersembunyi di balik vas bunga.


"Kenapa ada disini?" gumamnya kebingungan.


"Terimakasih pak," kata Yuri sembari melenggang pergi ke kamar.


Dia membuka kunci ponselnya, disana terlihat peringatan memori penuh.


"Memori penuh? Bukankah aku tidak banyak menyimpan file?" Yuri menggeleng kemudian dia mencoba untuk menghapus beberapa file.


Saat hendak menghapus video, Yuri melihat sebuah rekaman yang dia yakini itu adalah rumah Rang.


Wanita itu memutar video yang ada di ponselnya. Karena terkejut, dia spontan menjatuhkan ponselnya. Kini, dia ingat malam kejadian itu.


Malam dimana dia membiarkan seorang gadis remaja masuk ke rumah Rang. Tapi selebihnya dia tidak ingat. Dia hanya melihat rekaman video yang memperlihatkan gadis itu berubah menjadi orang lain dan serangan dari Rang pada Yon yang sangat cepat.


Yuri segera meraih ponselnya dan pergi ke kamar Rang. Dia mengetuk pintu beberapa kali.


"Rang!"

__ADS_1


"Ada apa? Kau mau menggangguku lagi?"


"Jelaskan semuanya!" Yuri mendorong Rang masuk ke dalam kamar.


"Jelaskan apa?"


"Ini! Kau bukan manusia biasa Rang," Yuri mengerutkan dahi sembari menyilangkan lengan di dada.


Rang tertawa kecil dan menunduk, kemudian menatap Yuri dengan tajam saat matanya berubah menjadi terang. "Aku memang bukan manusia, kau tidak takut padaku?"


Rang berjalan mendekat ke arah Yuri, dia menyeringai sembari berjalan menyudutkan Yuri ke pintu yang tiba-tiba tertutup di belakangnya.


Yuri mengerjap, saat lampu kamar Rang yang tiba-tiba saja padam membuat jantungnya berdegup kencang.


"Aku bisa merasakan ketakutanmu Yuri," Rang membelai lembut wajah gadis itu.


"Makhluk apa kau sebenarnya?"


"Makhluk? Bukankah itu terlalu kejam? Aku sudah menolongmu beberapa kali, jadi kau tidak perlu merasa setakut ini padaku!" Yuri hanya mampu melihat sosok Rang dari lampu taman yang menyorot ke arah kamar Rang.


Cahaya remang membuat sosok Rang semakin menakutkan dimata Yuri, sedangkan Rang dengan terus sengaja memberikan aura negatif pada wanita dihadapannya.


"Rang! Aku sudah berjanji, tidak akan takut padamu! Sekalipun kau mematahkan leherku!"


Setelah mendengar ucapan itu, lampu kamar Rang menjadi terang kembali dan mata pria itu kembali ke warna normal.


Rang merasa gagal menjadi rubah ekor sembilan, menakuti gadis seperti Yuri saja dia gagal.


"Tidak penting, kau manusia atau bukan. Itu bukan urusanku, yang penting kau memberiku tempat untuk bertahan hidup." Yuri melepaskan jeratannya dari Rang yang kini tengah menghela napas panjang.


Dia berbalik dan hendak pergi dari kamar itu, namun Rang dengan cepat menarik Yuri dalam dekapannya kemudian mengecup bibir lembut Yuri.


Rang merasakan suatu energi panas dari tubuh Yuri yang seperti ingin keluar saat perutnya bersentuhan dengan perut gadis itu.


Rang melepaskan ciumannya.


Dia melihat permata rubah itu kini tengah melayang tepat ditengah mereka berdua.


"Rang, benda apa itu?" tanya Yuri kebingungan.


Tanpa menjawab, Rang malah kembali mencium Yuri dan mematikan kembali cahaya lampu di kamarnya. Sehingga kini, hanya permata rubahlah yang menerangi mereka berdua.


"Yuri," kata Rang sembari berderu dengan napasnya. Dia melekatkan dahinya dengan dahi Yuri sebelum menciumnya kembali dan membawanya ke ranjang besar miliknya dengan cepat.


"Rang, Aku rasa.. Aku kehilangan akal sehatku," Yuri menatap Rang yang kini tepat diatasnya.


"Jangan khawatir, aku merasakan hal yang sama." kata Rang sebelum kembali mencium Yuri dengan intens.


"Mari kita nikmati malam kita bersama," kata Rang sembari sesekali mengecup tengkuk leher Yuri.


Wanita itu hanya bisa merasakan setiap sentuhan Rang, lembutnya bibir itu dan betapa panasnya hawa mereka berdua sekarang.


Yuri memejamkan matanya.


**


"Kakak bangun!" suara teriakan itu mengejutkan dirinya.

__ADS_1


"Bukankah kau seharusnya bekerja?"


"Aduh Byul, bisakah kau berhenti mengejutkanku seperti itu?"


"Pasti kau bermimpi aneh lagi kan?" Byul memajukan bibirnya mengejek sang kakak.


"Tidak, aku benci mengingat pria itu yang bahkan aku tidak tahu dia siapa!" Yuri mengibaskan selimutnya kemudian berjalan ke arah kamar mandi.


"Mungkin itu jodohmu kak!"


"Aish, jika benar dia jodohku, aku tidak mau. Di mimpiku dia meninggalkanku setelah kami.."


"Apa kak?" Byul menyeringai menunggu jawaban sang kakak.


"Ah tidak-tidak aku tidak ingin mengingat mimpi itu, aku akan menganggapnya sebagai mimpi terburuk. Setampan apapun pria yang ada di mimpiku!"


"Oh iya, Byul kau sudah tahu nama paman yang sering menitipkan segala keperluan kita pada bu Kimi?"


Byul menggeleng, "aku belum sempat menanyakannya pada bu Kimi. Tapi aku ingat bahwa bu Kimi pernah bilang bahwa paman itu tidak ingin diketahui namanya."


"Ah ternyata masih ada orang baik sepertinya, aku harap dia tidak meminta imbalan suatu hari nanti."


"Dia tidak akan, bahkan hari ini aku di ajak makan es krim oleh bu Kimi." mata Byul terlihat berbinar.


"Benarkah? Cih, kenapa aku tidak di ajak?"


"Kau kan harus mengurus butiknya!" seru Byul pada sang kakak.


"Yasudah, hati-hati ya nanti!" Yuri masuk ke dalam kamar mandi.


Suara ketukan terdengar di pintu rumah mereka, rumah sewaan baru yang di bayarkan oleh bu Kimi. Seseorang yang Yuri percayai yang menolongnya dari kecelakaan.


"Bu Kimi," Byul memeluk wanita tua itu.


"Kau sudah siap?"


Byul mengangguk.


"Yuri, aku membawa Byul jalan-jalan. Kau jangan sampai telat membuka butik!"


"Baik buuu!" teriak Yuri dari dalam kamar mandi.


Bu Kimi membawa Byul ke salah satu toko es krim terkenal di kota mereka. Disana terlihat seorang pria sudah duduk menunggu gadis kecil itu.


"Hai, senang bertemu denganmu lagi."


"Aku juga sangat senang bertemu paman Rang lagi," jawab Byul.


"Pesanlah yang ingin kau pesan!"


Rang memberi kode pada bu Kimi agar meninggalkan mereka berdua.


"Byul, ibu akan jemput setelah selesai."


Byul hanya mengangguk.


"Bagaimana keadaan kakakmu?" tanya Rang pada Byul.

__ADS_1


"Kurasa, dia masih sering memimpikanmu!" jawab Byul dengan polos.


Rang hanya menyeringai bahagia.


__ADS_2