Pengantin Rubah

Pengantin Rubah
Episode 14 - Festival Jurandong


__ADS_3

"Bukankah aku seharusnya menahan diri untuk tidak menemuinya?" Rang bergumam, dia terus berjalan mengikuti Yuri.


"Ah jalanan ini gelap sekali," Yuri mengeluh melihat lampu lalu lintas yang tidak menyala.


Rang yang mendengar hal itu kemudian menggunakan kekuatannya untuk memanggil kunang-kunang.


"Pergi dan terangi jalannya!" seru Rang pada sekelompok kunang-kunang yang langsung menghampiri Yuri.


"Indah sekali, darimana ini berasal? Kupikir di perkotaan seperti ini sudah tidak ada kunang-kunang." Yuri melihat kesekelilingnya, kunang-kunang itu terbang melingkar seolah menerangi perjalanan gadis itu.


Rang masih tetap mengikutinya dari belakang.


Sesampainya di rumah, Yuri langsung melepas lelah dengan berbaring di ranjang. Disana terlihat Byul yang sedang memakan ramen yang di beli bu Kimi.


"Byul kakak mau," Yuri menghampiri gadis itu.


"Boleh, tapi jangan dihabiskan!"


"Tidak. Tenang saja." Yuri melahap ramen Byul dengan penuh di mulutnya.


"Kakak, sudah ku bilang jangan di habiskan. Kenapa kakak malah menyisakan kuahnya saja?" Byul merasa kesal pada Yuri.


"Haha maafkan kakak, nanti kakak belikan lagi ya. Tapi, ada satu hal yang ingin kakak ceritakan padamu."


"Apa?"


"Tadi, banyak kunang-kunang menerangi jalan kakak." Yuri tersenyum merekah.


"Itu mustahil kak di kota seperti ini," Byul menghabiskan sisa ramen yang dia makan.


"Sudah kuduga kau tidak akan percaya, Byul kakak mandi dulu ya." Yuri beranjak dari sana dan melenggang pergi ke kamar mandi.


"Pasti paman Rang yang melakukannya," gumam Byul.


Rang yang baru saja pulang dan memastikan Yuri sampai di rumah dalam kondisi aman langsung menjatuhkan dirinya ke sofa.


"Adik, kau terlihat lelah sekali."


Suara itu mengerjapkan Rang, "ah sialan, kenapa kau bisa masuk rumahku?"


"Itu sangat mudah untukku," Yon duduk di seberang sofa dari Rang.

__ADS_1


"Aku punya ide bagus, jika kau ingin bersama dengan wanita itu... Kau harus sepenuhnya menjadi manusia." Yon terkekeh.


Rang hanya mengerutkan dahi sembari mengangkat kepalanya menoleh ke arah Yon, saat mendengar ocehan konyol Yon, Rang menggeleng lalu mengistirahatkan kepalanya lagi di sofa.


"Apa yang kau inginkan? Selama ini kau tidak pernah tidak patuh pada ayah," Rang mendengus pelan.


"Kau tahu, aku ingin kekuasaan penuh untuk diriku." jawab Yon sembari menyilangkan kaki.


"Apa kau tidak ada minum untuk disuguhkan pada kakakmu?"


"Kau bisa masuk sini tanpa izin, jadi silahkan ambil minummu sendiri!" Rang memunggungi Yon.


"Santai saja, bagaimana ideku? Menjadi manusia biasa adalah satu-satunya cara agar kau bisa bersamanya."


"Namun kau harus memakan utuh hati manusia hahaha." Yon terbahak mengejek Rang yang masih tidak bergeming.


"Menghapus ingatannya tentangmu itu sangat jahat baginya, jika dia ingat semua tentangmu dia pasti akan membencimu karena telah mencampakannya."


"Aku tidak mencampakannya, aku melindunginya dari kalian!" Rang menoleh kembali ke arah kakaknya.


"Rang, kau tahu festival jurandong? Kudengar disana ada salah satu penjaga alam bawah yang menyamar sebagai peramal. Dia bisa mengabulkan keinginanmu, aku tahu tempatnya. Kau lebih baik ikut aku."


Rang mulai tertarik dengan ajakan Yon, namun dia tidak ingin terkecoh lagi.


Saat melewati rak sepatu bekas pakai, dia menuliskan mantra menggunakan jarinya di bagian kepala sepatu Rang.


"Ikuti aku," tulisnya pada sepatu yang biasa Rang pakai.


Rang terbangun sembari berjalan sempoyongan ke arah kamar tidur. Dia tidak curiga mengenai sepatu yang dituliskan aksara transparan oleh kakaknya.


