
"Tuan sebentar lagi dia akan datang," ujar seorang pelayan pada pria di dalam ruangan.
Kulitnya nampak bersisik, pertumbuhannya berbeda dengan manusia normal lain. Dia cukup cepat untuk mencapai usia dewasa. Dia menyeringai mendengar perkataan pelayan yang dikenal orang sebagai ayahnya.
"Tunggu, apa wanita itu sudah bertemu dengannya?"
"Ya tuan, aku mendengar bahwa mereka sudah bertemu di kehidupan ini."
"Takdir mereka begitu kuat, namun sayang, mereka tidak akan pernah bisa merubah akhirnya." lemparan pisau hampir mengenai pelayan tadi.
"Ayah.. Tolong carikan cara agar mereka tidak mengalahkanku lagi dikehidupan ini. Dengan wajah baru dan kehidupan baru, pada akhirnya nasibku juga akan sama? Tidak, aku akan merubahnya." lanjutnya.
"Tentu saja tuan, aku akan mencari cara untuk melakukan hal yang sama seperti dulu. Membunuh kekasihnya sampai ia terpuruk dan hancur."
"Jangan! Hal itu hanya akan memprovokasinya saja, kau tidak ingat? Dia menemuiku dan membunuhku waktu itu? Kali ini, kita harus bermain dengan pintar, alih-alih membunuh gadis itu, aku akan menikahinya."
"Menikah?" tanya seorang pelayan itu dengan terkejut.
"Ya, namun sebelum itu aku harus memastikan bahwa dia memiliki kekuatan yang aku impikan."
"Kekuatan untuk menguasai dua dunia hahaha. Jika aku kuat, aku pasti tidak akan terkalahkan." lanjutnya.
"Tentu tuan," jawab sang ayah palsu.
**
Makan malam sedang berlangsung, Rang dan Nara juga keluargannya sedang berbincang sembari menikmati makan malam. Pria itu dengan ramah menjawab setiap pertanyaan orang tua Nara, membuat gadis itu semakin terkesima akan dirinya.
"Nara kesayanganku sangat pintar memilih calon suami," ujar ayah Nara sembari tersenyum.
"Tentu saja ayah, pria yang kubawa ini memang sangat sempurna."
"Nara, kau berlebihan." jawab Rang dengan senyuman manis ke arah Nara.
"Disaat yang lain memujiku, wanita itu malah terus merendahkanku dan membuangku begitu saja?" batin Rang bergumam tentang Yuri.
"Kapan rencananya kalian akan menikah?"
Pertanyaan itu hampir membuat Rang mengeluarkan makanan dimulutnya. Nara yang ikut terkejut, langsung memberi Rang air minum.
"Ayah! Pertanyaan apa itu, kita baru satu kali bertemu."
__ADS_1
"Ayah ingin tahu, seberapa serius pria ini padamu."
"Aku akan mengikuti Nara, kurasa dia juga belum siap untuk itu karena dia baru saja memulai karirnya, benarkan sayang?" Rang menoleh ke arah sekretarisnya itu.
"Iya, betul aku belum siap."
Makan malam berlangsung dengan ceria sampai selesai. Nara ikut bersama sang ayah, namun Rang pergi sendiri mengendarai mobilnya. Pikirannya tidak bisa lepas dari Yuri, setelah perdebatan sengit dirinya dengan wanita itu Rang ingin memberi gadis itu pelajaran.
Rang berhenti di depan butik milik bu Kimi, dia melihat Yuri sedang berbincang dengan pria bersetelan rapih di seberang sana. Rang tidak ingin menghiraukannya, dia hanya memperhatikan mereka dari dalam mobil.
Setelah selesai dan pria itu pergi, kini terlihat Yuri menutup butiknya sendiri dan menguncinya. Gadis itu berjalan ke arah rumahnya. Rang segera mengikuti Yuri dengan perlahan menggunakan mobilnya.
"Masuklah!" Rang meneriaki Yuri dari arah belakang. Berusaha untuk tidak peduli pada Yuri adalah hal yang sulit untuk Rang.
"Kenapa kau kesini?"
"Aku hanya tidak sengaja lewat sini, dan melihatmu berjalan malam seperti ini membuat hatiku tergerak untuk menawarkanmu bantuan."
"Ck, pergi saja sana!" Yuri mempercepat jalannya.
"Naiklah, aku akan menceritakanmu tentang hal yang penting."
