
Rang menoleh ke arah wanita di sampingnya, mereka masih berada dibalik selimut yang sama. Menatap langit-langit kamar Rang, setiap sudutnya kamar itu terlihat semakin berantakan. Pakaian yang tergeletak sembarangan dilantai, bahkan barang-barang di nakas yang berserakan dibawahnya.
Pria itu tersenyum pada Yuri dengan manis, dia kemudian membelai rambutnya secara perlahan dan lembut. "Jika ada cara untuk kita bersama apa kau mau melakukannya?"
Yuri menoleh ke arah Rang. "Tentu saja, selagi tidak harus meninggalkan Byul."
Deg..
Rang rasa, kesempatannya mulai setipis tisu. Dengan pernyataan Yuri yang seperti ituz mustahil wanita itu mau meninggalkan adiknya dan hidup bersama Rang di dunia siluman. "Byul akan dewasa dan dia akan menemukan takdirnya sendiri, kenapa kau selalu memerhatikannya lebih daripada aku?" bibir Rang mengerucut dia merasa cemburu karena Yuri menempatkan prioritasnya di bawah Byul.
Yuri mencibir. "Cih, memangnya kau siapa? Ingin lebih diperhatikan daripada Byul!"
Mata Rang membulat, dia semakin kesal karena Yuri menjawab seperti itu. "Yuri, setelah apa yang telah kita lakukan barusan?" katanya sembari menaikan sudut alisnya.
Yuri mengerucutkan bibirnya juga. "Kau tidak pernah memintaku menjadi kekasihmu atau apapun. Yang kau bilang hanya aku adalah kekasihmu di zaman dahulu. Itu tidak membuatku langsung jadi kekasihmukan? Setidaknya tanyakan itu padaku."
Yuri menggigit bibir bawahnya, dia merasa malu telah berbicara hal itu pada Rang. Sedangkan kekasihnya itu hanya tertawa kecil sembari menunjukan giginya yang rapih. "Baiklah, apa kau mau menjadi istriku?"
Yuri menoleh pada Rang dengan mata membelalak. "Aku belum siap menikah."
"Bagaimana kalau menjadi kekasihku?" tanya Rang lagi.
"Lalu bagaimana pertunangan yang sudah di umumkan ke media itu?" Yuri mendengus pelan.
"Itu ulah Yon, aku masih belum punya solusinya. Ah iya, aku jadi teringat sesuatu." Rang segera duduk dan bangun dari tempat tidurnya.
"Ada apa?" Yuri ikut duduk dengan mengeratkan selimut ketubuhnya.
"Aku menyuruh Nara untuk menungguku di kantor, karena banyak pegawai yang mengalami sakit seperti Byul sehingga aku meminta Nara untuk tetap disana agar dia aman."
"Kau juga, ingat pesanku jangan menyentuh Byul secara langsung. Kau bisa mengenakan sarung tangan atau semacamnya untuk menghindari kontak fisik. Aku harus ke kantor dulu menjemput Nara dan mengantarnya pulang."
Rang segera pergi ke kamar mandi kemudian membersihkan tubuhnya tanpa menunggu jawaban Yuri. Setelahnya pria itu segera mengenakan pakaian santainya celana hitam dan sweater abu dengan topi yang berwarna hitam juga.
__ADS_1
"Aku pergi dulu, sebaiknya kau mandi dan berganti pakaian." Rang mengecup kening Yuri, kemudian pergi dengan mengemudikan mobilnya dengan cepat, pria itu ke kantornya yang hanya berjarak 2 km dari rumah.
Hari sudah mulai malam, Rang berlari masuk ke dalam kantor untuk menemui Nara. Saat masuk ke ruangan, dia melihat wanita itu sedang tertidur di sofa. Rang berjalan mendekat ke arah gadis itu, dia memerhatikan wajah Nara untuk sesaat. Dia sangat merindukan sosok itu, Rang menyentuh lembut bahu Nara untuk membangunkannya. Gadis itu terkesiap dan membuka matanya secara perlahan. Dia duduk sembari mengucek matanya yang masih mengantuk.
"Maaf sudah membuatmu menunggu lama."
Nara tersenyum kemudian menggeleng. "Tidak apa-apa, aku yakin kau sibuk mengurus pegawai kita." Nara tahu Rang berbohong, dia tahu bahwa semua urusan pegawai di serahkan ke pihak rumah sakit. Sedangkan pria itu pergi entah kemana. Namun, baginya itu tidak masalah.
Rang tersenyum, kemudian mengulurkan tangannya pada Nara. "Kau siap pulang?"
