
"Terimakasih Nara, aku akan menyiapkan kamar untukmu."
"Terimakasih Yuri," jawab Nara yang mengikuti Yuri dari belakang. Sedangkan Rang memasang raut wajah bersalah saat melihat wanitanya mengantar Nara untuk ke kamar.
"Yuri, sejak kapan kau mengenal tunanganku?"
Hati Yuri semakin teriris saat Nara melabeli Rang dengan kata tunanganku. Dia mencoba bersikap normal dan berpura-pura bahagia untuk mereka. "Baru-baru ini, kami belum mengenal lama. Dan Nara, selamat atas pertunangan kalian. Aku yakin kau merasa senang."
"Tentu saja! Aku sangat-sangat senang, kau yang paling tahu kan kalau Rang adalah pria yang paling kukagumi. Aku tidak menyangka bahwa dia akan memintaku menjadi kekasihnya dan juga dia mau membawaku ke rumahnya ini untuk tinggal sementara waktu." Nara berjalan memutar kemudian duduk di ranjang.
"Kenapa kau harus tinggal disini?"
"Maksudku, apa ada sesuatu?" lanjut Yuri.
"Hum, ayah dan ibuku sakit. Jadi mereka memintaku untuk tinggal bersama Rang dulu."
Yuri mengatupkan mulutnya kemudian mengangguk, Nara melihat kesekeliling ruangan dan tersenyum bahagia. "Dekorasi runah Rang benar-benar satu selera denganku, ini akan sangat mudah jika kami menikah nanti kan?"
Yuri menyeringai. "Kurasa, ya. Istirahatlah! Aku akan menyiapkan kue ini untuk kita semua."
Yuri berjalan ke arah dapur yang bernuansa abu-abu tua itu, dia mencari piring di dalam rak kemudian menaruhnya di atas meja. Yuri mengambil pisau dan mulai memotong kue yang dibeli oleh Nara. Dia merasakan langkah kaki terdengar dari arah belakangnya, Yuri tidak menoleh. Dia tahu siapa yang datang, itu pasti Rang.
"Maafkan aku."
Yuri mendengus pelan. "Untuk apa?"
"Karena, membawa Nara."
__ADS_1
Yuri berbalik dan menatap Rang agak lama. "Kau tidak perlu minta maaf, akulah yang harus minta maaf. Dia tunanganmu, benarkan?"
"Kau tahu jelas itu karena ulah Yon kan? Dia sengaja berbuat seperti itu agar hubungan kita merenggang." Rang berjalan mendekat kemudian menggenggam tangan Yuri.
"Aku akan mencari jalan keluar dari ini." Lanjut Rang.
"Terserah padamu. Yang penting bagiku sekarang adalah kesehatan Byul, aku harus segera menemukan penawarnya. Dia terus merasa kesakitan di perutnya. Aku tidak tahu lagi harus bagaimana lagi Rang."
Rang membelai lembut pucuk rambut Yuri dan menenangkannya. "Kita akan cari caranya."
Setelah berbincang dengan Yuri, Rang pergi menemui teman dokternya yang sudah memeriksa keadaan Byul. Sedangkan Yuri kembali ke kamar Nara untuk memakan kue bersama.
"Kurasa, penawarnya ada di dunia siluman. Ekstrak bunga kaleana akan membantu menyembuhkan wabah ini."
"Kaleana?" Rang mengerutkan dahinya, dia memerhatikan dengan serius apa yang disampaikan pria itu.
Rang terdiam.
"Bagaimana? Bukankah mudah?" lanjut dokter itu.
"Entahlah Bin. Aku merasa berat melakukannya." jawab Rang.
"Jangan bilang kau tidak ingin melakukannya karena terpikir untuk membawa pengantinmu ke dunia siluman dan tinggal disana bersama?"
"Apa itu sangat jahat?" sikunya menopang di atas lutut.
"Tidak, tapi itu sangat egois. Namun semuanya kembali padamu, aku sudah memberitahumu obatnya dan hanya kau yang bisa pergi ke dunia siluman untuk mendapatkan bunga itu."
__ADS_1
"Aku pergi dulu, ini sudah larut malam." Pria itu menepuk pundak Rang sembari berlalu dari ruangan. Rang berdiri dan mengantarnya sampai ke ujung pintu rumah.
