Pengantin Rubah

Pengantin Rubah
Episode 17 - Konflik Perasaan


__ADS_3

Yuri terkejut melihat Nara yang hampir menabraknya.


"Kau mau aku antar pulang?" Ucap Nara sembari memeriksa keadaan Yuri.


"Hmm.. Boleh," jawab Yuri.


"Baiklah, mari." Nara masuk ke dalam mobil begitupun dengan Yuri.


Wanita itu mengantarkan Yuri sampai ke rumahnya dan Yuri pun mengajak Nara untuk masuk ke dalam rumah. Disana, dia disuguhkan makanan kaki lima dan minuman bersoda.


"Kau tinggal sendirian?"


"Aku bersamaa adikku, namanya Byul. Dia sedang sekolah sekarang, sebentar lagi dia akan pulang."


"Apa kau bekerja untuk menghidupi diri dan adikmu?" tanya Nara penasaran.


"Ya betul, kedua orang tua kami sudah tiada."


"Aku turut bersedih mendengarnya, oh iya ngomong-ngomong kau membawa selimut darimana?" Nara melihat selimut yang masih di genggam Yuri.


"Ini, milikku yang baru selesai dilaundry." Jawab Yuri gelagapan.


"Baiklah, dan syukurlah kau tidak apa-apa. Hampir saja tadi aku menabrakmu, lain kali kau harus lebih berhati-hati Yuri." Nara tersenyum pada Yuri.


"Terimakasih Nona Nara."


"Nona? Panggil aku Nara saja." Nara menyeringai lagi.


Yuri tersenyum dan mengangguk.


"Kalau begitu, aku pulang dulu ya."


"Baik, terimakasih Nara sudah mengantarku pulang."


"Sama-sama, aku harus ke kantor sekarang. Bosku mungkin sudah menunggu disana, oh iya terimakasih atas bantuamu soal malam kemarin. Walaupun orang spesial yang kumaksud tidak datang, tapi aku puas dengan hasilnya."


Yuri mengerutkan dahi mendengar pernyataan Nara.


"Jelas sekali jika Rang hadir di makan malam kemarin. Kenapa Nara berpikir bahwa pria itu tidak datang? Ish si brengsek itu pasti menghapus beberapa bagian ingatannya." Batin Yuri sembari mengepalkan tangannya yang bersembunyi.


"Sama-sama, kau memang cantik mengenakan apapun. Hati-hati dijalan."

__ADS_1


Yuri mengantarkan Nara sampai ia masuk ke dalam mobilnya. Setelah itu Yuri langsung masuk ke dalam rumah. Dia bersiap kembali untuk pergi ke butik. Dilain sisi, Rang sudah berada di kantornya. Dia menunggu Nara disana sembari memikirkan Yuri terus yang kini sudah mengingatnya lagi.


"Gadis itu, aku tidak mungkin menghapus ingatannya lagi." gumam Rang.


"Aku merindukannya," katanya sembari menyeringai.


Suara ketukan terdengar beberapa kali, dilihatnya Nara masuk ke dalam ruangan dengan pakaian yang sama saat dia kerumahnya tadi.


"Rang.."


"Pak.. Rang.."


Rang melihat Nara agak lama, wajah itu adalah wajah kekasihnya dulu. Sulit untuk tidak merasakan deja vu saat bersama Nara. Sehingga, kadang dia juga tidak sadar kalau dia sedang menatap Nara.


"Andai dia yang memiliki permata rubah itu," batin Rang.


Dia segera membuyarkan khayalannya itu. Dia melihat Nara sembari tersenyum manis.


"Ya? Ada apa Nara?"


"Ada yang harus aku bicarakan. Maaf, karena aku, mengatakan pada ayahku bahwa kau kekasihku. Aku menunjukan fotomu padanya."


Rang mengerutkan dahi, "Nara? Kenapa kau melakukannya?"


Rang tertegun, sesuatu hal yang sudah dia cegah terulang kembali. Hal itu tetap akan terjadi bagaimanapun dia menghentikannya. Rang menghela napas panjang.


"Lalu? Kau mau apa? Mengundangku makan malam, lagi?"


"Ya, kau benar. Kali ini aku ingin kita makan malam di luar."


"Kumohon bantu aku, aku akan melakukan tugasku dengan benar."


Melihat wajah Nara mengiba, Rang menjadi tidak tega. Walau bagaimanapun, dia pernah mencintai wajah itu.


"Baiklah, nanti malam aku akan menemui kalian. Kemana aku harus pergi?"


