Pengantin Rubah

Pengantin Rubah
Episode 23 - 100 cambukan


__ADS_3

Rembulan menyinari malam yang damai, rasanya angin berkelebat dengan lembut melewati pipi berisi Yuri. Wanita itu tersenyum sembari melihat langit yang dipenuhi cahaya alami. Pria di sampingnya, Sean sedang menilai wajah gadis cantik itu. Dia ikut tersenyum saat Yuri menyunggingkan senyumannya.


"Siapa namamu?" Sean lupa, dia belum sempat bertanya nama wanita itu.


"Namaku Yuri," jawabnya dengan senyuman tipis.


"Siapa pria tadi?"


"Dia orang jahat!"


"Kenapa dia mengganggumu?" tanya Sean lagi dengan penasaran.


"Karena, dia memang ingin. Dia sengaja melakukan itu untuk menyulut emosi kekasihku!"


"Kekasih? Oh rupanya kau sudah punya kekasih." Sean mengangguk beberapa kali.


"Dia bukan manusia, apa kekasihmu juga bukan?"


"Aku tidak ingin menjawab pertanyaanmu, semakin banyak orang tahu semakin membahayakan dirinya. Mungkin aku harus meminta kekasihku menghapus ingatanmu."


Sean tertawa mendengar jawaban Yuri. "Baiklah, bawa aku pada kekasihmu. Sehingga dia bisa menghapus ingatanku."


Yuri menoleh ke arah pria itu dengan mata membulat, "kau serius? Besok jika dia ada aku akan membawamu menemuinya."


"Tentu saja!" jawab Sean.


**


Di dunia siluman, Rang sedang dihukum cambuk sebanyak 100 pukulan. Di punggungnya sudah terukir luka bekas cambukan. Kali ini hanya sisa dua puluh pukulan lagi dan Rang harus bisa menahannya. Pria itu mengerang kesakitan di depan sang ayah dan juga para petinggi kerajaan siluman lainnya.

__ADS_1


"Kau masih kuat?"


"Pukul aku sampai matipun aku tidak akan menyerah untuk bisa bersamanya!" Gema suara Rang di seluruh ruangan.


"Jika kau mati disini, akan sangat mudah bagi siluman lain untuk mengambil kekasihmu. Apa kau tahu? Dia memiliki sesuatu yang ingin di miliki oleh para siluman?"


Rang tertegun, dia sama sekali tidak tahu soal hal itu.


"Kekasihmu dulu, adalah reinkarnasi dewi agung penjaga nirwana."


Rang membelalak. "Bagaimana aku bisa mempercayainya?"


"Alasan dia di buang karena sebuah ramalan tentang seekor rubah dan reinkarnasi dewi agung menghancurkan takhta Raja saat itu. Dan ramalan itu merujuk pada kalian berdua. Jika kekasihmu Yuri adalah reinkarnasi dari kekasih sebelumnya, bukankah sangat mungkin jika dia memiliki kekuatan yang diincar oleh para siluman? Terlebih, permata rubahmu sudah tidak melindunginya lagi?"


Rang tersenyun. "Lalu, apa yang ingin kau aku lakukan? Bukankah sangat menguntungkan bagi kita jika aku menikahinya? Artinya aku akan menjadi raja terhebat, mampu menguasai dunia siluman maupun manusia. Aku bisa berpindah tempat sesukaku dan aku akan membebaskan semua orang memilih cintanya sekalipun berbeda ras."


"Hanya ada dua pilihan, salah satu dari kalian harus mengalah, jika kekasihmu ingin bersamamu maka dia harus masuk ke dunia siluman, meninggalkan dunia dan mempelajari kekuatan yang tersembunyi dalam dirinya. Tapi, jika dia tidak mau. Kau bisa menjadi manusia seutuhnya dengan memakan hati orang yang kau cintai." Raja itu mendekat ke arah Rang.


"Buruknya, untuk bersatu lagi kau harus kembali menunggunya bereinkarnasi." Ayah Rang menggeleng.


"Atau pilihan lain, kau bisa memohon untuk kematianmu lebih dulu lalu meminta di lahirkan kembali sebagai manusia. Tapi, kurasa itu hal yang tidak mungkin, mengingat kesalahanmu dimasa lalu. Penjaga Nirwana tidak akan mengabulkan kelahiran kembalimu." lanjut sang ayah.