Setelah pria itu pergi, Rang berjalan kembali masuk ke rumah. Menutup pintu dibelakangnya sembari mendengus pelan, setelah tahu obat yang bisa menyembuhkan penyakit itu Rang merasa jadi terbebani. Tentu saja dia tidak boleh hanya mengobati Byul, melainkan dia juga harus memberikannya pada manusia lain yang terkena penyakit itu. "Tapi, untuk apa juga aku memikirkan manusia? Mereka penuh dosa dan pantas mendapatkan wabah ini kan." gumamnya kemudian berjalan dengan malas ke kamar tidur.
Rang bersandar di senderan ranjangnya, sembari mengetuk-ngetukan kuku di nakas Rang memikirkan hal itu sepanjang malam. "Aku akan berpura-pura tidak tahu, aku kesini karena kabur darisana. Jika aku kembali dan meminta bantuan ayah untuk dapat bunga itu pasti dia tidak akan melepaskanku kembali."
Rang menggeleng, dia tidak mau kembali ke dunia siluman. Dia hanya ingin dekat dengan Yuri, dia sudah menduga jika kembali ke dunia siluman itu artinya dia menyerahkan diri karena ayahnya tidak mungkin akan membiarkannya lolos lagi. Seketika, Rang memikirkan Yuri. Suara wanita itu dan Nara tidak terdengar lagi kemungkinan mereka sudah tertidur. Rang bimbang dengan hatinya, dia dihadapkan dengan dua pilihan sulit. Dia kira awalnya akan lebih mudah menolak Nara karena jiwanya memang bukan milik kekasihnya, namun setiap melihat wajah gadis itu dia merasa terhanyut dalam kenangan masa lalu.
Tapi, perasaannya pada Yuri benar adanya. Rang mencintai wujud Yuri yang sekarang dengan atau tanpa jiwa kekasih lampaunya. Rang ingin hidup bersama wanita itu dimasa kini dan masa depan. Rang memutuskan untuk tidur dengan menarik selimut dan memasang penutup mata. Jika tidak memakai itu, dia akan terjaga sepanjang malam.
Di kamar lainnya, Yuri menoleh ke arah Nara yang sudah tertidur lelap. "Aku tahu, ini pasti sulit bagimu," gumam Yuri. Yuri menghela napas panjang, tidak lama dia mendapatkan sebuah pesan dari seseorang. Setelah diperiksa ternyata itu dari Sean, kemarin malam mereka memang saling bertukar nomor telepon.
"Yuri, kau sudah tidur? Kau baik-baik saja? Berita di TV membuatku khawatir, dan aku memikirkanmu." itulah yang Sean tulis di pesannya. Yuri segera mengirimkan balasan dengan cepat.
"Aku baik-baik saja, namun adikku terkena penyakit aneh itu."
Hanya selang beberapa detik, Sean pun membalas. "Benarkah? Aku akan menjenguk kalian besok. Aku juga punya kenalan, dia seorang dokter hebat. Jika kau mau aku akan mengajaknya kesana besok."
"Kau serius? Aku akan sangat senang. Sekarang aku sedang berada di rumah waktu itu." balas Yuri.
"Baiklah, aku akan menemuimu disana!"
Setelah percakapan panjang lebarnya lewat pesan, akhirnya Yuri memutuskan untuk tidur. Dia merasa senang, karena Sean akan membawakan dokter terbaik untuk Byul. Walaupun mereka baru kenal, Yuri tidak merasa ada hal yang aneh pada pria itu, sehingga dia percaya padanya.
Keesokan paginya, Rang dibangunkan oleh suara bel rumah yang menganggunya. Tentu saja, karena telinganya sensitif dengan suara sehingga dia mudah mendengar hal apapun dari jarak jauh. Apalagi dalam kondisi rileks seperti tertidur dan tidak memakai penutup telinga.
Rang membuka pintu dengan mata yang masih terkantuk, dia terkejut mendapati dua orang pria sedang ada di depan rumahnya. Satu pria dengan berpakaian dokter juga kaca mata, yang satunya lagi memakai kemeja berwarna biru dongker dengan celana berwarna krem.
__ADS_1
"Siapa kalian?"