
Langit sore hari begitu menyejukan mata, apalagi kini Nara sedang berjalan berdua di tepi danau bersama Rang. Dia terlihat bahagia karena pria yang dia sukai mau ikut jalan-jalan santai bersamanya.
"Nara, kau sangat cantik."
"Terimakasih, Rang." jawab Nara dengan senyuman lebar di wajahnya.
Rang dengan perlahan meraih tangan Nara kemudian menggenggamnya, mereka berdua berjalan beriringan menyusuri tepi danau. Nara sangat terkesima dengan perubahan Rang yang sangat cepat. Wanita itu sesekali menatap Rang dengan agak lama dan meyakini dirinya bahwa dia adalah pria yang ia sukai.
"Rang, aku menyukaimu."
Pernyataan Nara membuat Rang menyeringai. "Aku juga sangat menyukaimu Nara."
"Kau.. Serius?" Nara membelalak tidak percaya pada ucapan Rang.
Saking bahagianya Nara langsung memeluk Rang dengan erat. Rang hanya tertawa kecil, dia kemudian menyentuh lembut pipi Nara dan mencium bibirnya. Karena tindakan yang mengejutkan itu pipi Nara menjadi memerah seperti tomat. Dia menunduk malu. Rang dan Nara akhirnya pulang ke rumah.
Dia mengantarkan Nara ke rumahnya, di sana dia bertemu kedua orang tua Nara dan berbincang sebentar denganĀ mereka. "Hubungan kalian terlihat semakin lengket saja, Kapan kalian akan menikah?" Ayah Nara tersenyum.
Rang menjawab pertanyaan itu dengan cepat, "secepatnya jika ayah mau, ayah bisa mengumumkannya terlebih dahulu."
Nara menoleh ke arah Rang merasa bingung namun senang. "Rang, apa kau setuju jika kita bertunangan?"
Rang menoleh ke arah Nara dia tersenyum tipis. "Tentu saja aku sangat setuju, Aku menginginkan ini sejak pertama kali melihatmu. Jadi kumohon ayah ibu restuilah hubungan kami."
"Wah Ayah sangat senang mendengarnya, baiklah berita ini juga nantinya bisa menaikkan popularitas ayah. Apalagi sebentar lagi pemilihan dewan akan segera dilaksanakan. Dengan pengumuman pertunangan kalian akan membuat nama ayah melambung tinggi. Terlebih calon menantu Ayah adalah orang hebat seperti Rang." semua orang tertawa gembira.
"Jika itu bisa membantu Ayah aku akan sangat senang kita harus mempersiapkannya dengan baik." usul Rang pada mereka.
Setelah perbincangan soal pertunangan mereka, kini Rang dan Nara terlihat berbincang bersama di halaman belakang dekat dengan kolam renang. Nara terlihat tidak bisa menyembunyikan rasa bahagianya dari pria itu.
"Aku harus pulang dulu, aku akan menemuimu esok hari."
Nara mengerucutkan bibirnya. "Tapi, aku masih merindukanmu."
__ADS_1
"Aku tahu," Rang menarik lengan Nara kemudian melingkarkannya di pinggang wanita itu. Dia mengecup bibir itu secara perlahan namun pasti.
"Aku pulang dulu," kata Rang dengan senyuman di wajahnya.
Setelah berpamitan pulang, Rang mengendarai mobilnya lalu pulang ke rumah. Saat tiba di depan rumah, dia melihat Yuri yang sembari menyilangkan tangannya berdiri di depan pintu rumah Rang.
"Cintaku," Rang melebarkan kedua tangannya dan berjalan mendekat ke arah wanita itu untuk memeluknya.
Yuri langsung memproteksi diri dengan mendorong Rang untuk menjauh. Dia agak kesal karena kejadian tadi siang mengenai pria itu dan Nara. Yuri mendengus pelan, "jangan peluk aku."
"Mari masuk ke dalam! Aku sangat merindukanmu." Kata Rang sembari mengelus lembut pipi Yuri.
Yuri dengan kasar menepis sentuhan Rang. Tidak lama mata pria itu bersinar, membuat Yuri memerhatikan keindahan yang ada di depannya. Rang mendorong Yuri sampai menghilang seketika dan membawanya langsung ke kamar tidur. Ini seperti membuka portal untuk beralih dari satu tempat ke tempat yang lain.
"Kau sungguh menawan," ujar Rang sembari menyeringai.
