
Setelah kejadian yang menimpa Yuri tadi, Rang membawa wanita itu ke rumahnya. Disana dia menyiapkan minuman hangat untuk Yuri yang masih merasa kedinginan. Juga, pemanas ruangan yang disesuaikan dengan kebutuhan Yuri.
Rang menyelimuti Yuri dengan selimut tebal berbulu, wanita itu sedang duduk dengan memeluk kedua lututnya di atas sofa.
"Lihat? Ini semua karena kau kehilangan permata rubahku!"
"Cih, mana kutahu itu adalah benda berharga. Syukur-syukur aku membebaskanmu dari sana!"
"Kau selalu mendebatku, kau bahkan tidak takut padaku sedikitpun!" Rang mengerutkan dahinya.
"Untuk apa takut padamu!" Yuri masih merasa kedinginan.
Rang hanya bertolak pinggang sembari menatap langit-langit rumahnya. Dia bingung entah apa yang harus dia lakukan untuk membuat Yuri mendengarkannya.
"Baiklah, benda itu sekarang sudah hilang. Mencari pria itu saja adalah hal yang tidak mungkin."
"Ya, kau tidak perlu khawatir. Dengan ini terjadi, berarti aku bukan pengantinmu lagi kan?" Yuri mendelik tajam ke arah Rang.
"Kau bilang aku adalah reinkarnasi kekasihmu dulu, asal kau tahu aku tidak ingin menjadi bayang-bayang atau bonekamu! Entah bagaimanapun kehidupan lampauku, aku tidak sudi menerimanya! Aku adalah aku, aku yang menentukan takdirku sekarang!"
Yuri masih menyimpan kekesalan atas kesalahan yang Rang lakukan, dia merasa terabaikan setelah malam indah yang sudah mereka lewati bersama.
"Terlebih, Nona Nara adalah kekasihmu sekarangkan? Lagipula, wajahnya terlihat sama dengan kekasihmu dulu. Mungkin saja ada kekeliruan disini!"
Yuri melepaskan selimutnya, dia merasa emosi dan hawa panas yang keluar dari tubuhnya mengalahkan rasa dingin yang dia alami.
"Yuri," suara Rang merendah.
"Kumohon, dengarkan aku dulu."
"Aku membencimu Rang! Dengan tidak adanya permata rubah itu, aku harap kau tidak mengaitkanku pada masa lalumu lagi!"
"Yuri! Aku tidak mengaitkanmu pada masa laluku, aku menyukaimu sebelum mengetahui permata itu ada padamu!" Rang mendekat ke arah Yuri dan menatapnya lekat.
Pria itu menyentuh lembut tangan Yuri, namun dengan cepat dia menepis tangan Rang.
"Jangan menyentuhku! Aku tidak akan tertipu dua kali! Jika setelah ini kau akan menghapus ingatanku kembali, aku tidak peduli sedikitpun!"
"Lebih baik memang kita tidak saling mengenal sejak awal!" Yuri membulatkan pandangannya pada Rang.
Rang menghela napas panjang, dia kebingungan mengendalikan amarah Yuri, memakai kekuatannya terasa tidak bijak untuk saat ini. Dia hanya ingin menikmati perasaan ini seperti manusia biasa. Mendebat dengan Yuri tanpa menghentikan itu dengan kekuatannya.
"Pukulah aku! Lakukan sesukamu jika itu membuatmu merasa tenang!"
"Ya! Aku memang ingin menamparmu, menendangmu, memukulmu!"
Rang menarik kepalan Yuri dan mendekatkan diri dengannya, "maka lakukanlah!"
__ADS_1
Yuri dengan kencang memukul dada Rang tiga kali.
"Ini menusuk, sampai ke hatiku." Rang menahan kepalan Yuri di dadanya.
"Lepaskan!" Yuri menarik tangannya dengan kuat namun usahanya gagal.
"Kau sudah merasa puas? Sekarang giliranku!" Rang mendekap Yuri secepat kilat, pria itu langsung mendaratkan ciuman ke bibir wanita itu dengan lembut.
Yuri tertegun, matanya membelalak dan mencoba melepaskan jeratan Rang. Pria itu, tidak membiarkan gadis itu lepas darinya. Setelah mengingat dirinya kembali, rasanya Rang tidak sanggup membuat Yuri kehilangan kenangan tentang mereka lagi, kali ini dia harus lebih terang-terangan melindungi Yuri dari segala kejahatan terlebih permata itu telah hilang.
Yuri dengan sekuat tenaga menginjak kaki Rang hingga pria itu melepaskan pelukan dan ciumannya.
