Pengantin Rubah

Pengantin Rubah
Episode 21 - Dunia manusia vs Dunia siluman


__ADS_3

Kegiatan mereka kembali seperti biasa, Rang yang harus absen muka ke kantor juga Yuri yang harus menjalankan butik bu Kimi. Yuri sangat senang karena dia dan Rang akhirnya bersama lagi. Walau tidak ada ikatan dalam ucapan, namun dia tahu bahwa jiwa mereka terikat.


"Selamat pagi," Nara dengan girang menyapa Yuri yang sedang melamun.


"Nara?" Yuri menyambut wanita itu dengan baik.


"Hai Yuri, tolong bantu aku pilihkan pakaian terbaik, aku ingin membelinya. Aku tidak bisa ke kantor denganmemakai pakaian yang sama setiap harinyakan? Apalagi aku harus bertemu kekasihku." Nara tersenyum malu-malu.


Pernyataan Nara membuat Yuri membelalak, Yuri menghela napas panjang. Apa mungkin itu Rang? Dia menggeleng kecil, "baik tunggu disini sebentar."


Yuri kembali membawakan setelan pakaian kantor, disana terdapat banyak macam model yang terlihat anggun dan cantik. Nara memilih beberapa setelan dan dress, sedangkan Yuri menatap gadis itu agak lama.


"Benar juga, tidak mungkin dia tidak jatuh cinta pada wanita ini. Wajahnya benar-benar mirip kekasihnya dulu." gumam Yuri berkecil hati.


Saat Nara sedang berganti pakaian dan mencoba beberapa baju yang baru. Terlihat Rang dengan setelan kemeja berwarna putih masuk ke dalam butik dengan senyuman yang merekah.


"Rang?"


"Hai sayang, aku ingin mengajakmu makan siang." Pria itu memeluk Yuri secara tiba-tiba.


"Rang lepaskan!" seru Yuri.


"Tidak!"


"Nara ada disini!" Kata Yuri, dengan cepat Rang melepaskan pelukannya namun hal itu membuat hati Yuri sedikit sakit. Menyadari bahwa Rang pasti merasa tidak enak pada Nara.


"Pak Rang.." Nara terlihat memakai pakaian barunya.


"Darimana kau tahu aku ada disini?" Nara terlihat sumringah saat melihat bosnya.


"Humm, aku melihatmu masuk ke butik ini. Aku ingin mengajakmu makan siang," Rang terpaksa mengatakan hal yang tidak ingin dia katakan.


"Ah tentu saja, kenapa tidak mengajakku saat di kantor saja. Jika ditempat umum begini, aku jadi merasa malu. Yuri, kau ikut kami makan siang ya."

__ADS_1


"Tidak terimakasih, aku tidak ingin mengganggu kalian." jawab Yuri.


"Baiklah, sebelum itu Rang apa pakaian ini cocok untukku?" Nara berputar menunjukan pakaian barunya.


"Sangat cocok," katanya sembari tersenyum tipis.


"Terimakasih, Baiklah tunggu sebentar aku akan membawa baju yang sudah kupilih." Nara kembali ke dalam ruang ganti untuk mengambil pakaian yang sudah dia pilih.


Rang mendekat ke arah Yuri yang kini mendelik tajam ke arahnya. "Haruskah aku menghapus ingatannya?" tanya Rang sembari mengerutkan alisnya.


"Tidak semua masalah bisa selesai hanya dengan kau menghapus ingatannya, kau sendiri yang bilang bahwa ada hal yang tidak bisa kau ubah!" Yuri dengan geram kembali ke meja kasir.


Rang mendengus pelan, dia menatap Yuri yang kini berdiri jauh darinya. Kemudian, Nara kembali dengan membawa beberapa pakaian. Yuri dengan telaten merapikan barang belanjaan Nara dan memasukannya ke dalam kantong.


"Terimakasih Yuri, kami pergi dulu ya." kata Nara sembari melambai, Rang masih melihat Yuri dengan tatapan bersalah.


Wanita itu memutar bola matanya saat Rang menatapnya. Rang merasa tidak enak karena harus membuat Yuri marah. Pria itu kemudian mengikuti Nara dari belakang.


"Terserah kau saja, dimana restoran yang paling enak?"


Nara melambatkan jalannya sehingga dia jalan beriringan dengan Rang, kemudian dengan cepat merangkulkan tangannya pada Rang sampai pria itu mengerjap, terkejut dengan tindakan Nara. "Tidak apa kan?" Nara menoleh ke arah Rang menunggu jawabannya.


