
Yuri masih berdiam diri di depan cermin, dia memasang kaca matanya lagi. Kali ini, dia melihat dirinya dan Rang. Dia melihat dirinya saat berjalan mengikuti pria itu ke sebuah rumah .
Mulutnya agak terbuka, tidak percaya dengan apa yang dia lihat.
"Apa ini ingatanku?"
Kemudian, dia melihat kenangan saat Rang dan dirinya memadu kasih dengan disinari permata rubah.
"Si brengsek ini, aku tahu ada yang tidak beres. Aku sedikit ingat sekarang. Aku harus langsung bertanya padanya, dan apa hubungannya Nara denganku."
Yuri segera meminta pegawai yang lain untuk mengawasi butik sementara dia keluar mencari Rang.
Dia terus mencari alamat festival jurandong yang pria itu maksud. Yuri, ingin bertanya sendiri pada Rang. Dia sudah merasa curiga saat bertemu pria itu di rumah Nara.
Terlebih, sekarang dia ingat bahwa suatu yang dia anggap mimpi ternyata kenyataan.
"Aku akan mematahkan lehermu," gumam Yuri sembari mengepalkan tangannya.
Setelah kurang lebih 30 menit mencari, akhirnya Yuri menemukan lokasi festival. Tapi, dia tidak tahu dimana Rang berada sampai saat seorang pria paruh baya menyapanya.
"Kau punya benda yang paling berharga, silahkan masuk ke gubukku. Mungkin, orang yang kau cari ada disini."
"Kau mencari pria tampan itu kan?"
"Maaf pak tua, terimakasih. Aku tidak ingin tertipu dengan ramalan konyolmu!"
"Kau mencari Rang si manusia rubah itu kan?"
Yuri menoleh ke arah pria itu, dia membelalak karena tidak menyangka pria di hadapannya tahu siapa yang dia cari.
"Masuklah!"
Akhirnya Yuri pun ikut masuk ke dalam gubuk milik pria itu. Disana dia hanya bisa menoleh ke kanan kiri karena tidak terlihat siapapun lagi selain dirinya dan pria tadi.
"Dimana pria itu?"
"Ada disini," pria tadi menunjukan kantong kain yang terikat. Itu lebih mirip kantong ajaib yang dapat menampung segala hal.
"Kau menipuku kan?" Yuri hendak beranjak dari sana.
"Kau! Pengantin rubah, kau pasti penasaran dengan semua hal yang kau lihat lewat kaca mata itu. Kaca mata itu, bukanlah kaca mata biasa. Benda itu bisa melihat kehidupan lampaumu sebelum terlahir kembali menjadi kau yang sekarang." pria tadi menyeringai.
Yuri menatap kaca mata yang ada di genggamannya dengan datar.
"Lalu dimana dia? Aku ingin bertanya langsung padanya mengenai hal yang ku lihat!"
"Sudah kubilang, dia disini."
"Jika kau menginginkannya keluar dari kantong ini, kau harus menukarkan dengan hal yang paling berharga bagi dirimu." pria tadi menyeringai lagi.
"Hal yang paling berharga? Tidak, lupakan saja. Biarkan saja dia di dalam sana selamanya." Yuri berdiri dan hendak melenggang pergi.
"Kau yakin? Jika dia tidak keluar dia akan selamanya ada disini dan meninggal."
Yuri mengerutkan dahi, kemudian berbalik dan duduk di hadapan pria itu lagi.
__ADS_1
"Baiklah, aku akan tukar dengan kaca mata ini. Kau bilang kaca mata ini ajaib kan? Seharusnya bisa."
Pria itu menggeleng, ada hal lain dari dirimu yang lebih berharga.
"Baiklah, apa itu? Selama itu bukan adikku, ambil saja."
"Kau yakin? Aku akan mengambilnya."
"Aku yakin," jawab Yuri.
Pria tadi mengalirkan kekuatannya dan mengeluarkan sebuah permata dalam tubuh Yuri.
"Ini dia, permata ini sangatlah berharga. Kau bahkan dengan mudahnya memberikan ini padaku, padahal inilah yang selama ini menjagamu dari gangguan jahat."
"Aku tidak peduli benda apa itu dan tujuannya untuk apa, yang penting sekarang keluarkan pria itu dari sana."
"Tentu saja," jawab pria tadi.
Kemudian Rang kembali dan kini berdiri di hadapan mereka berdua.