"Aduh!" Rang berjinjit menahan sakit kakinya yang terinjak dengan sepatu ber-hak 5 sentimeter milik Yuri.
"Beraninya kau menciumku lagi!" Yuri bertolak pinggang dengan tatapan tajam pada Rang.
Rang hanya tertawa kecil, "kau menggemaskan saat marah sehingga membuatku ingin melakukannya."
"Dasar bajingan, sudah punya Nona Nara masih melakukannya dengan orang lain!"
"Siapa yang mengatakan aku milik Nara?"
"Buktinya kau makan malam bersama keluarganya kan?" Yuri mendelik tajam lagi.
"Ah, jangan bilang kau... Cemburu?" Rang terkekeh menahan tawanya.
Tidak lama, Yuri merasa kembali kedinginan. Tulangnya terasa linu sehingga dia terduduk di sofa dengan cepat.
"Yuri, kau baik-baik saja?" Rang berlutut di hadapan Yuri sembari memeriksa keadaannya.
"Aku.. Merasa dingin," Yuri memeluk dirinya sendiri.
Kemudian, Rang memungut selimut yang ada dibawah dan ikut menyelimuti diri bersama Yuri. Dia memeluk Yuri dan berbagi selimut dengannya. Yuri menoleh ke arah Rang perlahan, dia menatap pria tampan di sampingnya yang terlihat sangat khawatir. Emosinya kian stabil, dia sudah cukup merasa puas dengan meluapkan segala amarahnya pada Rang.
"Rang," kata Yuri agak berat.
"Ada apa? Kau ingin minuman hangat lain?"
Yuri menggeleng, "aku kedinginan."
"Kau membutuhkan selimut yang lebih banyak?"
Wanita itu menggeleng lagi, "Aku membutuhkanmu."
Cupp..
Sebuah ciuman mendarat di bibir pria itu, dengan lembut dan perlahan. Rang tidak ingin kehilangan kesempatan di saat Yuri kehilangan akal karena merasa kedinginan setelah serangan tiba-tiba tadi. Rang yakin, itu adalah angin dari alam bawah. Angin dingin yang bertiup dari tempat Rang di tahan disana beberapa waktu lalu.
__ADS_1
"Aku akan memberikan yang kau inginkan," Rang perlahan mendorong Yuri hingga berbaring di sofa.
**
"Permisi tuan Rang!"
Suara wanita itu menghentikan kegiatan mereka berdua, Rang mengerjap karena dia sudah membuka baju bagian atasnya. Sedangkan Yuri langsung menarik selimut dan menutup diri.
Rang segera bangkit, dan meraih kaos dalaman miliknya. Dia berjalan ke sumber suara, disana terlihat Nara berdiri sembari melihat sekeliling rumah Rang.
"Bagaimana bisa kau tahu rumahku?"
"Bagaimana makan malammu?" lanjut Rang.
"Semuanya berjalan lancar, tapi aku agak menyayangkan karena kau tidak datang." jawab Nara.
Rang mengerutkan dahi, dia ingat walaupun ingatan Nara dihapus kemungkinan wanita itu membaca pesan miliknya.
"Ah iya, maaf aku ada urusan yang mendadak," Rang agak gelagapan menjawab pernyataan Nara.
"Bolehkah aku masuk?"
"Tidak!" jawab Rang dengan cepat.
"Maksudku.. Aku sedang kedatangan tamu lain, kau bisa menungguku di kantor."
"Um, baiklah. Aku akan menunggumu di kantor." Nara mengangguk kemudian melenggang pergi dari sana.
Saat kembali ke ruang dimana Yuri berada, pria itu terlihat bingung karena Yuri tidak ada disana.
"Yuri?" Rang mencari wanita itu kesana kemari namun dia tidak disana.
Saat dia melihat jendela, wanita itu rupanya sudah keluar lewat sana seperti seorang ninja. Rang melihatnya berlari dengan membawa selimut miliknya.
Dia menggeleng pelan, "Astaga, wanita itu benar-benar sangat menghiburku haha."
Yuri berlari dengan sadar bahwa dia membawa selimut Rang dalam dekapannya. Saat dia berlari tanpa melihat jalan sebuah mobil hampir saja menciumnya.
Tiiinn...
Bunyi klakson memekakan telinganya.
"Yaampun, maafkan aku. Kau baik-baik saja?"
Yuri menyeringai, "aku baik-baik saja."
"Eh, Yuri?"
__ADS_1
"Nona Nara?"