
Saat dalam perjalanan pulang, Nara menyadari bahwa ia pernah melihat Yuri.
"Tunggu sebentar, kurasa kita pernah bertemu. Kau waktu itu melamar pekerjaan bersamaku kan?"
Yuri menatap Nara kebingungan, dia sama sekali tidak mengingat bagian itu.
"Aku tidak tahu, aku mengalami kecelakaan dan kehilangan beberapa hal dalam ingatanku."
"Ah benarkah? Maaf, aku turut prihatin atas apa yang menimpamu." namun, Nara juga tidak menyadari bahwa Yuri pernah menjadi asisten dari Rang, kemungkinan besar Rang menghapus beberapa ingatannya juga.
Sesampainya di rumah megah milik Nara, wanita itu langsung mengajak Yuri masuk ke dalam.
Di sisi lain, Rang sedang ada di dunia siluman dimana ayahnya sudah menunggu dia disana.
"Rang! Kapan kau akan menyelesaikan urusanmu?"
"Aku belum menentukannya, jadi ayah bersabar saja." Rang menyeringai.
"Kau ingin aku menyeret wanita itu lagi kesini?"
"Berhenti melakukan cara yang picik seperti itu, aku sudah menuruti keinginanmu dengan meninggalkannya. Jadi jangan pernah menyentuhnya bahkan sehelai rambutnya pun!"
"Rang, ayah ingin kau segera menempati posisi sebagai putra mahkota kerajaan siluman ini."
"Kenapa kau tidak meminta Yon menggantikanmu alih-alih memaksaku yang tidak menginginkan itu sama sekali?" Rang melenggang pergi, dia tidak menghiraukan jawaban sang ayah.
Rang berjalan melihat negeri siluman yang di kuasai ayahnya. Disana terdapat banyak macam jenis makhluk yang berkumpul menjadi satu. Kebanyakan memang manusia rubah, bahkan tak jarang makhluk-makhluk itu menatap Rang dengan tajam.
Mereka tahu betul, bahwa Rang adalah hasil hubungan gelap ayahnya dengan seorang manusia biasa.
Saat hendak kembali melewati portal, tiba saja seorang mendarat di belakangnya dengan cepat.
"Adik!" Yon menyentuh pundak Rang.
"Ada apa?" Rang mendengus malas.
"Jangan hanya karena ucapanku tadi kau berharap aku menyukaimu," Rang menaikan sudut alisnya.
"Adik kau benar. Seharusnya aku membantumu agar tidak datang dan tinggal di dunia ini."
"Cih, untuk apa? Aku tidak butuh bantuanmu juga." Rang mengerutkan dahinya.
"Kau, meninggalkan gadis itu? Bukankah sudah jelas bahwa dia adalah reinkarnasi kekasihmu? Kenapa kau membiarkannya pergi?"
"Bahkan kau menghapus ingatannya tentangmu." Yon tertawa kecil.
"Itu bukan urusanmu," jawan Rang singkat.
"Terlebih, kau tetap membiarkan permata rubah milikmu di tubuhnya kan?"
"Itu semua aku lakukan agar dia terhindar dari gangguan orang macam dirimu dan juga ayah." Rang mendelik ke arah Yon.
Yon hanya bisa tertawa, "ucapanmu semakin hari semakin pedas saja adik. Apa aku seburuk itu di matamu? Kau tidak ingat kenangan kita dulu saat kecil?"
__ADS_1
"Kenangan yang mana? Aku tidak ingat." Rang melenggang pergi melewati portal dan kembali ke rumah. Disana dia mendengus pelan, merasa kesal karena Yon mengungkit kenangan mereka bersama sewaktu kecil.
Dulu, Yon dan Rang sangat akrab bak adik kakak sungguhan. Walau Yon membenci kelahiran Rang, dia tidak bisa membohongi dirinya bahwa dia senang memiliki saudara.
Namun, saat sang ayah mulai memuja kekuatan Rang yang lebih dari padanya dia menjadi pencemburu dan semakin lama semakin membenci Rang.
Sekarang, dia tahu jelas bahwa adiknya tidak menginginkan apapun dari sang ayah. Melainkan, hanya ingin hidup sebagai manusia biasa dengan orang yang Rang kasihi.
"Tidak ada salahnya aku membantunya," gumam Yon kemudian pergi dari tempat itu.
**
"Yuri, bagaimana?"
Yuri melihat Nara dengan gaun merah tanpa lengan yang menambah kesan seksi tapi elegan.
"Sangat cantik, kurasa dari delapan gaun itu. Yang ini paling cocok."
"Baiklah, aku akan memakai ini. Terimakasih Yuri, sudah mau membantuku. Sebentar lagi, tamunya akan datang jadi kau bisa menungguku sampai acara makan malam selesai atau jika kau ingin pulang silahkan saja."