"Pak Tua, kenapa kau memasukanku ke dalam kantong itu?Aku tidak terima karena di hargai seharga kaca mata!" Rang terlihat kesal, dia masih belum menyadari keberadaan Yuri.
"Untunglah dia menebusmu."
Rang beralih menatap Yuri, matanya membelalak.
"Yuri," kata Rang.
"Kau tidak terlihat seperti baru mengenalku kemarin, kau terlihat jauh lebih mengenalku." Yuri menyilangkan kedua tangannya di dada.
Yuri berjalan mendahului Rang, kemudian diikuti oleh pria itu.
"Kenapa kau menebusku?"
"Aku terpaksa karena ada banyak hal yang ingin ku tanyakan, tapi pertama-tama... Aku akan..."
Plakk..
Sebuah tamparan keras mendarat di pipi Rang, "kau menghapus ingatanku atau memberiku ramuan semacamnya kan? Sehingga aku tidak dapat mengingatmu dan kenangan kita!" Yuri menatap Rang dengan tajam
"Aw!" Rang mengelus pipinya, dia biasa kuat menahan segala serangan pedang dan lainnya namun, tamparan Yuri begitu menyakitkan sampai ke ulu hatinya.
"Aku ingat sekarang, tapi apa alasanmu melakukan itu?"
"Untuk melindungimu!"
"Ini! Apa maksud di dalam benda ini? Aku melihatmu dengan Nara disana!"
Rang membelalak, "apa yang kau lihat disana?"
"Kau memberinya bunga!" jawab Yuri ketus.
"Rupanya kau memang sering mempermainkan wanita ya. Apa setelah itu, kau menghapus ingatan mereka juga? Dasar pencuci otak!"
Yuri berjalan mendahului Rang dengan penuh kesal.
__ADS_1
"Yuri, dengarkan dulu. Dia adalah dirimu!"
Rang menahan lengan Yuri, wanita itu menoleh kebelakang dan melihat Rang yang menatapnya dengan dalam.
"Apa maksudmu wanita itu diriku?"
"Jelas-jelas itu adalah Nona Nara!"
Yuri melepaskan pegangan Rang.
"Itu kehidupanmu di masa lalu, kau adalah kekasihku. Itulah mengapa kau memiliki permata rubah itu!"
Yuri tertegun mendengar ucapan Rang, permata rubah yang sudah dia berikan pada pak tua tadi.
"Permata rubah?"
"Iya, aku memberikannya sebelum kematian kekasihku di masa lalu, dan aku baru mengetahui saat malam sebelum perpisahan kita. Aku tidak mencampakanmu, aku hanya berusaha melindungimu!"
Yuri menunduk.
"Apa yang kau tawarkan pada pria tadi untuk menebusku?" tanya Rang mulai curiga.
"Jangan bilang, kau!" lanjutnya.
Rang berlari segera kembali mencari gubuk pria tadi namun tidak ada disana. Orang itu memang penjaga alam bawah, dia tidak selalu berada disana, kadang dia muncul ke dunia manusia hanya untuk menguji beberapa orang saja.
"Sialan!" Rang berjalan kembali pada Yuri.
"Yuri! Tidakkah kau berpikir bahwa itu sangat berharga? Bagaimana bisa kau menukarkan benda itu?"
"Akan lebih baik jika kau menukarkan adikmu saja!"
Ucapan Rang membuat Yuri semakin marah, "seharusnya aku membiarkanmu terkurung di dalam kantong itu dan membiarkan kau mati disana! Dasar brengsek! Jika kau berani menghapus ingatanku lagi, aku akan membunuhmu!"
Yuri melenggang pergi meninggalkan Rang, pria itu sama kesalnya dengan Yuri sehingga dia berjalan pergi tanpa menghiraukan gadis itu juga.
"Dasar bajingan! Rang kau benar-benar ingin mati di tanganku."
Woosh.
Sebuah angin dingin melewati Yuri dengan cepat.
"Apa itu?" gumamnya, dia merasa membeku sekarang.
Kakinya terasa kaku dan tidak bisa digerakan.
Sebuah angin dingin menyelimuti Yuri dengan kencang. Rambutnya terbawa angin berkibar bagaikan bendera.
"Sialan, apa ini?" batinnya.
Kemudian sebuah kekuatan besar menariknya dari lingkaran angin yang menyelimuti dirinya sampai menggigil.
Yuri merasa lemas, dia melihat Rang dengan mata terang menangkapnya dan memeluknya.
"Kau baik-baik saja?"
__ADS_1
"Aku merasa kedinginan," jawab Yuri lirih.