Rang mendengus pelan, ini lebih rumit dari yang dia bayangkan. Tidak ada pilihan yang menguntungkan baginya. Semuanya sama-sama menyiksa. Jika dia ingin bersatu dia harus bisa membujuk Yuri masuk ke dunia siluman, tapi menurut Rang mustahil bagi Yuri menerima tawaran itu terlebih Byul adalah hal yang paling berharga untuk Yuri.


Rang menyelesaikan sisa cambukannya kemudian langsung di obati oleh tabib istana. Disana dia di jamu selayaknya putra mahkota kerajaan. Rang tidak ingin menyakiti kekasihnya lagi, tapi dia juga tidak bisa membiarkan Yuri sendirian. Jika ucapan ayahnya benar, berarti banyak siluman yang mengincarnya.


Rang teringat, bisa saja Yuri sekarang berada dalam bahaya. Pria itu beranjak kemudian segera meraih pedangnya, dia bersiap untuk kabur dari dunia itu. Sesampainya di depan pintu kamar, Rang mendapati Yon sudah berdiri di hadapannya.


"Minggir!"

__ADS_1


"Pedangku tidak akan segan untuk menebas lehermu!"


Yon masih berdiam menghalangi jalan Rang. "Ada apa? Kau mengkhawatirkan kekasihmu kan? Tidak apa, dia baik-baik saja. Aku memeriksanya tadi." kata Yon sembari menyeringai.


"Kau pikir aku akan percaya pada omong kosongmu! Minggir!" Rang mendorong tubuh Yon dan melewatinya. Dengan cepat dia mengayunkan pedangnya untuk menyerang beberapa penjaga yang menghalanginya. Rang segera berteleportasi ke portal dunia manusia.


Di dunia manusia hari sudah cerah, dia melihat kamarnya yang berantakan. Ia tertegun kemudian mendengar suara ketukan pintu dari luar rumahnya. Rang segera keluar kamar untuk membukakan pintu utama, disana terlihat bu Kimi dengan wajah cemas datang menghampiri Rang.


"Tuan, kau benar akan bertunangan?"


Rang menaikan sudut alisnya bingung. "Aku belum membicarakannya dengan Yuri."


"Bukan Yuri, tapi nona Nara! Beritanya ada di televisi. Ayahnya adalah calon anggota dewan dan dia dengan bangga mengumumkan soal pertunangan putrinya denganmu." Kimi mengaitkan jari jemarinya satu sama lain. Dia lebih bingung saat melihat Rang terkejut seperti orang yang tidak tahu apa-apa sama sekali.


"Identitasmu semakin dikenali, akan sangat berbahaya jika kau tidak benar-benar bertunangan dengannya. Saranku, kau harus tetap melakukannya."


Rang mengerutkan dahi. "Aku bisa menghapus ingatan mereka."


"Mustahil kau bisa menghapus semua ingatan orang di Negeri ini!" Kimi menggeleng.


Rang terdiam, Kimi benar. Tidak mungkin Rang bisa mengatasi ini semua dengan mudah. Dia tidak bisa menghapus ingatan jutaan manusia, apalagi beritanya terus menerus di ulang di televisi. Satu-satunya cara adalah menemui Nara dan berbicara padanya dan menanyakan apa yang sebenarnya terjadi.


Bu Kimi pergi dari rumah Rang dan menemui Yuri. Sedangkan Rang segera membersihkan dirinya, bekas cambukan di punggungnya masih terasa sakit. Dia bahkan terlihat pucat, obat kerajaan belum bekerja dengan sempurna. Dia merasakan pedih saat air membasuh tubuhnya, kemudian mengerang kesakitan.


"Argh sialan!" gumamnya.


Dia teringat ucapan sang ayah, mengenai takdirnya dan Yuri yang terdengar mustahil akan berhasil. Tapi Rang tetap kukuh, dia tidak akan meninggalkan wanita itu sampai kapanpun. Dia menunggunya selama ratusan tahun, tidak mungkin dia akan meninggalkannya begitu saja.


Setelah selesai membersihkan diri, Rang segera mengenakan celana berwarna mocca dengan jaket hangat berwarna kejinggaan. Dengan rambut yang tidak tersisir rapih. Dia harus menemui Nara segera.

__ADS_1


__ADS_2