"Restoran Mars saja. Aku akan siap-siap sepulang kerja nanti."


Rang hanya mengangguk.


Setelah semua pekerjaan selesai, Rang pulang dan bersiap. Dia memakai setelan jas berwarna soft pink dipadukan dengan kemeja salur. Pria itu tetap cocok mengenakan warna yang notabenenya jarang digunakan laki-laki. Rang berkaca di depan cermin, pria itu merapikan kerah kemejanya.

__ADS_1


Dia mendengus, "kenapa aku merasa seperti sedang berselingkuh?"


Dia memutar bola matanya sambil berjalan dengan malas ke arah pintu keluar rumahnya.


"Aku rubah berusia ratusan tahun, kenapa rasanya seperti anak remaja yang baru saja mengenal cinta. Apalagi jika dipikir-pikir, kenapa kekasihku bereinkarnasi menjadi wanita bertanduk seperti itu." Rang menggeleng beberapa kali.


"Maksudmu bertanduk?" Suara yang tiba-tiba muncul membuat Rang terkejut.


"Yuri? Kau masuk tanpa izin?"


"Aku masih ada izin karena aku seharusnya masih tinggal disini. Kembali lagi ke pertanyaanku, siapa yang bertanduk?" Yuri mendekat ke arah Rang mendangak pada pria itu.


Rang menunduk menatap Yuri yang ada di hadapannya, dia meluruskan jari telunjuknya dan mendorong kepala Yuri dengan itu. Dia berjalan sembari membuat Yuri mundur ke belakang.


"Aku masih marah padamu!" ujar Rang.


"Marah?" Yuri mengerutkan dahi.


"Ya! Marah!"


"Harusnya aku yang marah!" Yuri menekankan nada bicaranya.


"Yuri, aku marah padamu karena kau seperti boneka hantu! Datang tak diundang pulang tak diantar. Itu pribahasa yang cocok untukmu!"


Yuri membulatkan pandangannya, "ish dasar jika aku boneka hantu maka kau si pencuci otak! Aku kesini karena ada hal yang harus ku sampaikan! Jangan pernah menghapus ingatan siapapun lagi, termasuk Nara! Dia orang yang baik, terlebih bukankah dia berwajah sama dengan kekasihmu dulu?"


"Kenapa kau tiba-tiba membahasnya?" Rang menaikan sudut alisnya.


"Karena, dia orang baik. Jadi kuharap kau tidak menyakitinya."


"Peduli pada perasaan orang itu bukan gayaku, aku biasanya melakukan apapun sesuai kehendakku." Rang menyilangkan lengannya di dada.


"Tidak untuk kali ini! Karena aku disini, aku akan mencegah kau melakukan hal sesukamu!" Yuri menatap Rang dengan tajam.


"Kau terkadang menghabiskan kesabaranku, kau benar, hanya karena permata rubah itu ada padamu bukan berarti kau kekasihku sekarang." Rang menghela napas.


"Kau tidak ada kaitannya dengan masa laluku, itu yang kau katakan padaku kan? Aku bahkan berharap bahwa semua ini hanya kekeliruan saja," Rang tidak bisa melanjutkan ucapannya yang dia tahu akan menyakiti Yuri.


"Kenapa berhenti? Kau mengasihaniku? Atau kau merasa aku tidak seperti yang kau harapkan? Kau tahu, aku tidak pernah ingin berada disini sejak awal. Kau tidak perlu khawatir tentang perasaanku. Lakukanlah sesuai kebiasaanmu, melakukan sesuatu tanpa perasaan. Silahkan saja!" Yuri menadah ke arah pria di hadapannya.


"Lagipula, jika kau menyukaiku karena permata rubah itu.. Kau bebas sekarang, permata itu sudah tidak ada padaku. Sekalipun jiwaku adalah reinkarnasi dari kekasihmu dulu, tetap saja. Mari kita akhiri hubungan masa lalumu itu sekarang." Yuri menahan sesuatu gejolak panas yang ingin meluap. Dia merasa marah namun dia merasa tidak bisa untuk melakukannya.

__ADS_1


"Dan maaf, telah masuk kesini tanpa izin. Mulai sekarang, mari bertindak bahwa tidak pernah terjadi apa-apa diantara kita." Yuri berbalik dan berjalan beberapa langkah.


"Kau yang terkejam, kau memintaku untuk tidak menghapus ingatanmu tapi kau membuangku semudah itu?" Rang mengerutkan dahi, dia sama marahnya dengan Yuri.


__ADS_2