
Kedua orang itu kini sedang bersantai dengan menonton siaran televisi di rumah. Terdapat popcorn juga minuman bersoda di atas meja. Sedangkan Yuri mengenakan kaos milik Rang yang cukup besar ditubuhnya. Rang sesekali menoleh ke arah wanita itu.
"Kau marah? Aku membawamu kesini?"
Yuri masih melamun, dia mengingat kejadian yang dia lihat dari kaca mata ajaib waktu itu.
"Aku jelas melihat, bahwa kehidupannya tidak seindah ucapan Rang. Dia mati dengan cara yang mengenaskan, namun sebelum itu terjadi, aku melihat ada sesuatu yang dia minum sehingga dia menjadi hilang kendali dan bertindak seperti orang gila. Namun, apa itu? Jika itu jiwaku yang dulu, sungguh mengenaskan nasibnya." batin Yuri dengan tatapan datar ke depan, dia tidak menghiraukan ucapan Rang sebelumnya.
"Yuri!" Akhirnya Rang berhasil membuyarkan lamunannya.
Yuri tersenyum tipis ke arah Rang, "maaf aku sedang memikirkan Byul di rumah."
"Kau ingin pulang? Mau ku antarkan?" Rang menatap Yuri, tatapannya tulus pada wanita itu. Yuri juga sangat mengerti, pasti sulit bagi Rang menerima dua wanita di dekatnya. Nara dengan wajah kekasihnya dan Yuri dengan permata rubah miliknya. Namun, Yuri ingin bisa membuat Rang benar jatuh cinta pada dirinya yang sekarang. Dia harap, hal itu tidak akan lagi membuatnya bimbang tentang perasaannya.
Yuri menggeleng, "tidak kurasa dia akan baik-baik saja."
"Ck, wajahmu tidak terlihat tenang." Rang menyilangkan kaki sembari meraih remot tv.
"Apa kita hanya akan menonton tv?" Yuri menaikan sudut alisnya.
"Kau ingin yang lain?" Rang menyeringai nakal.
"Ah lupakan saja, aku ingin makan. Apa ada bahan makanan di dapur?"
"Ada, namun di dominasi daging. Kau tahu aku sangat suka daging, kau tidak takut padaku bahkan aku bisa memakanmu argh." Rang menggeram bagai seekor harimau. Membuat Yuri memicingkan matanya keheranan lalu menggelengkan kepalanya.
"Itu tidak menakutkan sama sekali," jawab Yuri sembari berlalu ke arah dapur.
Rang hanya tertawa kecil, kemudian mengganti saluran televisi.
Yuri mencari bahan makanan di dapur dia membawa dua potong daging yang berukuran sama. Dia akan memasak steak untuk mereka berdua. Namun pikirannya masih mengembara pada kehidupan masa lalu yang dia lihat. Disana, dia memang melihat kebakaran besar di sekitarnya. Tapi, dia belum menemukan jawaban atas semua itu.
Kaca mata itu hanya menunjukan kejadian-kejadiannya dengan sekilas. Sehingga membuatnya belum mampu mencerna kejadian apa yang terjadi dahulu kala. Sebenarnya, jika dia mau dia bisa bertanya pada Rang. Namun, setelah melihat Rang berbohong dan menyembunyikan hal itu, dia yakin ada sesuatu yang besar dibaliknya.
Setelah hampir 30 menit menunggu daging matang, akhirnya dia bisa segera membawa makanan itu pada Rang. Pria yang masih serius menonton siaran olahraga favoritnya itu kini menatapnya dengan senyuman yang merekah.
"Wah terimakasih, aku sangat dimanjakan." Rang meraih satu piring miliknya dan Yuri duduk di samping pria itu.
__ADS_1
"Kenapa kau begitu diam? Tidak biasanya," Rang memotong sedikit demi sedikit makanannya.
"Apakah ini tidak apa-apa?" Yuri menatap Rang agak lama.
"Maksudmu?"
"Hubungan kita, apakah tidak akan menjadi masalah untukmu bahkan untukku?" Yuri hanya menatap makanannya datar.
"Tentu ini akan menjadi masalah besar," Rang masih terlihat acuh soal masalah besar yang dia ucapkan tadi.
"Rang," kata Yuri terhenti.
"Kenapa? Kau takut mengambil resiko?" Rang menoleh ke arah wanita itu sembari mengunyah makanannya.
"Kau tahu, aku punya firasat buruk tentang hubungan ini."
