
Rang berdiri menatap pemandangan luar lewat dinding kaca di ruangannya. Pria itu menghela napas panjang. Tidak lama, ketukan pintu terdengar.
Rupanya Nara, dengan membawa beberapa berkas untuk ditandatangani Rang. Bagi Rang, sangat sulit untuk tidak jatuh cinta pada Nara, dia memiliki wajah dan postur tubuh yang sama dengan kekasihnya dulu.
"Pak Rang baik-baik saja?" bahkan, kelembutan Nara seolah menurun dari Aura.
Rang masih mematung menatap gadis itu, dia hampir meneteskan air mata saat wanita itu mendekat ke arahnya. Dia melihat seolah Aura lah yang datang menemuinya.
"Kau menangis?" kini Nara tepat berada di hadapan Rang, wanita itu menatap lekat mata Rang yang berkaca-kaca.
Saat Rang sadar apa yang sedang dia lakukan, dia langsung memalingkan wajah dan menyeka setetes air matanya.
"Maafkan aku," katanya.
"Tidak apa-apa pak, ini ada berkas yang harus pak Rang tandatangani. Juga, sekitar satu jam lagi kita ada meeting dengan departemen finance."
Rang mengangguk, "terimakasih" jawabnya.
"Sama-sama," Nara berbalik dan hendak keluar ruangan, namun tangan Rang kemudian menahan pergelangannya.
Dengan sorot mata kebingungan, Nara menatap tangan Rang yang memegang erat pergelangannya.
Rang kembali dihantam kilas balik masa lalunya bersama sang kekasih dulu. Dia sangat merindukan gadis itu.
"Pak Rang, sebaiknya kau istirahat. Aku akan siapkan teh hangat untukmu."
Rang menggeleng, "aku baik-baik saja."
"Tapi, izinkan aku untuk seperti ini beberapa menit saja."
Rang meraih tangan Nara kemudian menyematkan jari jemarinya pada tangan gadis itu. Dengan perlakuan Rang yang seperti itu sangat sulit juga bagi Nara untuk tidak jatuh cinta padanya.
Tidak lama, seseorang membuka pintu ruangan dengan cepat.
"Pak Rang!" seru seorang wanita yang terlihat ngos-ngosan.
Rang langsung melepaskan sematan jarinya pada Nara, dan menoleh ke arah gadis diambang pintu dengan tajam.
"Maaf, kau yang waktu itu kan? Tapi, kumohon jangan masuk ke ruangan pak Rang sembarangan!"
Nara langsung menghampiri gadis itu dengan cepat.
"Hai, aku Yuri. Asisten Pak Rang."
Rang hanya mendelik tajam ke arah Yuri. Sedangkan Nara menatap Rang bingung.
"Ada yang harus aku sampaikan, pak Suho.. Dia pingsan dan sekarang ada di rumah sakit."
Mata Rang membulat, dia langsung mendekat ke arah Yuri dan Nara.
"Nara, tolong batalkan semua jadwalku hari ini." Rang menggenggam pergelangan tangan Yuri kemudian menariknya keluar dan berjalan bersama.
__ADS_1
Nara hanya tertegun melihat pemandangan itu, bahkan Rang tidak memedulikan perasaannya setelah apa yang dia lakukan tadi.
"Kau serius?" Tanya Rang pada Yuri.
Yuri hanya mengangguk, mereka berdua memasuki elevator. Rang masih tidak sadar bahwa dia menggenggam erat tangan Yuri.
Yuri menatap datar tangan yang terpaut itu. Setelah sadar, Rang langsung melepaskan tangannya dan berusaha untuk bersikap normal.
"Apa yang sedang kau lakukan bersama sekretarismu tadi?"
Rang menatap Yuri tajam, "beraninya kau menanyakan hal privasi seperti itu!" kata Rang sembari melonggarkan ikatan dasinya.
"Maafkan aku, aku hanya penasaran." Yuri menyeringai tipis.
Kemudian para ajudan Rang yang sudah lebih dulu menyiapkan mobil untuknya, menyapa mereka berdua.
Rang segera masuk ke dalam mobil begitupun dengan Yuri.
"Kau bisa meneleponku, alih-alih datang ke kantor dan masuk tanpa mengetuk pintu!"
"Kau tahu kan, aku hanya berdua di rumah bersama pak Suho terlebih, aku tidak punya nomor ponselmu." Yuri mengatupkan mulutnya.
Rang menghela napas panjang, "kemarikan ponselmu."
Yuri segera mengeluarkan ponsel dari tas kecilnya. Kemudian, menyerahkan langsung pada Rang.
