
Satu tahun kemudian..
Kehidupan Yuri terasa begitu hambar, dia menjalani rutinitasnya sebagai seorang pimpinan perusahaan. Sangat tidak masuk di akal, namun dia cukup cakap dengan segala pekerjaannya. Yuri menyandarkan tubuhnya di kursi milik Rang. Pikirannya masih sering dilanda kekacauan.
"Kau bilang dunia akan baik-baik saja tanpamu."
"Aku rasa, kau benar."
"Dunia memang terus berjalan, dan aku disini memaksakan diri untuk hidup tanpamu."
"Bahkan, hujan waktu itu belum mampu menghapus jejakmu. Apalagi aku? Dengan keterbatasanku yang sangat terbatas. Aku rasa, aku tidak mampi Rang!" Yuri bergumam.
Tidak lama, satu buah pesan mendarat ke ponselnya. Dia segera membaca pesan itu, meraih ponselnya dengan malas. Setelah kepergian Rang, dia tidak lagi merasa berdebar setiap kali mendapat pesan.
"Kau sudah makan? Mari makan siang bersama!"
Yuri menghela napas panjang kemudian segera membalas pesan itu, "tentu."
Dia keluar dari ruangan, berjalan santai ke ke lantai bawah. Disana dia bertemu dengan Sean. Pria yang selalu ada disampingnya selama setahun belakang ini. Yuri menyeringai tipis, hanya dia yang tahu bagaimana hancurnya Yuri kehilangan Rang.
"Mau makan apa?"
"Hm, shusi saja!" jawab Yuri.
Sean dan Yuri berjalan beriringan, semua mata mengira mereka adalah sepasang kekasih namun itu salah besar. Yuri, tidak berniat membuka hatinya lagi untuk siapapun. Dia akan menunggu Rang sampai dia kembali, walau kenyataannya itu sungguh mustahil. Sesampainya di restoran Jepang, mereka memesan kesukaan masing-masing. Yuri dengan shusi berbagai varian dan Sean dengan ramennya.
"Yuri, ini lezat sekali. Biar kuhitung, ini sudah yang ke delapan kali kita kesini. Benarkan?"
"Ya, kau benar." Yuri tersenyum tipis.
"Apa kau ada acara malam ini? Bagaimana jika makan malam bersamaku."
"Tapi Sean, aku sepertinya tidak bisa."
__ADS_1
"Kenapa? Kau mau ke hutan bambu itu dan menunggu pria rubah datang kepadamu? Bukannya, itu mustahil? Sudahlah lupakan saja dia!" alis Sean mengerut dia nampak kesal.
"Kau tahu benar, bahwa aku tidak mungkin melupakannya."
"Ada aku! Lihat aku! Aku sudah menunggumu selama ini, apa kau tidak melihat betapa aku sangat menginginkanmu?" Sean menggeram, dia menatap Yuri dengan tajam.
Yuri yang baru melihat ekspresi Sean seperti itu merasa takut dan terkejut. Dia tidak menyangka Sean akan semarah itu. "Sean, kumohon cukup. Kau tahu pasti jawabanku apa."
"Yuri!" Sean menarik lengan Yuri dengan kasar sampai wanita itu merasa kesakitan.
"Aw!" Yuri berdiri dan melepaskan jeratan Sean. "Aku sangat kecewa padamu! Mari jangan bertemu untuk beberapa waktu!"
Sean menghela napas panjang dan membiarkan Yuri pergi. Wanita itu kembali ke kantor dan mengistirahatkan tubuhnya di sofa. Dia menutup kedua mata dengan lengannya sembari menahan isak tangis.
"Apa yang aku tunggu? Si brengsek itu malah menyuruhku menikah! Dengan siapa aku akan menikah jika bukan denganmu!"
"Bagaimana denganku? Aku terlanjur mencintaimu Rang. Kau datang dan beri harapan lalu pergi dan menghilang! Dasar brengsek! Rang brengsek, aku membencimu!" Yuri mencaci maki keadaan yang sedang dia alami, dia merasa kesal pada Rang namun dia lebih kesal pada dirinya sendiri yang tidak mampu melupakan Rang.
Setelah semua pekerjaan selesai dan Yuri kembali ke rumah. Wanita itu makan dengan tenang bersama Byul, sang adik. Walau kehidupannya sangat jauh membaik, bahkan Byul bersekolah di sekolah ternama dan favorit di kota mereka. Dia masih merasa kosong, rumah besar yang ditinggalkan Rang untuk Yuri sering memberikan kilasan deja vu yang membuat hatinya bagai tertusuk duri. Begitu sakit dan perih.