"Tidak ada satu halpun yang penting dari dirimu bagiku." Yuri terus berjalan sampai akhirnya Rang keluar menggunakan kekuatannya dan memaksa gadis itu masuk ke dalam mobil dengan cepat.
Yuri mendengus pelan kemudian memalingkan wajahnya.
"Aku hanya mengakhiri hubunganmu dengannya, aku tidak ingin lagi menjadi bayang kekasihmu dulu." Kata Yuri dengan parau.
Rang tertegun, dia sadar bahwa mungkin tidak menyenangkan menjadi Yuri. Dia hampir meninggal karena disangkut pautkan dengan kehidupan lampau Rang, kali ini Rang tidak ingin wanita itu mengalami hal yang sama. Dia akan melindungi Yuri sekuatnya.
"Maafkan aku," mendengar pernyataan Rang, Yuri langsung menoleh ke arahnya. Dia tidak menyangka pria itu akan mengucapkan maaf padanya.
"Aku juga tidak ingin membawamu dalam masalahku, apalagi masa laluku. Namun, karena permata rubah itu ada padamu, artinya kau adalah jiwa yang terlahir kembali." Rang menatap Yuri.
"Aku akan mencoba menerimanya, lalu bagaimana kehidupanku di masa lalu?"
"Kehidupanmu sangat menyenangkan, apalagi dengan kehadiranku. Kau hidup dengan baik dulu, kedua orang tuamu sangat mencintaimu." kata Rang berbohong.
"Beruntungnya aku di masa lalu." Yuri menunduk merasa sedih.
"Hei, kenapa kau bersedih? Kalau begitu aku akan menghentikan ceritanya."
__ADS_1
"Tidak, tolong lanjutkan."
"Baiklah, karena kau yang minta kau dilarang cemburu." Rang tertawa kecil.
"Aku tidak akan," Yuri menggeleng.
Rang hanya tertawa kecil, "tentu saja! Bagaimana bisa kau cemburu pada dirimu sendiri?"
"Lanjutkan!"
"Kau dulu, sangat pandai bermain pedang. Kau putri seorang raja."
"Aku seorang putri?" Yuri makin tidak percaya dengan ucapan Rang.
"Bagaimana akhirnya aku meninggal?"
Rang terdiam, semua ceritanya kali ini hanyalah kebohongan kecuali mengenai putri dan pandai bermain pedang. Kekasihnya dulu, tidak hidup sebaik itu di zamannya. Wanita itu memang seorang putri, namun putri yang terbuang dan dikucilkan.
Ayahnya, menghancurkan negeri yang dia kuasai sendiri karena terobsesi dengan keabadian sehingga ia memuja siluman ular untuk mendapatkan hal itu. Sayang sekali, pada akhirnya dia malah menjadi inang yang bagus untuk siluman itu sehingga negerinya benar-benar hancur terbakar.
"Seperti manusia pada umumnya, kau jatuh sakit dan pergi meninggalkanku selamanya. Seperti yang kau bilang, kau dihadapanku sekarang bukanlah dia yang dulu, mulai sekarang aku akan melihatmu sebagai dirimu. Bukan dirinya." Rang tersenyum tipis.
Mendengar ucapan Rang, membuat Yuri sangat tenang mendengarnya.
"Kenapa kau membawaku ke rumahmu? Byul pasti sendirian."
"Tidak, anak itu sekarang sedang bersama bu Kimi, terlebih aku memberikannya banyak hadiah sehingga dia tidak akan mencarimu untuk beberapa hari ke depan." Rang menyeringai merasa hebat.
"Kau menculikku?" Yuri menggeleng tidak habis pikir.
"Aku hanya merindukanmu," jawab Rang sembari tersenyum.
"Omong kosong macam apa itu, tujuannya tetap sama. Kau akan mengambil keuntungan dariku," Yuri keluar dari mobil dan melenggang pergi keluar.
Rang tersenyum dan mengikutinya dari belakang, "memangnya kau tidak suka? Bahkan Byul bilang kau selalu memimpikanku setiap malam?"
"Apa yang kau mimpikan tentangku, jangan bilang kau memimpikan..."
Yuri menutup kedua telinganya, "berhenti! Aku merasa tidak nyaman mengingat mimpi itu." Yuri kembali berjalan masuk kedalam rumah.
"Oh iya, sejak kapan kau mengenal Byul?"
__ADS_1
"Aku ingat dia sejak awal, dia dan aku kami berteman baik." Rang menyeringai.