Sembari berkendara Rang memasukan nomor ponselnya dan menelepon dirinya sendiri.
"Baik, terimakasih pak Rang." Yuri kembali memasukan ponselnya.
Rang mengangguk.
Tidak lama keduanya sampai di rumah sakit. Disana Suho terlihat lemas dan juga pucat.
"Keluarga pak Suho?" kata seorang dokter.
Rang dengan cepat menghampiri dokter itu dan masuk ke ruangannya.
"Selamat siang Pak Rang, senang bertemu denganmu." kata dokternya sembari menjabat tangan Rang.
"Siang, bagaimana keadaan pamanku?"
"Kondisinya sungguh mengkhawatirkan, kurasa pak Suho tidak mengatakan bahwa dia sudah lama mengidap hipertensi."
Rang tertegun, dia belum siap kehilangan pria itu.
"Karena tekanan darah yang sangat tinggi itu, kemungkinan besar pembuluh darah otak pak Suho pecah. Sehingga kami harus segera melakukan operasi, untuk saat ini kondisinya hampir bisa dibilang kritis karena sebagian tubuhnya sudah mengalami mati rasa."
Rang masih tertegun, hatinya hancur mendengar pernyataan itu. Sudah yang kesekian kali Rang menyaksikan kematian orang-orang yang dikasihinya.
Tapi, dia berharap tidak untuk Suho. Suho adalah reinkarnasi anjing kecilnya dimasa lampau. Saat itu, anjingnya terbakar habis karena kebakaran hutan.
__ADS_1
Dan, dia tidak bisa menyaksikan kematiannya lagi.
**
"Yuri," kata Suho dengan lirih.
"Iya pak?" Yuri mencondongkan tubuhnya agar mendengar perkataan Suho dengan jelas.
"Kumohon, jagalah tuan Rang dengan baik. Saat aku pergi, aku yakin dia tidak akan baik-baik saja."
"Pak, jangan berkata seperti itu. Kau harus yakin akan sembuh." Yuri mencoba menyemangati Suho.
"Aku percaya padamu, entah kenapa aku merasa senang melihatmu saat pertama kali kita bertemu. Kau bisa membawa perubahan besar bagi tuan Rang. Jadi, kumohon jagalah dia."
Rang yang mendengar percakapan Yuri dan Suho di luar pintu, tidak kuasa menahan tangisnya. Dia pergi meninggalkan mereka berdua dan kembali berjalan ke arah basemen.
Disana Rang menendang ban mobilnya dengan keras, dia meneteskan air mata karena merasa kesal.
"Ini kutukan untukku! Kehidupan ini kutukan!" Katanya sembari menendang ban mobilnya lagi.
"Pak Rang hentikan!" Yuri berlari menghentikan Rang yang dengan brutal menyakiti dirinya sendiri.
"Lepaskan aku! Pergilah!" kata Rang menatap tajam ke arah Yuri.
"Kau seharusnya tidak melakukan ini! Kau seharusnya menemui pak Suho dan menyemangatinya."
"Untuk apa? Manusia hanya berumur pendek, sekalipun aku menyemangatinya tidak akan ada yang berubah." Rang mengerutkan alisnya.
Plakk
Yuri menampar Rang dengan agak keras.
"Kau!"
"Sadarlah! Aku mungkin tidak akan sepatuh Suho padamu, aku tidak akan takut padamu Rang! Sekalipun kau memelintir tanganku tapi, jika kau salah aku tidak akan segan menamparmu seperti itu lagi."
Mendengar ucapan Yuri, Rang terdiam dan mulai menenangkan dirinya. Pipinya masih terasa sangat panas, namun itu tidak apa-apa bagi Rang.
Untuk pertama kalinya, dia patuh pada seseorang. Dan orang itu adalah Yuri.
Kini, Rang sudah mulai tenang.
"Maafkan aku, mari kita lihat pak Suho terlebih dulu." Yuri mendekat ke arah Rang dan mengajaknya menemui Suho.
Pria itu melenggang pergi lebih dulu, diikuti oleh Yuri di belakangnya.
Yuri menghela napas, dia merasa menyesal telah menampar Rang dengan keras. Tapi dia juga merasa beruntung karena Rang tidak membalas tamparan itu.
Sesampainya di ruangan, terlihat semua dokter dan perawat berkumpul mengelilingi Suho.
"Pak tolong tunggu di luar, kondisi pasien menurun drastis." kata seorang perawat pada Rang yang hendak masuk.
__ADS_1