Keesokan paginya, Rang bersiap untuk pergi ke kantor. Tanpa sadar, pria itu memakai sepasang sepatu yang sudah di mantrai oleh Yon. Dia berjalan keluar menuju mobilnya dengan balutan jas berwarna hitam dan kemeja merah berbahan satin.


Sembari tidak merasa curiga, Rang terus mengendarai mobilnya. Padahal tanpa sadar, sepatunya itu akan membawanya ke tempat dimana Yon berada.


Setelah 30 menit dalam perjalanan, pria itu masih belum sadar bahwa dirinya sedang berjalan di tengah kerumunan orang yang bernyanyi dan menari.


Suatu festival yang diadakan manusia, namun ada beberapa manusia rubah yang ikut meramaikan. Saat sampai di depan sebuah gubuk dan masuk ke dalam, Rang baru sadar bahwa dia terhipnotis karena mantra yang dibuat oleh Yon.


"Hai adik," sapa Yon sembari menyeringai ke arah Rang.


"Jadi, dia harta paling berhargamu? Adik setengah manusia dan setengah rubah ini? Kekuatannya memang sangat besar, kelahirannya menentang alam semesta yang sudah seharusnya berjalan terpisah tapi tetap berdampingan." ujar seorang pria dengan berjanggut panjang.

__ADS_1


"Baiklah aku akan langsung menariknya masuk ke dalam kantong ini, dia menjadi milikku sekarang dan kaca mata ini menjadi milikmu." pria itu menyerahkan sebuah kaca mata polosan dengan batang berwarna hitam, itu bukan kaca mata biasa melainkan kaca mata untuk melihat kejadian yang sudah berlalu.


"Brengsek, apa kau menjebakku? Kau menukarkanku dengan kaca mata itu?"


Yon berdiri menepuk pundak sang adik, "adik sesekali kau harus ada gunanya untukku, aku juga tidak menyangka bahwa harta yang paling berhargaku adalah dirimu. Dan yah, kaca mata ini akan aku berikan pada kekasihmu sebagai hadiah." Yon menyeringai ke arah Rang.


Rang dengan geram ingin menghajar pria itu, namun terhalang karena kekuatannya tidak bisa digunakan di dalam sana.


"Jangan menyentuhnya sedikitpun!"


"Hey, kau milikku sekarang. Aku akan memasukanmu pada kantong ini," Pria tadi membuka sebuah kantong kain untuk menghisap Rang ke dalam sana.


"Kau tidak bisa keluar sampai seseorang menebusmu," Pria itu tersenyum dan Yon berjalan keluar.


Disisi lain, Yuri yang sedang bersiap berangkat kerja sedang menunggu bus untuk datang.


"Ini untukmu," Yon tiba-tiba menyerahkan sebuah kaca mata pada wanita itu.


"Kau siapa? Kenapa menyerahkan ini padaku?"


"Kau akan tahu, saat melihat itu di depan cermin." Yon menyeringai.


"Waktunya tidak banyak," Yon menyerahkan selembar kartu berisikan alamat bernama Festival jurandong.


Kemudian dia melenggang pergi melewati Yuri yang masih dipenuhi pertanyaan.


"Apa ini? Apa dia hanya mengerjaiku? Ck." Yuri memasukan kedua benda tadi ke dalam tasnya kemudian bus pun datang.


Sesampainya di butik, Yuri langsung merapikan semua pakaian dan tidak lupa dia membersihkan segala sudut ruangan menggunakan vacuum.


Pikirannya merasa terganggu, sehingga dia menghentikan kegiatannya sebentar lalu teringat dengan pria yang menyerahkan kedua benda tadi.


Yuri segera berjalan menuju meja kerjanya dan mengambil kaca mata itu, dia berdiri di depan cermin untuk melihat apa tujuan kaca mata itu di serahkan padanya.


Dengan perlahan dia memasang kaca matanya, disana terlihat seorang wanita dengan pakaian tradisional sedang meminum teh dengan cangkir kuno.


"Nona Nara," gumam Yuri.


Semua kegiatan wanita itu di masa lampau terlihat, tiba-tiba dalam penglihatan Yuri seorang pria dengan rambut yang agak panjang menghampiri gadis disana.


"Aku membawakan bunga untukmu," pria itu menyerahkannya pada sang gadis.

__ADS_1


Yuri melepas kaca matanya, "bukankah itu orang itu? Tuan Rang? Nona Nara? Lalu apa hubungannya itu semua denganku?"


__ADS_2