"Lakukan saja!" jawab Rang pasrah. Sedangkan Yuri, masih menatap mereka berdua dari kejauhan.


Rang dan Nara menghabiskan makan siang mereka bersama kemudian kembali ke kantor. Sebenarnya pikiran Rang tidak bisa tenang karena memikirkan Yuri yang mungkin belum makan siang. Rang mendengus pelan sembari mengistriahatkan kepalanya di bahu kursi miliknya. Dia sadar ada yang tidak beres, seolah waktu berhenti dan suasana seketika hening, kemudian sebuah portal bercahaya tiba-tiba muncul di hadapannya. Membuat ia terkejut, rupanya itu adalah ayahnya dan dua orang pengawal istana yang masuk dari dunia siluman.


"Rang!" geram sang ayah.


"Berapa lama lagi aku harus menunggu? Kau ingin aku yang menyelesaikan urusanmu disini? Jika aku yang selesaikan maka tidak adalagi yang perlu kau khawatirkan." Mata sang ayah berubah kemerahan sedangkan Rang berdiri dan menghampirinya.


"Sudah kubilang, aku akan kesana saat semuanya selesai."


"Sampai kapan? Kau terlihat masih berhubungan dengan gadis itu!"

__ADS_1


"Aku tidak akan melepaskannya," ujar Rang pada pria di hadapannya.


"Persetan! Kau tidak boleh mengulangi kesalahanku dulu." ucap Raja Siluman itu.


"Kesalahanmu? Maksudmu? Aku?" Rang tertawa kecil, kemudian menatap ayahnya tajam.


Pria itu dengan cepat berlari dan mencekik sang ayah. Para pengawal tadi terkapar hanya karena cahaya kejinggaan yang keluar dari tubuh Rang. Matanya menyorot tajam pada sang ayah.


"Jika kau menghalangiku, aku akan membunuhmu!" ancam Rang.


"Rang! Aku ayahmu! Ingat itu!" balas sang ayah yang sembari meninju perut Rang dengan kencang sehingga pria itu terdorong mundur.


"Dengarkan aku, aku tidak pernah meninggalkan ibumu. Aku terpaksa melakukannya!" lanjutnya.


"Itulah yang membedakan aku dan kau, bagaimanapun keadaanku aku tidak akan meninggalkan kekasihku! Walau aku harus menghabisimu!" Rang memicing tajam ke arah sang Ayah dengan seringaian licik yang terlihat tiada rasa takut sedikitpun.


"Aku sangat menantikan kehadiranmu, tapi apa boleh buat? Aku harus menggantikan ayahku sebagai seorang raja siluman, juga harus menerima hukuman atas hubungan terlarangku dengan ibumu. Kau ingin tahu apa yang terjadi pada ibumu? Alam bawah membuatnya gila dengan mengirimkan sejumlah ilusi dan hal mengerikan sehingga dia tidak bisa merawatmu dan meninggalkanmu di hutan waktu itu. Dia membunuh dirinya sendiri."


"Kita tetap berbeda, kau takut mati demi ibu dan aku. Sedangkan aku, akan rela mati demi kekasihku. Kau pecundang keparat!" Rang mengeluarkan bola api yang keluar dari tangannya.


"Aku bisa membunuhmu sekarang," ucap Rang.


"Kau akan tahu akibat dari cinta terlarangmu itu Rang, cintamu bisa mengacaukan dunia siluman maupun manusia. Cintamu akan membuat para siluman ingin menguasai dunia manusia juga Rang!"


Rang tidak peduli apapun yang dikatakan ayahnya, dia hanya menginginkan apa yang dia inginkan. Walau dunia hancur karena cintanya, dia tidak masalah asalkan dia bersama kekasihnya.


"Aku tidak akan membiarkanmu menghancurkannya, kau harus dihukum dan dikurung di istana." Ayah Rang dengan cepat membuat simpul tali dengan energinya sehingga Rang terjebak dan tidak bisa menggerakan tubuhnya. Pria itu langsung menyeret Rang dan kembali ke dunia siluman.


Seketika, waktu berjalan kembali seperti biasanya. Portal itu telah tertutup saat keduanya masuk ke dalam sana. Suara ketukan terdengar di ambang pintu ruangan, namun tidak ada jawaban sehingga orang itu langsung masuk ke dalam.


"Pak Rang, kau tidur?" tanya Nara pada seorang pria yang sedang tertunduk di mejanya.


Dia mengangkatkan kepala, "oh iya, aku hampir tertidur" katanya sembari menyeringai.

__ADS_1


__ADS_2