"Aku akan menghubungimu nanti," Nara tersenyum manis ke arah Yuri.
"Aku akan pulang saja nanti, silahkan nikmati acaranya. Semoga orang spesial ini menyukai penampilanmu." Yuri tersenyum tipis.
"Tentu, terimakasih."
Yuri sedang merapikan barang yang berantakan akibat merombak sedikit gaun yang agak kebesaran di tubuh Nara.
Mereka masuk kemudian ke halaman belakang untuk memulai acara makan malam mereka.
"Selamat malam," Rang dengan santai menyapa kedua orang tua Nara.
Rang membawa sebuah jam tangan mewah sebagai buah tangan untuk kedua orang tua Nara.
"Terimakasih, kau tidak perlu repot-repot."
"Ini sama sekali tidak merepotkan," Rang tersenyum.
Tanpa aba-aba Nara langsung mengeratkan tangannya pada lengan Rang. "Aku sangat senang kau datang, sayang."
Rang hanya tersenyum tipis.
"Nara, dia terlihat tidak nyaman. Lepaskan tanganmu!" ujar ayah Nara.
Nara pun mendengus kemudian melepaskan kaitan tangannya di lengan Rang.
"Ada yang ingin aku bicarakan," Nara berbisik pada Rang.
"Ikut aku dulu," Nara segera membawa Rang ke dapur yang tidak jauh darisana.
"Ada apa?"
"Kau tidak keberatan kan melakukan ini?" Nara memasang wajah memohon pada Rang.
__ADS_1
"Aku sangat tidak nyaman, ini kali pertama bagiku." Rang mengerutkan dahinya dia memalingkan wajahnya dari Nara.
"Oh iya, kau pasti akan sangat terkejut. Aku bertemu wanita yang waktu itu bersamaku saat wawancara kerja. Yuri, kau ingat? Dia ada disini!"
"Yuri?" Rang mengerutkan dahinya, dia agak terkejut karena dia sama sekali tidak mengetahui hal itu.
"Tapi sayang sekali, dia tidak ingat. Katanya dia mengalami kecelakaan dan beberapa ingatannya hilang."
Rang menunduk, dia merasa sedih karena mendengar bahwa Yuri percaya soal kecelakaan itu yang mana hanya karangan Rang saja agar semua yang Yuri alami tidak janggal di matanya.
"Itu dia! Yuri kemarilah!"
Rang mengerjap lalu menoleh ke belakang, disana dia melihat seorang wanita yang sangat dia rindukan berjalan mendekat ke arahnya.
Yuri dengan sopan memberi salam pada keduanya.
"Selamat malam," dia membawa satu kantong sampah.
"Malam, Yuri perkenalkan ini Rang. Aku ingin mengingatkanmu sedikit, bahwa dia adalah pemilik perusahaan yang waktu itu kita lamar." Rang masih belum berani menatap Yuri sampai akhirnya Nara mencoba membuatnya menjabat tangan gadis itu.
"Rang," katanya.
"Yuri," tangan keduanya bersentuhan.
Sesaat waktu terasa berhenti bagi mereka, tatapan sendu Rang bertemu dengan mata Yuri yang tidak tahu apapun tentangnya. Ada rasa sedih di hati Rang, sedangkan di mata Yuri dia terkejut karena dia merasa pernah bertemu pria di hadapannya.
Nara menyaksikan mereka berdua yang seperti tidak mau melepaskan jabatan tangan itu satu sama lain.
"Yuri, kau mau pulang?" pertanyaan Nara membuat keduanya sadar dan segera melepaskan genggaman tangan yang kuat tadi.
"Ya, aku pamit pergi dulu. Selamat malam." Yuri segera berjalan cepat keluar dari rumah itu sembari menenteng sampah yang ia pegang.
Di luar rumah dia segera membuangnya pada tempat sampah, ada sesuatu hal yang membuat Yuri merasa aneh.
"Aku seperti pernah melihatnya," pikir Yuri terus selama perjalanan.
Sedangkan Rang, menjadi tidak fokus menikmati hidangan yang ada di depannya dan terlihat sering melamun.
"Sayang, makanlah!" seru Nara pada atasannya itu.
Rang hanya menyeringai tipis.
Rang menjentikan jarinya, sesaat waktu berhenti. Tidak ada aktivitas apapun, semuanya mematung oleh kekuatan Rang.
"Lupakan kejadian malam ini, anggap ini makan malam keluarga kecil kalian."
Di saat itu, dia berlari secepat kilat untuk melihat Yuri.
Dia melihat gadis itu sedang dalam perjalanan pulang.
Rang mengikuti Yuri dari belakang. Yuri yang menyadari ada yang mengikutinya pun beberapa kali menoleh. Namun, dia tidak melihat siapapun.
"Siapa disana?"
__ADS_1