"Ada banyak hal yang tidak bisa kita hindari Yuri, sekalipun aku menjauh darimu atau kau menjauh dariku. Kita tetap akan bersama." Rang menatap Yuri agak lama.
"Kenapa begitu?"
"Karena itu takdir kita, hanya saja ada beberapa hal yang bisa kita rubah sendiri. Aku memutuskan untuk melanjutkan hubungan ini apapun rintangan di depan nanti." Rang tersenyum manis, Yuri masih diluputi rasa takut dan cemas.
Rang menyentuh dan menggenggam tangan Yuri di depannya. "Jangan khawatir, selagi ada aku. Kau tidak perlu takut," kata Rang menenangkan.
"Nara? Bagaimana dengannya? Kurasa dia sangat menyukaimu, aku tidak bisa membuatnya mengetahui hubungan ini. Aku akan sangat merasa bersalah, dia terlihat baik." Yuri mulai memotong daging yang tersedia di piring dengan perlahan.
"Bukankah kau kesulitan juga? Melihat dirinya yang terlihat persis seperti kekasihmu dulu mungkin membuatmu kesusahan untuk tidak mencintainya."
Rang terdiam, dia memang kadang merasa bimbang jika di hadapkan dengan Nara secara langsung. Tapi, dia juga tidak bisa menyangkal bahwa pengantinnya jelas adalah Yuri bukan Nara.
"Aku bisa melihat banyak kecemasan dan pertanyaan di matamu. Aku mengerti, ini sulit bagimu dan aku tidak akan memaksanya. Tapi satu hal yang pasti, dikehidupan ini aku akan melindungimu. Bahkan aku tidak peduli jika tubuhku terkoyak habis asal itu melindungimu aku tidak apa-apa." Mata Rang berkaca dia menyesali betapa dia tidak bisa melakukan apapaun melihat kekasihnya dulu mati tanpa dilindungi oleh dirinya.
"Jangan bicara sembarangan!" Yuri menatap Rang tajam.
"Kenapa? Kau terlihat murung jadi aku harus menenangkanmu!" sahut Rang dengan kerutan di dahi.
"Bukan itu yang kuinginkan." Yuri mendengus pelan.
__ADS_1
Keduanya memakan dengan lahap dagingnya sampai habis tanpa obrolan apapun lagi. Setelahnya, mereka menonton serial di televisi dan Yuri pun tertidur lebih dulu. Rang beranjak dari tempat itu mengambil selimut untuk Yuri.
Dia pergi keluar rumah dengan pedangnya. Mata Rang bersinar terang, pria itu segera mengejar buruannya dengan cepat.
"Katakan yang kau ketahui!" serunya pada pria di hadapannya. Pedang Rang berkilau dengan ujung di bagian urat nadi pria itu.
"A-aku hanya bisa mengatakan bahwa aku diminta seseorang untuk mengikuti kekasihmu."
"Seseorang?"
"Ya, orang itu adalah musuhmu dan dia akan membalas segala perbuatanmu dulu padanya." pria tadi berbalik menatap Rang, matanya berubah warna menjadi hitam legam dengan seringaian yang mengerikan.
Rang berdiri santai kemudian menghela napas panjang dan mengibaskan pedangnya dengan cepat.
Sreett..
Darah hitam mengalir dari tubuh pria yang kini terkapar menjadi mayat di hadapannya.
"Dia menyebarkan wabah," Rang sadar, pria itu sedang melakukan misi saat dia melihat bintik di bagian belakang lehernya.
Terdapat bintik merah aneh yang mengerikan. Dia langsung kembali ke rumah dengan cepat, memeriksa Yuri yang sebelumnya sudah bertemu pria itu sepulang ia bekerja.
Syukurlah, wanita itu tidak terlihat tertular oleh penyakit tadi. Rang menatap lekat Yuri. Jika wanita itu dalam bahaya karena dirinya lagi, dia benar-benar tidak akan memberi ampun pada siapapun yang menyerangnya. Bahkan jika itu ayah ataupun saudaranya sendiri.
**
"Yon, terimakasih atas bantuanmu."
"Tidak masalah," jawabnya.
"Berkat kebencianmu pada adikmu, kau membangkitkan tuanku kembali."
"Aku sangat terkesima, perkembangannya sungguh cepat." Yon menyeringai.
"Apa rencanamu setelah ini?" lanjutnya.
"Kami sudah menyebarkan wabah ke sebagian daerah." Jawab pria itu sembari tersenyum.
__ADS_1
"Wabah?" Yon menaikan sudut alisnya.
"Wabah itu akan ada diberita pagi ini haha." ujarnya sembari tertawa terbahak.