Nara mengangguk. "Tentu, mari kita pulang!"
Rang mengantarkan Nara ke rumahnya, tidak lupa pria itu mampir sebentar untuk menemui orang tua Nara. Namun sesampainya di depan rumah, ayah Nara menelepon bahwa dirinya dan ibunya sedang sakit jadi harus diisolasi di rumah dan tidak boleh menemui siapapun selain dokter.
"Kau lebih baik ikut bersama Rang, biarkan ayah yang berbicara dengannya!"
Nara menyerahkan ponselnya pada Rang. "Ayahku ingin berbicara denganmu."
"Begini Rang, Aku dan ibunya Nara sedang sakit dan ini menular. Aku tidak ingin putriku Nara tertular jadi kumohon untuk sementara waktu bawa dia ke rumahmu dan jaga dia!"
Rnag melihat ke arah Nara, dia ragu untuk menjawab permintaan ayahnya.
"Aku bisa saja memintanya untuk tidur di hotel, tapi aku takut terjadi apa-apa padanya. Hampir semua pengawalku memiliki gejala yang sama, jadi jagalah dia sampai kondisi kami membaik."
"Baiklah, kalau begitu saya akan menjaga Nara."
Setelah panggilan di selesaikan, Rang mendengus pelan, dia menoleh ke arah Nara dengan tatapan bingung. Nara menyadari hal itu. "Rang, jika ini berat untukmu tidak apa. Biarkan aku tinggal di hotel saja."
"Tidak! Kau ikut aku ke rumah!"
"Kau serius?" Nara tersenyum tipis, dia kemudian mengikuti Rang untuk masuk kembali ke dalam mobil dan ikut pria itu pulang.
Sebelum Nara mengetahui keberadaan Yuri dan Byul di rumahnya, Rang memberitahu Nara terlebih dahulu. "Nara, kau ingat Yuri?"
__ADS_1
Nara menoleh ke arah Rang kemudian mengangguk. "Tentu saja! Ada apa dengannya? Apa dia terkena penyakit aneh itu juga?"
Rang menggeleng. "Bukan dia, tapi adiknya. Sekarang mereka ada di rumahku."
"Di rumahmu?" Nara menaikan sudut alisnya.
"Mereka adalah kenalan bu Kimi, aku jadi mengenal mereka juga."
"Lalu, kenapa mereka bisa tinggal di sana?"
"Karena, sekarang Yuri menjadi asisten pribadiku. Maksudku, dia yang mengurus segala kebutuhanku."
Nara terlihat kebingungan, namun mendengar penjelasan Rang dia menjadi agak yakin dengan hal itu. "Oh begitu, berarti aku akan bertemu dengannya disana?"
Rang mengangguk. "Yah, kau benar. Ku harap kalian bisa mengobrol dengan baik."
"Tentu saja, aku sangat menyukainya. Dia yang paling bisa aku ajak cerita! Oh iya, terimakasih ya sudah mengizinkanku tinggal di rumahmu." Nara merangkulkan tangannya pada Rang yang sedang menyetir.
"Sama-sama," jawab Rang singkat. Dia sempat menoleh ke arah lengannya, namun tidak bisa protes untuk saat ini. Jika dia mengelak, Nara akan curiga karena perbedaan sikapnya.
"Si brengsek Yon memang membuatku gila!" batin Rang.
"Rang, aku ingin membeli kue untuk Yuri dan adiknya!"
"Ya, tentu saja. Kita akan mampir di toko kue di dekat rumahku."
Sesampainya di rumah, Yuri yang mendengar suara mobil Rang pun berlari dan hendak menyambut pria itu datang. Alangkah terkejutnya dia bahwa Rang keluar mobil bersama wanita yang dia kenal. Yuri segera masuk kembali ke dalam rumah dan mencoba bersikap normal.
"Hai Yuri!" Sapa seseorang di ambang pintu yang kini telah berjalan mendekati Yuri.
"Aku membelikanmu kue ini sebelum sampai kesini. Kenapa kau tidak memberitahuku soal tinggal disini?" Nara menyeringai bahagia melihat Yuri, dia memang menganggap Yuri sebagai temannya. Kemudian ia menyerahkan sekotak kue yang tadi dia beli sebelum mereka sampai ke rumah Rang.
"Aku juga akan tinggal disini untuk sementara waktu." Nara merangkul lengan Rang kembali. Dia mendekatkan diri pada Rang dan tersenyum padanya. Yuri yang melihat pemandangan itu langsung salah tingkah, dia ingin marah tapi tidak bisa. Namun melihat hal itu cukup membuatnya sakit hati.
__ADS_1