
Angin bersemilir lembut menyapu wajah Yuri, dia perlahan melangkahkan kakinya masuk ke dalam portal dunia siluman. Dengan napas agak sedikit berat, juga ketakutan yang mendalam membuat badan Yuri agak bergemetar. Dia menoleh ke arah belakang, menunggu salah seorang dari yang lain datang. Hanya sepersekian detik, Rang melangkah masuk dengan wajah menekuk kesal.
Dia berjalan mendahului Yuri, dengan pedang yang sudah ia keluarkan Rang tentunya dengan sigap menebas rerumputan hijau yang menghalangi jalan. Dia tidak bisa langsung membawa Yuri ke tempat yang banyak penduduk. Setidaknya, dia ingin membawa Yuri ke tempat aman yang tidak dilihat siluman lain.
"Terimakasih, karena kau mau menemaniku." Yuri berjalan mengikuti Rang, namun pria itu masih tetap fokus menebas rerumputan yang menghalangi. Dia tidak merespon apapun.
"Apa Sean pulang?" Yuri melihat portal yang mulai tertutup.
"Aku mengirimnya ke alam baka." jawab Rang dengan asal.
"Hei! Jangan sembarangan, dia adalah pria yang menolongku saat di ganggu oleh kakakmu waktu itu!"
Rang berbalik menatap Yuri datar. "Tapi itu tidak bisa menjadikanmu dekat dengannya! Ck! Kau benar-benar menyebalkan!"
Rang kembali berjalan dengan bibir mengerucut, dia merasa cemburu.
"Setidaknya aku tidak menciumnya di depanmu!" sahut Yuri.
"Tadi, Nara secara tiba-tiba yang menciumku. Bukan salahku kan? Jika aku menolaknya di depan kalian seperti itu dia pasti akan curiga." Suara Rang terdengar semakin pelan.
"Tapi tunggu, apa kau berniat menciumnya di belakangku?" Rang berbalik lagi dan menatap Yuri dengan tajam.
__ADS_1
Yuri berjalan mendahului Rang sembari menepuk pundak pria itu. "Tentu saja tidak, aku bukan kau, Rang!"
Mendengar jawaban Yuri membuat Rang salah tingkah. Ada rasa bersalah pada wanita itu, namun sekarang mereka tengah berada di dunia siluman. Segala sisi bisa menimbulkan bahaya untuk manusia seperti Yuri. Bukan saat yang tepat untuk membahas soal percintaan mereka.
"Yuri, tetap disisiku!"
"Kau tahu dimana bunga itu berada?" Yuri berjalan sejajar dengan Rang dan menoleh ke arah pria itu sesekali.
"Tidak tahu, dokter itu pasti mengada-ngada. Bagaimana bunga itu bisa tumbuh subur disini, aku sebagai pangeran tempat ini saja belum pernah melihatnya." Rang mendangah melihat awan hitam mulai mengepul di atas pepohonan.
"Pangeran?" Yuri menahan mulutnya dari tertawa. Rang hanya menatap wanita itu dengan tatapan sinis.
Mereka berjalan menyusuri hutan tapak yang sunyi, hanya ada suara burung yang entah jelmaan atau sungguhan. Rang sembari berjaga sekeliling dia tetap memastikan Yuri aman di sampingnya. Seketika angin dingin mencekat mulai terasa mengelilingi Yuri, wanita itu terfokus pada angin yang berputar di sekelilingnya.
Rang mencoba mengingatkan Yuri untuk tetap fokus pada tujuannya masuk ke dunia siluman. Wanita itu tetap berputar mengikuti angin dingin yang terasa menusuk tubuhnya. Karena tahu wanitanya dalam bahaya, Rang segera ikut masuk ke dalam putaran angin dan memeluk Yuri. "Sadarlah!"
Yuri menatap bola mata Rang yang bersinar, pria itu menahan diri agar tidak ikut terhipnotis oleh angin itu. Ini bukan kejadian pertama bagi Yuri, Rang ingat waktu pertama kali dekat dengan Yuri, wanita ini juga di kelilingi angin dingin itu. Pelukan Rang semakin erat, anehnya tubuh Yuri terasa sedingin es. Rang hampir tidak bisa menghangatkan tubuh wanita itu dan angin di sekeliling mereka terasa semakin kencang. Rang mengalirkan energinya ke dalam pedang yang kini mulai bersinar bagaikan api yang menyambar. Dia mengibaskan pedangnya untuk memotong putaran angin yang mengelilingi, seketika anginnya pun hilang.