"Akan pergi 'kan? Tentu saja kak, aku tidak apa-apa!" kata Byul memotong.
"Terimakasih adik! Kakak harus siap-siap, kau habiskan makanannya ya."
Byul mengangguk. Dia melihat kakaknya yang berlalu ke kamar dengan tatapan sendu. "Kasihan sekali kakak, dia selalu memikirkan paman Rang. Sudah setahun paman pergi, aku juga rindu makan es krim bersamanya." gumam Byul lalu menunduk.
Yuri segera bergegas dengan celana jeans biru juga sweater berwarna oranye. Dia mengendarai mobilnya dan segera menuju hutan bambu. 30 menit kemudian, akhirnya Yuri sampai. Dia masuk ke dalam hutan yang lumayan gelap dan dingin, dia tidak takut apapun lagi. Dia hanya berharap Rang menemuinya.
Yuri menatap dua pilar bambu yang berseberangan seolah menjadi batasan gerbang antara dunia siluman dan juga manusia. Dia menghela napas panjang, kemudian duduk di bebatuan.
"Rang, aku menemuimu lagi. Aku tahu aku bodoh, mungkin jika kau melihat ini, kau akan mencaci maki diriku."
"Tapi, sampai kapanpun aku tidak akan pernah melupakanmu!"
__ADS_1
Yuri duduk dan menatap langit malam, dia harap hari ini tidak hujan. Bintang malam seperti sedang menemaninya menunggu sang kekasih, mereka berkilauan dilangit seolah menari mengelilingi bulan. Yuri tersenyum melihatnya, namun tidak lama suara ranting terinjak terdengar oleh telinganya.
Yuri seketika menoleh ke belakang, dia harap itu bukan binatang buas atau semacamnya. Dia menghela napas panjang kemudian berdiri.
"Dia wanita itu kan? Pengantin si rubah?" ujar seseorang.
"Iya, dia orangnya!"
"Kudengar dia memiliki kekuatan besar."
"Dia tidak terlihat seperti itu!"
Yuri mencari kesana kemari asal suara itu, namun dia tidak menemukan siapapun. Tidak lama dua ekor ular sedang menghampiri Yuri. Rupanya ular itu yang melewati ranting-ranting kering di tanah.
"Aaah!" teriak Yuri melihat kedua ular itu mendekat ke arahnya lalu mundur.
"Jangan takut!"
Yuri membelalak melihat kedua ular tersebut berbicara. Wanita itu menelan ludahnya sendiri, kemudian mundur dan berniat untuk lari darisana. "Jangan pergi gadis kecil!" ular tadi berubah menjadi wujud manusia berpakaian hitam.
Yuri segera lari menjauh dari sana, dia tidak bisa meminta bantuan siapapun lagi sekarang. Bagaimana jika dia mati karena tertangkap siluman ular itu?
Yuri terus berlari menjauh, namun ular tadi seketika merubah bentuknya menjadi ular yang lebih besar dari sebelumnya. Kaki Yuri dililit ekor ular sehingga dia terjatuh dan tengkurap di tanah. Kedua ular tersebut melilit tubuh Yuri dan saling berebut untuk mendapatkan tubuhnya.
Yuri sudah pasrah, dia yakin kali ini dia tidak akan selamat. Namun keberuntungan masih ada padanya, satu tebasan mengkilap yang berasal dari pedang memotong kedua perut ular tersebut.
Sreett..
Yuri terjatuh dan lepas dari jeratan ular yang sudah terpotong itu. Dia menoleh ke arah Pria di depannya, rambutnya yang berwarna merah sudah mulai memanjang, tangan kanan yang memegang pedang berkilauan juga mata bercahaya oranye yang kini menatapnya. "Rang!" pungkas Yuri menahan tangis.
Yuri berlari dan segera memeluk pria itu, Rang menyeringai dan cahaya terang dimatanya hilang. Dia tertawa kecil kemudian memeluk Yuri dengan erat. "Aku merindukanmu!" seru Yuri.
Sedangkan Rang, masih memejamkan matanya menikmati pelukan hangat Yuri. Rasanya, rindunya kini terbayarkan. Yuri menatap wajah Rang, "apa aku harus terluka dulu agar kau datang dan menyelamatkanku?"
__ADS_1
Rang menatap setiap inchi wajah Yuri, dia menyentuh lembut pipinya dan satu tangannya lagi mendekap tubuh itu. Rang mengecup lembut bibir itu dan Yuri refleks menutup kedua matanya dan menikmati setiap sentuhan Rang.