"Apa kau pikir aku akan tertipu? Dimana Rang?" Yuri mendelik tajam.
"Aku tidak akan tertipu! Rang ku tidak sekurang ajar itu!" jawab Yuri masih dengan tatapan tajamnya.
"Aish, si brengsek itu beruntung sekali. Padahal dia bisa memiliki kalian berdua, kenapa dia hanya memilihmu? Padahal, jika dilihat Nara jauh lebih dari segalanya dari pada kau, Yuri." Pria itu tertawa dengan keras.
"Dimana Rang?" geram Yuri bertanya sekali lagi.
"Dia mungkin sedang di kurung di penjara bawah tanah istana kami. Kau tahu Yuri, aku salut padamu. Kau sudah tidak memiliki permata rubah, namun aku tidak melihat ketakutan sedikitpun di matamu." Sosok pria itu berubah menjadi seseorang yang pernah Yuri lihat.
"Kau, si pemberi kacamata itu!"
Pria itu menyeringai. "Namaku Yon, ingat itu. Aku kakak tertua kekasihmu."
"Adikku mungkin sekarang sedang di cambuk atas ketidaksopanannya terhadap ayahnya. Dan itu semua, karenamu!" Yon tertawa kecil.
"Ini tidak seru! Seharusnya kau bisa tertipu seperti perempuan itu."
__ADS_1
Yuri mengerutkan dahi. "Siapa maksudmu?"
"Jangan pura-pura tidak tahu, siapa lagi kalau bukan sekretarisnya. Tapi setelah ini, aku yakin ada hal yang akan mengejutkanmu sampai kau tidak bisa melakukan apapun." Yon menyeringai sembari duduk dan menatap langit kamar Rang.
"Bagaimana jika kau menghabiskan malammu bersamaku? Aku mungkin lebih kuat di ranjang daripada adikku, kau harus mencobanya." Yon beranjak dan mendekat ke arah Yuri. Wanita itu mulai mundur menjauh dari pria berbahaya yang mungkin bisa membunuhnya dalam satu kali serangan.
Jika tidak ada Rang, tiada lagi yang bisa membantu dan melindunginya. Mustahil dia bisa keluar darisana dengan aman. Yuri menghela napas sembari mundur beberapa langkah, dia melemparkan barang-barang di kamar Rang pada Yon. "Pergi brengsek! Jangan macam-macam!"
Yon dengan mudah berlari cepat dan menahan tangan Yuri, dia mendorong gadis itu dengan sangat kuat sampai terpojok ke dinding. Yon mulai melancarkan aksinya, dia berusaha untuk melakukan hal kotor pada Yuri. Namun, sebuah kursi seketika terlempar ke arah Yon. Disana terlihat seorang pria muda berusia sama dengan Yuri berdiri di ambang pintu.
Mata pria itu membulat, "Jangan menyakitinya!"
"Siapa lagi kau brengsek!" Yon memutar bola matanya kesal.
"Aku tahu rahasiamu, barusan aku merekammu secara diam-diam. Kau bukan manusia biasa, jika kau macam-macam pada kami, aku akan menyebarkan rekaman ini dan membuatmu terekspos ke seluruh dunia." Ancaman pria itu sebenarnya tidak membuat Yon gentar. Dia bahkan bisa mematahkan leher pria itu dengan cepat namun dia tidak melakukannya.
Yuri mencuri kesempatan saat Yon lengah, dia memukul kepala Yon dengan vas bunga di tangannya.
Brakk..
Saat Yon merasa kesakitan, Yuri segera berlari dan menarik tangan pria tadi untuk keluar dari rumah itu. Syukurlah Yon tidak mengejar mereka sehingga mereka bisa kabur dengan aman. Napas keduanya berderu, mereka kelelahan karena harus lari menjauh dari rumah itu.
"Hei, terimakasih.. Telah.. Menolongkuh." kata Yuri sembari ngos-ngosan.
"Sama-sama, senang membantumu. Namaku Sean." Pria tadi mengulurkan tangannya pada Yuri.
"Baik Sean, aku sangat senang bertemu denganmu. Terimakasih telah membantuku, tapi aku harus segera pergi sekarang, ini sudah larut malam dan aku harus kembali ke rumah."
"Aku akan mengantarmu," tawar pria bernama Sean tersebut.
Yuri agak ragu menerima tawarannya, "tidak perlu aku tidak ingin merepotkanmu."
"Tentu tidak, mari!"
__ADS_1