Namun Yuri terkulai lemas, lututnya hampir terjatuh jika tidak dipeluk oleh Rang. Dia merasa kedinginan, bibirnya membiru. Untuk manusia biasa seperti Yuri angin tadi mungkin saja bisa membekukan aliran darahnya, namun syukurlah karena hangatnya tubuh Rang bisa membuat Yuri bertahan dan melewati gangguan itu. Rang merasa bersalah karena membiarkan Yuri masuk ke dalam dunia siluman, seharusnya dia sendiri saja yang mencari bunga itu. Karena amarahnya, kini Rang malah bisa saja membahayakn nyawa Yuri.
Rang membawa Yuri dengan menggendongnya kemudian berteleportasi. Rang membawanya ke kerajaan milik sang ayah. Disana para penjaga yang melihat Rang membawa seorang manusia langsung melaporkan hal itu pada Raja mereka. Tidak lama sang Raja datang dengan mata penuh penasaran dia melihat siapa yang datang, itu adalah Rang dengan gadis yang jiwanya ia culik waktu itu. Yon yang ada di belakang sang ayah menyeringai tipis.
__ADS_1
"Rang! Kau kabur kemudian kembali dengan membawa manusia ini? Kau ingin para penjaga alam bawah menghancurkan kita? Kau ingin para siluman lain memburu gadis itu disini?" Raja itu memicing tajam ke arah Rang, sorotan matanya dipenuhi rasa marah.
"Rang! Kau benar dibutakan cinta! Tidakkah kau berpikir, bukan hanya kau yang akan mendapat hukuman dari penjaga alam bawah tapi kerajaan kita juga. Kau ingin kita semua menderita hanya karena kekasihmu?" lanjut pria itu.
"Aku tidak punya pilihan lain, adik gadis ini sakit dan kami butuh bunga Kaleana. Apa ayah tahu soal bunga itu?"
"Rang, jika ayah tahu dan kau membawa bunga itu keluar dari dunia ini untuk menyembuhkan orang-orang di dunia manusia akan terjadi keributan besar. Bagaimana jika mereka tahu bahwa kau mendapatkannya dari dunia siluman? Bagaimana jika mereka tahu kau seekor rubah? Kau akan diburu, dan para makhluk serakah itu pasti akan mencari cara untuk masuk ke dunia kita dan merusaknya."
"Aku tidak butuh banyak, aku hanya ingin satu obat untuk adiknya. Ayah tahu aku tidak bisa membiarkannya bersedih, adiknya sangat berarti." Rang menggeleng.
"Hanya karena gadis itu kau berani mengorbankan keluargamu?" Yon berjalan mendekat ke arah Rang yang masih menggendong Yuri.
"Keluarga? Kita tidak pernah menjadi keluarga. Aku kesini karena ingin meminta bantuan Raja penguasa dunia ini."
"Sesuatu hal yang mustahil kemudian dipaksakan bersama malah akan menyebabkan kerusakan yang sangat besar untuk disekitarnya. Ayah yakin, jika wanita ini tahu apa yang akan terjadi kedepannya, dia jelas akan meninggalkanmu."
Wajah ayahnya terlihat serius, pria itu mengalirkan energi pada Yuri agar wanita itu sadar. Rang melihat cahaya mengalir ke tubuh Yuri, perlahan mata kekasihnya itu terbuka. Sembari memeriksa keadaan sekitar kemudian menoleh ke arah Rang yang masih menggendongnya dengan gaya pengantin. "Dimana kita?" gumam wanita itu.
"Selamat datang! Kau ada di kerajaan siluman. Aku penguasa di Negeri siluman ini."
Setelah mendengar ucapan ayah Rang, Yuri meminta Rang untuk menurunkannya dari pelukan. Rang mengerutkan dahi kemudian menggeleng pelan, ia bermaksud untuk tidak membiarkan Yuri berbicara pada sang ayah. Yuri membulatkan pandangan yang pada akhirnya itu membuat Rang melepaskannya dan membiarkan wanita itu berdiri di sampingnya. "Aku akan membantumu mencari bunga kaleana Yuri," kata ayah Rang.
__ADS_1
"Benarkah?"
"Tentu saja! Namun dengan syarat."